Dikeheningan malam yang dingin, Mirawati terpaku seorang diri, di tatapnya langit langit kamar yang sunyi, dirinya benar benar merasa gelisah, berkali kali dirinya mencari posisi tuk sekedar dapat tertidur dengan pulas, namun pikirannya yang berkelana membuat dirinya enggan dapat tertidur.
Bayangan Vino melintas dalam ingatannya, sebuah pertanyaan menyeruak dalam hatiny. Apa yang di lihat tadi sore di kampus membuat hati Mirawati dihantui rasa yang sangat resah. Ingin rasanya dirinya mencari tahu tentang sosok Vino.
" Apa hubungannya Vino dengan Lisa, kenapa mereka begitu dekat, padahal selama aku tahu mereka terlihat biasa biasa saja bahkan terlihat acuh, tapi kenapa baru pertama kalinya aku melihat sikap mereka layaknya sepasang yang sudah saling mengenal, dan kenapa saat melihat mereka berdua hatiku merasa tidak nyaman", gumanku.
"Apa harus aku bertanya pada Lisa?" gumanku lagi.
" Besok akan ku cari tahu".
* Duhhh kenapa pikiranku menjadi tidak karuan seperti ini, kenapa hatiku jadi gelisah, apakah aku sudah benar benar jatuh cinta pada sosok Vino*
Setelah apa yang dipikirkan Mirawati tidak menemukan titik temu, akhirnya dirinya berusaha memejamkan matanya, walau sesekali menatap kosong langit langit kamar, semakin gelisah dirasakannya, malam semakin larut dan dingin menyelimuti tubuh Mirawati, akhirnya ditariknya selimut sampai pada akhirnya kehangatan membawanya ke alam mimpi, Mirawati tertidur dengan pulasnya.
" Tok tok tok,," suara pintu Mirawati beberapakali di ketuknya.
"Anakku Mira, bangun sayang, hari sudah pagi nak ayo bangun, nanti kamu terlambat ke kampus", suaranya begitu lembut berkali kali mencoba membangunkan putri kesayangannya.
" Kenapa anak ini tumben sekali belum juga bangun" guman ibunya.
" Mira sayang, cepat na bangun, hari sudah pagi", serunya lagi.
Entah berapa kali Ibunya memanggil putrinya sekedar mencoba untuk membangunkannya, namun sepertinya Mirawati tertidur begitu pulasnya, hingga sulit untuk di bangunkan dan tentu saja membuat heran ibunya. Biasanya Mirawati selalu terbangun lebih awal dan melakukan aktifitas rumah, bahkan selalu menyempatkan diri untuk membantu ibunya sebelum berangkat ke kampus, atao sekedar mengerjakan tugas tugas kuliahannya, namun pagi ini putri cantiknya belum juga nampak terlihat oleh ibunya.
" Krekkkk " suara pintu terbuka, terlihat putrinya menggosok gosok matanya, nampak masih terlihat mengantuknya dan lusuh seperti kurang tidur saja.
" Maa,,, Mira masih ngantukkk", ucap Mirawati.
" Ini sudah pagi sayang, apa kamu tidak ke kampus," belum selesai Mamanya berbicara.
" Ya ampun Ma untung Mama membangunkan Mira, sepertinya Mira akan terlambat pagi ini kekampus", sambil melirik kearah jam dingding.
" Ma hari ini ada tugas penting bareng teman teman di kampus," sambil gerasah gerusuh, pikirannya nampak kacau juga bingung harus ngapain dulu, apa harus mandi dulu atao menyiapkan ke perluan kuliah, Mira nampak linglung. " apa langsung berangkat saja" pikirnya. Nampak benar benar kacau Mirawati pagi ini, melihat anaknya begitu, ibunya hanya bisa menghela napas tidak habis pikir kalau putrinya akan sebegitu paniknya.
" Tenang lah sayang, sebaiknya kamu mandi dulu, setelah itu siapkan keperluan kuliahmu, dan bergegaslah untuk sarapan, Mama sudah menghidangkannya di dapur", seloroh ibunya sambil beranjak pergi meninggalkan putrinya.
Mirawati segera menghampiri ibunya di dapur.
" Ma hari ini, Mira sarapan di kampus saja ya" ucapnya.
" Tapi Nak itu Mama sudah siap masak, atao kalao mau kamu bawa bekal saja giman, Mama siapin ya?, sahut ibunya.
" Tidak usah Ma, Mira buru buru, maaf ya Ma", sambil mendekati ibunya dan meraih tangan ibunya, diciumnya tangan ibunya.
" Mira berangkat ya, Assalamu alaikum" serasa mengucapkan salam dirinya bergegas meninggalkan ibunya di dapur.
" Wa alaikum salam, hati hati, jangan terlalu tergesa gesa" sahut ibunya.
"Baiklah Ma, daahhhh"
Mira dengan cepatnya berjalan keluar rumah, dirinya menunggu kendaraan lewat, dengan penuh kecemasan sesekali dilihatnya jam tangan, bunyi notifikasi berkali kali terdengar tanda adanya pesan masuk ke ponselnya, namun tidak di hiraukannya.
