[Sumpah, gue iri sama lo. Sama kehidupan lo. Andai gue jadi lo,] celoteh nya di pesan WA kala itu.
[Trus..., kenapa lo nggak jadi bagian hidup gue aja?] terkirim.
Ting!
Kau membalas, [maksud lo?]
Sengaja tak 'ku balas pesannya kala itu. Biar dirinya di seberang sana, diserang rasa penasaran dan tanda tanya.
Dia Nadia, teman satu fakultasku. Sering diduduk kan dalam satu kelompok diskusi, kami perlahan menjadi begitu dekat.
Dia seorang gadis manis nan sederhana. Tak seperti gadis-gadis lain yang suka memakai tas branded, yang menurutku terlihat ribet. Nadia lebih suka menggunakan ransel dengan warna gelap.
Urusan sepatu pun, kulihat dia selalu menggunakan sneaker.
Dan wajahnya tak pernah sekalipun dipoles make up. Dia cantik natural.
Di awal pertemuan kami, ia terlihat begitu pendiam dan cuek dengan sekitarnya. Namun makin ke sini, ia jauh dari kata pendiam, mungkin lebih tepatnya 'tidak bisa diam.' Berceloteh tentang segala hal, dan yang paling menyebalkan adalah; ia rela mengulang perkataannya berkali-kali dan baru berhenti saat ditanggapi. Entah saat bertatap muka, entah di pesan singkat. Sama saja.
Aku sering menyebut nya 'wanita gila,' tapi ia tidak pernah marah. Ya, dia memang wanita gila, dan perlahan aku mulai dibuat tergila-gila oleh kegilaannya.
***
"Ade!" siang itu setelah jam kuliah, Nadia menghadang langkahku, memasang tampang yang dibuat-buat kejam.
"Iya, ada apa?" Bisa kulihat tanda tanya besar di sudut matanya, kala mata indah itu bertemu pandang denganku.
"Apa maksud chat lo yang tadi malam?! Lo sengaja ya, nggak ngebalas? Jahat lo De!" Ia cemberut, bibir kecil merah muda itu nampak begitu menggemaskan, hingga tanpa bisa ditahan, sebuah tawa lepas dari bibirku.
"Malah ketawa? Jahat!" Dengan kesal ia berbalik arah, meninggalkanku.
***
[Gue minta maaf.] Aku memandangi layar handphone. Semenjak tadi sore rasa bersalah bersarang di hati ini. Cukup lama menunggu hingga balasan dari Nadia datang.
[Gitu aja? Nggak ntraktir gue makan gitu?]
[Oke. Gue jemput.] Dengan segera aku meraih jaket dan kunci motor. Menuju kost-annya yang terletak beberapa kilo dari kost-anku. Kebetulan malam ini restoran tempat kubekerja paruh waktu tutup.
"Apa-apaan sih lo De? Maksud gue ya nggak malam ini juga!" Lagi-lagi dia protes, cemberut. Entah kenapa aku sangat ...,menyukainya. Rengekan itu. Ekspresi itu.
"Ya udah. Gue pulang." Aku memutar balik motor, perlahan. Karena aku yakin dia akan menahanku.
"Eits! Udah nyampe, juga. Dan gue udah siap-siap. Mubazir langkah tahu nggak!" Benar saja dugaanku, baru saat aku hendak menghidupkan mesin motor, ia menghadang, membentang kedua tangan.
"Nggak kok. Gue kan pakai motor," jawabku datar.
"Ahhhh .... Ini anak! Polos atau gimana sih?" Dia mengacak-ngacak rambut lurus sebahu nya. Benar-benar terlihat seperti orang gila.
"Naik!" Aku memberi kode agar dia naik motor CB kesayanganku.
"Nggak, gue mau kita jalan kaki." Dia menggeleng.
Jadilah kami berdua berjalan menyusuri jalanan kota Bandung yang ramai malam itu.
"Makan apa?" Aku melirik ke arahnya yang nampak sibuk menghangatkan diri. Saat itu sedang pertukaran musim. Angin bertiup dan sepertinya dia kedinginan.
"Nih, pakai!" Aku melepas jaket dan menyampirkan di kepala gadis itu sembarangan, menutupi wajahnya.
"Hey! Baik-baik napa?!" Lagi-lagi dia protes. Sedang aku tetap melanjutkan langkah sambil mengulum senyum. Entah kenapa, mendengarnya marah malah menimbulkan kepuasan tersendiri. Suara lengkingnya itu terdengar seperti suara di film-film kartun. Lucu.
"Tadi lo nanya kita mau makan apa kan?" Dia setengah berlari, menyesuaikan langkah yang tertinggal.
Aku melirik ke arahnya, yang hanya sebahuku. Dia sangat pendek. Dan aku suka itu.
"Sate Padang," potongku.
"Kok tahu?" Dia menyerngitkan dahi.
***
"Terimakasih Ajo ...." Kulihat wajahnya seketika berseri saat Bapak pemilik warung menghidangkan dua porsi sate.
"Lewat seporsi sate, gue bisa melepas rindu dengan kampung halaman. Rindu akan ranah Minang," ucapnya seperti biasa, saat setiap kali kami menyantap menu yang satu ini. Seolah itu adalah ritual tertentu baginya.
