Syafika adalah wanita yang sopan taat dalam beribadah. Berpakaian menutupi auratnya dan selalu memakai pakaian yang bersinar hingga semakin menambah nilai kecantikan itu. Rio adalah lelaki yang dijodohkan ibunya pada Syafika.
Saat itu Rio terkejut dia dijodohkan dengan wanita seperti Syafika. Dia tak pernah membayangkan ingin memiliki pendamping hidup seperti Syafika. Sudah hampir sebulan mereka menikahi tapi Rio masih menganggap Syafika seperti bukan istrinya.
Syafika sudah lama mengenal Rio sampai memiliki rasa padanya. Dengan sikap Rio yang seperti ini tak membuat cintanya luntur. Rio sebenernya laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Karena Syafika belum membuat hatinya luluh, Rio hanya mengamati wanita itu walau sudah menjadi istrinya.
"Apa sih spesialnya wanita ini sampai ibuku memilih nya dari pada wanita lain diluar sana." Gumam Rio yang duduk disofa memainkan ponselnya sambil memperhatikan syafika yang sedang membersihkan rumah.
Terlintas dibenak Rio untuk mencoba berpura-pura miskin. Selama ini banyak wanita yang mendekatinya hanya karena ia memiliki harta yang berlimpah sebagai pebisnis terkenal. Ia ingin melihat reaksi Syafika saat dirini benar-benar jatuh dalam kemiskinan. Apakah ia meninggalkannya atau bertahan karena mencintainya.
Esok paginya berangkat lah Rio dengan menyusun strategi drama yang akan ia perankan didepan istrinya. Rio memang tak pernah menyentuh Syafika selama pernikahan tapi ia tetap bertanggung jawab karena janji yang ia katakan saat pernikahan. Itulah yang membuat Syafika jatuh hati pada lelaki itu karena rasa tanggung jawabnya.
Saat Syafika duduk diruang tamu rumah yang mewah itu menunggu kepulangan suaminya sore ini. Terdengar suara seseorang membuka pagar rumah. Syafika heran siapa yang masuk. Karena biasanya Rio pulang dengan mobil dan membunyikan klakson tanda kepulangan nya. Tapi kali ini yang ia lihat Rio pulang dengan wajah bersedih tanpa mengendarai mobil sedan mewahnya.
"Rio kamu kenapa? Kelihatannya ada masalah ya dikantor." Tanya Syafika pada Rio yang berdiri didepan pintu rumah."
"Fika. Duduk lah disampingku sebentar. Ada yang mau aku katakan."
Fika tertegun mendengar ucapan Rio barusan.Ia takut Rio akan meninggalkannya karena sesuatu.
"Kita harus pindah dari rumah ini karena perusahaanku bangkrut dan rumah ini sudah disita oleh bank."
Saat mendengar pernyataan itu istrinya bukannya terkejut, malah melemparkan senyum sambil mengelus punggung Rio.
"Ya sudah aku tidak masalah asalkan denganmu. Aku akan ikut denganmu kemana kamu pergi." Jawab Fika tanpa sedikitpun rasa sedih dan malah ucapan itu seperti semangat dan membuat Rio sedikit terketuk pintu hatinya.
Namun Rio tak menyerah disitu saja. Hanya sebagian hatinya yang terketuk tapi tidak sepenuhnya yang membuatnya benar-benar akan mencintai istrinya itu.
Rencana ini sudah disiapkan matang oleh Rio. Dari rumah gubuk kecil yang akan mereka tempati sampai pekerjaan yang akan Rio jalani sebagai tukang bersih-bersih jalanan.
"Sayang...minum dulu teh hangatnya. Maaf hanya ini yang kita punya jadi kita harus bersyukur." Ucap Fika menyambut kepulangan Rio dengan badan yang mengeluarkan aroma kurang bersahabat akibat pekerjaannya. "
" Apa kamu merasa jijik dengan aroma tubuhku? "Tanya Rio memasang wajah drama sedihnya.
" Tidak sama sekali Rio. Kamu itu suamiku, apa yang harus aku keluhkan pada orang yang kupilih dengan segala suka maupun duka. "Ucap Fika yang tetap tersenyum dengan wajah manisnya.
Disitu hati Rio sudah tak kuat menahan setan yang terus mencoba menguji iman Fika. Karena tak tahan ia pergi untuk membersihkan badannya lalu tidur. Fika yang melihat tingkah suaminya tetap sabar dan terus berusaha meyakinkan suaminya bahwa ia akan menjadi istri yang baik.
Esok hari Rio menyiapkan senjata terakhirnya dengan harapan terbongkarlah sifat asli Fika. Saat ia bekerja, dijalan ia turun dan menelpon anak buahnya untuk merombak penampilan dirinya yang seakan tertabrak mobil dan berpura-pura koma tak sadarkan diri. Ia menyuruh seluruh anak buahnya untuk mempersiapkan hal yang ia rencanakan.
TRING...
Bunyi ponsel Fika tanda panggilan masuk. Ia yang sedang duduk menunggu kepulangan suaminya itu melihat ponselnya berdering langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum...Halo Rio ada apa?
