Manajer masuk ke dalam ruangan karyawan. Di sampingnya berdiri karyawan baru yang masuk hari ini. Semuanya berdiri melihat karyawan baru.
"Perkenalkan dirimu," ucap manajer.
"Nama saya Jeremy. Saya akan berkerja mulai hari ini. Mohon bantuannya."
Semuanya terkejut. Tak terkecuali Hana. Wajah dan perawakan Jeremy sama persis dengan Joshua, mantan calon suami Hana yang meninggal sesaat sebelum mereka menikah.
"Hana, kau nggak pa pa?"
Hana menganggukkan kepalanya. Ia teringat lagi memori dirinya dengan Joshua. Hana lalu pergi ke toilet. Menangis sebentar.
Lima menit. Cuma lima menit. Sudah terlalu banyak air mata tercurah untuk Joshua. Ia tak kan pernah bisa kembali lagi. ~ Hana berusaha merelakan Joshua.
Setelah lima menit Hana menuju meja kerjanya. Sudah ada Jeremy di sana. Hana lah yang bertugas mengajari Jeremy.
Apa maksud manajer?
Tapi mau tidak mau Hana harus mengajari Jeremy. Cara menggunakan mesin fotokopi, cara membuat kopi yang pas rasanya dan berbagai tugas karyawan pemula lainnya.
Semakin lama Hana bersama Jeremy, kenangannya dengan Joshua semakin teringat.
"Hana ..."
Hana menoleh. Suara yang sama seperti suara Joshua. ~ Apakah Jeremy itu reinkarnasi Joshua? Tapi nggak mungkin. Joshua baru meninggal satu tahun yang lalu.
"Eh ... Nggak boleh panggil nama aja, ya?" Jeremy jadi salah tingkah.
"Kalau di kantor jangan. Tapi kalau di luar kantor boleh." Hana ingin Jeremy bisa membedakan posisi mereka di kantor dan di luar kantor.
"Aku ada dua tiket konser musik klasik karya Tchaikovsky. Aku mau ajak kamu nonton," ajak Jeremy.
Musik klasik? Tchaikovsky? Dari mana Jeremy tahu aku suka itu?
"Eh ... Nggak suka musik klasik, ya,?"
"Suka. Aku suka. Apalagi Tchaikovsky."
"Besok aku jemput di rumah. Dandan yang cantik."
Besok aku jemput di rumah? Dandan yang cantik? Itu kata-kata terakhir yang aku dengar dari Joshua. ~ Air nata Hana menetes. Lagi.
Move on, Hana. Move on. Ingat Joshua sudah tiada. Beri Jeremy kesempatan. Tapi ... Apa aku hanya menganggap Jeremy itu Joshua.
Hana menjadi dekat dengan Jeremy karena Jeremy yang begitu mirip dengan Joshua. Sampai akhirnya Jeremy menyatakan cintanya. "Hana, aku menyukaimu."
"Maafkan aku. Bukannya aku tidak mencintaimu tapi aku mau dekat dengan denganmu karena kamu mirip seseorang yang aku sukai." Hana berlalu pergi. Ia merasa bersalah telah memberi harapan palsu untuk Jeremy. Tidak seharusnya ia mempermainkan perasaan Jeremy.
Jeremy memeluk Hana dari belakang. " Aku tak masalah kau anggap aku itu dia. Asalkan kau tetap bersamaku. Aku akan menunggumu sampai kau menyadari bahwa diriku itu Jeremy."