Teriknya sinar matahari menyengat kulit tubuhnya tidak pernah menyurutkan semangatnya, Hafizah berlari mengejar bus kota namun gagal kurang beberapa meter dari halte bus itu sudah berjalan berteriak pun percuma, tenaganya sudah terkuras habis untuk berlarian. Ya , Allah maafkanlah hamba yang lalai kewajiban, batinnya. Hafizah terlalu asyik membantu ibunya mendapatkan pesanan karena hari Minggu ia jadi lupa waktu kalau siang itu ada janjian dengan teman-teman sekampus yang akan menengok Rifai yang sakit karena kecelakaan dua hari lalu. Dia meluruskan tubuhnya serta mengatur nafasnya yang memburu.
Sebuah suara motor mendekat dan berhenti di samping dia berdiri. "Naiklah !" , Suaranya yang ia kenali karena mereka berteman. Ragu-ragu dia menatap motor CBR 250R, ia menghela nafasnya kemudian dia kebingungan cara naik nya karena dia mengenakan pakaian cewek hijab, bukan hijab kasual. Kemudian dia angkat roknya dan melipatnya lalu naik dibelakang. Si cowok itu tidak lain adalah Bryant yang terkenal dengan sebutan si kulkas dan dandanan ala bad boy, sangat anti namanya ngomong sama anak perempuan. Ia selalu meminta temannya perwakilannya untuk bicara. Entah apa ia memberikan tumpangan untuk dia? Belum selesai hati dia bertanya-tanya motor nya sudah melaju Hafizah terkejut dan menggenggam tas ranselnya Bryant. Motor itu membelah jalanan kota meliuk-liuk diantaranya kendaraan bermotor lainnya. Hafizah ingat dia tidak memakai helm, bagaimana jika ada polisi? Ha ? Hafizah bingung pasalnya Bryant melewati jalan yang ada di perkampungan sebelum lampu merah, dan jalan-jalan kecil yang tidak di hafalnya. Mau kemana? batinnya bingung.
Kemudian motor melaju di jalan raya lagi dan di depannya sudah ada gedung RSUD tempat tujuannya. La, jadi lewat jalan tikus terus aku bayar ongkos ke dia berapakah? Dengan kebingungannya ia turun dan membetulkan posisi pakaian nya. Bryant hanya melepaskan helm dan berjalan melewatinya, " Nampaknya ia seperti manusia kasat mata saja." Batin Hafizah kesal. Baru saja ia dapat mensejajari langkahnya Bryant, ia tertegun melihat rekan-rekannya yang lain sudah berkumpul di sudut gedung itu. Mereka saling menyapa ala anak cowok, ya si Bryant dengan santainya mengobrol tanpa melihat ekspresi wajah Hafizah yang bingung dan sedikit kesal.
"Hafizah kok dapat barengan sama Bryant ? " tanya Lisa yang terkenal kepo dan biang gosip. Semua melihat tingkah Hafizah yang bingung mau menjawabnya. " Tadi ketemu di parkiran. Dia jalan sama tetangga nya yang kerjanya cleaning servis dari bajunya." Sahut Bryant yang menyender punggungnya dengan mematik api untuk merokok. Seraya menghembuskan asap rokoknya. Reflek Hafizah mengangguk cepat. "Kirain beneran barengan. Kan secara kalian beda karakter." Seru Beno. "Emangnya enggak boleh barengan atau kencan? " Celetuk Raditya . Semuanya memandangi ke arahnya. "Sudahlah kita mau besuk kan?" Hafizah mencoba menetralisir keadaan. " Hafizah kriteria cowok idaman kamu gimana? Secara kamu cantik dan pintar." Dany ikut nimbrung. Dany, Raditya adalah teman setia Bryant bahkan mereka memiliki jenis motor yang sama hanya beda warna. Kok mbahas beginian, batin Hafizah. Dihelanya nafasnya, "Udahlah pada kenapa kalian omong kosong begini." Bryant ikut angkat bicara dengan nada dinginnya.
"Saat ini aku sedang fokus kuliah, nantinya jika sudah kerja baru mikirin pendamping. Enggak pakai pacaran jika ada yang melamar, asal iman kuat dan rajin beribadah, insyaallah aku terima. Soal material bisa dicari bersama bukan? Bagaimana sudah jelas?" Hafizah pun berlalu menghampiri rekan-rekannya yang lain baru datang. Karena diantaranya ada sang ketua kelas.
