"Selamat tinggal, Jim. Kuharap kau bahagia dengan wanita pilihan orangtuamu." Dengan bibir bergetar, aku masih berusaha tegar. Berpura-pura tersenyum itu tidak mudah.
"Aku tau ini berat, Lucy. Maafkan aku karena terpaksa mengingkari janji-janji kita." Jimmy mengeratkan tautan tangan kami.
Ada lara yang menelisik, menyayat setiap rongga pada hati yang sungguh rapuh.
Perpisahan bukan hal yang mudah. Terlebih harus melepas kan seseorang paling istimewa untuk hidup bersama dengan perempuan lain.
Hubungan selama tiga tahun kandas begitu saja dan terkalahkan oleh ego orangtua. Pada akhirnya aku tetap kalah. Harus ku lepaskan Jimmy, pria berhidung bangir yang selalu bertahta dalam jiwa ku.
"A-ku sungguh mencintai mu." Aku menunduk pilu, tetesan liquid bening berjatuhan di atas ujung pantopel hitam yang di pakai Jimmy. Sebut saja itu salam perpisahan paling pahit yang terjadi diantara kami.
Aku pun terlalu egois karena harus mengutarakan isi hati sebenarnya. Karena hal itu tentu membuat Jimmy semakin merasa kesakitan. Tapi, aku juga sakit. Sungguh.
"Berhenti mengatakan itu... " Jimmy menangkup wajah ku, mengangkatnya lebih tinggi. Ia menatap ku dengan penuh harap. Berharap agar aku bisa kuat. Tapi nyatanya tidak. "Jangan katakan apapun lagi, karena itu akan membuat ku semakin sulit meninggalkan mu." Ia menggelengkan kepala bersama tetesan air mata luka.
Menyaksikan ini, raga ku semakin terkoyak. Betapa tidak adilnya dunia pada cinta ku yang teramat besar untuk Jimmy.
"Jangan menangis lagi, kau juga harus bahagia dengan pria yang lebih baik dariku." Jimmy menyeka kedua pipiku, lalu mendaratkan kecupan terakhir, Karena ia akan segera menjadi milik orang lain.
Aku berbalik meninggalkan Jimmy yang masih berdiri di tepi danau. Air mataku lolos begitu saja tanpa ingin berhenti.
"Hai, Jim. Sudah selesai?" Terdengar lamat-lamat suara seorang wanita menemui Jimmy disana. Itu pasti calon istrinya.
Aku tak sanggup menengok, hanya mendengar suara nya saja sudah berhasil membuat dunia ku runtuh.
Biarlah... Akan ku coba melupakan mu mulai hari ini.
****
25 Tahun kemudian...
"Oma, waktunya minum obat." Seorang gadis berusia dua puluh tahunan mengangkat beberapa kantung obat dan segelas air mineral di genggaman tangannya.
Namanya Dhea, Gadis cantik yang ku temukan di tempat pembuangan sampah saat ia masih bayi.
Setelah bertemu dengan Dhea, aku mulai tertarik dan menyayangi anak-anak kecil yang di telantarkan oleh orangtuanya. Pelan-pelan aku membangun sebuah rumah singgah, hingga sekarang anak asuh ku sudah lebih dari lima puluh orang dengan jenjang usia berbeda-beda. Di temani tiga perawat, aku berhasil merintis tempat tinggal yang nyaman, membiayai hidup serta menyekolahkan mereka.
Tak kurang juga para dermawan yang datang untuk memberikan Donasi kepada Rumah singgah kami yang sederhana ini.
"Kapan Oma bisa berhenti minum obat? "
Keluhan yang sama selalu ku lontarkan pada Dhea setiap kali ia membawakan pil-pil pahit yang sudah enggan ku minum.
"Minum obat biar Oma sehat." Dengan telaten ia meracik obat sesuai dosis yang di anjurkan dokter.
"Kau pandai sekali berbohong." Sarkas ku.
Sudah jelas bahwa obat ini bukan untuk menyembuhkan penyakit ku. Tapi hanya untuk mengulur waktu sampai maut datang menjemput.
Lupus merupakan penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem imun tubuh yang bekerja dengan keliru. Dalam kondisi normal, sistem imun seharusnya melindungi tubuh dari serangan infeksi virus atau bakteri. Sedangkan pada pengidap lupus, sistem imun justru menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Inflamasi yang disebabkan oleh lupus bisa menyerang berbagai bagian tubuh, antara lain sel darah dan paru-paru.
