"Karena semuanya hadir mari kita akhiri pelajaran hari ini karna saya ada rapat"
Guru emteka itu keluar dari kelas dan kelas kembali menjadi kapal pecah, sangat ramai dan rusuh, tapi itulah enaknya saat jamkos.
"Gel"
Gela menoleh dan nampaklah Redra disampingnya, dia adalah Sahabat Gela sejak kecil.
Redra diam dan tampak berpikir, melirik kesana sini seperti mencari pertanyaan yang ingin dia ajukan tapi gak ketemu dan dia kembali menatap Gela.
'Ni orang napa dah? Mulai gila ya?' Gela melihat Redra dengan heran dan sedikit gelengan.
"Nih"
"YO!! GELABEL"
Belum juga Gela nerima blukunya Redra si Brian udah nepuk punggung wanita itu dan membuatnya mengalihkan pandangan dari Redra.
"Beneran Yan?" tanya Gela antusias.
"Yoi Gel"
"Seru dong"
"Iyalah, Brian gituloh"
"Hahaha"
Gela tertawa bersama Brian dan seketika Redra tak dianggap. Btw Brian adalah teman Gela saat masuk SMP dulu sampai sekarang mereka masih satu sekolah dan selalu satu kelas satu negara satu asia dan satu bumi tapi gak satu perasaan.
"Duluan Bro"
"See you to night"
"Pasti"
Brian pergi dari hadapan Gela dan saat menoleh Gela tak menemukan keberadaan Redra walaupun sudah celingak-celinguk berkali-kali.
'Buku apaan tadi dah? Bikin penasaran aja'
Skip di lapangan basket sekarang Tim Redra sedang melawan Tim Yeslan. Pertandingan yang sangat sengit antara 2 Most Wanted Sekolah yang tidak pernah akur.
"YESLAAAAN"
"REDRAAAAA"
"YESLAN YESLAN YESLAN"
"REDRA REDRA REDRA"
Yeslan adalah anak buaya incaran para wanita. Tampang doang oke tapi kagak setia percuma, yagak :) Tapi gak apalah buat dipamerin juga cakep, yegak ;)
Para Siswi itu terus saja bersorak dengan semangat melihat pertandingan dan menyemangati pria idaman mereka masing-masing.
"Gel si Yeslan astagfirullah ganteng banget dah"
Sebenarnya Gela sangat malas menonton hal semacam ini, tapi demi si Giya Sahabatnya yaudahlah ngalah aja daripada ribut besar.
"YESLAAAN AYOOOOO" teriak Giya disampingnya dan makin membuat telinga Gela tuli.
'Ya Tuhan, tolonglah saya' batin Gela sambil mencoba menghilang dari lapangan.
"PERTANDINGAN DIMENANGKAN OLEH TIM YESLAN"
Gela melotot sambil melihat langit, 'Cepet banget kekabulnya' batinnya dan tersenyum.
Dari kejauhan Gela dapat melihat Yeslan nyamperin dia plus bawa handuk and minuman dingin aka air dingin kearahnya.
"Mau?"
Yeslan memberikan air itu pada Gela namun tak ditanggapi oleh wanita itu.
"Perlu diminumin?"
"Gak"
"Gua menang loh"
"Terus?"
"Gak mau ucapin selamat gitu?"
"Oh iya, saya masabodo"
"Heh, untung-untung ya cowok seganteng gua mau nyamperin elu"
"Dan apakah saya peduli?"
Gela menarik Giya agar tak terlalu menghabiskan tenaganya untuk bicara dengan kang buaya sekolah itu dan sebelum nyawanya dalam bahaya karna banyaknya tatapan tak suka dari wanita disekitarnya.
"Hey" ucap Yeslan dan menarik Gela.
Tarikan Yeslan berhasil membuat Gela jatuh. Terjatuh ke dalam pelukan lantai yang basah karna baru dipel, sangat memalukan epribadeh.
Setelahnya Yeslan mengangkat kedua tangannya seperti bilang 'Bukan salah gua' dan si Giya terkejut dengan itu, ingin membantu tapi dia bingung mau apa, ngebug geys.
Gela? Tentu saja dia melotot tak terima. Malu? Untuk apa? Dia tak tau malu malahan. Semua yang ada disitu tertawa melihatnya dan dia tak peduli dengan tawaan hina dari para Siswi dengki itu.
Tangan besar terulur kearah Gela, tangan siapa lagi kalo bukan Redra, mana mungkin si Yeslan.
"Makasih" ucap Gela yang menerima uluran tangan Redra.
"Yoi"
"E-eh Gel sorry gak sengaja"
Yeslan memegang tangan Gela tapi langsung ditepis oleh Gela dengan kasar.
"Apaan gak sengaja hah?! Sengaja juga!! Dahlah yok pergi Red"
Tanpa peduli pada Giya lagi si Gela langsung menarik Redra pergi bersamanya. Musuhnya semakin banyak karna perbuatannya barusan.
"Jangan marah terus" ucap Redra dengan lembut menatap Gela didepannya.
"Gimana gak marah hah?! Seenaknya jatohin orang terus kagak ditolongin kan ya nyebelin gitulooh!!"
"Jadi lo berharap ditolong sama dia?"
"Ya gak lah!!"
"Huh"
Redra menghembuskan nafasnya mendengar jawaban Gela, 'Kenapa wanita susah dipahami?' batinnya sambil tersenyum kearah Gela yang masih sibuk membasuh seragamnya dengan air di wastafel and you know mereka sedang di toilet wanita dan Gela terus saja berbicara tanpa jeda, itu sukses membuat Redra tersenyum samar dan mendekat kearah Gela.
