Musim gugur telah tiba, pepohonan yang dipenuhi daun yang hijau kini telah berubah menjadi kecoklatan, berguguran di atas kepalaku yang tengah berada di bawah pepohonan. Kalian tau? Aku sangat menyukai saat dedaunan musim gugur berjatuhan menerpaku, lantas aku akan menengelamkan diriku dalam tumpukan dedaunan itu. Atau menerbangkannya lagi ke atas, menghamburkannya lagi, dan lagi. Lantas tertawa gembira.
Aku memakai mantel tebal, yang memang harus di pakai saat musim gugur tiba. Soalnya udara berubah menjadi dingin. Berbeda dengan musim semi yang hangat, lantas bunga bunga bermekaran di seluruh sudut kota.
Di temani oleh keluarga, sanak - saudara, atau kerabat dekat. Aku menatap sekitarku yang lengang. Tak ada seorangpun yang menemaniku, saat bermain kali ini. Karna memang sejak aku bayi sampai remaja tempat tinggalku hanyalah sebuah panti asuhan. Menyedihkan ya? Kenapa aku bisa sampai di letakkan di sana? Apa aku sebenarnya tidak diinginkan! Itulah yang ku pertanyakan setiap hari! Tidak bukan, tapi setiap hela nafasku.
***
Setelah puas bermain dengan dedaunan kering musim gugur, aku kembali duduk di bangku taman, tidak jauh dari tempatku bermain. Disana terdapat sebuah buku memori usang. Yang telah disimpan sejak lama. Bibi Mirna yang menyimpannya.
Benda itu telah lama Bibi Mirna simpan. Ia sengaja merawatnya untukku. Benda itu ada di keranjang tempat aku dibaringkan, di sebuah keranjang rotan yang dianyam, berwarna kecoklatan, sama seperti dedaunan di musim gugur.
Apakah aku menyukai musim gugur karena cerita Bibi Mirna? Mengenai aku diletakan di keranjang rotan yang kecoklatan! Tidak juga. Aku menyukai musim gugur karena sebuah alasan. Apa itu? Kalian akan tau nanti.
***
Aku memandang sampul buku itu, ada gambar pepohonan musim gugur yang indah. Aku selalu tersenyum ketika melihatnya. Meskipun pertanyaanku ini sebenarnya belum ada jawabannya. Aku tetap tersenyum.
Meskipun aku terlantar di keranjang rotan di depan sebuah panti asuhan. Orang yang meletakkan aku disana memberikanku buku ini. Sebelum Bi Mirna memberikanku nama, ia membaca buku ini terlebih dahulu.
Kejutan, ia menemukan sebuah nama yang terpampang di halaman pertama. Aurelia syafira. Bi Mirna kemudian menamaiku. Aku biasanya di panggil Fira oleh Bibi. Ia suka menyebutkan nama belakangku, dibandingkan nama depan.
Entahlah?! Aku tidak mengerti apa alasannya. Tapi sebuah potret seseorang membuatku Faham. Potret itu berukiran nama seseorang juga. Aurel yuanda. Nama depannya mirip bukan? Itu sebabnya aku memahami Bi Mirna.
Eh, maaf. Jadi melantur kemana mana ya.
Kata kata yang pertama ku baca dari buku itu. "Aku tau, keputusanku ini memang kejam. Aku meletakkan darah dagingku sendiri di tempat ini. Tapi, apa daya. Situasi memaksaku untuk melakukannya. Seseorang yang tidak mau bertanggung jawab telah menelantarkan diriku kejalanan. Membuangku seperti sampah. Padahal aku hanyalah korban atas perbuatannya. Entah kenapa aku yang harus menanggungnya!" Aku membacanya sampai ujung kertas. Ku balik halaman selanjutnya.
"Aku sangat berterima kasih kalau kalian mau menerima putriku. Aku tidak punya apapun untuk membesarkannya. Aku pun tidak membawa uang sepeserpun saat ini. Di tambah hutangku yang kian menggunung. Di akibatkan oleh seseorang itu. Dia melampiaskannya kepadaku. Padahal aku sama sekali tidak memakai uang pinjaman itu." Aku sebenarnya sudah hampir menangis melihat kalimat terakhir yang tertulis di kertas itu! Bukan karna melihat Ibuku yang menulisnya dengan air mata bercucuran! Di kertas itu ada bekasnya jelas.
Aku hampir menangis karena, aku menjadi beban sebesar itukah? Sampai ia tega membuangku! Bukankah seorang Ibu rela mengorbankan nyawanya demi anak! Kenapa aku malah di anggap beban yang tak berkesudahan.
Aku tau dia memiliki masalah saat itu. Tapi bisakah ia kembali sekarang, aku janji tidak akan menyusahkannya. Aku sudah berusia 15 tahun sekarang. Bisakah ia kembali. Tak apa walau sekelebatan mata. Asalkan aku bisa melihatnya sekilas.
