Aku tak pernah berpikir mencintaimu, walau cuma sekejap
Tapi yang terjadi tak ubahnya alur nasib yang terbalik
Aku mencintaimu sejak kali pertama
Saat lembut sapa mu terucap dan mata lugu mu menggugat
Tanpa ku sadari lajunya, dua bulan sudah aku menunggumu
Mengurungku dengan cinta satu-satunya
Kubela tanpa harus aku bertanya-tanya
Bukankah cinta memang tak pernah butuh alasan, meski cuma satu huruf?
Sepertinya iya!
Terjerat kangen yang merapal namanya di setiap kedip mata
Entah semu atau nyata, setidaknya kukira ini cinta, semoga
Menerka rencana hati tanpa praduga
Mencari jalan ke rumah hatimu
Masih jauhkan perjalanan yang harus kutempuh?
Beri aku tanda, meski hanya sebatas senyum
Sepertinya kudapati lugu senyumnya mengais tulus detik ini
Setidaknya, ‘kebersamaan’ yang teretas dari senja hingga dini
Mendakwa rasaku untuk kembali takluk padanya. Lagi!
Getar itu tak jadi menepi
Kangen itu tak jadi meratapi basi
Damba yang kupelihara di tepian asa
Ternyata menampilkan pesona indah malam ini, akhirnya
Terusik kangen yang menelusup di setiap kedip mata
Dua hari menapak jejak bersama, telah memagut getarku tak bersisa, sepertinya
Begitu bermaknanya sebuah kebersamaan
Hingga ku tak tahu lagi dengan apa kutepikan adamu, sejenak saja
Begitu menyesakkan dan menyisakan lirih seketika
Saat kubuka mata, tahu-tahu aku tersadar
Kamu tak ada di dekatku hari ini
Cinta ini begitu indahnya
Hanya untukmu!
Inikah saatnya kuluruhkan kekuatanku?
Mendakwa satu rindu untukmu
Menepikan setip inci logika menjadi cinta
Tang setia berdamai dengan palung jiwa
Sepertinya, aku harus melakukannya
Bukan semata rindu yang menggerontangkan bejana asa
Tapi lebih karena tulus yang menasbihkannya
Apa adanya, begitu saja!
Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini
Dengan diam jernihnya selalu menatapmu bersamanya
Selalu ada yang tak diceritakan langit kepada hujan
Entah pagi bersambut kabut atau mendung yang bikin murung
Waktu menguji kita dengan perpisahan
Jarak menguji kita dengan rindu
Dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing masing
Serupa gelombang lautan
Cinta datang saat kau diam
Lalu tiba-tiba hilang saat kau kejar
Cinta bisa memberikan cahaya
Pada mata yang sekalipun buta
Cinta juga bisa jadi petaka
Meski pada orang yang di surga
Ah, biarlah
Cinta tak butuh kata-kata
Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu
Maka izinkan aku mewujudkan mimpimu
Untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu
Gemelisik daun kering menyadarkanku bahwa semestamu bukanlah aku
Kerontang daun terseret angin melebur menjadi luka hatiku
Setelah tidak dengannya, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja
Sebab aku percaya perasaan itu datang tanpa direncanakan
Dan pasti juga akan hilang tanpa direncanakan
Tak semudah itu merangkai kata
Jika pun sudah terangkai bibir tak bisa semudah itu mengatakannya
Dan masih terlalu rumit untuk di jelaskan
Diam ku adalah mencintaimu
Melukis rasa di untaian aksara
Membayang rona di wajah bianglala
Di suram bayang menghadirkan nyata
Mengilusi raga seakan bernyawa
Di beranda cinta dunia maya
Kita mencoba saling percaya
Berucap janji tuk saling setia
Mengikat sukma dengan pujian dan doa
Wujud nyatamu tak pernah kuraba
Namun segenap jiwa ku pasrahkan segera
Bila sabda takdir berubah
Kita bersua dalam jalin asmara nyata