Setiap bertemu hanya curi pandang, tanpa bicara hanya sesekali kami saling memandang " Apa kabar" seorang lelaki d depanku menyapa sambil tersenyum, membuat jantung dag dig dug. "Alhamdulillah baik" sambil berlalu aku jawab tanpa memandangnya
hari berlalu sampai pertemuan kami yang ke 7 dia datang ke rumah orang tua ku tanpa memberi kabar terlebih dahulu bersama dua orang pria paruh baya mereka menyapa
"Assalamualaikum" suara lelaki paruh baya itu mengucapkan salam. tentu saja kami terkejut kedatangan tamu tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam" kami pun menjawab bersama
Seseorang paruh baya bernama bapak Ahmad menceritakan tujuannya bertamu ke rumah keluarga ku
"Maaf sebelumnya kami datang tidak memberitahu terlebih dahulu, kami berniat untuk melamar anak gadis bapak untuk putra kami"
Kami hanya diam karena bingung dengan kedatangan mereka
Satu jam setelah mengutarakan niat baiknya akhirnya mereka pamit pulang
"Nak, apakah kamu mencintai lelaki itu" Bapak langsung bertanya padaku
"I-iya pak saya mencintai mas iyus, namun saya belum siap menikah karena saya masih sekolah" aku menjawab dengan perasaan bahagia dan takut
Ya waktu itu usiaku baru memasuki 16 tahun dan aku masih duduk di bangku SMP. Namun aku sangat mencintai lelaki itu meskipun usia kami berbeda 8 tahun, tetapi usia tidak membuat kami mundur untuk melanjutkan niat baik kami.
"Baiklah kalau begitu nanti bapak akan mengirimkan seseorang untuk menyampaikan pesan bahwa kami menerima lamarannya tetapi pernikahan d adakan setelah usiamu genap 17 tahun"
q bahagia akhirnya apa yang aku inginkan untuk menikah mudah terlaksana. setelah semester dan aku di nyatakan lulus sekolah aku langsung di pinang oleh mas iyus
"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin tersebut tunai" mas iyus menjawab nya dengan lantang dan lancar semua orang bahagia akhirnya aku sah menjadi istri seorang yang sederhana
Satu bulan aku menikah aku hamil orang tua dan mertua ku bahagia mendengar kehamilanku. Namun kebahagiaan yang kudapatkan di awal pernikahan kini menjadi tangisan
Usia kandungan ku memasuki bulan ke 7 aku pergi ke dokter kandungan untuk melihat wajah anakku
"Anaknya perempuan pak,bu lihat dia sangat cantik" dokter pun menasehati agar aku banyak istirahat dan makan sayuran
Setelah 9 bulan akhirnya anak kami lahir ke dunia dan benar saja anak kami perempuan
"Qonita Syabila, itu nama untuk putriku" aku memberikan nama pada putriku
melahirkan secara normal di rumah dan di temani ibu ku. Sedangkan suami ku Sibuk dengan keluarganya sendiri. Baru 8 hari putri kami lahir ke dunia aku demam dan bapak segera menjemput dokter untuk memeriksa keadaanku
" Tidak apa apa bu dia cuma kelelahan jangan terlalu capek dan banyak pikiran" lalu dokter pun berpamitan
"Sudah punya anak satu dulu jangan nambah lagi sebelum anakmu umur 10 tahun" ucap ibu sambil tersenyum dan berlalu
" kalau tidak mau punya anak lagi ya sudah, aku juga masih bisa mencari di luar sana 150 ribu udah dapat" ucap suami ku sinis
Q tak kuasa menahan air mata ini, begitu sakit dan pedih mendengar ucapannya
"Sana kalau kamu bisa cari wanita dengan uang 150 ribu" aku lemparkan uang 3 lembar ke wajahnya karena begitu sakit hati mendengarnya
setelah anak kami lahir pertengkaran terus saja kami alami hingga anak kami berusia satu tahun
"bu,pak, saya ingin bekerja karena selama menikah saya cuma di kasih uang 100 ribu untuk belanja, jika seperti ini terus bagaimana masa depan anakku"
tak tega rasanya melihat ibu yang menitikkan air mata dan melihat senyuman putri ku yang selalu menggemaskan
" Coba tanya dulu sama suami mu apakah dia mengijinkan atau tidak" jawab bapak dengan mata berkaca kaca
'maafkan ibu nak bukan ibu tak sayang padamu tapi ibu harus bekerja demi masa depanmu' Ucapku dalam hati
" mas apakah kamu mengijinkan aku untuk bekerja" tanyaku sambil ku pegang pundaknya
"hmm" hanya begitu jawabannya
Aku pun ijin dengan mertua ku tapi...
