Malam hari di tempat Ryan berada
Nampaknya Ryan masih belum bisa mengendalikan dirinya saat sedang menghadapi masalah, terlihat banyak pecahan kaca berserakan di lantai kamarnya.
Tempat tidur king size berukuran 200x200 itu pun ikut terkena dampak dari amukan pria tampan tersebut.
Kini Ryan yang sudah merasa puas dengan aksinya sedang berdiri di atas balkon kamar lantai 2 miliknya.
kedua tangannya ia letakkan di sisi besi pembatas sehingga membuatnya sedikit membungkuk karena tangannya ia lipat sampai ke siku.
Pria tampan itu sedang memandangi indahnya lampu malam hari di kota metropolitan tanpa mengenakan baju, ia hanya mengenakan celana tidur di atas lutut tanpa boxer.
Dia seperti sengaja melakukannya untuk memamerkan tubuh atletisnya.
TOK TOK TOK..
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, dengan rasa malas Ryan berjalan mendekati pintu persegi panjang lalu membuka nya melalui handle pintu.
CEKLEK
"Ah, Tuan. Ma-maaf ammm... di-di ruang tamu a-ada nyonya dan tuan besar mmm.. sedang menunggu tuan." ucap pelayan wanita sampai tergagap karena sikap fulgar atasannya.
"Aku akan segera turun. Kau bereskan kamarku!" titah Ryan dan diangguki oleh pelayan tersebut. Nakun pelayanan itu malah berbalik badan siap meninggalkan kamar Ryan.
"He! Mau kemana?" tanya Ryan heran.
Pelayan itu segera membalik badan sambil menundukkan kepala.
"Bersihkan sekarang!!" Titah Ryan lagi dengan intonasi lebih tinggi.
"Ba-ba-baik Tuan." jawabnya mengangguk masih menundukkan kepala terlihat gugup akan sesuatu.
Ryan masuk lebih dulu di ikuti oleh pelayan wanita tersebut. Ia nampak terkejut saat melihat kamar tuannya seperti kapal pecah yang baru saja terjatuh dari luar angkasa.
Dengan hati-hati pelayan itu memunguti pecahan kaca yang bisa saja melukai kulitnya.
Saat ia menoleh ke belakang, ia tak sengaja melihat Ryan sudah mengenakan 1 set piyama nya. Wanita itu bernafas lega.
Ryan yang sudah merasa ini sudah hampir larut malam sengaja mengenakan piyama karena ia yakin jika orang tuanya datang hanya sekedar mampir atau ingin menginap di mansion nya saja.
"Hai Mah, Pah." Sapa Ryan pada kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi ruang tamu seraya menikmati teh hangat buatan koki kepercayaannya.
"Hai nak. Kau belum tidur atau kami membangunkan mu?" tanya sang ibu ramah dengan cangkir teh ia pangku terlihat sangat anggun.
"Sebagai seorang Presdir bagaimana bisa aku tidur jam segini mah." jawab Ryan melihat jam dindingnya yang menunjukkan pukul 22:30.
"Hah. Terserah kau saja." jawab ibunya pasrah seraya meletakkan cangkir teh yang tersisa setengah ke atas meja.
"Jadi apa tujuan kalian datang kemari?" tanya Ryan to the point.
"Baiklah papa tau kau tak suka basa-basi. Papa kesini cuma mau nganterin mama kamu aja. Besok papa mau pergi ke Italia karena mama mu bilang tak ingin terlibat dan besikeras untuk tinggal bersamamu disini." jawabnya melirik sang istri sebal.
"Berapa lama?" tanya Ryan
"Aishh anak ini, lihat pa! Dia terlihat enggan jika mama berada disini." ucapnya merajuk dengan memonyongkan bibirnya dan mendekap kedua tangan di bawah dada sebagai tanda protes.
Ryan memutar kedua bola matanya malas karena ibunya yang sudah tua masih berperilaku seperti anak kecil.
Melihat istrinya merajuk tentu saja Ryan mendapat tatapan tajam dari sang ayah.
"Ya, yaa.. mama boleh tinggal sesuka mama disini, nanti ada Ina yang akan menemani mama selama aku bekerja." Ucap Ryan pasrah.
"Nah gitu kan enak di dengar. Yasudah papa capek dan mau istirahat." balasnya cuek langsung merangkul bahu sang istri untuk mengajaknya ke kamar yang biasa mereka tempati jika sedang menginap dirumah anak semata wayangnya.
"Selamat malam nyonya Rita dan Tuan besar Abimana." sapa Pelayan wanita yang sudah berdiri du samping kamar dua pasangan lansia itu.
"Terimakasih Ina." Jawab nyonya Rita ramah.
"Hukff" Ryan menghembuskan nafas berat terlihat letih dengan kejadian yang menimpanya beberapa minggu ini.
Ia pun memilih untuk kembali ke kamar setelah kedua orang tuanya sudah memasuki kamar pribadi mereka.
