Halo semuanya, aku Abel. Aku ingin berbagi cerita dengan kalian, cerita tentang aku dan teman rasa saudaraku. Cerita ini dimulai sekitar 4 tahun yang lalu, disaat aku bertemu dengannya waktu aku pulang bermain bersama adikku. Aku tidak pernah melupakan hari itu, karna di hari itulah kenangan 'itu' kembali, perasaan benci dan marah kepada seseorang. Seseorang yang menyerah akan hidupnya.
--...--
Aku, dan adikku Anya melihatnya, seorang anak laki laki bertubuh kurus penuh memar, wajahnya yang menggambarkan keputusasaan seperti orang tanpa kehidupan, mengerikan, dimana dia berdiri lebih membuatku merasa ngeri. Aku takut. Kenangan itu kembali mengisi pikiranku, tanpa sadar aku berlari ke arahnya dan mencoba meraih dirinya,tubuhku melompat menggapai dirinya yang siap untuk terjun.
Di saat aku berhasil menangkapnya, aku melemparnya hingga menghantam pagar jembatan tempat dia berdiri tadi. Anya yang telah menyusulku, merasa lega, kaget, juga takut, karna dia tahu aku begitu membenci orang yang membuang hidupnya. Aku melihat, dia diam saja saat aku melemparnya ke pagar jembatan, itu membuatku merasa semakin muak terhadapnya.
Aku ingin memukulnya, Anya yang sadar apa yang akan ku lakukan mencoba menghentikan ku tetapi terlambat, aku berhasil mendaratkan sebuah pukulan terhadapnya tak berhenti disitu aku juga meneriakinya. "Hei, kau anak bodoh jika kau ingin mati lakukan di tempat lain jangan melakukannya di tempat seperti ini, sangat tidak enak melihat ada orang yang ingin mati, itu sangat merepotkan". Anak itu sedikit mengerutkan wajahnya dan sedikit membuka mulutnya tetapi sebelum dia mulai menyuarakan suaranya Anya menarik ku, dari posisiku yang bisa dibilang aku menindihnya.
Anya mengambil alih untuk berbicara dan aku hanya mendengarkan "hei, bolehkah aku tau siapa namamu?, namaku Anya dan dia kakakku namanya Abel". Adikku bertanya dengan nada sehalus mungkin aku tetap hanya mendengar dan memperhatikannya saja. "Aku Yuji" dia hanya menjawab singkat sambil sedikit melirik ke Anya dan aku, lalu pandanganya kembali ke bawah. Pertama kali aku mendengar suaranya, suaranya yang seperti menahan rasa sakit membuatku sedikit merasa bersalah, mau bagaimana lagi aku sangat marah dan tidak dapat mengendalikan emosiku.
"Yuji senang bertemu dengan mu, tapi kenapa kau ingin melakukan itu, kau tau itu tidak baik, itu tidak akan menyelesaikan masalahmu,lebih baik kau pulang biar aku antar, dimana tempat tinggal mu?". "Itu bukan urusan mu mau aku melakukan apa," Aku yang mendengarnya merasa jengkel dengan balasanya dan ingin meneriakinya atas sikapnya itu, sayangnya adikku menghalangiku, dan mau tak mau aku harus kembali tenang,dan adikku mulai kembali bicara, "dimana tempat tinggal mu Yuji?". " Tidak ada ,aku tidak memiliki tempat tinggal, sebelumnya aku tinggal di panti asuhan tetapi sekarang tidak karna tempat itu sudah di gusur".
Aku mendengarnya,"panti asuhan ya, kalo gitu dia pasti yatim piatu, jangan jangan memar itu karna petugas di sana, tidak, dia bilang tempatnya sudah di gusur kan, dan memarnya terasa baru, dia korban bully , pasti anak anak setempat yang melakukannya." Gumam ku. Entah kenapa aku tidak begitu terkejut, tatapi pertanyaan selanjutnya yang dilontarkan adikku membuatku sangat terkejut sampai aku tidak bisa berkata apa apa.
"Kalo begitu ikutlah dengan kami, anggap saja sebagai permintaan maaf karna kakakku memukulmu. Dan biarkan aku mengobati lukamu".aku benar benar tidak tau harus apa, di saat aku ingin menolak nya, dia langsung berteriak, "kenapa.......,KENAPA kalian melakukan ini, jika kalian membiarkanku itu akan lebih mudah bagi kalian, kalian tidak perlu repot untuk menanyaiku segalanya. Biarkanlah aku pergi, aku sudah tidak kuat untuk hidup dengan nasib ini, aku ..... aku sudah muak."
