Hari diamana aku menikah dengan orang yang aku cintai, tapi dia tak mencintai diriku. hari demi hari kulewati sendiri, aku sebagai seorang suami tapi tak pernah dianggapnya sebagai seorang suami.
aku seorang suami yang tak becus. aku bahkan tak bekerja karena diriku yang bodoh ini. hingga istriku Mera lah yang bekerja untuk menghidupi kami. seharusnya sebagai seorang lelaki akulah yang memberi nafakah istriku. terkadang aku seperti seorang istri, kenapa? karena aku harus mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, mencuci layaknya ibu rumah tangga.
memang aku harus menerima itu semua karena aku yang terlalu bodoh, aku tak bisa bekerja karena hanya tamatan SMP karena kendala biaya sehingga aku menjadi orang yang bodoh.
istriku liriklah sedikit padaku, aku menggantikan tugasmu sebagai seorang istri, aku mencintaimu dengan segenap hati, kau bahkan tak pernah mau tidur seranjang dengan diriku.
pernikahan kami bukan atas kehendak dirinya tetapi kehendak keluarganya. aku menerima perjodohan ini karena memang aku sudah mencintainya, tapi ia tak pernah mau menerima perjodohan ini. dia pernah pergi kala akan melangsungkan akad nikah.
Mera kabur bersama kekasihnya. hingga ia terpaksa menerima perjodohan ini karena tak ingin sengsara. Mera adalah anak orang kaya ayahnya adalah salah satu pemilik restoran ternama dikota kami sehingga kehidupannya semua terpenuhi.
sedangkan diriku aku hanyalah anak tukang becak dan seorang buruh kehidupanku pas pasan kadang malah kurang. ayah dan ibuku harus menghidupi 5 orang anak dan aku anak yang pertama. aku memilih kerja serabutan dari pada meneruskan sekolahku. aku sebenarnya iri dengan orang orang karena bisa sekolah, tetapi aku tidak.
pertama aku bertemu mera kala dirinya tertimpa musibah yaitu hampir kecelakaan dipersimpangan jalan, akulah yang menyelamatkannya. sejak atulah aku mulai menyukainya, bisa dibilang cinta pada pandangan pertama ahh aku malu untuk menceritakan detailnya intinya aku bisa menjadi suaminya saja sudah sangat beruntung walau kadang aku diacuhkan.
-----------------------
"Angga! Anggaa!!"
"Ya ada apa mer?"
"Aku mau keluar kota, mungkin 1 minggu kamu urus rumah ya"
"1 minggu kok lama banget, emang apa yang kamu kerjain?"
"Ya banyaklah, mau ngecek lokasi sama klaen, ohh ya kamu mana paham yang begituan orang kamu nggak pernah kerja." dia berkata seperti itu karena ingin menyindirku, memang benar ucapanya aku tak pernah tau urusan kantor, jadi aku hanya diam saja. kalau boleh aku jujur hatiku sangat sakit ketika istriku sendiri mengucapkan kalimat itu, tapi aku sadar diri akan kenyataan ini. sebagai suami aku tak pernah membentak ataupun memarahi istriku. bukan berarti aku suami takut istri tapi memang karena aku tau bahwa hati seorang wanita itu sangat rapuh.
"Nih uang buat 1 minggu jangan boros boros aku nggak ada uang."
"Hm.. iya makasih."
"ohh ya kapan kamu keluar kota?"
"Nanti malam"
"kok cepet banget mer?"
"Ya terus gimana, produser udah nyuruh gitu kok, ahh udah deh aku mau siap siap males nanggepin kamu."
"Hahhh..." aku hanya bisa menghela napas melihat tingkah istriku yang lama kelamaan makin kurang ajar, tapi apalah dayaku aku memang pantas mendapat ini semua, seharusnya dulu aku tak menerima perjodohan ini.
________________
"hati hati dijalan mer." ku antar dirinya sampai kepagar rumah.
"hm" dia hanya menjawab dengan deheman, bagiku itu sudah biasa. dia sudah melajukan mobilnya, akupun masuk kedalam rumah.
"Hah... saatnya masak buat makan malam." aku membuat makan malam untuk diriku sendiri, bagiku ini tak masalah.
