“Ya sudahlah Weli, ga usah sedih begitu ditinggal Chalik. Ntar abis cuti semesteran ini juga bakal ketemuan lagi di Ksatrian kan kita..” ejek seorang teman Weli yang melihat kelesuannya paska ditinggal Chalik ke Jakarta pagi tadi.
Weli hanya menghela nafasnya tanpa berusaha menyembunyikan rasa gundahnya. Yang mengganggu ketenangan hatinya adalah kisah yang sempat diceritakan Chalik kepadanya tentang keganasan keluarga Chalik jika berhubungan dengan orang luar yang mencoba mendekati anggota keluarga mereka. Budaya mereka memang ramah, namun jika berhubungan dengan urusan perjodohan, mereka akan teramat sangat selektif. Dengan lugas Chalik mengatakan sejumlah ujian yang harus dilalui Weli jika memang ingin menjalin hubungan dengannya.
“Jadi kemana kita jalan-jalan hari ini Weli?” tanya seorang teman yang lain, kembali menyentak lamunan Weli..
“Kalian lagi bersemangat ya? Mau binsik dikit?” tanya Weli akhirnya. (binsik/pembinaan fisik = kegiatan fisik yang relatif menguras tenaga)
“Hayo.. kita seh siap-siap aja, masa gegara ditinggal Chalik, kita diem-diem bae di rumah dikau?” kata seorang temannya yang lain.
“Baiklah, kita ke Air terjun Tlepak atau air terjun Pelangi yang terletak di daerah Perkebunan Bayu Lor, Desa Bayu Kecamatan Songgon ya.. Biasanya menjelang sore hari kita bisa menikmati pemandangan pelangi di lokasi air terjun tersebut. Akses ke air terjun memang membutuhkan sedikit usaha karena kita harus melalui jalur trekking yang menanjak dengan berjalan kaki. Siap-siap capek ya!” kata Weli menjelaskan.
“Siapa takut?” tanya temannya lagi.
“Sebentar ya, saya perlu menghubungi teman saya dulu buat minta izin memasuki kawasan air terjun. Karena lokasi air terjun masih berada pada kawasan perkebunan, jadi untuk menuju lokasi kita perlu izin khusus..” ujar Weli kemudian. Ia tidak menyebutkan bahwa ia juga perlu memberikan sejumlah upah pada pengelola wisata, khawatir akan memberatkan teman-temannya. Ia sudah tau kalau berani mengajak teman-temannya berlibur di rumahnya, maka ia juga harus siap mengakomodasi perjalanan wisata mereka. Ia sebenarnya iklas, namun akan lebih menyenangkan lagi jika ada Chalik di sini.
***
Dan disinilah mereka sekarang. Di hadapan air terjun di kaki sebuah bukit.
Mereka semua terpukau, bahkan Weli yang sudah beberapa kali mengujungi tempat ini, menatap keindahan air terjun tersebut. Embusan air terasa sejuk di kulit. Batu-batu di bawahnya sedemikian rupa telah dibentuk dengan tetalen oleh air yang tidak berhenti jatuh. Cipratan air itu pula yang telah membuat batu-batu di sekitarnya selalu bersih dengan warna abu-abu gelap. Kesegaran air terjun tersebut seakan dapat mengembalikan energi muda mereka kembali menjadi penuh.
“Yuks kita cobain kesegaran airnya!” ajak Weli ke teman-temannya, yang walau sesaat tempak ragu, lalu dengan patuh mengikuti gerakan Weli berjalan memasuki air telaga lebih mendekat lagi ke air terjun tersebut.
Airnya terasa dingin di awal, namun kemudian menyegarkan kulit mereka. Belaian angin semilir ditengah gemericik air, makin membuat hati mereka tenang. Apalagi bisa duduk berendam sambil menikmati panorama hijau perbukitan yang asri. Mereka semua didesak dorongan untuk berlama-lama saja di tempat tersebut.
Tidak merasa cukup hanya mandi di telaga air, Weli pun akhirnya berdiri di bawah air terjun, menyongsong setiap tetesan air yang jatuh ke bumi dengan tubuhnya yang terasa penat. Gempuran air terasa seperti memijit kepala dan tubuh Weli.
Namun baru sesaat ia menengadah, tiba-tiba dia sudah berhadapan dengan seorang yang familiar. Setelah mengingat sejenak, wajah itu adalah wajah si Bapak yang sempat ia temui di Kawah Ijen beberapa waktu yang lalu.
“Sini, duduk dulu di sini nak!” kata si Bapak itu menunjuk ke sebuah batu besar di samping air terjun.