" Duh lama banget kendaraan lewat, gimana ini, teman teman mana sudah menunggu lagi", gumannya.
Dering ponsel pun berbunyi,
" Halooo, ya sebentar lagi aku sampai ko", jawabku panik.
" Dimana kamu Mir, lama sekali " dibalik telpon suara Defaz terdengar, terdengar pula suara Rima menyahut keras dibelakang Defaz. " kita semua sudah berkumpul Mir, ayo cepat kemari dosennya sebentar lagi mau masuk".
" Mir, tumben kamu telat, posisimu di mana ?, tanya Defaz.
" Aku lagi nunguin kendaraan lewat nichhh, sudah dulu y," timpal Mirawati.
" Cepat Mir, cepat !, Cepat ya", ucap Defaz.
Di tutupnya telpon,sampai akhirnya ada kendaraan yang lewat dan berhenti tepat di depannya.
" Alhamdulillah, kebetulan kosong lagi," selorohnya.
" Pak bisa agak ngebut tidak, saya sedang terlambat ke kampus ni pak," sahutku.
" Baiklah Neng di usahakan" jawab Pak sopir.
" Cepat ya Pak, cepat lagi pak, cepat !, cepat!, cepat!, semangat Pak" pinta Mirawati resah.
Sesampai di kampus Mirawati langsung turun dari mobil, kemudian membayar ongkos, dan dengan terburu buru dirinya berlalu dan berlari kecil, nampak napasnya sedikit ngos ngosan.
" Mira cantik kenapa berlari lari ", tanya Vino.
" Maaf aku terlambat" tanpa memperdulikan Vino.
Begitu sampai ke ruang kelas, Mirawati langsung mencari tempat duduk, untuk sekedar melepas lelahnya napasnya nampak terlihat masih ngos ngosan.
Rima dan Defaz menghampirinya.
" Kenapa kamu bisa terlambat cih, " tanya Rima.
" Iya say tumben banget kamu terlambat" timpal Defaz, belum juga Mirawati menjawabnya, suara ketukan pintu dan ucapan salam membuat ketiganya terdiam dan menjawab salam secara bersamaan.
" Tuh tuh kan Pak dosennya masuk, mana tugas kita belum selesai lagi, gimana dong" tanya Rima.
" Sudahlah, tenang z, bilang saja apa adanya", balas Defaz.
Mereka pun duduk ke posisinya masing masing, tugas dari Pak dosen di bagi beberapa kelompok, Rima Defaz dan lainnya yang masih satu kelompok denga Mirawati, nampak mereka saling berbisik dan kasak kusuk melakukan diskusi untuk tugasnya tersebut, sepertinya mereka di penuhi rasa kecemasan karena tugasnya belum selesai.
Jam kuliahan pertama selesai,,, akhirnya Mirawati bisa sedikit bernapas lega dan melepaskan ke tegangan sejenak, sebelum kembali dapat mengikuti mata kuliahan berikutnya.
Namun, di sayangkan untuk mata kuliahan selanjutnya ternyata Pak dosennya tidak masuk kelas, hanya memberikan tugas saja, sehingga membuat gaduh ruangan kelas saking senangnya.
Mirawati celingak celinguk mencari seseorang, setelah nampak yakin yang di carinya ada, akhirnya dirinya memastikan kalo dirinya tidak salah sedang memandang ke arah Lisa, dengan rasa ragu dirinya mencoba memberanikan diri menghampiri Lisa yang sedang berbincang dengan teman temannya, nampak terlihat sedang bercanda dan sesekali terlihat tertawa.
" Haiii Lis, bisa ngobrol sebentar?" tanyaku ragu.
" Boleh dong, yuk disana ngobrolnya", sahut Lisa sambil menunjuk ke pojok belakang yang dirasanya tidak begitu ramai dengan anak anak lain.
" Kenapa Mir, ada sesuatu kah?, tanyanya.
" Iya Lisa, kemaren aku lihat kamu sama Vino ngobrol berduaan, ngobrolin apa cih, sepertinya kamu sama vino sudah saling kenal, malah terlihat dekat", jawabku.
" Hemmm, kamu cemburu ya, tenang saja Mir, aku tidak ada hubungan apa apa ko sama Vino", agak menggodaku.
" Bukan itu maksudku,, tapi,,," belum selesai Mira bicara, Defaz malah datang menyela.
" Serius amat cih kalian, ngobrolin apa, hmm pasti ngobrolin Vino ", sela Defaz yang muncul tiba tiba, menghentikan ucapanku dan biasa dia selalu nampak bergurau .
" Kamu Defaz sepertinya tidak bisa berlama lama jauh dari Mira dech, hadeh", timpalnya sambil menepak jidatnya.
" Ya iyalah say, " gurau Defaz.
"Mir, sebentar lagi jam kuliahan selesai, kita makan siang bareng ya", ucap Defaz.
" Benar benar ya, ini suami istri enggak bisa di pisahkan nempel teruz bak prangko" seloroh Lisa.