Lupus kerap dijuluki sebagai penyakit seribu wajah karena kelihaiannya dalam meniru gejala penyakit lain.
Aku tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawa seseorang dari penyakit ganas ini.
"Oma harus semangat, Anak-anak Oma selalu mendoakan yang terbaik." Rayu Dhea lagi.
"Iya. Oma bertahan sampai saat ini hanya karena kalian. Anak-anak kesayangan Oma." Kataku sembari mengusap rambut panjang Dhea.
Perbincangan aku dan Dhea kembali berlanjut, dia sering mencurahkan isi hatinya padaku. Tentang apapun. Termasuk tentang seorang pria yang ia cintai.
"Namanya Joan. Hari ini dia dan Kakeknya akan datang ke Panti." Kisahnya kemudian.
"Oya? Untuk apa? Mengajak mu berkencan?" Goda ku.
Dhea tergelak. "Bukan Oma." Sangkalnya. "Kakek Joan seorang pengusaha kaya raya. Dia akan menjadi salah satu Donatur di Rumah singgah kita."
"Kau yang meminta nya?"
"Tidak, Oma. Ini benar-benar kebetulan. Tentu saja aku juga turut senang karena ternyata Joan berasal dari keluarga yang baik dan terpandang."
Aku menyingkap rambut yang sudah memutih ini. Angin yang masuk dari luar jendela membuat rambut ku yang tinggal separuh harus tersapu kesana kemari. Penyakit Lupus yang ku derita nyaris melenyapkan sebagian rambut hitam legam yang ku banggakan saat muda dulu. Nyatanya, semua memang tidak ada yang abadi. Aku pun mulai renta dan menua. Tubuh keriput dan ringkih ini hanya tinggal menghitung waktu di dunia.
Kemudian Dhea memakaikan topi rajut untuk menutupi rambut putih ku.
"Jangan biarkan cinta membutakan hati mu, Dhea. Cintai dia sewajarnya, karena tidak akan ada yang tau nasib seseorang walau hanya dalam waktu lima menit ke depan."
Hal-hal seperti ini selalu ku ingatkan pada anak-anak kesayangan ku di Panti. Aku tidak ingin mereka terluka dan rapuh hanya karena sebuah alasan Bullshit. Cinta tidak selamanya menyuguhkan kebahagiaan. Berani jatuh cinta, itu artinya kita siap untuk tersakiti.
"Omaaaaa." Dhea memeluk dan memanggilku dengan nada manja. Dia mengerti maksud dari perkataan ku, karena dialah satu-satunya orang yang ku percaya untuk mendengar semua kisah pahit dua puluh lima tahun lalu.
Aku membalas pelukannya, tangan yang mulai keriput ini hanya menyisakan kulit dan tulang saja.
Tok! Tok!
"Bu, ada Tamu yang datang. Beliau mendaftar sebagai Donatur tetap Rumah singgah kita."
Seorang perawat datang menghampiri ku.
"Itu pasti Kakek Joan." Dhea tampak bersemangat.
"Betul Nak Dhea, beliau datang bersama Nak Joan. Mereka ada di ruang penerimaan tamu sekarang." Jelas Perawat itu lagi. "Kalau begitu saya permisi."
Betapa bahagia nya Dhea kali ini, dia tampak hilir mudik tidak tenang di dekat ku.
"Ayo temui dia." Ajakku.
"Oma tau saja." Katanya mendayu-dayu.
Aku mengusap pucuk kepalanya, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga. Kau tidak boleh terluka oleh Cinta, Dhea.
Dhea memapahku berjalan menuju ruang penerimaan tamu yang tidak begitu jauh.
Disana, sudah ada dua orang yang sedang duduk membicarakan sesuatu. Gelak tawa menyelingi obrolan dua orang lintas usia tersebut. Mereka tampak begitu akrab.
"Selamat siang, selamat datang di Rumah Singgah Kami." Dhea langsung menyapa keduanya.
Lihatlah. Dua anak muda itu saling bertemu pandang dan senyum-senyum malu.
"Hai, Dhea." Joan mengulurkan tangan. Seolah Bersikap seperti profesional.
"Ini Oma, pemilik Panti. Oma Lucy." Sambut Dhea.
Aku bergerak mendekat setelah di perkenalkan oleh Dhea.
