Mari kita mulai kisah klasik ini yang dimulai dengan Latar belakang Kingdom bernama Wanderer.
Wanderer Kingdom adalah Kerajaan terbesar dan terkuat abad ini. Siapa yang tau kalau didalam Kerajaan itu terdapat konspirasi yang sangat besar.
Lusy Notorious, dia adalah Pelayan Pribadi dari Pangeran Nexus Wanderer si Pangeran Pertama dan merupakan salah satu Pangeran pilihan Semesta.
Lusy Notorious sendiri bukanlah Pelayan biasa, dia adalah Putri dari Raja Notorious yang terpaksa menjadi Pelayan karna Ayahnya kalah dalam Perang Wilayah.
Pangeran Nexus memanglah salah satu Pangeran pilihan Semesta, tapi setiap manusia pasti ada kelebihan dan kekurangan. Nexus memiliki kekurangan dalam menahan nafsunya, dia memiliki 3 Istri di usia 25 tahun dan belum memiliki anak karna memang dia tak ingin. 3 Wanita itu hanya dia jadikan alat pemuas nafsu. Kejam? Dia lebih dari itu menurut orang-orang Istana.
Nexus sering menyiksa Lusy dengan tendangan, tusukan, dan masih banyak lagi. Parahnya hanya Lusy yang menerima penyiksaan itu.
Setiap hari Lusy diam dan memakan hati karna Nexus selalu menyalahkannya untuk segala hal, Nexus selalu mencari kesalahan Lusy walaupun sebenarnya dia tau Lusy tak salah, namun dimatanya Lusy adalah orang yang selalu salah.
Setiap malam air mata Lusy terbuang sia-sia membanjiri ranjang, dia harus terus bertahan dengan Nexus karna perjanjian konyol itu, walaupun Lusy ingin kabur dia juga bingung ingin pergi kemana dan akhirnya akan memilih bersama Pangeran Bejat itu lagi.
Sekarang Lusy sedang menangisi hidupnya yang buruk, luka disekujur tubuhnya tak pernah ada yang tau, hanya dia yang tau dan dia yang merasakannya.
"Ayah....hiks....Bisakah kamu datang menjemputku? Aku ingin bersama kamu di langit....hiks...."
Lusy menangis dalam diam dan memegang erat dadanya karna rasa sakit yang dia rasakan hari ini.
"Hiks.....Hari esok akan seperti apa?"
Hari baru telah dimulai, Lusy sudah bangun sejak tadi, bahkan sebelum semua orang terbangun.
"Selamat pagi Tuan" ucap Lusy sambil menunduk melihat Nexus yang sudah menginjakkan kakinya di lantai dan panggilannya adalah Tuan karna Nexus memintanya seperti itu agar Lusy terlihat seperti Hewan.
"Pintar" ucap Nexus menatap Lusy rendahan.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lusy masih menunduk dengan hormat.
"Siapkan air hangat dan bantu aku mandi" ucapnya yang sudah mengalihkan pandangannya dari Lusy "Hanya kau" lanjutnya.
"Airnya sudah siap Tuan" ucap Lusy dengan sangat sopan.
"Hm" Nexus berjalan mendahului Lusy dan seperti hari-hari biasanya Lusy akan mengusapkan punggung Nexus dan semua yang dia lakukan adalah kesalahan.
'Sampai kapan akan seperti ini.....' batin Lusy dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
"Kamu pikir dengan menggunakan kukumu aku bisa terluka?" ucap Nexus penuh sindiran.
"Maaf Tuan, hamba tidak tau, hamba benar-benar tidak tau, hamba tidak sengaja" Lusy menempelkan kepalanya pada lantai berkali-kali dan itu membuat kepalanya lebam.
Nexus diam dan menatap Lusy tajam.
"Ampuni hamba Tuan, hamba benar-benar tidak tau...hiks...hiks" air mata Lusy kembali keluar dan Nexus masih diam menatap Lusy tajam.
'Wanita ini....' batin Nexus, 'Kenapa dia?' lanjutnya dan mendekati Lusy dilantai.
Tangannya terulur kearah wajah Wanita itu.
"Aakhh" ringis Lusy saat merasakan tangan besar mencengkram dagunya kasar.
"Kenapa? Sakit?" tanya Nexus dengan seringaian.
"T-tidak, saya mohon Tuan"
"Ck!" Nexus menghempaskan kasar wajah Lusy.
"Obati luka payahmu itu dan siapkan sarapan"
"B-baik s-saya permisi"
Lusy berlari untuk mengobati lukanya dengan terburu-buru, lalu dia segera menyiapkan sarapan dan Nexus melihat Lusy yang lari dengan tertatih-tatih itu tanpa ekspresi.
