Tema: Tiba-tiba masuk angin
-oOo-
“Aku bukan jahat, nona. Tapi, pada dasarnya memang kita sama-sama dalam bentuk arwah. Jadi, jangan bersikap sok takut seolah pingsan.” Ujar pemuda itu.
Airin bangkit dari lantai, berdiri menghadap pemuda itu saat tiba-tiba dadanya berdenyut nyeri. Dia melirik tubuhnya yang masih terbaring di atas ranjang dengan beberapa suster tengah melakukan tindakan serius padanya. Dada Airin serasa cukup nyeri dan sekujur tubuhnya terkadang samar terkadang hilang.
“Hmmm... pasti sakit sekali. Meski arwah, kamu tetap merasakan sakit saat mereka melakukan tindakan pada tubuhmu. Karena, kamu belum sepenuhnya mati.”
“Aku seperti tiba-tiba masuk angin.”
Pemuda arwah itu mendesah sambil memijat keningnya gemas, “Bodoh.”
“Aku hanya menggunakan perumpaan,” sahut Airin.
“Tapi bukan perumpamaan masuk angin juga.”
Deg!
Airin meringis merasakan dadanya kian berdenyut nyeri. Ia terbungkuk sambil meringis menahan nyeri. Tiba-tiba tubuh Airin kian samar dan mulai menghilang perlahan. Airin nampak panik dan menatap pemuda arwah itu dengan manik mata bergetar takut sebelum kegelapan menyergapnya.
Tak lama, suara bunyi monitor yang berbunyi menunjukkan detak jantung, menguar di penjuru kamar.
“Dia kembali. Nadi dan napas pasien Airin kembali!” ujar sang dokter.
Pemuda arwah itu menyunggingkan sebuah senyuman sambil menatap monitor kehidupan Airin.
“Ah, sayang sekali... aku gagal punya teman.”
-Fin-
Regards Me
Far Choinice