Ryan menghabiskan waktunya untuk bekerja, ia tak ingin memikirkan ucapan ibunya dan lebih memilih untuk menanda tangani setumpuk berkas yang telah ia lalaikan beberapa hari lalu semenjak kepergian Nabila.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 waktu setempat. Tapi Ryan masih terlihat fokus dengan pekerjaannya.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu membuatnya mengalihkan pandangan ke arah pintu kaca transparan sehingga ia dapat melihat siapa yang datang untuk menemuinya.
Ryan menekan remote kontrol berukuran mini sampai remote tersebut menyalakan laser warna biru.
Seketika pintu kaca transparan yang terlihat gelap jika dilihat dari luar itupun terbuka lebar dengan sendirinya.
Terlihat Samuel datang membawa setumpuk map berwarna warni. Pria tampan itu melangkahkan kakinya dengan tegap ke meja kekuasaan Ryan dan menyerahkan setumpuk map tersebut di hadapannya.
"what's this?" tanya Ryan manatap setumpuk map itu dengan heran.
"Yang ini berisi foto-foto transformasi sisca dari kecil sampai sekarang." jawab Samuel menunjuk map berwarna kuning. "Yang ini data-data kedua orang tuanya. Saya cukup terkejut ternyata mereka berasal dari keluarga konglomerat Tuan." sambung Samuel menunjuk map berwarna biru, mereka memang selalu menggunakan bahasa formal saat di kantor tapi saat mereka berada di luar, mereka adalah seorang sahabat.
"Kalau yang ini_"
DREETT DREETT DREETTT
Samuel menggantungkan ucapannya saat bosnya menerima telepon entah dari siapa.
"Halo Mah." ucap Ryan setelah mengangkat video call tersebut
"Hai sayang, kau masih di kantor?" Tanya nyonya Rita dan Ryan hanya mengangguk membenarkan.
"Oh, astaga anak ini. Bagaimana kau bisa mendapatkan seorang kekasih jika setiap hari kau hanya bergulat dengan berkas-berkas di kantormu?." ucap Nyonya Rita terlihat gemas kepada putra tunggalnya karena ia sambil mengepalkan tangan kanannya yang tak memegang ponsel.
"Ada apa mama meneleponku?" tanya Ryan tak ingin berdebat.
"Oh ya.. mama sampai melupakan hal penting ini. Jadi, malam ini mama sudah menyiapkan kencan buta untuk mu bersama anak teman mama. Dia baik dan cantik dia pintar sepertimu, dia akan menjadi kekasih yang sempurna yang pastinya bisa mengimbangi mu, Nak." jawab nyonya Rita terdengar antusias dengan mata berbinar.
Ryan memutar kedua bola matanya terlihat malas. "Sayangnya aku tak yakin." jawabnya singkat.
"Kau takkan tahu hasilnya jika belum mencoba. Cepat ganti bajumu dan pergilah ke restoran X!! Temui dia pukul 8 malam. Mama sudah siapkan meja spesial VVIP untuk kalian berkencan." Titahnya seakan sudah tak terbantahkan lagi.
"Hemm" jawabnya malas.
"Oh ya, jangan lupa! namanya Angela. Mama sudah mengirimkan biodata lengkapnya pada Samuel." ucapnya lagi sebelum menutup panggilan video call tersebut.
Samuel tak terlihat terkejut sama sekali karena sebelumnya nyonya Rita sudah mendeskripsikan rencananya secara perinci kepada asisten sekaligus sahabat karib putra terintanya.
Tanpa bisa mengelak lagi, Ryan terpaksa mengikuti keinginan sang ibunda untuk menemui gadis cantik bernama angela tersebut.
Didalam mobil Ryan membaca pesan yang di kirim melalui emile yang dikirimkan oleh nyonya Rita ke emile Samuel dengan seksama.
Selama perjalanan baik Ryan maupun Samuel saling diam tak ada perbincangan diantara mereka.
Akhirnya perjalanan singkat menuju restoran X yang hanya memakan waktu sekitar 25 menit saja telah usai.
Ryan juga sudah mengganti pakaian formalnya dengan jaket hoodie berwarna putih dipadu padai dengan celana jeans warna hitam dan topi berwarna kuning yang terdapat logo LV di area lingkaran topi tersebut berikut sepatunya yang kini sudah di ganti dari pantofel menjadi sepatu LV.
"Wow, kau terlihat lebih tampan dari foto-foto yang kulihat dari berita, Tuan Ryan Doug Abimana." puji Wanita yang kini sedang berdiri di hadapan Ryan
mengenakan dress putih selutut, senada dengan hoodienya.
"Thankyou Nona Angela Anastasya." Jawab Ryan dengan wajah datar yang kini mendudukkan dirinya di kursi yang sudah di sediakan oleh pemilik restoran.
Terlihat tempat itu sangat sepi, seperti sudah di khususkan untuk dua insan yang terlihat sangat serasi malam ini.
Tapi bagi Ryan tempat itu malah terlihat membosankan, ia malah membayangkan jika malam ini ia sedang kencan bersama dengan kekasihnya, Nabila.
Saat keduanya saling diam, tiba-tiba terdengar suara iringan musik dari tiga orang yang memang ahli dalam bidangnya.
Senyum Angela merekah, ia terlihat sangat menikmati suasana malam ini sampai ia menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti orang kristiani yang sedang berdoa.
"Kau yang menyiapkan semua ini untuk kencan pertama kita? Romantis sekali." tanya Angela dengan mata berbinar.
"Tidak! Ibuku yang menyiapkan semuanya. Bahkan baju yang aku kenakan sekarang, semua sudah ia siapkan, aku tinggal memakainya saja." jawab Ryan datar sambil memotong daging steak di hadapannya.
"Oh, benarkah? Apa yang beliau inginkan dari pertemuan kita?" tanya Angela lagi masih dengan senyum terpancar di wajah cantiknya.
Ryan diam sejenak untuk mengelap mulutnya menggunakan tisu setelah ia selesai mengunyah daging nikmat itu.
"Tujuannya hanya untuk mengalihkan perhatianku agar aku bisa melupakan kekasihku yang telah tiada." jawabnya masih dengan wajah datarnya.
"Oh maaf. Aku tak tahu soal itu." ucapnya sungkan dan seketika senyum ramahnya langsung berubah menjadi wajah masam.
Rupanya perbincangan itu sukses membuat hati Angela merasa teriris, ia terlihat murung sampai makan malam selesai.
Ryan pun tak banyak bicara, ia hanya sesekali menjawab pertanyaan Angela seadanya.
"Terimakasih atas dinner malam ini Tuan Ryan." ucap Angela saat mereka berdua berdiri di depan lobi bersiap untuk berpisah.
Ryan hanya melirik sekilas dan langsung pergi meninggalkannya begitu saja.
Sedangkan Samuel sudah menunggunya di dalam mobil, ia langsung mengirimkan video rekaman dari CCTV dalam ruang VVIP tempat Ryan dinner bersama Angela kepada nyonya Rita.
'Disisi lain di kediaman Ryan'
"What!" pekik nyonya Rita setelah mendengar ucapan menyakitkan Ryan kepada Angela melalui Video yang di kirimkan oleh Samuel. "Dasar anak nakal ! Bisa-bisanya dia bicara seperti itu kepada wanita se-kelas Angela Anastasya. Memalukan!!" Ucapnya menggaruk-garuk rambutnya pada akhir kalimat.