Aku Angela Talayana Werland dan ini adalah kisahku, dimana aku masih belum bisa melupakannya walaupun dia sudah berkali-kali menyakitiku, entah fisik ataupun batin dia adalah penyebab dari semua kesakitan yang aku alami selama beberapa tahun terakhir.
Dulu dia adalah hal terindah yang aku miliki, tapi sekarang dia adalah kesalahan terbesar yang aku buat dengan sengaja.
Marenjun Boy Delerium. Dia kekasihku dulu, walaupun kami sudah mengakhiri hubungan itu lebih dari 2thn, tetap saja perasaanku padanya tak segera hilang, mungkin mulai sedikit menghilang karna perbuatannya. Walaupun begitu aku masih mencintainya entah sampai kapan.
Perbuatannya kadang membuatku berpikir keras, dia begitu kejam dan tak berperasaan, namun terkadang dia juga sangat perhatian, itupun hanya kadang.
Dia sudah memiliki kekasih baru namun masih terlalu mencampuri urusanku, apalagi jika ada yang dekat denganku maka dia akan membuat luka yang lebih dalam untukku tanpa ingin tau penjelasan yang ingin kusampaikan.
Perlakuannya terhadapku terlalu berlebihan, dan aku tak bisa menolaknya.
"Udah gua bilang gak usah deket-deket sama Jaemin!! Dia tuh suka sama lo Tal!" marah Renjun yang baru saja masuk ke dalam ruangan dan membanting pintu dengan sangat keras.
"Tapi kan Jaemin dokter disini Ren"
"Ya gua gak peduli, pokoknya gak boleh dia!!" Renjun membentakku dan itu sudah hal biasa, kadang aku berpikir dia cemburu, namun jika cemburu berarti sayang kan? Renjun tidak begitu, setelah cemburu dia akan melakukan kekerasan padaku.
"Akh..." aku meringis merasakan tangannya yang mencengkram pergelangan tanganku dengan begitu kuat.
"Gua gak terima penolakan dalam bentuk apapun! Turutin apa kata gua! Paham?!"
"Gak bisa gitu! Jaemin itu temen aku! Apalagi aku berhutang nyawa sama dia!" aku sedikit melawannya, namun pilihanku salah dengan melawannya.
Plak!
Dia menampar pipiku di ruangan kedap suara ini, sangat keras dan kurasa akan meninggalkan bekas merah.
Air mata keluar begitu saja membasahi pipiku.
"Udah gua bilang gua gak terima penolakan dalam bentuk apapun!! Paham ga sih lo anj*ng?!"
"Hiks....hiks...."
"Sekali lagi gua liat lo bareng dia gua bakal lewatin batas" ucapnya penuh penekanan dan pergi begitu saja meninggalkanku di ruangan yang sunyi dan gelap itu.
Air mataku tak ingin berhenti, sangat sakit rasanya.
"Kenapa sih Ren.....hiks....."
Aku menangisi kehidupanku yang terlalu lemah ini sampai rasa kantuk menyerangku, aku tertidur dengan air mata yang terus mengalir membasahi ranjang rumah sakit ini. Bahkan didalam mimpi saja aku tak bisa bahagia. Hanya untuk merasakan bahagia itu rasanya sangat sulit jika didekat Renjun.
Wajah polosnya hanya sekedar topeng penipu, perbuatannya berbanding terbalik, jauh berbeda dari wajah yang sebenarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan aku benar-benar kesepian disini karna baru saja mengusir Jaemin.
Drrtt....
"Masih di rumah sakit?"
"Iya"
"Gua kesana"
Panggilan berakhir dan aku hanya bisa pasrah, menolak juga percuma.
Tok tok tok
Klek
"Tala"
Entah siapa itu, dia terlihat samar-samar karna cahaya lampu yang meneranginya, semakin dia mendekat wajahnya semakin terlihat jelas.
Mataku melotot kaget melihat siapa dia, dan saat dia memelukku jantungku serasa akan loncat berpindah ke Australia dan mataku akan pindah ke Korea.
"Felix!"
Dia Birma Felix Bamgartner, temanku yang sangat peduli padaku, walaupun aku tau sebenarnya semua perlakuannya padaku karna dia menyukaiku, tetap saja hatiku masih milik Renjun sampai sekarang.
"Kenapa? Kok kaget gitu?" tanyanya dengan suara deep khasnya.
"Lepas Lix" aku mencoba menyingkirkan pelukannya tapi percuma saja.