Suaranya penuh tekanan akan keputusasaan, kebencian, dan kemarahan. Melihat dia seperti ini benar benar mengingatkan ku padanya, dirinya yang selalu melihat kegelapan seperti berteman dengan cahaya malam. Tanpa melihat kebelakang, tempat keluarganya berdiri menunggunya, berharap dirinya kembali seperti semula. Tapi, bukanya memenuhi harapan keluarganya, dia malah menghancurkan seluruh harapan menjadi guyuran tangis ibu sepanjang malam.
Mereka sangat mirip. Namun, ayah memiliki tanggung jawab dan memiliki keluarga dibelakangnya, dia memiliki alasan untu bertahan dan kembali. Tapi anak ini, dia selalu sendirian, kesepian tanpa adanya keluarga dan teman, dengan semua kejadian buruk yang menimpanya, wajar untuk anak ini berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin jika aku di posisinya aku juga sudah kehilangan keinginan untuk hidup.
"Huuuhh......, Berdirilah, dan jangan banyak bertanya, ikuti aku! ". Aku menghela nafas, sambil menarik tangannya dan meletakkannya di pundak ku, dia melihatku seperti bertanya, 'apa yang kau lakukan', seperti itulah kurang lebihnya. "Anggap saja aku sebagai tongkat, lagi pula kau tak bisa berjalan, karna kaki mu terkilir saat aku melempar mu".
Dia diam dan hanya menurut saat aku menuntun nya. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang kulakukan dan hanya membiarkan nya. Adikku yang dari tadi melihat apa yang kulakukan merasa sangat senang dan lega, sampai senyuman tergambar jelas di wajahnya.
Meninggalkan daerah yang sepi dan memasuki desa. Kami dengan cepat menjadi perhatian warga setempat, beberapa orang yang berpapasan dengan kami bertanya mengenai siapa anak ini, apa yang terjadi, dan kenapa dia bersama kami. Aku diam dengan sedikit tersenyum kecut. Semua pertanyaan Anya yang menjawab, itu karna Anya lebih pintar untuk berbicara dengan orang orang.
Dari dulu aku sedikit malu untuk berbicara dengan orang dewasa. Apalagi, setelah ayah melakukan 'itu' aku lebih enggan untuk berbicara.
Setelah lumayan berjalan lama, sambil menuntun anak ini dan ditanyai banyak orang. Aku akhirnya sampai di rumah, aku mengucap salam "assalamualaikum" sambil mendudukkan anak ini di salah satu kursi teras, "waalaikumsalam". Jawaban itu malah terdengar dari belakang. Sepertinya ibu baru pulang menjaga toko, aku bersalaman dengan ibu disusul adik yang tadi sudah masuk ke rumah untuk mengambil kotak p3k
Ibu menyadarinya, saat ini tidak hanya ada kami berdua. "Siapa ini kak,dek?kenapa kok seluruh tubuhnya memar begitu?" Ibu bertanya penasaran. Aku membiarkan Anya mengobati anak itu, dan aku mengajak ibu menjauh untuk berbicara. Aku menceritakan semuanya dari dimana aku bertemu dengannya saat dia ingin mengakhiri hidupnya,hingga saat aku menuntun nya sampai disini. Tentu saja ibu terkejut dengan cerita seperti itu, apalagi dia memiliki umur yang sama denganku.
Anya menghampiri aku dan ibu saat kami hampir selesai berbicara, anak itu sepertinya telah selesai diberikan obat luar untuk luka lukanya. Aku mendengar adikku berbicara dengan ibuku, adikku benar benar berusaha agar ibu mengijinkan anak itu tinggal di rumah kita. Aku hanya akan mengikuti keputusan apa yang mereka buat.
Sepertinya keputusan sudah bulat, ibuku menghampirinya dan duduk tepat didepannya sambil memegang tangan anak itu. Wajahnya mungkin terlihat jelas dihadapan ibu sekarang, karna dari tadi dia terus menundukkan kepalanya. Ibu tersenyum, anak itu kaget dan menyentak kan tubuhnya, ini mungkin pertama kalinya dia menghadap selain kearah bawah."nak,siapa namamu?dan berapa umurmu?" Ibu bertanya dengan halus dan menjaga pandanganya sehangat mungkin."Yuji...,nama ku Yuji umurku mungkin 14 tahun", ibu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Setelah ibu sedikit berbincang dengan Yuji akhirnya ibu mengatakannya, "Yuji, mulai sekarang bagaimana kalo kamu tinggal disini bersama kami". Dia terkejut hampir tidak bisa menjawabnya, sebelum menjawabnya ibu menambahi lagi, "Tapi aku tak bisa memberikanmu banyak hal, aku hanya dapat memberimu tempat untuk berteduh dan makan, sesuatu yang lebih dari itu aku masih tidak mampu melakukan nya. Apa nak Yuji mau menerimanya?"."a.., aku ...., Aku mau menerimanya, tapi kenapa kalian begitu baik denganku yang sebenarnya hanya orang asing disini. Apa kalian tidak takut aku melakukan sesuatu terhadap kalian, apa kalian tidak takut terkena sial karna membantuku."