"Puas kamu." Bryant mengikuti Hafizah dengan menabrakkan bahunya ke lengan tangan Beno. Yang lainnya mengikutinya cowok itu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka akhirnya membesuk sebagai tanda solidaritas dan kerukunan. Semua berpisah dan jalan sendiri-sendiri Hafizah duduk di halte bersamaan dengan para penumpang lainnya. Ia melihat Bryant dan rekan-rekannya masih nongkrong tak jauh dari tempat dia duduk. Begitu bus itu datang mereka langsung membubarkan diri.
Mungkin ini hanya perasaan kamu saja Hafizah, itu hanya kebetulan. Katanya bermonolog dalam hati.
Hafizah melewati hari-harinya dengan tenang hingga kelulusan. Dia dan Bryant hanya teman sekelas, entah kenapa cowok itu selalu muncul di saat dia kesulitan. Seperti waktu itu salah contoh nya.
Lelaki itu menghilang setelah usai ujian skripsi dan beberapa kali kelihatan dan acara wisuda juga ia lewatkan. Tak terasa sudah dua tahun kelulusannya dan sekarang ia dapat bekerja di perusahaan besar. RCD Company. Bunyi notifikasi pesan singkat masuk di phonsel nya. Sahabatnya mengajak ketemuan di Cafe zona yang sudah menjadi tempat favoritnya, waktu tahun lalu pertama kalinya bertemu saat mereka mengadakan acara reunian setelah kelulusan tahun pertama. Dia melajukan motornya ke sana. Ada Farida, Indriani, dan Alisa sudah menunggunya.
"Sudah lama? Maaf ya?" Hafizah menyalaminya dengan cipika-cipiki.
"Baru beberapa menit lalu, kita juga barengan." Jawab Farida.
"Udah ku pesen punya kamu." Sahut Indriani.
"Makasih." Hafizah duduk menata tas nya.
"Ngomong-ngomong ada acara apa?".Tanya Hafizah.
"Kumpul-kumpul aja kan weekend. Besuk aku keluar kota, urusan pekerjaan." Jawab Farida.
"Kamu lihat dech di medsos kabarnya Lisa sudah punya pacar baru." Alisa menyodorkan tangannya yang menggenggam phonsel. Mereka berkomentar banyak sementara Hafizah hanya melihat tanpa komentar.
Banyak sekali pose foto Lisa, yang dikenalnya dulu dia anak orang kaya juga Kekasih nya dulu juga sama dari kalangan keluarga kaya. "O,ya hampir lupa ini." Alisa memberikan kartu undangan pernikahan.
"Pada datang ya, awas saja. Brasmaid nya kalian juga nantinya. Hanya Alisa yang beragama berbeda dengan mereka berempat. "Siap. Sudah jadi bajunya?" Tanya Farida.
"Sudah datang di butiknya langsung sebisa kalian usahain Senin telat nya. Ok?" lanjutnya.
Hafizah menerima notifikasi alamat Butik baju langganan Alisa demikian juga yang lainnya. Mereka berempat selalu bersama saat kuliah dulu kemudian berpisah setelah kelulusan.
Seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka ditambahkan lagi camilan yang tidak mereka pesan.
"Maaf Mbak, sepertinya ini bukan pesan kami," Indriani
"Boss yang minta diantarkan khusus buat Mbak Hafizah. " Kata pelayan itu dengan menunduk dan menunjuk ke ruangan yang disekat dengan kaca gelap. Hafizah berdiri dan membawa cake red Velvet menuju ke arah yang ditunjuk.
Diketuknya pintu ruangan tersebut. "Masuk" Suaranya terdengar seperti seorang lelaki. Ragu-ragu dia membuka pintunya terbuka lebar.
"Maafkan saya mengganggu. Ini saya mau bertanya tentang kue ini?" Hafizah terdiam sejenak melihat ke depannya ada dua lelaki yang satu meletakkan berkas karena tadi wajahnya tertutup oleh berkas itu dan yang di depannya menoleh ke arah Hafizah. Mereka saling menatap.
"Masuklah Hafizah. " Kata Raditya. Dan yang didepannya seperti Bryant?
