"Haaciiimm..."
"H... Ha... Haa..."
"HAACIM!"
SROOTTT...
SROT... SROT...
SROOTT...
"Sana pulang!" Usirku pada mantan bumil ini. Aku mengambil mangkuk yang kosong dihadapannya.
Disusul tangan kekar dengan bulu halus menyodorkan mangkuk kosongnya juga. Tak langsung kuterima, aku menatapnya jengah. Pada mereka.
"Ghrahzias, shechon pleehse!" Suara bindeng, ketularan si bini nih lakik, mulai tak tahu diri. Perkenalkan namanya Mateo Martines, suami Alia.
Hhhh...kulirik pasrah, pintu apartemenku yang hampir jebol, penyebabnya, dua manusia begundal ini, Menggedor dengan bar-bar. Jam 2 subuh. Bayangkan!
Beberapa menit lalu
"Khami sutdah memenchet bhellnya, kau tak segherah bukakan, mhaka behrikan kuncihnya, kahmih dhak kan mengedhor"
Alasan sang suami yang dapat dukungan sang isteri.
Kusipitkan mata, menelisik keduanya, aku masih berdiri di tengah pintu, mencoba menghalangi mereka masuk ke teritorialku.
Mereka lalu nyelonong masuk, si suami menggambil dua selimut di lemari bawah televisi, menyelimuti sang istri dan dirinya sendiri. Hapal betul! Kayak rumah sendiri ya buuunnn...
"Bagush shayang" dikecup pipi si suami kesenangan. Membuatku ingin menempelkan kepala mereka menjadi satu dengan lem koreya. Kesal!
"Mannha Angslehnya?" Aku masih terbengong didepan pintu yang terbuka.
"Arn cepet tutup pintunya, dinghin" Tamu gila, sabar Arn! Pahala...
Flashback end
Mengaduk angsleku dengan tak ikhlas, Aku memandangi mereka tajam, jika sorot mataku ini laser sudah aku cincang mereka. Pasangan menyusahkan ini.
"Kamih kesinih untuk kebaikan baby Druw Druw, sama Bon Bon yah khan honey" Mateo hanya mengangguk menungguku dengan mangkuk kedua angslenya.
Mereka memang diusir menjauh dari anak pertama mereka, Andruw Martines. Bocah laki super gemoy berumur 2 tahun dan ceriwis. Dan juga anak kedua mereka bocah cewek, Bonita Martines, 4 bulan.
Dan datang kesini dengan virus, mengorbankanku.
"Okeh aku lepaskan kau! Pasangan bestaikuuuhh... berterima kasihlah dengan Druwdutnya Moma" Ck! Mereka memanfaatkan kelemahanku. Iya aku sebucin itu sama Druwdut.
Lirikan tajam mengarah padaku dari bapak semangnya. Mateo sangat tak suka kalau aku memanggil anaknya dengan sebutan Druwdut.
Flashback
Sebulan yang lalu, Mereka merayakan ulang tahun ke-2nya Druwdut. Dan sudah 5 bulan aku berada di sini.
Alia mengundangku ke mansionnya, mengenalkanku pada keluarga dan teman-temannya. Aku seperti memiliki keluarga baru. Mereka menyambutku dengan sangat hangat.
"DRUWDUT... DRUWDUT... Moma Arn datang" Teriakku, mencari anak gemoyku.
Aku berlari dari depan pintu, mengambil Druw dari gendongan bapaknya.
Mateo menghela nafas kasar, melihat kelakuanku yang menurutnya sangat pecicilan. "Honey" Ia beranjak membantu sang istri yang kesusahan denganbl perut bolanya.
Kehamilan Alia memasuki bulan ke 8 tapi ibu hamil bar-bar itu tak pernah mau diam. Walau setelahnya akan mengeluh capek.
Aku uyel pipi Druwdut, aku ciumi seluruh wajahnya, bukannya nangis si Druwdut malah ketawa. Dasar kamu kiyut!
"OH GOD, GIMME ONE PLEASE, BUT SKIP THE P HUMAN" Gumamku keras.
Muah muah muah...
"Dah mma, uda" tangan gemoynya menghalau bibirku yang ingin menciumnya. Lagi dan lagi.
