Tema : Kita sudah tua
Samuel melangkah gontai memasuki sebuah rumah bergaya Eropa minimalis. Ceklek. Suara pintu terbuka. Kini Samuel sudah berada di kamarnya. Ia melempar topi bermerk p*lo yang sebelumnya bertengger di kepalanya tanpa melihat kemana arah jatuhnya topi yang dibeli menggunakan jatah uang jajannya itu.
"Apa yang kurang?." Samuel berujar sembari berdiri di depan cermin besar yang di tempatkan bersebelahan dengan ranjang tidurnya.
"Setelan pakaian olahraga import ori bukan KW." Samuel memutar dirinya, meraba setelan pakaian warna biru donker yang melekat di tubuh tingginya. Detik berikutnya Ia menghentak-hentakkan kedua kakinya secara bergantian kemudian bergumam, "Sepatu olahraga juga merk terkenal asli pula." Bola mata berwarna birunya kini tengah berputar kesana kemari memandangi bagian bawah kamar. "Ahh ini dia." Ia memungut kembali topi yang Ia lemparkan sekenanya tadi kemudian mengenakannya.
Ia berdiri mantap di depan cermin lalu berkacak pinggang dan berkata, "Sudah menawan begini kenapa tetangga yang baru pindah itu tidak juga memperhatikanku yang setiap hari dalam seminggu ini mondar mandir jalan pagi melewati rumahnya..."
Tok.Tok.Tok
Pintu kamar Samuel di ketuk dari luar. Sejurus kemudian terdengar suara, "Kek.. Kakek ayo keluar, Bunda udah siapin sarapannya kek."
Samuel meletakkan telapak tangannya di cermin lalu berkata pada pantulan dirinya, "Kita Sudah Tua." Samuel tersenyum lalu melangkah ke arah pintu kamar, "Iya cu.. kakek keluar. ayo kita sarapan."
***Selesai***