Weli memutar pandangannya ke sekeliling telaga air terjun, namun tidak bisa melihat teman-temannya di manapun. Weli sadar kalau ia kembali mengalami kejadian ajaib seperti ketika di kawah Ijen yang lalu. Ia pun mematuhi arahan dari si-bapak dan duduk dengan tenang.
“Apakah ada yang hendak kau tanyakan nak?” tanya si-bapak kemudian.
Beribu pertanyaan menghampiri kepala Weli. Siapakah bapak itu? Bagaimana bapak itu bisa ada di kawah Ijen waktu itu dan di sini saat ini? Apakah kejadian ini benar-benar nyata? Apakah selain Chalik, teman-temannya juga mengalami sejumlah kejadian ajaib sepertinya? Mengapa juga dia harus turut mengalaminya? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Namun yang keluar dari mulut Weli adalah: “Apa yang harus saya lakukan pak?”
Si-bapak terdiam sesaat, lalu berkata: “Ada sebuah kisah yang ingin ku ceritakan kepadamu nak.. kejadiannya sudah aga lama sebenarnya.. tolong didengarkan dulu dan dimengerti maksudnya ya!
***
Seorang perempuan datang menemui saya beberapa waktu yang lalu. Wajahnya tampak pucat karena kelelahan fisik dan batin. Matanya bengkak mungkin karena terlalu banyak menangis. Lingkaran hitam di sekeliling matanya semakin menegaskan kesulitan hidup yang sedang ia hadapi.
“Sejak pulang dari berperang, suamiku berubah. Ia sering marah-marah dan sikapnya selalu kasar kepada saya.” kata perempuan itu.
Saya mengatakan bahwa bahan utama untuk membuat ramuan supaya bisa mengembalikan kehangatan suaminya adalah kumis harimau yang masih hidup.
Lalu tanpa berkata-kata lagi perempuan itu berlalu. Saya tidak mendengar kabar darinya lagi sampai dengan kira-kira setengah tahun kemudian, dimana ia datang membawa kumis harimau yang saya minta. Lalu saya bertanya bagaimana caranya ia mendapatkan bahan tersebut.
“Saya mendengar kalau di dalam sebuah gua di tengah hutan terdapat seekor harimau yang besar dan buas. Setiap malam saya meletakkan semangkuk besar nasi bercampur daging di depan gua tersebut. Bahkan terkadang saya memasak olahan daging yang istimewa untuk si-raja hutan itu, demi untuk memikat perhatiannya. Lama-kelamaan si harimau mungkin bisa mengenali aroma tubuh saya dan saya pun semakin berani mendekatinya. Baru beberapa hari yang lalu saya dibiarkannya memeluk dan mengelus kepala binatang buas tersebut, bahkan dia juga tidak marah dan melawan ketika saya mencabut 2 helai kumisnya. Maka saya bisa membawanya ke bapak.” tutur perempuan tadi sambil tersenyum.
Lalu ketika saya melemparkan kumis harimau itu ke dalam api yang sedang menyala, perempuan itu protes, sambil menangis kecewa ia berkata: “Mengapa bapak melakukan itu? Enam bulan saya berusaha keras untuk mendapatkannya!”
Lalu saya hanya menjawab tenang dengan sebuah pertanyaan: “Kalau harimau yang buas saja bisa kamu jinakkan, mengapa seorang suami yang masih manusia tidak bisa?”
***
“Setelah mendengar kisah ini, apakah ada pelajaran yang bisa kamu ambil nak?” tanya si-bapak kepada Weli yang sekali lagi telah tercerahkan.
Weli sadar kalau perasaannya harus diperjuangkan dan tidak ada ujian atau tantangan yang akan melebihi kemampuannya mengatasi, selama tekad baja ia miliki. Maka ia memutuskan untuk memperjuangkan cintanya kepada Chalik.
Dengan hormat Weli menunduk dan berkata: “Terima kasih pak..” lalu ketika ia membuka matanya lagi, ia bisa melihat kembali teman-temannya sedang bercengkrama bermain air di sekeliling air terjun. Beberapa bahkan bernarsis-ria dengan latar belakang untaian pelangi yang menghiasi telaga (membuat vlog/tiktok dan update status melalui HP-nya masing-masing.
Lalu Weli menyadari bahwa sore telah menjelang dan ia pun berseru: “Guys, liburan kita di Banyuwangi ini sudah berakhir. Saya tidak lagi bisa menemani kalian di sini, saya harus segera ke Jakarta!”
“Cie..cie..cie..” beberapa suara sahutan menggoda dari teman-temannya Weli terdengar.
Namun Weli hanya kembali berseru: “Hei guys, ayolah.. Cepat! Cepat! Cepat!”
***