" kamu mau bekerja, apa kamu yakin? sedangkan kamu belum pernah bekerja nanti baru sehari di sana kamu minta kiriman uang saya buat ongkos pulang"
Ya alloh begitu sakit hatiku mendengar ucapan mertua ku. tapi kata katanya menjadikan penyemangat dan kekuatan untukku
Baru dua minggu aku bekerja telpon berdering
" Nak apakah kamu tau kalau iyus pulang ke rumah orang tuanya, padahal dia pamit ke ibu dan bapak kalau dia mau bekerja" ibu menyampaikan kabar itu tapi aku tidak boleh lemah. Aku matikan telvon dari ibu ku dan beralih ke panggilan suami ku
"Hallo mas apa benar kamu pulang ke rumah orang tuamu,? sedangkan kamu pamit ke orang tuaku untuk prgi bekerja"
" iya, memang benar aku pulang ke rumah orang tua ku memangnya kenapa? ada masalah bagimu, terserah aku mau pulang ke rumah orang tuaku karena ibu ku yang sudah mengandung ku, melahirkan dan membesarkanmu. dan mulai sekarang kita pisah, aku kembali ke rumah orang tuaku dan kamu pulang ke rumah orang tuamu"
hati ku hancur terasa dunia ini berhenti berputar saat orang yang aku cintai mengatakan hal yang tak semestinya. berulang kali dia menyakiti selalu ku maafkan tapi kali ini tidak
" Hallo apakah kamu sibuk,? aku ingin bicara" setelah 2 bulan q bekerja dan setelah dia membuat hancur hati ini dia kembali menghubungiku
" mau bicara apa" suara ku yang kesal begitu mendengar suaranya
" Aku ingin kita pisah, dan aku ingin kamu mengembalikan semua yang pernah kuberikan padamu dan anak mu" dengan lantang dan percaya dirinya dia mengatakan jika dia meminta uang nafkah yang dia prnah berikan padaku dan anaknya
Hening
"Baiklah aku akan mengembalikan semua yang pernah kamu berikan padaku juga anakmu. Tapi dengan satu syarat" aku pun tidak mau mengalah
"mmm, katakanlah apa syarat darimu" dengan sombongnya dia berkata seperti itu
"ckk aku hanya meminta supaya kamu mengembalikan keperawananku seperti dulu. jika kamu sudah mengembalikannya, maka uang yang kamu minta berapapun akan aku berikan" jawab ku dengan sinis
hening dan terdiam. tak lama dia mematikan telponnya
' aku memang bodoh, tidak berpendidikan tapi aku tidak sebodoh yang dia pikirkan' ucapku dalam hati
satu tahun lamanya aku bekerja akhirnya aku bisa memeluk putriku. rindu,marah, lelah, seketika hilang saat melihat putriku tersenyum dan menghampiriku untuk pelukan seorang ibu yang sudah lama merindukan senyuman putrinya
"bunda" itulah pertama kalinya aku dengar dari bibir mungilnya. dia memanggilku dengan sebutan "Bunda" betapa bahagianya momen yang sangat aku nantikan bisa memeluk dan membelai rambutnya yang kriting
malam hari begitu dingin jam dinding menunjukkan jam 08 malam aku segera menidurkan putriku dalam pelukanku
tok tok tok
terdengar suara pintu, aku bangkit dari tempat tidurku
"Assalamualaikum" terlihat seorang lelaki itu tersenyum padaku lalu mendekatiku
" silahkan masuk, ada keperluan apa anda datang kesini" tanpa menjawab salam nya aku langsung pada pertanyaan
"Jika kedatanganmu ingin membahas masalah itu maaf, aku tidak punya waktu untuk anda" ku tutup pintu namun badan lelaki itu terlalu kuat untuk mendorong
" dengar jika seorang datang kerumahmu maka hargailah tamu mu" begitu ucapannya
"hmm" cuma begitu jawaban ku
"silahkan masuk dan duduklah, aku akan memanggil ibu dan bapakku" jawabku sambil pergi ke arah kamar orang tuaku
" Ada keperluan apa kalian datang malam malam begini" tanya bapakku dengan ekspresi wajah yang begitu sangat kesal
" saya kesini ingin meminta maaf jika anak saya berbuat salah" jawab ayah mertua
" ckk semudah itu kalian mengucapkan maaf, tanpa kalian memikirkan perasaanku waktu itu,? apakah kalian tidak malu dengan sikap kalian ini, apa semua lelaki sama sepertimu? apakah semua mertua sama seperti anda? " aku tidak bisa menahan emosi ini
" maaf ada apa sebenarnya coba tolong kamu ceritakan dari awal" dengan sabar ayah mertua terus menatapku
Satu jam aku bercerita semua kelakuan anaknya. sedangkan dia hanya menunduk dan menangis
" apa benar yang d katakan oleh ana?"
"i-iya pak semua itu benar, dan aku tau aku salah. aku minta maaf"
"baiklah memang anakku salah namun tolong nak d fikirkan dulu sebelum mengambil keputusan, kalian sudah punya anak"
" maaf pak, keputusanku sudah bulat aku ingin bercerai dengan mas iyus"
" baiklah aku akan menceraikanmu, tapi aku tidak mau menanggung semua biaya nya, aku mau terima beres cuma tinggal tanda tangan aja"
segampang itu dia bicara tanpa memikirkan beban ku
Tiga bulan berpisah akhirnya aku mendapatkan surat cerai dan aku terbebas dari laki laki yang tidak pernah memberiku dan anakku nafkah
setelah kesedihan, aku memulai hidup baru, lembaran baru bersama anakku. aku melanjutkan bekerja di negeri orang tanpa kurasakan lelah aku terus berjuang demi kebahagiaan putriku
setelah beberapa tahun
" hai ana, saya ingin berteman denganmu apakah kamu tidak keberatan?
akhirnya aku menemukan pria yang aku pikir dia pantas menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak ku
lalu bagaimana kelanjutan ceritanya? tunggu saja ya akan lebih seru dan menarik
yuk baca dan dukung novelku yang berjudul
"keteguhan hati seorang wanita"