Lusy sedang di dapur menyiapkan semuanya dengan terburu-buru, dia takut Nexus datang dengan tiba-tiba dan melemparkan semua jerih payahnya itu.
"Ayolah cepat matangnya" ujarnya dan meniup perapian dengan terburu-buru.
"Aakkhh!!" ringis Lusy saat tangannya terkena bara api, Lusy hanya melihatnya sekilas dan kembali meneruskan pekerjaannya tadi, tapi sebuah tangan menghentikan kegiatannya.
"Myth!!" teriak Lusy melihat siapa yang menghentikan kegiatannya itu, "Lepaskan! Aku harus segera menyelesaikan ini!" lanjutnya mencoba melepaskan genggaman tangan Myth.
Pria itu menggeleng pelan sambil tersenyum, "Tanganmu terluka, obati dulu" ucapnya dengan lembut.
"Tidak, jika aku mengobatinya dulu dia akan membunuhku, aku akan mengobatinya nanti"
"Ada aku"
"Kamu bisa apa?! Kamu juga bisa mati Myth! Sudahlah lepaskan sebelum makanannya gosong"
Lusy menarik kasar tangannya dan kembali meniup perapian tanpa peduli dengan tangannya yang sudah membiru.
"Lusy! Sadarlah! Selama ini kamu disiksa dan bagaimana bisa kau terus bertahan dengannya?!"
Lusy tak menghiraukan perkataan Myth, tapi air matanya menjawab perkataan Myth barusan.
"Pergilah sebelum Kakakmu datang dan membunuhmu"
Myth Wanderer adalah Pangeran ke-5 dan hanya dianggap pecundang di Kerajaan, dia menyukai Lusy sejak pertama kali Lusy datang ke Wanderer Kingdom, sayangnya Lusy hanya menganggap Myth sebagai Kakaknya dan tidak lebih.
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini"
"Tidak ingin pergi?" bukan Lusy, itu adalah Nexus.
"T-tuan, Pangeran Myth hanya ingin menemani saya, biarkan dia pergi" mohon Lusy dengan menunduk setelah sadar dengan keberadaan Nexus.
"Menemanimu? Ck! Sekarang kau perlu ditemani?" sindir Nexus.
"M-maafkan Pangeran Tuan, Pangeran Myth tidak salah sama sekali"
"Kalau begitu aku akan menghukummu?"
"Iya, saya siap menerima hukuman"
"TIDAK!! Kak, aku yang salah kenapa harus selalu Lusy yang menerima hukuman?! Biar aku saja yang menerimanya" ujar Myth membela Lusy dengan berdiri didepannya.
"Minggir kau Myth, aku tidak ada urusan denganmu"
"Tapi ini kesalahanku!!"
"Kubilang minggir!"
Tiba-tiba tubuh Myth terhempas dan darah keluar begitu saja dari mulutnya, Nexus tersenyum miring melihat keadaan adiknya itu.
"PANGERAN"
"Mau kemana? Kamu harus menerima hukumanmu" ucap Nexus dingin dan menyeret Lusy bersamanya, dalam satu kedipan mata Lusy dan Nexus sudah tak ada dihadapan Myth.
'Sial! Aku gagal menyelamatkan Lusy lagi! Aku harus menjadi kuat untuk Lusy!!' batin Myth dan pergi meninggalkan dapur.
'Sekarang apalagi yang akan dia lakukan padaku? Apakah sekarang aku akan mati?' batin Lusy melihat Nexus yang dari tadi berwajah datar.
"Minumlah" ucap Nexus yang tiba-tiba bersuara lembut untuk pertama kalinya kepada Lusy.
"H-hamba tidak bisa Tuan"
"Kau menolak?"
"T-tidak, hanya saja hamba tidak pantas"
"Minum atau aku minumkan?"
Lusy melotot dan langsung mengambil cangkir pemberian Nexus itu.
"Saya akan meminumnya" ucap Lusy dan tergesa-gesa meminumnya hingga cangkir itu terlihat sangat bersih.
'Pintar'
"Sudah Tuan"
"Tunggu disini"
"Baik"
Nexus berjalan keluar dari kamarnya dan Lusy sekarang sendirian.
"Hoaam, aish! Kenapa rasanya sangat nyaman untuk tidur sekarang? Tidak! Aku tidak boleh tidur! Bisa-bisa saat bangun aku tidak ada di Bumi"
"Hoaaam"
Lusy dari tadi terus menguap dan pada akhirnya dia juga tertidur di kamar itu.
Klek
'Sudah tidur?' batin Nexus dengan menampilkan seringaiannya lalu berjalan mendekati Lusy yang ada di ranjang kebesarannya.