***
Aku tak sadar tengah menangis dalam lamunan, air mataku menetes akhirnya. Sekejap ku usap dengan mantel tebalku.
Ku melanjutkan kalimat di buku usang itu. "Aku sekarang tidak punya tempat untuk bernaung. Tolong mengertilah, bahkan aku sekarang sedang tengah menderita penyakit, aku tidak tau akan sembuh atau tidak. Setidaknya, mereka tidak akan mengambil bayiku. Mereka mengancam kalau tidak terlunasi bayiku akan di ambil, atau aku yang akan mereka bawa. Ini amat beresiko untuknya. Jagalah dia. Aku tau, aku tidak memberikan uang sepeserpun. Tapi sunguh aku menyayanginya. Aku akan kembali, jika aku bisa." Aku akhirnya menangis tersedu sedu, seorang diri di taman yang sepi.
Tidak ada seorangpun yang tau, aku selalu akan menangis jika membaca kalimat awal kata kata yang Ibuku tulis.
***
Aku beranjak dari tempat duduk ku, angin menerpa dari sisi kananku. Aku melangkah menelusuri tepi jalan raya.
Tiba tiba sebuah mobil ambulace melaju di sisi kiriku.
Aku menoleh, Bukan karena anginnya yang kencang yang menerpa wajahku. Melainkan saat melihat pintu ambulace yang terbuka. Aku melihat tangan yang menggenggam daun gugur, Ada tulisan di sana. Kalau aku tidak salah.
Aurelia syafira. Nama itu kulihat! Iya, Jelas! Sangat jelas! Karena posisi ku dan ambulance itu hanya setengah meter. Dan daun yang berada di tangannya itu berukuran besar, tulisannya pun sama.
Aku langsung berlari sekencang kencangnya, tidak peduli Bibi Mirna sudah berteriak dari ujung pagar. Taman itu memang dekat dengan panti asuhan. Tempatku tinggal selama 15 tahun terakhir.
Aku berlari, terus berlari. Walaupun ketinggalan jauh. Orang orang mulai melirik kearahku. Aku menatap mereka.
"Kenapa kau berlari?" Tanya salah satu dari mereka.
"Aku.. Mengejar, ambulance.. Itu" Ucapku dengan nada terengah engah.
"Oh, apa ada yang bisa ku bantu?" Lanjutnya.
"Sungguh??" Aku menatapnya terkejut. Orang itu mengangguk. Lalu bergegas ke samping taman, mengambil sebuah benda.
Aku menatap tidak percaya. " Ini cuma bantuan kecil, pakailah sepedaku!" Aku membungkuk mengucapkan banyak banyak terima kasih.
Aku meraih sepeda itu, lantas ku kayuh sekuat tenaga. Beruntung di persimpangan depan sedang lampu merah. Aku bisa segera menyusul ambulace itu.
' Aku jangan sampai kehilangan ambulance itu' Batinku.
***
Ini mungkin konyol, mengejar ambulance tanpa suatu alasan yang jelas. Tapi, ada sesuatu yang sedari tadi menuntutku melakukannya. Aku, sejenak ragu. Haruskah?
Tapi, setelah lelah mengejar dan sampai ke tujuan, aku mengikuti mereka. Ke dalam koridor dan ruang 'UGD' Aku menunggu di depannya, yang entah mengapa ku lakukan. Aku mondar mandir tidak jelas.
Sampai setengah jam menunggu. Dokter keluar dari ruangan itu.
"Apa anda keluarganya??" Dokter itu bertanya. Aku bingung harus menjawab apa, sampai suster yang menjawab.
"Dok wanita paruh baya itu tidak punya keluarga! Dia sebatang kara, tapi dia punya biaya saat dilarikan kemari." Mendengar Jawaban itu, dokter mengangguk angguk mendengar jawaban tersebut.
Dokter itu menatapku. " Kamu siapa?" Ia bertanya padaku. Aku yang ingin menjawab lagi lagi tertahan lagi. Seseorang berseru seru dari dalam.
"Dokter, pasien sadar dan memangil seseorang dok!" Serunya dengan nada khawatir.
"Kenapa?" Tanya dokter itu memalingkan wajahnya, ikut cemas.
"Dia memanggil orang yang bernama Aurelia syafira dok. Tapi siapa orang itu? Dia terus memanggilnya saat sadar tadi. Bagaimana!!" Seorang suster itu berkata panik.
***
Sebaliknya aku tertegun seketika. Aku mendengarnya lamat lamat saat dokter itu sibuk berdebat dengan kedua suster itu.
Kuberanikan diri mengintip dari balik kaca buram ruang UGD. Aku melihatnya wanita yang sedikit berkeriput, tubuhnya kurus, salah satu tangannya terlentang ke samping, sembari memanggil suster dan dokter. Satu tangannya memegang kokoh sebuah daun lebar hampir sebesar buku tulis. Ia memegangnya kokoh, seakan itu sangat berharga.
Hei, tunggu dulu. Itu bukan daun, itu sebuah gambar daun. Jika ku perhatikan dengan seksama.