Sesampainya di dalam kamar terdapat 1 pelayan pria yang sedang mengangkat baskom besar berisi semua kotoran dan pecahan-pecahan kaca akibat ulahnya.
Ryan menatap pria itu tanpa berkedip saat pelayan pria itu melewatinya. Kemudian ia melangkahkan kaki untuk beristirahat di dalam kamar mewahnya yang kini sudah bersih berikut seprei dan selimut yang sudah di ganti oleh petugas kebersihan.
"Hukff" hembusan nafas kembali ia lakukan setelah ia berbaring di atas kasur empuknya.
Matanya masih belum bisa terpejam, ia memilih menatap langit-langit kamar, tangannya ia gunakan seperti bantal di belakang kepalanya.
Tiba-tiba senyumnya terbit saat ia teringat sesuatu.
"Aku akan menggunakanmu kenangan indah kita sebagai pengantar tidurku sayang." ucapnya masih tersenyum dengan pandangan kosong.
Entah sudah berapa lama ia melakukan hal itu, akhirnya Ryan pun tertidur lelap di malam yang sudah larut.
Sedangkan di dalam kamar yang di tempati oleh kedua orang tua Ryan, mereka masih terjaga.
"Jika kau yakin dengan keputusan mu, aku takkan melarang. Siapatau ide brilian mama bisa membuat Ryan melupakan Nabila." ucap Abimana memeluk istrinya.
"Mama gak tega liat Ryan terpuruk terus menerus seperti ini Pah, kita harus gerak cepat." jawabnya penuh antusias.
"Ya, papa juga." balas Abimana sependapat dengan istri tercintanya.
Kemudian mereka berdua pun tertidur pulas sambil berpelukan terlihat begitu harmonis layaknya pengantin baru.
..........
Tak terasa malam telah menghilang dan di gantikan dengan pagi yang cerah, Nyonya Rita dan Tuan Abimana sudah bangun lebih dulu dan sedang duduk di kursi makan, menunggu sang putra untuk menikmati breakfast bersama.
Senyum Nyonya Rita pun mengembang saat mendapati anak semata wayangnya telah muncul menuruni anak tangga sambil mengenakan jam tangannya.
"Oh ya Tuhan. Mama sudah lama sekali tak menikmati pemandangan indah seperti ini." ucap nyonya Rita terlihat bahagia.
"Ya. Anak mu selalu sibuk dalam urusan bisnisnya ma, dia semakin kaya." sambung Tuan Abimana ikut memojokkan anaknya.
"Ya..tentu saja, aku kan darah dagingmu wajarlah jika aku memiliki sifat seperti mu yang tak perduli pada keluarga dan lebih mementingkan bisnis. Jangan salahkan aku dalam hal ini Ma." Jawab Ryan berkesan menyindir Papanya.
Tentu saja raut wajah Abimana langsung berubah kesal, sedangkan nyonya Rita hanya menahan senyum melihat perselisihan antara ayah dan anak itu.
Saat Ryan sedang menikmati roti panggang dengan isi selai kacang, nyonya Rita melirik ke arah suaminya dan mendapati anggukkan dari Abimana saat ia juga ikut membalas tatapan sang istri.
"Amm.. Ryan sayang." panggil nyonya Rita tersenyum kaku.
"Hemm" jawab Ryan berdehem.
"Mama dan papa sudah menyiapkan wanita cantik dan baik untuk menjadi istrimu." Ucapnya menatap Ryan yang sedang meneguk susu rasa vanila dalam genggamannya.
BYUURRR
UHUK UHUK.
Tak disangka, ucapan nyonya Rita membuat Ryan terkejut sampai ia menyemburkan susu dalam mulutnya dan membuat cipratannya terkena jas mahal Tuan Abimana.
Dengan elegan Tuan Abimana membersihkan cipratan susu itu dari jas mahalnya menggunakan tisu.
Begitu juga Ryan yang langsung mengelap mulutnya dengan serbet yang ada di pahanya.
"Mama bilang apa?" tanyanya ingin memastikan.
"Kami tahu kau tak tuli Ryan." jawab tuan Abimana dengan suara beratnya terlihat kesal.
"Hukfff" Ryan menghela nafas terlihat tertekan.
"Nabila sudah tak ada, sedangkan kita sudah tua Ryan. Mama dan Papa ingin melihatmu hidup bahagia dengan wanita yang tepat sebelum kami tiada." jelas nyonya Rita memasang wajah sedih.
Ryan mengusap wajahnya kasar. "Berikan aku waktu Ma. Ini sulit." pinta Ryan seraya beranjak dari kursinya, bersiap untuk pergi ke kantor.
Nyonya Rita hanya bisa memandangi punggung Ryan yang berjalan semakin menjauh darinya.
"Sabar Ma. Ryan butuh waktu. Plan 2?" Tanya Abimana mengusap punggung istrinya seraya menaikkan salah satu alisnya. Nyonya Rose membalasnya dengan senyum miring dan anggukkan.