Sungguh banyak sekali yang anak ini pikirkan, dia hanya perlu menjawab, mau atau tidak, kenapa selalu banyak bertanya sih, sedikit kesal dengan tanggapannya, ibu malah mencubit kaki ku yang ada di sebelahnya, mengetahui aku membuat raut tidak suka di muka.
"Nak berbuat kebaikan tidak perlu alasan, dan mengapa kita harus takut, kita membantu mu jadi kita tak perlu takut, dan mengenai sial atau tidak nanti, itu sudah ada yang mengatur, kita tinggal menjalaninya saja, apa Yuji nggak mau berubah?,". Kata kata itu membuatnya diam, sepertinya dia tidak akan bertanya tanya lagi. Ibu tersenyum "kak, nanti pinjamkan dia baju mu ya!, Mulai hari ini dia akan terus bersama kalian jadi yang akur!, anggap dia seperti saudara kalian, mengerti!".
Hari sudah malam, adik dan ibuku sudah berada di kamar masing masing, aku tidur diruang tv, ruangan ini akan berubah jadi tempat tidur jika malam tiba. Hari ini sedikit berbeda karna ada Yuji tidur bersama ku, biasanya aku tidur sendirian, jadi sedikit tidak terbiasa. Aku ingin melihat dia untuk memastikan apa dia sudah tidur. Sungguh terkejutnya aku mengetahui dia telah duduk di belakangku, hampir saja aku berteriak,"apa yang kau lakukan?, kenapa duduk seperti itu, jangan membuatku takut bodoh."aku sedikit memarahinya.
"Maaf aku sedikit tidak terbiasa tidur seperti ini jadi......, maaf!", " Huuhhh....., sudahlah kembali ke tempatmu, kau harus terbiasa mulai sekarang, jangan menggangguku, gara gara kau disini aku juga tidak bisa tidur!!". " Maaf,..... Hey Abel kenapa kau membenciku, apa karna aku itu orang bodoh, apa karna aku anak yatim piatu?". "Tidak bisakah kau diam dan tidur!", " Tapi....", " Aku tidak membencimu, aku hanya sedikit marah padamu, itu karna kau mengingatkanku pada ayahku, dia meninggal karna stress berat, dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, pertama kali melihat dirimu benar benar mirip dengan dirinya yang sangat putus asa, aku tak ingin mengingat atau melihat hal seperti itu terjadi lagi itulah kenapa sebagian diriku tak ingin kau melakukan itu, tapi sebagian diriku lagi merasa marah dan membiarkanmu saja. Apa kau puas dengan jawabanku, jika kau puas jangan bertanya lagi dan tidurlah, jangan banyak alasan, seperti tidak bisa tidur, atau tidak terbiasa. Diam saja.", "Maaf kan aku, aku benar benar minta maaf padamu", " Apa kau tak dengar apa yang kukatakan, tidurlah!!".
Hari itu aku tidak menjawab permintaan maafnya, aku tidak tau kalo ternyata dia benar benar menunggu balasanya.
1 tahun telah terlewati, hubungan ku dan Yuji menjadi lebih baik. Dia sekarang sudah benar benar menjadi saudaraku. Malam ini karna aku tak dapat tidur, aku dan Yuji bermalam di teras rumah, tidak lama kemudian adikku ikut bergabung bersama. Kami bertiga tertawa pelan di saat ada yang melucu. Apalagi disaat adikku membodohi Yuji yang lemah hitung hitungan, dengan memberikan soal aljabar. Sungguh, sangat lucu melihatnya kebingungan, saat dia menyerah dan hanya menebak, pecah sudah tawa kita menghancurkan heningnya malam.
Di saat itu Anya telah masuk ke rumah karna mengantuk. Aku yang tinggal berdua dengan Yuji kembali menikmati malam, yang sedikit dingin dan gelap.
--..--
Yuji kau tau, kau adalah teman sekaligus saudara terbaik untuk ku. Tapi aku bukan saudara terbaik untukmu, aku terlalu membuatmu sengsara karna ku lupa mengatakannya, dan berfikir itu tak penting lagi. Sungguh, terima kasih karna memperlakukan ku dengan baik walaupun aku tidak melakukannya padamu. Maafkan aku yang tak pernah mengerti dirimu, walupun hanya sekali kumohon, setidaknya biarkan aku menyampaikan ini padamu.