" Bisa gak sih kamu tinggalkan kami berdua sebentar saja, gak tahu ya kalao kita ini lagi ngobrol" timpal Lisa.
" Ok dech, aku tunggu di luar ya say, jangan lama loh", ucap Defaz sambil berlalu keluar.
Namun belum juga melanjutkan obrolan, Defaz sudah berteriak memanggil Mirawati.
" Ayo dong say cepatan, cepat! cepat cepat" sahut Defaz dari luar agak kencang.
"Iiiihhh idih anak itu kenapa cih gitu amat" bisik Lisa.
" Mana ku tahu" jawabku sambil mengangkat kedua pundakku juga kedua telapak tanganku.
" Lis, lain kali ya kita ngobrol lagi".
" Ok Mir, tapi kamu jangan curiga loh sama aku kalau aku ada hubungan sama Vino, jangan khawatir aku tidak ada hubungan apa apa", ucap Lisa.
" Apa apaan cih" sepertinya Lisa tahu sesuatu tentang ku.
"Ya sudah aku jalan ya, kasian Defaz kalo harus menunggu lama".
" Ok, by".
Diluar kembali terdengar suara memanggil.
" Cepet Mir, cepat!, cepat!".
Mira bergeges keluar kelas, disana dengan setianya Defaz menunggunya. " Mir, gimana kalao hari ini kita cari makan sekitar sini saja, biar nanti tidak terlalu lama balik kesini, soalnya nanti dosennya masuk", seru Defaz.
" Ok" jawabku.
Aku dan Defaz berjalan beriringan menuju tempat makan yang berdekatan dengan kampus.
Setelah menemukan tempat yang dirasa nyaman, aku dan Defaz lantas memasuki tempat itu dan memesan makanan sebagai makan siang.
" Mir, kelihatannya untuk hari ini kamu tidak semangat, aku perhatikan konsentrasimu tidak fokus saat mengikuti pembelajaran tadi, bahkan raut wajahmu terlihat lelah seperti orang yang sedang menahan kantuk, apa kamu semalam kurang tidur ?", tanya Defaz.
" Ya begitulah, semalam aku tidak bisa tertidur, rasanya mataku sulit untuk aku pejamkan, sampai hari hampir dini aku baru bisa tertidur dengan pulasnya, jadinya aku bangun ke siangan, itu pun aku di bangunkan Mama," jawabku agak malas malas.
" Pantas saja kamu jadi telat ke kampus, memangnya kenapa cih kamu sampai susah tidur segala, kaya orang yang banyak pikiran saja",celetuknya Defaz menekanku.
" Hmmm, jangan jangan kamu mikirin sesuatu, jangan sampai kamu mikirin Vino loh Mir ", terangnya.
" Justru itu yang membuat aku aneh", sambil ku tertegun sejenak.
" Aku semalam malah kepikiran kejadian kemaren, saat melihat Vino dan Lisa berdua, tidak mungkin mereka sedekat itu, seakrab itu kalao tidak ada sesuatu diantara keduanya, padahal selama ini mereka nampak tidak terlihat saling peduli satu sama lain, seperti biasa biasa saja dan cuek, apa kamu tidak merasa melihat gelagat aneh?", ucapku penuh dengan penekanan, aku yakin Defaz mengerti maksudku.
" Menurutku cih wajar saja mereka dekat, mungkin ada kepentingan, secara Vino ketua BEM, mungkin ada hal yang ditanyakan atao semacamnya" jawabnya santai.
" Tapi Defaz, sikap Lisa saat berbicara dengan kita, terus saat Lisa hendak pulang, tidak lama kemudian Vino turut pulang, apa menurutmu itu kebetulan", selidik ku, aku merasa Defaz mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui.
" Tidak tao Mir, untuk urusan yang satu itu, aku tidak mau ikut campur , itu bukan urusanku, yang pasti kamu harus hati hati saja sama Vino" , terangnya Defaz.
" Ko kamu gitu cih", aku merasa sedikit kecewa dengan jawaban Defaz.
" Sudah tidak usah membahas mereka, sekarang bahas kamu saja, sebenarnya perasaan kamu sendiri sama Vino gimana, apakah kamu mau jadi pacarnya Vino?, tanya Defaz .
" Entahlah, belum tao juga, masih ragu, takut di bohongi ", ucapku.
" Ya sudah, mending kamu tolak saja dia, biar aku tidak merasa cemburu, kalo kamu sampai jadi pacarnya bisa bisa aku tidak bisa ngajakin kamu jalan, juga tidak bisa ngajakin kamu makan bareng lagi heee" Defaz malah terkesan bercanda.
" Iiihhh kamu, jadi males dech " ucapku agak kecewa.
" Sudah yuk kita balik ke kampus", ajaknya.
Aku hanya menganggukan kepalaku.
Usai sampai di kampus, aku dan Defaz langsung masuk kelas, dan menunggu dosen yang bersangkutan untuk menyampaikan mata kuliahan berikutnya. Selesai mengikuti mata kuliahan sampai akhir, aku dan Defaz pun kembali pulang bersama.