"Oooh asmara yang terindah mewarnai bumi yang kucinta menjanjikan aku terbang ke atas ke langit ke tujuh bersamamu...."
Ku lantunkan sebuah lagu sambil menjemur pakaian di halaman belakang rumahku. saat aku akan melanjutkan lirik lagunya sebuah teriakkan terdengar dari dapur.
"BERISIK! Diana, kamu tahukan kalau Bibimu ini sedang sakit gigi," pekiknya. Bi Risma, seorang wanita yang usianya empat puluh sembilan tahun. ia telah menjadi orangtua-ku semenjak Ayah dan Ibuku meninggal karena kecelakaan yang terjadi sekitar lima tahun yang lalu. ia juga hidup sendiri karena belum memiliki seorang anak dan suaminya pun meninggal karena seranggan jantung.
"Ya maaf, Bi. aku berhenti deh nyanyi-nya," ucapku. kemudian Bi Risma pergi berlalu begitu saja meninggalkanku yang masih sibuk dengan beberapa pakaian basah di ember.
Aku tinggal di pemukiman yang cukup padat penduduknya bersama Bi Risma dan juga adik perempuanku, Hanum. ia baru saja memasuki sekolah menengah pertama tahun ini.
Setiap hari kami harus bersabar menghadapi Bi Mirna yang super galak, bak ibu tiri yang selalu menghiasi film di televisi. Ya, mau bagaimana lagi. hanya di sini tempat yang bisa aku dan adikku tempati. Dan hanya wanita itulah keluarga kami yang masih hidup sampai sekarang.
Selesai menjemur baju, aku harus bersiap-siap untuk mandi dan menganti baju karena pada jam delapan tepat, Aku harus segera sampai di sebuah toko baju, tempatku bekerja. waktu di jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh lebih satu menit.
Ya, menjadi pekerja di sebuah toko kecil adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa ku ambil karena pendidikanku hanya sampai sekolah menengah pertama saja. aku rela tidak melanjutkan sekolahku, hanya demi Hanum.
Saat semuanya sudah selesai dan Aku sudah rapi dengan pakaianku, Aku pamit pada Bi Risma kemudian melangkah menuju jalanan umum, tempat dimana aku menunggu Angkutan kota.
Matahari sudah bersinar begitu terang. Namun, udaranya juga belum terlalu panas karena ini masih terlalu pagi. tepatnya, pukul 07.15 wib.
Aku berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan kota. sudah hampir melebihi satu menit aku berada di sana, mobil berwarna biru muda itu masih belum muncul.
Saat sedang asik melirik ke kiri dan kanan, sebuah sepeda motor berwarna merah melintas. pengendara motor tersebut memakai helm yang senada dengan warna motornya dan memakai jaket kulit berwarna hitam. sepertinya ia sudah tidak asing lagi di mataku.
"Hey, mau berangkat kerja ya?" Laki-laki itu berhenti tepat di hadapanku. Aku mengangguk cepat. Dialah Bisma, seseorang yang selama ini sudah membuatku hampir gila.
"Memangnya kamu tidak punya pacar ya? sampai kamu setiap hari harus pulang pergi kerja menggunakan angkutan kota hahahah." Aku hanya tersenyum. Menyebalkan sekali. Aku kira dia berniat menawarkan aku tumpanggan gratis ke tempat kerja, ternyata hanya meledekku saja. Ah, sepertinya aku memang tidak bisa berharap apa-apa darinya.
"Bisma, aku duluan, ya. angkotnya sudah datang tuh." mulai menunjuk ke ujung jalan. Untung saja, yang sudah ku tunggu sudah melintas menuju tempat dimana aku berdiri. jadi aku tidak perlu berlama-lama salah tingkah karena lelaki itu.
"oh iya, hati-hati." Senyuman meledek itu sudah tampak jelas di bibir manisnya. Aku tersenyum tipis sebentar seraya menatapnya sebelum menaiki angkutan kota ini.