"But you need p human too, for sperm" tanggapan Mateo
"Yes, i need that sperm, Teo, the good quality one, but not the p human, buang aja mereka ke tempat sampah!!" Terserahlah ya, mereka gak mungkin ngerti juga aku ngomong apaan.
Yang aku tak tahu, Mateo mengerti. Begitu juga satu orang lain yang ada disitu, jawaban ketusku dalam bahasa.
"Druwdut you want this? Okay eat it sweetheart, gemoy ginuk ginuk kuuuu" menoel pipinya yang menggembung sibuk mengunyah. aku menjauh dari mereka, mending main dengan gemoyku satu ini.
"No mma, i' not hut... ahnimor, i'm justt fffafy, Dadha shay dat"
"Who's Dada?" Kuciumi pipinya, lalu pindah ketangan yang seperti roti sobek.
"Dhada... iszhh dhaa" ketawanya kegelian.
"Hooh, mau ngelucu kamuu yaaaaa... Druwdutnya Moma iniiiii..." masih kuciumi pipinya.
"Nooo... Fffafii... ffafii Moma" jerit kegeliannya. Dia sampai melorot, aku tinggikan gendonganku. Berat juga.
"Yes faffi fafiii"Jahilku
"Nooh... fafiiii... fffaafi" Heh! Sama itu dul.
"Ffafi right?" Druwdut masih menggeleng.
"No eno noh..." jari telunjuknya diarahkan padaku, dan digoyangkan dengan susah payah.
"Fffafi... Dadaaaa" tangan Druw mengulur kebahuku, ingin meraih sesuatu. Ia melihat kearah belakangku.
"Eh... eh... pelan Druw" Druwdut bergerak meraih bahuku, menariknya keras, lha pengen manjat doski
"Hai Fluffy boy" Suara berat dan dalam menyapa telingaku. Tangannya menjulur melewati bahuku, Mengelus kepala Druw.
"Fffafi... dhada" Druwdut senang menatapku ingin pindah gendongan.
Kulirik tangan itu, kemeja biru digulung sampai siku, kulitnya kecoklatan, dengan bulu halus terlihat jelas. Ditemani dengan jam rolex. Sesaat hilang fokusku, Membuat tak nyaman. Ditubuhku juga hatiku.
Memutar agar bisa melihat siapa?
Matanya menatapku dalam. Sorotnya yang tajam, menelisikku. Warna matanya coklat terang. Seperti menelanjangiku.
"Come here boy" ia mengambil Druwdut dari gendonganku. Mataku masih melihat apa yang ia lakukan. Hingga punggung pelukable itu menjauh.
"Hei" Bumil satu ini suka merusak khayalan gilaku.
"Mau aku kenalin?" Matanya berbinar, menyeringai jahil.
"Boleh" kami terkekeh.
"Okay, buat spoiler, dia sepupu mateo, baru balik dari italy, Cayden Massimo"
Flashback off
Iya, mereka berdua kesini, mengedor pintuku dengan brutal hanya untuk angsle. IYA ANGSLE. Okay.
Ini salahku yang tiba-tiba masuk angin. Ingin minum yang hangat-hangat sekalian jadiin konten dalam IG ku.
Sebenernya sih nggak salah, yang jadi salah adalah...
Saat...
Salah satu followermu, Yang adalah sahabatmu,
Seorang mantan bumil kalau liat apapun jadi pengen,
Dan harus dapat saat itu juga,
Dengan alasan ngidam, kalau tak dituruti takut anaknya ileran.
NAH! Mari kita lihat tersangkanya. Sedang asik nyemil kaloci pandan dengan nikmat kayak gak ada beban aja, padahal baru melahirkan. disebelahnya sang suami juga ikutan.
Dan kenapa mesti ngerecokin aku... Hhhh...
Aku tinggalkan mereka kekamarku, terserahlah, aku perlu merebahkan diri, perutku masih tak enak.
Rasanya butuh pelukan Cayden. Kangen.
Cuiiihh... boro-boro, lha wong, abis nikah langsung ditinggalin. Iya dia suamiku, sekarang.
Plak! Kukeplak kepalaku sendiri, apa apaan kau Arn! Ya aku suka saat para keluarga Martines memanggilku "Arn"
Apalagi kalau Cayden lagii... Hush Arn!