"Mera andai kau tahu betapa aku sangat mencintaimu, aku sakit jika terus terusan seperti ini. jika aku menceraikanmu aku tak ingin membuatmu malu karena harus menyandang status seorang janda. jujur aku ingin sekali saja kamu menganggap diriku ada, hanya sekali saja aku tak ingin dua kali. tapi aku sadar diri aku bukan prioritasmu. aku tak masalah harus menjatuhkan harga diriku didepanmu, asal kamu bisa tenang aku pun akan bahagia. bahagiaku satu yaitu bisa melihat kamu bahagia walau bukan dengan diriku." tak terasa akupun menintikkan air mata, jika kalian menganggapku lelaki lemah tak apa, tapi memang kalian berada diposisiku pasti akan merasa sakit hati yang luar biasa.
pernikahanku dengan mera sudah berjalan 2 tahun, tapi tak pernah ia menunjukkan sikap yang berbeda. sikapnya tetap sama selalu datar dan juek terhadapku.
sudah satu minggu mera pergi meninggalkan rumah. aku sudah mempersiapkan semuanya malam ini adalah malam yang paling aku tunggu. aku memasak makanan kesukaan mera menghiasi meja makan malam dengan lilin dan bunga, tujuanku yaitu ingin mengurangi rasa penat mera.
suara mobil sudah terdengar aku cepat cepat membukakan pintu. dan benar mera sudah pulang dengan membawa kopernya.
"Sini aku bawakan kopermu." ia memberikan kopernya padaku. ku lihat ia berjalan kekamar mungkin ingin mandi kali ya batinku. tak lama ia keluar dengan baju tidurnya ku lihat wajah penat dirinya membuat aku tak tega.
"Mer sini kita makan malam bersama, aku sudah buatkan makan malam untukmu loh."
ia hanya melirik sekilas diriku dan langsung duduk dimeja makan, ia melihat makan yang telah aku buat untuk dirinya. ia mulai memakan makanan yang ada dipiringnya. satu suapan sudah masuk kedalam mulutnya tiba tiba....
"Umhh... huekk"
ia berlari menuju washtafel dan langsung memuntahkan isi perutnya.
"Mer kamu nggak papa?, kamu masuk angin ya?" ucapku sambil memijit mijit tengkuknya, ia seperti lemas.
"Sudahlah aku mau tidur, aku tak berselera makan." aku mengangguk dan mengatarnya kekamar.
ada rasa tak enak dihatiku, apakah ia sakit atau...? ahh tidak mungkin ia lagi masuk angin.
***
sudah hampir satu minggu ini aku selalu melihat mera muntah muntah, aku pernah sempat berpikir bahwa mera hamil tapi apa mungkin.
"Mer mera kamu ada didalam?, aku mau mengantarkan obat untukmu" tak ada sahutan didalam akupun mengetoknya lagi
"Mer kamu lagi dikamar mandi ya?" tetap tak ada sahutan. entah mengapa perasaanku mulai tak enak aku terus menggedor gedor pintu kamarnya tetap tak ada sahutan hingga aku pun mendobraknya.
aku kaget melihat kondisi mera yang sudah terbaring dilantai.
"Mer kamu kenapa mer?, hey bangun mer." aku khawatir akhirnya aku membawanya kerumah sakit.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Begini pak, kondisi ibu mera baik baik saja hanya saja.." dokter itu menggantungkan kalimatnya hingga membuat aku penasaran.
"Hanya kenapa dok..?"
"Ibu mera sedang mengandung usia kandungannya kira kira 4 minggu, jadi saya harap jangan membuat ibu mera terlalu kecapekan ya pak, saya akan beri vitamin untuk kandungan ibu mera... saya permisi." aku terdiam, mendengar penururan sang dokter, hingga lamunanku dibuyarkan kala mendengar suara mera.
"Emmhh... aku dimana?"
"Kamu ada dirumah sakit mera."
"Hah dirumah sakit? aku sakit apa mas angga? aku... aku kenapa?"
"Tenanglah mera kamu nggak papa kok, cuma...."
"Cuma kenapa mas angga jawab yang jelas jangan digantung kalimatnya!" ku lihat eksptesinya yang terlihat kalang kabut.
"Kamu.... kamu hamil mer."
"APAA?!!, ak...aku hamil?"
aku mengangguk sambil tersenyum padanya, ia menangis sejadi jadinya dan terus memukul mukul perutnya.
"Jangan mer jangan, kasihan anakmu dia tak bersalah."