Sesampainya di toko baju tempatku bekerja, aku menceritakan kejadian tadi pada teman dekatku, Ayu. awalnya ia hanya tertawa dan menggeleng-geleng kepala, kemudian menanyakan hal mengenai perasaanku pada laki-laki itu.
"Memangnya sejak kapan kamu suka sama dia, Din?" tanya Ayu.
"Udah lama pokoknya," jawabku dengan sesingkat-singkatnya.
"Aku boleh ngomong sesuatu gak sama kamu? Ya sebelum kamu semakin berharap sama dia...." Aku langsung mengangguk pelan.
"Hmm ... Bisma tuh sebenernya udah punya pacar tahu, Din." Jleb. tertusuk tapi tidak berdarah. itulah yang aku rasakan.
"Nih kamu liat medsos-nya," lanjutnya seraya menunjukkan ponselnya padaku. aku menatap nanar pada sebuah postinggan yang ditunjukan oleh Ayu.
Ayu memperhatikanku yang terduduk lesu kemudian ia mendekat dan mengusap bahuku. ingin rasanya aku menangis seketika itu juga. Namun, aku malu karena ini tempat kerja.
Beberapa saat kemudian ada beberapa pelanggan yang datang, Ayu pun berdiri untuk melayani mereka. lalu Aku juga ikut melayani para pembeli itu. bersikap profesional, berusaha menutupi rasa sedih yang ada demi bekerja dengan baik agar bisa menafkahkan adik dan juga Bi Mirna yang sudah ku anggap seperti Ibu sendiri.
***
Jam makan siang sudah tiba. seperti biasa, kami memesan makanan secara online lewat ponsel agar bisa tetap makan siang dengan tepat sambil menjaga toko.
Aku dan Ayu makan siang dengan lahap. tidak ada pembicaaran apapun diantara kami.
Saat semangkuk bakso di hadapanku sudah hampir habis, aku menatap lekat pada Ayu. Berfikir sejenak sebelum Aku akan menanyakan sesuatu padanya.
"Ayu," panggilku dengan nada suara yang pelan. ia juga masih melahap baksonya.
"Kenapa,? sahutnya.
"Bisma pacaran sama cewe itu udah berapa lama?" Langsung pada point pertama.
"kayanya sih udah lumayan lama." Aku tertunduk.
"Udahlah, Diana kamu jangan terlalu mikirin dia terus yaa, kalau udah jodoh juga gak akan kemana." ujarnya seraya mengelus punggung tanganku.
"Aku juga tahu jodoh itu gak akan kemana, tapi susah sih ngelupain orang yang kita suka, jadi aku masih suka mikirin bahkan berharap sama dia heheh." Ayu tergelak mendengar perkataanku.
"Diana, apa yang bisa kamu harapkan dari dia? kan dia udah punya pacar, apa kamu mau rebut dia dari pacarnya? hahahah." Ayu mencoba mengodaku dengan candaannya.
"Ya gak lah, Yu. Aku kan juga masih punya harga diri gak mungkin aku mau rebut dia dari pacarnya," sahutku.
Pembicaraan kami terhenti saat Aku mulai menyelesaikan makan siangku dan bergegas ke toilet untuk buang air.
Satu jam kemudian kami sudah kembali melayani para pembeli yang datang ke toko baju ini. lumayan ramai pengunjungnya sampai Aku dan Ayu kewalahan menghadapi mereka. Ya, memang toko ini kecil, jadi kami hanya bekerja berdua saja.
Beberapa pelanggan sudah pergi karena sudah membayar apa yang sudah di beli. tak lama setelah itu, seorang gadis bertubuh tinggi memasuki toko dan melihat-lihat model baju yang tergantung rapi di bagian depan.
Aku dan dan Ayu menghampiri lalu menyapanya sebelum kami menatap lekat padanya karena merasa tak asing dengan wajah cantik wanita itu.