Oh ya, aku lupa menceritakan beberapa hal tentang wanita gila ini. Dia adalah gadis berdarah Minang, kuliah ke Bandung lewat jalur bidik misi. Meski gila, kuakui otaknya encer. Nilai IPK tiap semester selalu saja mendekati 4.0
Ia seorang gadis yatim. Ayah dan Ibunya memutuskan berpisah saat ia umur setengah tahun.
Aku hanya diam menatapnya. Gadis manis, berambut hitam legam sebahu. Tubuh mungil itu habis ditelan jaket jeans-ku yang kedodoran. Membuatku selalu ingin menjadi orang yang akan selalu ada di barisan pertama untuk melindunginya. Gadis Minang di perantauan.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" Dia berhenti mengunyah dan menatapku dengan kedua alis terangkat.
Sial! Aku tertangkap mata, mengamatinya.
"Gue cuma mau mastiin, jaket gue nggak kena kuah sate. Itu aja." Kuraih setusuk sate lalu mulai mengunyah. Menghindari tatap dengannya.
***
Hari-hari berlalu. Kegiatanku berjalan normal. Siang kuliah. Malam bekerja. Tapi entah mengapa, tanpa kehadiaran Nadia, rasanya ada yang kurang.
Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya di kampus.
"Sorry, Nadia kemana ya? Kok sering nggak masuk?" Aku mendekati Risa, teman satu kost-annya.
"Oh, Nadia pulang ke Padang. Dia nggak ngabarin Lo?"
"Nggak. Thanks ya."
Sebuah rasa yang entah bagaimana aku harus menerjemahkannya, muncul menyeruak penuh mengisi ruang dada.
Rasa kehilangan, sepi, dan juga mungkin khawatir. Khawatir kehilangannya, kehilangan seseorang segila itu bisa saja dunia berubah hampa.
***
Bosan, dihantui rasa yang tak tahu diri itu. Di sela-sela jam kerja aku meraih handphone, memilih namanya di kontak WA dan mulai mengetik pesan.
[Boleh nanya?]
Hanya selang beberapa detik, sebuah balasan pesan darinya datang.
[Tanya aja. Nggak usah ijin dulu.]
[Kok nggak kuliah?]
Hening. Tak ada balasan. Dua centang itu telah membiru. Dia telah membaca pesanku. Dan terlihat tulisan "online" di bawah namanya.
Dia sengaja tidak membalas atau ia meninggalkan HP dalam keadaan pesanku terbuka?
Pertanyaan itu muncul memenuhi ruang kepalaku.
Ini aneh, biasanya gadis itu selalu blak-blakan tentang segala hal padaku. Tapi kali ini aku merasa ..., ada sesuatu yang dia tutupi.
Terlalu lama menunggu, kusimpan kembali gawai di saku celana dan melanjutkan pekerjaan yang tersisa.
***
Hah .... Kurebahkan badan di atas kasur. Menatap kosong langit-langit kamar. Perlahan rasa kantuk menggelayut mesra, merayu-rayu kedua kelopak mata agar beradu temu.
Ting!
Dengan malas aku meraih handphone. Sedikit menyipit, saat cahaya layarnya menyapa retina karena suasana kamar gelap kala itu.
Setelah tiga jam, akhirnya dia mengirim balasan.
[De, gue bakalan nikah. Lo bisa nggak bilang sesuatu ke gue? Biar gue nggak ragu-ragu mengambil keputusan ini.]
Aku terdiam. Kupandang dalam-dalam, kubaca berulang-ulang pesan darinya. Berharap aku salah baca.
Tapi sekian kali kuulang, tak ada yang berubah dari tulisan di layar gawai ini.
Lalu, bagaimana nasib rasa yang telah terlanjur tumbuh dan berdetak kencang tiap kali bersamamu?
Rasa yang kupendam sendiri, menunggu waktu yang tepat, menunggu ia matang. Hingga kita bisa menikmatinya bersama dalam balutan ikatan suci.
Kejam memang. Ingin sekali rasanya aku menghadangmu. Memintamu menunggu sedikit lagi. Sedikit lebih lama lagi. Aku akan meminangmu.
Tapi apalah daya. Bukan itu balasan yang kau inginkan. Dan kau pun sama sekali tidak tahu menahu akan simpanan di hati ini.
Dengan pura-pura tegar, aku membalas pesanmu. Sebagai teman, harusnya aku bahagia dengan berita ini. Tapi sebagai seorang yang menginginkan dirimu, aku harus apa? Menahanmu? Sedang kuliahku saja belum beres.
[Kalau emang menurut lo ini yang terbaik, ya maju. Kalau enggak, mending jangan dulu. Trus, gimana kuliah lo?]
Lagi-lagi hening. Kau tidak membalas pesanku.
***
Dua bulan berlalu, kami tak lagi berbicara ataupun berbalas pesan. Bahkan pesan terakhirku malam itu belum jua kau balas hingga hari ini. Hingga pertengahan Maret tahun ini. Bahkan sepertinya Nadia memblokir nomorku. Entah karena apa?
Pesanku...
Untukmu Bungaku, aku lah padang yang akan selalu membentang. Aku lah tempatmu pulang.
Aku akan selalu sudi menjemput, jika suatu waktu nanti kau dibuang. Meski di dalam kobaran api sekalipun. Biar tetes darahku akan jadi pemadam.
Dariku...
Ade, yang selama ini kau sebut teman.
Teman yang diam-diam menyusun langkah menuju pinangan yang nyatanya kini kedahuluan orang.
*The end.