"Maafkan aku, cuma ingin tahu saja kenapa ada kue ini di pesanan kami". Lanjutnya bertanya.
"Aku yang menambahkan. Buat kamu, sebagai salam jumpa saja. Keberatan?" Bryant menatap Hafizah tidak berkedip. Kesannya dominan terlihat dan sangat kuat. "Tidak. Terimakasih atas kuenya." Jawabnya terbata menangkup kan tangan serta menunduk hormat lalu ia menutup pintu tersebut. Kembali ke tempat teman-temannya. "Siapa yang kasih?" Tanya Farida. "Teman kuliah kita dulu." Jawabnya gugup.
Mereka melanjutkan makan dan masih bergosip ria sementara Hafizah gelisah melihat ruangan gelap beberapa kali. Mereka bersenda gurau ceria, karena malmiing jadi mereka sedikit santai.
Malam semakin larut mereka pun berpisah. Hafizah mengendarai motor nya pulang rumahnya. Dirumah sudah ada adiknya Harun menunggu di teras rumah. "Assalamualaikum.' Sapa Hafizah.
"Kakak kenapa sampai. larut malam pulangnya?" Tanya Harun.
"Maaf, kakak sedang ada pertemuan sama teman-teman tadi, Minggu depan mau nikah jadi bagi undangannya juga ngasih tau kakak jadi pagar ayu nya. " Jelasnya.
"Terus kakak ipar nikahnya kapan?" Sahut Nurul adik iparnya Hafizah.
"Nurul." Bentak Harun. Nurul pun mencebikkan mulutnya dan berlalu.
Maafkan Nurul kak" Harun menunduk saat kakaknya berjalan melewatinya merasa bersalah. Hafizah hanya tersenyum. Harun menikah muda, ia tidak ada minat kuliah. Dia bekerja di pabrik dan membuka bengkel di depan rumah. Karena kebetulan rumah mereka dekat di pinggir jalan raya. Dia memasang tulisan Bengkel di ujung gang yang ada lampu penerangan dari pemerintah. Harun meneruskan pekerjaannya dan Hafizah tiduran setelah membersihkan dirinya. Mungkin sudah waktunya dia meninggalkan rumah mereka tapi kemana? Harun melarang dia kost membeli rumah juga belum cukup uangnya. Dia risih setiap kali disindir iparnya. Secara dia juga tidak pelit, dia juga memberikan uang dapur juga terkadang memberikan jajanan atau membelikan baju.
Hafizah menghela nafasnya sedih. Adiknya juga tidak di anggap Nurul, orang tuanya Nurul cukup mampu di kampungnya dan memiliki usaha juga, biarpun tidak sekaya Alisa. Harusnya ia mencegah Harun memperistrinya. Sekarang masalahnya seperti ini, apalagi jika ibunya Nurul ikut campur. Harun selalu merasa tidak nyaman merasa bersalah padanya.
Keesokannya di kantor, Hafizah mengantarkan berkasnya karena diminta Pak Rahman untuk meeting di ruang meeting utama. Ada beberapa ruangan yang dikosongkan untuk meeting. Ruangan masih sepi saat Hafizah memberikan berkas yang dibutuhkan. Namun disaat dia hendak keluar didepannya ada Bryant dan dua orang dibelakangnya ada Dany dan orang indo seperti Bryant. Mereka berjalan beriringan memasuki ruangan meeting. Hafizah menunduk dan memberikan jalannya.
"Pagi pak Bryant." Sapa pak Rahman.
"Dimana yang lainnya?" Tanyanya dengan nada dingin. Dia masih tidak berubah, batinnya Hafizah.
"Maafkan saya. Kemaren sudah di jadwalkan sesuai arahan pak Dany. Entah kenapa belum sampai ke tempat ini." Jawab Pak Rahman.
"Kamu juga ikutan meeting?". Saat Hafizah mau beranjak pergi menjadi kaku.
"Maaf, Pak. Saya hanya staffnya Pak Rahman. Hanya mengantarkan berkasnya yang tertinggal. Mohon permisi pak" Hafizah memberikan hormat lalu. keluar. Dany sempat tersenyum tipis melihat Hafizah, namun gadis itu hanya mengangguk hormat. Jadi dialah pimpinan CEO yang baru? batinnya bermonolog dalam hati.