Saat Ayu bertanya apa yang sedang ia cari, gadis itu berkata bahwa ia mencari baju untuk anak remaja seusia tujuh belas tahun. lalu, Ayu pun menunjukan beberapa model pakaian anak muda masa kini yang sedang menjadi trand.
Aku memperhatikan gadis itu dengan seksama. kenapa Aku sepertinya mengenali dia, batinku. sama sepertiku Ayu juga memperhatikannya dengan seksama, seakan-akan ia juga menerka-nerka siapa sebenarnya gadis itu.
Setelah ia selesai memilih baju, Ayu pun membungkus baju itu dan kemudian wanita itu berlalu dari hadapan kami dan memasuki mobilnya.
Ayu menghampiriku sebelum ia membuka ponselnya dan melihat-lihat kembali media sosialnya. betapa terkejutnya ia saat melihat kembali postinggan yang sudah ia tunjukan padaku.
"Diana, kamu liat ini," ujarnya sambil menunjukan sebuah foto di ponselnya itu.
"kenapa sih, Yu?" tanyaku seraya mengalihkan pandanganku pada apa yang ia tunjukan.
"Ternyata cewe tadi itu pacarnya Bisma, namanya Clara deh kalau gak salah, ya ampun cantik banget ya dia dan kalau liat dari instagramnya, dia kayanya orang kaya deh." Aku terdiam dan sudah terlihat gusar, bukan karena cemburu, tetapi karena Ayu yang menunjukkan hal itu padaku secara berlebihan, itu sangat menyakitkan bagiku, harusnya dia tahu itu.
***
Langit sudah semakin gelap karena siang sudah tergantikan oleh malam. rembulanpun sudah menampakkan cahayanya di atas sana.
Aku melangkahkan kaki menelusuri gang sempit menuju rumahku. sesampainya di sana, Aku ketuk pintu, kemudian sebuah suara terdengar dari dalam yang mengatakan bahwa pintunya tidak di kunci. ternyata itu Hamum yang masih mengerjakan tugas sekolahnya di ruang tamu sampai selarut ini.
"Loh kok masih ngerjain tugas? ini kan udah malem, emang tadi sore ngapain aja?" cecarku seraya duduk di dekat Hanum.
"Tadi kan aku abis ikut kegiatan Eskul, kak, terus pulangnya abis asar. pas udah di rumah aku ketiduran sorenya, tapi sebelum ketiduran aku udah salat asar kok. terus pas mau magrib aku di bangunin Bibi. makanya jam segini aku masih ngerjain tugas daripada besok di hukum hehe," jelas Hanum dengan polosnya.
"Pasti tadi kamu di marahin ya sama Bibi?" tanyaku. Hanum menganggukkan kepalanya.
"Makanya besok-besok kalau udah sore, jangan sampai ketiduran. biarpun cape, mending duduk sambil baca buku gituh, kan tidur sore-sore itu gak baik juga buat kesehatan, dek. ngerti?" Ku elus bahu dan rambutnya yang terikat kemudian dia tersenyum.
"Iya kak aku ngerti," sahutnya.
"Yaudah kakak ke kamar dulu ya, ingat! selesai ngerjain tugas langsung tidur, besok kakak bagunin kamu seperti biasa ya," ujarku sebelum berlalu ke kamar untuk istirahat. Hanum hanya tersenyum dan mengiyakan apa yang ku ucapkan. lalu ia kembali mengerjakan tugasnya.
Ketika sudah berada di kamar, ku hempaskan tubuhku yang letih ini di kasur tipis. sekelebat bayanggan tentang Bisma kembali menganggu pikiranku. Aku berusaha mengusirnya karena masih banyak yang harus Aku fikirkan sekarang. mengenai biaya sekolah Hanum, angan-anganku tentang kuliah dan masih banyak lagi.
Hanya sekedar berharap. namun, tidak berharap lebih. sebab, tuhan tahu kapan kita akan bahagia. itulah prinsip yang selalu ku pegang.