" Halo selamat sore, betul ini dengan ibu Syafika? "
Seketika Fika bingung dengan suara perempuan yang menelponnya dengan ponsel suaminya. Namun ia menguatkan hatinya dengan mencari sebab yang terjadi.
" Iya dengan saya istrinya. Maaf ini dengan siapa ya? "Tanya Syafika dengan tetap tenang.
" Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan bahwa suami ibu yang bernama bapak Rio mengalami kecalakaan kerja yang menyebabkan beliau tidak sadarkan diri. Mohon ibu segera kemari untuk memastikan suaminya."Jawab salah satu anak buah Rio yang menyamar sebagai pihak rumah sakit.
" Suamiku... "Gumamnya lalu berlari keluar rumah untuk segera kerumah sakit.
Ternyata anak buahnya sudah bersiap menjemput Syafika dengan mobil dinas rumah sakit.Tak terbesit dipikiran wanita itu tentang rencana Rio. Yang ada dipikirannya saat ini adalah ia bisa bertemu suaminya sebelum terlambat.
Sesampainya dirumah sakit ia berlari menuju ruangan yang tertulis nama suaminya.
"Sayang... Apa yang terjadi padamu. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu kepulanganmu dirumah."
"TIIIT... TIIIT... TIIIT... " Bunyi pendetekai jantung dan tak ada balasan suara dari Rio.
"Aku janji. Saat kau sadar dan kondisimu sudah membaik tapi tak memungkinkan bekerja. Biar aku yang merawatmu. Kau tetaplah suamiku Rio."
Rio masi tetap diam dan mulai memikirkan apa yang dikatakan Syafika sampai istrinya ingin menggantikan posisinya merawat dirinya yang tak bisa apa-apa. Rio seperti memiliki hal yang sangat indah dalam dirinya. Seakan dirinya sudah lengkap dengan apa yang ia punya dan apabila iya melakukan hal yang tak mensyukuri, yaitu bidadari pemberian tuhan dia adalah manusia yang sangat tak pantas menginjakkan kakinya dibumi ini.
"Ya tuhan... Aku mohon padamu. Berilah kesempatan suamiku menjalani kehidupan normal denganku. Maafkanlah kesalahan yang ia perbuat. Jika aku boleh meminta dengan sangat padamu, jangan dia, biarkan aku. Biarkan aku yang merasakan apa yang ia rasakan." Pinta Syafika.
Jantung Rio seperti ditusuk oleh perkataan istrinya barusan akibat kesalahan yang ia perbuat. Ia bukan sengaja menahan nafasnya seakan-akan jantungnya berhenti berdetak. Tapi memang begitu adanya dan Rio benar-benar tak bisa bernafas, mulutnya tak sanggup mengucapkan sepatah katakapun dan seluruh tubuhnya seakan kaku seperti hukuman yang diberikan tuhan padanya.
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT
"RIO...." Teriak Syafika sambil menangis dan memeluk Rio dengan erat.
"Bos sadar bos. Sadar, jangan buat kami panik bos. Bangunlah." Kata salah seorang pengawal nya yang berbadan tinggi memakai setelan jas hitam.
Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Awalnya itu hanya upaya Rio dan anak buahnya berbuat seperti ini. Tapi alat deteksi jantung itu mengeluarkan suara fatal bagi seseorang yang dipasangkan alat itu pada tubuhnya. Semua anak buahnya masuk dan berhamburan hingga bersujud meminta maaf pada Syafika yang tak memperdulikan mereka.
Tapi hal itu menjadi....
TIIIT...TIIIT...TIIIT
"Sayang jangan menangis diatas dadaku. Aku tak bisa bernafas."
Semua tekejut begitu juga Syafika istrinya yang langsung menatap wajah Rio seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Sayang kamu..." Syafika tak bisa menahan rasa bahagia nya. Dia memeluk suaminya dan menciuminya berkali-kali.
"Istriku duduklah dikursi itu."Pinta Rio pada istrinya duduk dikursi yang telah disiapkan disamping tempat tidurnya.
" Maafkan aku yang telah berbuat salah padamu. Aku berbohong dengan semua ini untuk mengujimu. Aku tak menyangka dan malah aku yang diuji oleh tuhan didetik terkahir aku akan bersuara padamu." sambung Rio.
"Apa maksudmu Rio?" Tanya istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Yang kalian lihat dan dengarkan tadi itu adalah nyata. Jantungku memang berhenti berdetak selama 5 menit. Mungkin tuhan juga mengujiku karena telah mempermainkan bidadari utusannya untuk menemaniku hidup. Namun aku ragu dan tak percaya dengan terus memberimu kesulitan. Maafkan aku, aku tak pantas untukmu. "Ucap Rio tanpa memandangi istrinya dengan tatapan kosong menghadap kedepan.
" Bos. "Ujar salah seorang pengawalnya.
" Rio. Kau suamiku. Sudah kukatan aku akan bersamamu apapun yang terjadi. Sehat sakit, kaya miskin maupun muda sampai tua. Hatiku takkan goyang dengan apa yang terjadi asalkan aku bersamamu. "
Tanpa sadar Rio meneteskan air matanya dan mulai memandangi Syafika istrinya itu.
" Kamu adalah kekasih yang sempurna"
TAMAT