"Kenapa sih lo Tal? Kenapa lo gak bisa bales perasaan gua"
Aku bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam dari dirinya, aku tau sedikit tentang kisahnya, tapi tetap saja perasaanku tak bisa dipaksakan.
Felix makin mempererat pelukannya padaku, dengan sedikit berat hati aku balik memeluknya, mencoba menenangkannya.
"Udah Lix, kamu gak boleh gini, kamu bisa cari yang lain, banyak yang lebih baik dari aku"
"Tapi gua cuma pengen lo Tala, cuma wanita kayak lo yang gua mau, gua gak mau yang lain"
"Felix, plis ngerti...."
"Dan tolong pahan Tal"
Aku diam dan dia diam, kami diam dalam pelukannya yang semakin erat itu.
BUGH!!
"FELIX"
Renjun baru saja memukul Felix dengan begitu keras sampai membuatnya jatuh mencium lantai.
"Renjun udah, kamu salah paham" ucapku berusaha menghentikan Renjun yang sudah dikuasai emosi.
"Apa?! Emang dasar ganjen ya lo!!"
"Ren...."
Lagi-lagi ucapannya terlalu menyakitkan, kapan aku bisa egois dengan perasaanku sendiri.
Aku menatap Renjun dengan sayu, air mata kembali menetes saat ucapannya tadi berputar tanpa ijin dikepalaku.
Emang dasar ganjen ya lo
Emang dasar ganjen ya lo
Emang dasar ganjen ya lo
Air mataku semakin deras dan tanganku mengepal erat sambil menundukkan kepala.
"Brengsek lo Renjun! Wanita sebaik Tala lo sia-siain! Lo masih waras gak hah?!" teriak Felix dan berdiri menatap Renjun tajam namun tersenyum kearahku.
'Felix....'
"Gak usah banyak bacot lo!! Siapa yang ijinin lo pelukan sama Tala?! Tala cuma punya gua!!" bentak Renjun dan merangkulku, rangkulannya lebih tepat dibilang cengkraman, begitu erat dan menyakitkan.
"Tala gak pernah bahagia sama lo!! Lo cuma buat Tala jadi mainan!!"
"Apa peduli lo?! Tala aja gak apa!!"
"Emang dasar brengsek ya lo!!"
Aku menatap Felix dan tersenyum kearahnya walaupun berat, berharap dia lebih baik pergi dari sini sebelum Renjun akan melakukan sesuatu yang tak ingin aku lihat.
"Tala ayo pergi sama gua"
"Gak! Tala bakal sama gua!"
"Tala gak akan mau sama lo!!"
Renjun dan Felix menatapku, aku hanya bisa menunduk dan menoleh kearah Renjun.
"Maaf Lix, aku sama Renjun" ucapku dengan tak tega melihat wajahnya yang kembali rapuh dan lagi-lagi itu karna aku.
"Tala, lo pasti ketakutan kan?"
"Enggak, aku baik-baik aja, kamu pulang ya"
'Karna aku gak mau kamu kenapa-kenapa Lix'
"Tala...."
Aku tersenyum kearahnya dan memberikan jempolku sebagai tanda aku benar-benar baik sekarang.
"Udah diusir masih disini" sindir Renjun menampilkan smirknya.
Felix pergi begitu saja meninggalkan kami, saat pintu benar-benar tertutup Renjun melepaskan rangkulannya dariku dan menatapku tajam.
Plak!
Renjun menamparku lagi dan itu kembali meninggalkan bekas merah di pipi mulusku.
"Emang dasar bangs*t ya lo!! Siapa yang suruh peluk-peluk cowok muka tai itu?!"
"Ren..."
"Dasar muka tai gak tau diri!!"
"Dia bukan muka tai Ren, itu freckles"
"Sama aja!! Gak guna!!"
Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Renjun udah, sekarang kamu duduk ya"
Renjun mengikuti apa yang aku katakan, dia duduk di atas ranjang rumah sakit dan menyenderkan kepalanya pada bahuku, tangannya juga menggenggam erat tanganku.
"Gua sayang sama lo Tala, plis jangan kayak gitu, gua gak suka"
Aku tersenyum dan mengusap pelan rahangnya.
"Felix cuma temen aku, kamu adalah kebahagiaanku"
'Kebahagiaan yang semu'
"Hm, gua tau itu"
"Jadi apa yang perlu kamu khawatirkan? Kuncinya kan kamu yang pegang"
"Gua buang kuncinya biar gak ada yang bisa ngeluarin"
"Terserah kamu hahaha"
'Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya?'
Beginilah kisahku, hanya bisa begini, memangnya harus bagaimana?