"Kenapa kamu senengkan aku hamil, bahkan kau tak malu kah? mengakui anak yang kukandung adalah anakmu?"
"kenapa harus malu mer, jika aku tak memiliki anak denganmu setidaknya aku bisa merawat anakmu dengan pria lain, walau itu akan sangat menyakitkan, jika kamu bahagia aku juga bahagia mer."
ya memang benar anak yang dikandung mera bukanlah anak dariku tapi dengan pria lain atau bisa dibilang kekasih mera. selama ini mera menjalin hubungan dengan kekasihnya, sekarang aku tau mera sebenarnya tidak pergi keluar kota melainkan memadu kasih dengan sang kekasih. memang kenyataan yang menyakitkan, tapi aku harus berusaha tegar.selama menikah aku tak pernah sekalipun menyentuh mera bahkan seujung rambutnya pun tidak. aku akan menyentuhnya jika ia yang telah mengijinkan. aku memang tidak bisa menjadi suami seuntuhnya tapi aku bisa berperan sebagai teman hidupnya.
aku tak bisa menyembunyikan persaan sakit hatiku padanya. hatiku sakit kala mendengar mera hamil dari pria lain. tapi aku tetap menerimanya. hatiku menjerit sakit jika yang menjadi suaminya mera buaknlah aku pasti ia sudah diceraikan suaminya bukan?. tapi aku tidak akan pernah menceraikannya walau aku mengetahui kenyataan pahit ini. aku tidak bisa meninggalkan wanita yang tengah hamil.
kini usia kandungan mera sudah menginjak 7 bulan. ku urus semua kebutuhannya dengan telaten, aku tetap menjadi suami yang bertanggung jawab memenuhi semua keburuhan istriku.
"Angga!!"
"iya ada apa mer?".
"Nih pijitin kakiku, kakiku pegel." aku mengangguk dan memijitka kakinya dengan telaten, kadang aku tak tau aku ini suami atau pembantu dirumah ini haha sungguh indah kehidupan ini.
PRYAARRR!!!
aku tak sengaja menjatuhkan pot bunga kesukaan mera, sudah kuduga pasti dia akan marah besar terhadapku.
"Astaga Anggaaa!!!, kamu ini buta apa gimana?! pot bunga kesayanganku kamu pecahkan, pokoknya aku nggak mau tau kamu harus bersihin ini semua terus ganti pot bungaku dengan baru dan harus sama modelnya."
"tapi mer aku nggak punya uang buat ganti pot kamu, dan uang yang kamu beri udah habis buat kebituhan rumah."
"Aku nggak mau tau kamu cari uangnya sendiri karena uang aku juga udah menipis!"
aku hanya menghela napas, aku membersihkan pecahan pot itu" ahhsshh." tanganku tergores pecahan pot, tapi itu tak masalah karena hanya luka kecil yang menyakitkan.
aku kelaur rumah untuk mencari potnya, bukan mencari potnya melainkan mencari uangnya terlebih dahulu. bagaimana bisa beli pot kalau tak ada uang bukan?
"Ahh aku harus cari uang biar bisa beli pot."
"emm pak saya boleh kerja nyici piring nggam buat satu hari ini soalnya saya butuh banget pak uangnya."
"Hehh pergi pergi!! enak banget kamu.. sana pergi!!" aku diusir ketika ingin bekerja mencuci piring kepedagang kaki lima, tapi malah diusir ya sudah terpaksa aku pergi dari sana.
sudah 5 kali aku ditolak untuk bekerja satu hari, hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. angin malam menerpa kulitku aku berjalan menuju rumah. ya ku tak naik mobik karena bannya bocor jadi terpaksa jalan kaki.
sesampainya dirumah keringat sudah membanjiri dahiku aku pulang tak membawa apa apa.
Tok Tok Tok
mera membuka pintunya, " Gimana udah dapet potnya?!" aku menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya, terlihat jelas ia seperti menahan amarah.
"Kalau duit udah dapet?" akupun menggeleng lagi.