Dua hari setelah kejadian itu Hafizah sering kali berpapasan dengannya. Namun Hafizah berusaha bersikap profesional sebagai bawahan saja.
Benar - benar pacar idaman, ganteng, pintar, perhatian dan pekerja keras itulah komentar para karyawan wanita yang setia begosib tentang CEO baru mereka.
Hafizah menata letak kerudungnya, dia menjadi brasmaid Alisa. Sekarang sudah menginjak acara santai yakni makan-makan, Kakinya pegal-pegal karena berdiri seharian sepanjang acaranya yang bertema outdoor di hotel termewah di kota A. Dia meluruskan kakinya di ujung gedung yang tak jauh dari tempat jamuan makan. Dia tidak menyadari ada yang menguntit dirinya. Bryant. Lelaki itu juga diundang Alisa, secara mereka masih terhitung saudara sepupu. Dia juga menjadi brasmaid yang cowok.
Diputuskan oleh Bryant membawa dua minuman itu dan berdiri didekatnya. "Minumlah." Dia menyodorkan minuman dingin itu ke arah Hafizah. "Terimakasih." Spontan Hafizah menerima tanpa melihat siapa yang memberikan. Sekali teguk dia meminumnya. "Dasar ceroboh! Bagaimana jika isinya minuman dengan obat perangsang?" Maki Bryant. Hafizah mengangkat kepalanya dan membulat sempurna matanya menatap Bryant.
"Bapak?' serunya gugup.
"Kita tidak sedang bekerja. Jadi panggil Bryant." Jawabnya ketus dia pun berjingy dan meraih kakinya Hafizah.
"Jangan pak. Maaf jangan lakukan itu." Hafizah ikut berjongkok dan memegang tangan Bryant yang sudah terulur memegang kakinya Hafizah. Gadis itu menggelengkan kepalanya memandang seolah memohon. Bryant pun pergi. Selanjutnya kembali seperti semula dia acuh dan si perusahaan juga sama.
Hamid berlarian di taman bermain yang ada di Mall Hafizah sudah lemas mengikutinya. Apa karena anak cowok jadi tenaganya kuat, pikirnya. Nampak oleh Hafizah seorang anak perempuan sedang menangis Hafizah mendekati nya. "Sayang kenapa menangis?" tanyanya. "Oma ..Oma hilang ", Katanya. Diapun mengajak Hamid dan gadis cilik cantik itu ke sekuriti mall dan menerangkan tujuannya. Tak lama datanglah seorang sekuriti dan ibu-ibu yang beruban, biarpun sudah paruh baya nampak guratan paras cantiknya. "Terimakasih" Kata beliau. Kemudian berakhir di restoran cepat saji di Mall tersebut. Mereka mengobrol banyak, bahkan si ibu itu curhat tentang putra kesayangannya yang belum ingin menikah, juga putrinya yang meninggal pasca melahirkan. Sang menantu ikut tinggal bersama mereka bersama cucu perempuannya. "Ma, bagaimana sudah ketemu?' Suara yang tidak asing bagi Hafizah. Wanita itu menoleh. "Pak Bryant?"
"Hafizah". Keduanya bersamaan menyapa.
"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya ibu itu dan keduanya mengangguk.
"Wah beruntung mom. Jika sudah kenal maka tidak salahnya kalian menikah." Celetuk nya
Keduanya saling melotot memandangi wajah wanita paruh baya itu. "Nyonya kurasa tidak semudah itu." Hafizah gugup melihat Bryant meminta bantuan. "Aku mau aja, memang dia yang Bryant suka dari kuliah mom", Bryant menjawabnya seraya duduk dihadapannya Hafizah. Shock Hafizah mendengar nya. "Sayangnya saya cuma karyawan biasa dan yatim piatu."
"Tidak masalah. Asal kamu mau semua tidak penting." Sahut ibunya Bryant. Bryant menatapnya memohon. Hafizah menatap pria yang selalu mengusik ketenangan jiwa beberapa kali saat mereka bertemu. Dia pun menunduk. Toh ia juga harus menikah. Jadi ini rezekinya. Pacar yang sempurna baginya. Dan dia tidak akan menjadi beban tersendiri bagi adiknya, karena sekarang dia akan memiliki pacar dan sekaligus suami nya. Amiiin.