"Eh anak kecebong!!"
Saat melihat bayangan Redra dari cermin kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Gela. Kata-kata yang ambigu, bagaimana kecebong punya anak? Kecebong aja anak bego.
"Kenapa?" tanya Redra dengan suara berat.
"Sok polos ye lu Red, dah tau gua kagetan bisa-bisanya asal nongol dibelakang gua kek hantu"
"Hehehe"
Gela mengeringkan seragamnya menggunakan pengering yang sudah disediakan di toilet dong kan elit gituloooh dan dengan Redra yang tak ingin pergi dari belakangnya, Gela tak peduli yang penting seragamnya cepat kering.
"Nah udah" ucap Gela tersenyum senang.
"Ayo" Redra menggenggam tangan Gela dan mereka pergi menuju kelas.
Sebuah senyuman tercetak samar-samar dibibir manis wanita itu, bagaimana tidak senang, si Most Wanted Sekolah sekarang sedang menggenggam tangannya. Ya walaupun mereka udah Sahabat lama sih, tapi ya seneng tau bikin anak satu Sekolah cembokor.
"EH ANAK GEMBLUNG" teriak Gela saat menabrak punggung lebar Redra.
"Napa lu Red? Dadakan aja kek tahu bulet"
Gela menggerutu dan melihat siapa yang membuat Redra berhenti mendadak, matanya serasa pengen lepas saat itu juga.
"Lu lagi lu lagi Yeslan!! Apaan lagi?! Minggir lo!!"
Gela menggenggam tangan Redra dan berniat pergi dari sana, tapi Yeslan menggenggam tangan kanannya yang kosong.
"A---"
Perkataan Gela terhenti saat melihat wajah melas Yeslan, tiba-tiba hati nuraninya serasa tak tega melihat hal itu.
'Ada apanih sama gua? Kenapa gua tiba-tiba pengen meluk dia? Si cowok buaya?! Oh no!' batin Gela sedang perang batin.
"Yaudah gua maafin, udah yok ke Kelas aja" ucap Gela dan sekarang kedua tangannya penuh dengan para Most Wanted.
"Ih! Langsung diembat semuanya"
"Udah kucel idup lagi"
"Cantikan juga gua"
"Dasar kurus tinggi idup lagi"
Semuanya diam dan menatap orang yang bilang Gela kurus tinggi tadi, semuanya tersenyum sinis menatapnya.
"Dari pada elu udah gendut, pendek, gak bisa make up idup lagi hahahaha"
"Hahahha, bener tuh"
"Hahahaha dasar gak sadar diri, ya masih mending Gela lah"
"Hahahaa"
Mendengar itu Gela tersenyum sinis kearah mereka.
'Matanya ternyata masih pada waras'
Tanpa semua orang sadari sejak tadi Redra dan Yeslan saling sinis dibelakang Gela namun terlihat keren bagi para fans mereka.
'Baru dimaafin udah sok'
'Maaf dari Gela artinya gas'
Mereka terus bertatapan tanpa sadar udah sampe ke kelas tapi genggaman mereka tak mau dilepas dari Gela.
"Hey! Lepasin ogeb!"
"E-eh"
Spontan mereka melepaskan genggamannya dan beberapa menit kemudian bel berbunyi.
"YEAY PULANG"
Parkiran Check......
"Ayo Gel"
"Eh"
Tiba-tiba Yeslan menarik Gela menuju Mobilnya dan langsung dikunci.
"Oilah! Apa-apaan ini?! Lo mau culik gua hah?!" teriak Gela tak terima dan menyenderkan dirinya pada kepala kursi sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Haha, ikut gua" ucap Yeslan dan menjalankan mobilnya.
"Terus Redra gimana? Dia nungguin gua pasti sekarang"
"Tenang aja, dia gak nungguin lo"
"Lo udah bilang sama Redra?"
"Bukan bilang sih"
"Terus?"
"Hehehe"
"Dih inimah nyulik artinya"
"Sekali-kali Gel"
"Hm!"
Gela tak peduli dan fokus pada jalanan didepan begitupun dengan Yeslan.
"Gel"
"Hm?"
"Boleh tanya?"
"Apa?"
Yeslan diam, dia tersenyum dan menatap Gela sekilas.
"Kalo misal seseorang buat salah sama lo apa lo masih bisa maafin dia?" tanyanya fokus pada jalanan didepan.
Gela menoleh kearah Yeslan dan tersenyum.
"Emangnya lo salah apa sama gua?" tanya Gela langsung to the point, itu hanyalah pertanyaan klasik yang sering dilakukan orang lain untuk minta maaf pada kita.
"Eh? Kok?"
"Jujur aja kali Yes, emang lo salah apa? Kenapa gua harus maafin lo?" tanya Gela dan masih menatap Yeslan disampingnya.
"Haha, gak kok, siapa tau dimasa depan gua berbuat salah sama lo dan lo gak mau maafin gua" jelas Yeslan dengan tertawa hambar.
"Ya apa dulu salahnya, kalo kesalahan lo bikin orang yang gua sayang kenapa-napa ya gua gak akan maafin lo, bahkan siapapun itu gua gak akan pernah kasih maaf ke dia" jelas Gela dan kembali menatap jalanan.
"Em, gitu ya"
"Iya"
Setelah perjalanan panjang akhirnya mereka sampai ke tempat yang Yeslan tuju, mereka keluar dari mobil dan Gela tampak bingung dengan tempat yang mereka kunjungi itu.
"Gue sayang sama lo Gel"