"Dasar suami nggak becus, kamu tu bodoh atau apa haa?! cari uang nggak becus beli pot nggak dapet, pokoknya kamu harus dapet uang plus potnya kalo nggak dapet jangan harap tidur dikamar." Brakk!!!
mera membanting pintunya dan menguncinya dari dalam. ada rasa sesak didadaku kala mendengar ucapan mera tapi ia ada benarnya aku memang suami yang tak becus, heh bahkan mecari uang saja aku tak bisa bagaimana mau jadi suami yang bertanggung jawab?
aku tidur diteras rumah. angin malam terus menerpa kulitku dingin hanya itu yang terucap dalam bibirku, nyamuk nyamuk mulai menghisap darahku suaranya mengusik tidurku.
"Heh bangun masih tidur aja"
Ku buka perlahan mataku, ku lihat mera sudah berdiri didepanku dengan berkacak pinggang, akupun segera bangun.
"Haciihh.... hacihh." akibat Dinginnya malam membuat aku bersin bersin.
"Halah nggak usak sok sokan sakit deh kamu pengen aku perhatiian kan? hehh.. jangan harap, udah sana masuk, jadi suami kok nggak becus."
sudah 3 hari ini aku sakit akibat tidur diluar rumah, mera seakan tak peduli dengan diriku ia bahkan masih menyuruh nyuruh diriku kala aku masih sakit. hari ini sakitku tambah parah aku terus meriah dan suhu tubuhku yang mengingkat drastis.
BRAAKK!!
"Beliin aku batagor."
"Ak.. aku lagi sakit mer." ucapku lemah sungguh aku tak kuat untuk berjalan rasanya lemas sekali.
"Aku nggak peduli, cepet beliin sekarang!"
terpaksa aku iyakan aku berjalan dengan lemas aku bahkan berjalan dengan pegangan dinding sungguh aku tak kuat tapu aku harus menuruti keinginan istriku.
"Cih.. kalo jalan tu yang cepet, kalo kamu nggak cepet nanti aku malah nggak selera makan karena nungguin kamu yang keket kek gini!" ia bahkan berbicara dengan nada ketus.
"tapi aku lemes kalo suruh jalan cepet mer."
"alah alasan, basi tau nggak."
aku berusaha sabar dengan sikap mera yang makin hari makin kurang ajar terhadapku. aku ini kepala keluarga seharusnya dihormati bukan seperti ini.
aku terus berjalan, hingga sampailah ditemlat orang yang berjualan batagor, antrinya panjang sehingga membuat aku harus sabar menunggu. kini batagornya sudah dibuat aku berjalan menuju rumah.
"ahhsshh." tiba tiba kepalaku pusing, aku berusaha untuk terus berjalan tapi mataku sudah lebih dulu terpejam.
BRUUKK
aku pingsan ditempat, banyak orang orang yang membantuku untuk dibawa kerumah sakit.
Tok Tok Tok
"Assalamualaikuk mba mera."
"waalaikumsalam ada apa ya pak kok rame rame?"
"anu begini mba suami mba masuk rumah sakit karena tadi pingsan dijalan."
"Haaa... ah iya pak saya akan kerumah sakit sekarang."
"Baik mba.. kalau begitu kami pamit dulu, assalamualaikum."
"waalaikumsalam."
"Mau bikin drama apa lagi dia, dasar merepotkan"
***
"Emm sus saya mau bertemu pasien yang namanya Angga Yudistira."
"Ohh iya tunggu sebentar."
"bapak Angga ada diruang tulip lantai 2."
"terima kasih sus."
_____________________
"Angga"
dapat kulihat mera yang berdiri diambang pintu dengan memanggil namaku, aku tersenyum padanya karena dia datang menjengukku.
"Mera kamu disini? ,kukira kamu tak datang" ucapku sembari memberikan senyum hangat padanya.
"Cihh jangan geer aku kesini karena paksaan warga, kalo nggak ya.. nggak bakal dateng."
aku hanya bisa tersenyum kecut padanya.tanpa dia sadari dia lah yang telah merawatku saat aku dirumah sakit. ia merawat diriku dengan telaten. hingga diriku diperbolehkan untuk pulang.
"Angga aku ingin pisah darimu."
.
.
.
.
**********
Hai guys aku akan buat yang part 2 nya ya, ini ceritanya masih belum tamat, tamatnya di part 2, jadi pembaca wajib baca yang part 1 dulu biar nggak bingung sama alur ceritanya.
Btw aku masih pemula ya... jadi wajar kalo banyak typo sama alur ceritanya yang agak terburu buru/ bingungin. jadi kalo mau kasih saran juga boleh....
makasih readers😘🙏