"Bu,.. Bukankah?"
***
Aku teringat saat keluar taman dikala usiaku 5 Tahun. Aku menggambar salah satu daun kering, lantas mewarnainya semirip mungkin. Aku berhasil, mirip sekali dengan daunnya.
Seseorang tiba tiba mendekat ke arahku. Ia perempuan seusia Bi Mirna.
"Tante siapa?" Ujarku seraya mendongak ke atas. Wanita itu tersenyum.
"Kamu bisa anggap tante teman." Suara lembut nya keluar mengisi telingaku, aku serasa mempunyai seseorang yang dekat. Aku lantas mengangguk tanpa banyak bantah.
"Wah, gambarmu bagus! Belajar dari mana?" Tanya wanita itu.
"Bibi Mirna." Jawabku singkat, sambil tersenyum.
Wanita itu ikut tersenyum.
***
Sampai saat ini aku tidak tau, siapa wanita itu sebenarnya. Aku menoleh ke arah kedua suster dan dokter itu.
"Bolehkah aku masuk?" Aku bertanya, itu juga ucapanku yang pertama setelah sejak tadi hanya diam menatap situasi.
Mereka bertiga menoleh, dan tidak keberatan menyuruhku masuk, bahkan tanpa bertanya apakah aku bernama Aurelia syafira atau bukan.
Aku melangkah mendekati wanita paruh baya itu yang semakin putus asa, menatap sekitar.
"Syafira, panggil Aurelia syafira.. Kemari.. Aku ingin melihatnya.. Ingin sekali..!!" Ia meneteskan air mata mengatakan hal tersebut.
Akh terus mendekat. "Tante.." Perkataan pelanku membuat ia menghentikan tangisnya, lantas menoleh antusias.
"Kamu.. Aurelia syafira kan?!" Ia bertanya lemah. Tanpa banyak bantah aku mengangguk.
Wanita paruh baya itu menagis haru. Demikian juga aku. Langsung mendekaterengkuhnya.
"Nak, ada yang ingin tante sampaikan." Aku mendengarkan dengan serius.
"Lima belas tahun lalu, tante menaruh bayi di depan panti asuhan harapan. Tidak jauh dari sini, tante melakukannya karna terpaksa, tapi seiring waktu berjalan tante kembali ke sana. Menemukan anak yang sedang menggambar daun musim gugur." Wanita itu menganggkat gambar itu tinggi tinggi.
Aku meneteskan air mata. Dia ternyata Ibuku!! Ibu yang selama ini ku rindukan. Aku harapkan, yang hadir di setiap mimpi. Ibu.
"Kami berbincang, jujur tante sangat senang akhirnya setelah lima tahun berpisah, tante bisa menatap wajahnya lagi. Ia dengan wajah merah mudanya, secara polos menyebutkan namanya dan menaruhnya di kertas bergambar." Suaranya kini melirih. Aku mengangguk angguk.
"Tapi, kami harus berpisah lagi lebih lama.. Sepuluh tahun. Tante mengirimi hadiah setiap tahun ke sana, meskipun hadiahnya hanya pensil warna." Aku terkejut. Wanita paruh baya itu tersenyum getir.
"Pensil warna misterius itu!!" Ujarku juga lirih, dibalas oleh senyuman lebar.
Wanita itu kejang kejang seketika... Suster dan dokter kembali berkerumun. Salah satu suster memasang tabung oksigen.
***
Kalimat kalimatnya saat itu kembali terngiang. "Ibu.."
Sesaat berlalu lagi, wanita itu memaksakan diri. Aku kembali mendekat. "Jangan memaksakan diri Bu. Ibu harus sembuh sekarang!!" Aku bergumam.
"Tidak Aurel. Tidak. Ceritanya belum selesai. Tante sekarang sakit parah, dokter memfonis kangker otak stadium akhir. Tante berharap.. Bisa.. Hah.. bertemuu.. Kam..Uuu.. " Nafasny Tiba tiba menipis lagi.
"Ibuuuu.. Ibuuu.. !!!" Semuanya kembali berkerumun, sekarang dokter mengeluarkan alat kejut listrik. Aku panik bersandar di dinding. menyaksikan semuanya.
***
"Kamu mau es krim?" Tanya Murni.
Syafira menggeleng. "Ini kan musim gugur tante.. Mana enak makan es krim!"
"Oh iya!" Murni menepuk dahi pelan.
***
Semua ingatan itu kembali terukir di pelupuk mataku, haruskah ini terjadi.. Aku baru bertemu sesaat dengan Ibu kandungku. Haruskah aku kehilangannya?!
Dokter berusaha sekuat tenaga, tubuh wanita itu tidak bergerak. Aku langsung maju. Ketakutanku menjadi nyata. Aku berteriak parau. Suster menyelimuti tubuh kaku Ibuku jauh dariku. Secarik kertas bergambar itu jatuh di depan mataku. Tapi terbalik.
Ada ungkapan di sana.
Haruskah? :(