"Vin, gue keluar dulu ya", ujar Hana pada Vina, temannya yang masih semangat menonton pertandingan.
"Mau kemana? Lagi seru ini", sahut Vina tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan.
"Duh bosen", keluh Hana yang memang tidak paham dengan pertandingan sepak bola yang sedang mereka tonton.
"Pacar gue tanding itu"
"Lo seneng, gue senep", sahut Hana yang sudah berdiri meninggalkan bangku penonton.
"Jangan lupa balik!" teriak Vina mengingatkan.
Hana berjalan-jalan di sekitar stadion sambil jajan di stand-stand yang tersedia. Mending ia sendirian kayak anak hilang begini daripada mati kutu di dalam stadion.
Setelah dirasa pertandingan akan segera selesai ia pun bergegas masuk ke dalam stadion untuk menemui Vina.
Namun sebelum sampai di pintu masuk ia sudah dikejutkan oleh orang-orang yang berlarian keluar.
"Woyy mau kemana lo!"
Braakk brakkk
Bagh Bugh
Duaarrr
"Akhhhh"
"Maju sini!!"
"Aww sakit!"
"Kyaaaa"
Banyak suara teriakan diiringi dengan benda-benda yang berterbangan.
Hana kaget bukan kepalang, sampai ia hanya bisa mematung ditempat. Sekujur tubuhnya kaku tidak bisa bergerak saat melihat banyak orang berjatuhan dan berjongkok melindungi kepala mereka.
Dihadapannya orang-orang sedang saling membantai dengan senjata seadanya. Ada yang menggunakan ikat pinggang, batu, balok kayu, batako, panci emak(?).
"Kyaaa.. " Hana teriak sambil melindungi kepalanya saat melihat batu melayang ke arahnya.
"Woyy, ngapain lo diem disitu?!" teriak seseorang dari arah samping.
Hana tidak merespon.
"Sini ikut gue!" seorang lelaki menarik tangan Hana mengajaknya menjauh dari gerombolan suporter bola itu.
"Ada apa ini?" tanya Hana panik.
"Tawuran antar suporter", balas lelaki itu.
Wiiiuww.. Wiiuuwww..
Tiba-tiba sirine polisi terdengar. Membuat para pemuda kocar-kacir melarikan diri.
"Cepat! Cepat! Masuk bus!"
Lelaki asing itupun menarik Hana memasuki bus bersama gerombolan orang-orang yang memakai pakaian yang serupa.
"Eh, gue bukan suporter. Temen gue masih ada di dalem", ujar Hana panik setelah teringat Vina.
"Bahaya! Lo bisa ketangkep!" lelaki itu tetap menarik Hana hingga memasuki bus yang penumpangnya didominasi oleh laki-laki itu. Pengemudi bus itu langsung tancap gas sebelum mobil polisi mengejar mereka.
Ia duduk dengan kikuk di bangku tengah bersama lelaki asing tadi. Baju Hana terlihat sangat kontras dengan para penumpang lain. Ia terlihat seperti orang yang salah kostum.
"Aduh, ini mau kemana?" tanya Hana gelisah.
"Yang penting kita aman dulu", sahut lelaki disampingnya.
"Tapi.. "
"Nama lo siapa?"
"Hana"
"Gue Bagas"
"Gue bisa turun disini aja gak nih?" sela Hana.
"Ngikut aja dulu. Nanti gue anter. Rumah lo dimana?"
"Gak jauh dari sini. Emang kita mau kemana?"
"Kampung desa sebelah"
Jawaban itu membuat Hana melongo. Tiba-tiba ia merasa khawatir. Ia benar-benar sudah salah naik bus. Semoga saja Bagas bisa dipercaya. Ia mengumpat kesal saat tau ponselnya lowbat saat keadaan genting seperti ini. Bagaimana ia bisa menghubungi Vina?
"Please, gue turun disini aja", pinta Hana lagi.
"Lo mau pulang jalan kaki sendirian? Ini sudah sampai perbatasan hlo"
"Tapi.. "
"Percaya sama gue"
Hana akhirnya menurut meski rasa curiga terus menyertainya.
'Hana, perbanyaklah berdoa', ucap Hana dalam hati.
Tak lama bus yang mereka tumpangi berhenti disebuah perkampungan. Semua penumpang keluar dengan riuh.
"Cepetan keluar napa? Gerah nih!"
"Sabar woy!"
"Ayo", ajak Bagas.
Hana mengekor dibelakang dengan canggung. Bagas mengajak ke rumahnya yang tak jauh dari sana.
"Wah, lo kok pulang-pulang bawa anak orang, Gas? Nemu dimana tadi?" sambut seorang lelaki dari dalam rumah sambil mengamati Hana yang bersembunyi dibelakang Bagas.
"Nemu di jalan, mas", sahut Bagas.
"Yuk masuk dulu", Bagas menoleh ke arah Hana yang terlihat ragu.
Karena tak kunjung bergerak, Bagas pun menarik tangan gadis itu memasuki rumahnya. Kini gadis itu sudah duduk di kursi ruang tamu. Pandangannya menelusuri setiap jengkal rumah yang terlihat sederhana itu.
"Eh, ada tamu rupanya", ujar wanita setengah baya yang baru saja memasuki rumah.
"Temannya Bagas atau Ridwan ini?" tanya wanita yang terlihat ramah itu.
Hana tampak berfikir sejenak. Mungkin Ridwan yang dimaksud adalah lelaki yang dipanggil 'mas' sama Bagas tadi.
"Bagas, bu", balas Hana dengan senyum canggung.
Wanita itu mengangguk paham.
"Bagas! Kok temennya gak dikasih minum?" teriaknya kemudian sambil memasuki dapur.
"Bentar mak, mandi dulu", sahut Bagas dari salah satu bilik.
"Makan dulu yuk. Emak gue udah nyiapin makanan", ajak Bagas yang baru muncul.
"Tapi gue mau pulang", tolak Hana.
"Bentar aja kok".
Bagas menarik tangan Hana menuju sebuah ruangan dengan meja dan kursi sederhana dengan menu makanan sederhana pula. Di sana sudah ada ibunya dan Ridwan, kakaknya yang bersiap untuk makan.
Meski awalnya Hana merasa canggung berada diantara orang yang baru ia kenal namun keluarga Bagas mampu mencairkan suasana. Mereka mengajak ngobrol dan menanyai Hana, bahkan dengan pertanyaan yang entah ngelantur kemana.
Hana merasa nyaman berada ditengah keluarga mereka. Sederhana namun harmonis. Tidak seperti keluarganya. Meski ia termasuk keluarga yang serba berkecukupan, namun ayah dan ibunya tidak pernah ada di rumah. Rumah selalu sepi, hanya ada dirinya dan bi Ima, sang asisten rumah tangga.
"Lo jadi pulang gak?"
Pertanyaan Bagas menyadarkan Hana kalau hari sudah mulai petang.
"Naik mobil kebangsaan gue gapapa ya", ujar Bagas sambil menunjuk mobil pickup yang sudah terparkir di depan rumah.
" Gapapa, Gas".
Hana pun segera berpamitan dengan emaknya Bagas dan kak Ridwan. Ia jadi merasa sedih harus berpisah dengan orang-orang baik itu.
"Bagas.. " panggil Hana ketika mereka sudah ada ditengah perjalanan.
"Ada apa?"
"Take me with you"
"Ha?!"
Keluarga adalah dimana kamu bisa merasakan kebersamaan dan kebahagiaan yang tak bisa kamu dapatkan ditempat lain.