Pria paruh baya yang datang bersama Joan turut bangkit dan menatapku penuh misterius. Ia membetulkan bingkai kacamata nya.
"Lucy? " Ralatnya.
"Ah, ini Kakek ku. Kakek Jimmy yang akan berdonasi untuk Panti." Joan merangkul pria senja di sebelahnya.
Spontan, Dhea melempar tatapan penuh tanya kearahku. Aku tahu apa yang ia pikirkan.
"Jim-Jimmy? " Giliran aku yang ragu.
Apakah dia orang yang sama?
Pria yang meninggalkan ku kala itu?
Jimmy tersenyum.
Benar. Dia tidak berubah, dia orangnya. Senyum itu jelas-jelas masih membekas di benakku.
"Kau masih seperti yang dulu, Lucy." Katanya, lalu mengikis jarak diantara kami.
Kulihat Dhea memberi kode kepada Joan, lalu keduanya meninggalkan kami berdua di ruangan tersebut.
"Jelas-jelas semua berubah. Kau tidak lihat Uban di rambutku? Hahaha." Tawaku terdengar di paksakan. Ada luka lama yang kembali menganga.
"Hahah benar juga. Bahkan kulit kita sudah keriput sekarang." Katanya kikuk.
Tentu saja. Usia kita bahkan sudah lebih dari lima puluh tahun.
"Cucu mu tampan. Semoga dia tidak akan menyakiti Dhea seperti yang di lakukan kakeknya dulu pada seorang wanita." Sindir ku kemudian.
Jimmy memalingkan wajahnya. "Ya. Ya. Biarlah kakek nya saja yang menjadi pria brengsek. Joan harus membahagiakan wanita yang mencintainya." Jimmy mengagguk-angguk, ia enggan menatapku.
Merasa bersalah? Percuma saja.
"Baiklah, kita mulai saja membahas tentang nominal uang yang akan kau sumbangkan pada Panti ini." Cepat-cepat aku mengalihkan pembicaraan.
Belum sempat aku melangkah menuju meja kerja di seberang sana, Jimmy sudah lebih dulu menghentikan ku.
"Lucy," Katanya lantang. "Kau benar-benar tidak mencari pengganti seumur hidup mu? Kau memilih untuk tidak menikah?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghunus tepat di ulu hatiku.
Sejak kapan ia mencampuri urusanku lagi. Apa pedulinya jika aku lebih memilih mengabdikan hidup pada Panti.
"Untuk apa?" Aku menatap nyalang ke arahnya. "Hanya untuk di sakiti lagi oleh seorang pria? Di tinggalkan begitu saja ketika masih ada banyak cinta?"
Wajahku mulai memanas, mataku sudah basah.
"Lucy, maksud ku. Kau harus bahagia tanpa aku."
"STOP!!!!" Aku memekik. "Berhenti seolah-olah kau peduli, Jimmy!!!! Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri."
Air mata yang sempat tertahan pun akhirnya tumpah hanya dengan satu kedipan.
"Pergi dari hadapan ku. Jangan kembali lagi, mengingat mu saja sudah membuat aku terluka." Intonasi ku perlahan berubah datar. Ku tekan bagian dadaku yang mulai sesak. Kaki ku gemetar, pusing datang menyerang tiba-tiba.
"Aku ingin kembali." Jimmy mendadak mendekap ku. Aroma Smooth Vanilla itu masih sama seperti dua puluh lima tahun yang lalu. "Aku memiliki kesempatan terakhir untuk mencarimu. Aku ingin menebus semua kesalahan ku."
"Lepaskan aku, Jim. Aku sudah cukup lelah. Aku ingin tetap sendiri." Ku coba melepas tautan tangannya pada tubuhku, namun Jimmy justru semakin mengencangkan pelukannya.
"Tidak akan. Tidak akan ku lepaskan lagi. Lucy ku masih sama, masih seperti yang dulu. Gadis cantik yang tulus dan setia mencintai serta menungguku. Aku pun sama, masih mencintai mu."
"Jim... " Aku meremas jas hitam yang di kenakannya. "Apa aku terlalu jahat jika masih menunggu mu seperti ini?"
Sebenarnya, hati ini benar-benar rapuh.
Bahu Jimmy perlahan basah oleh air mataku yang deras.
"Tidak, Lucy. Mari kita mulai semuanya dari awal. Menghabiskan sisa waktu kita bersama di Usia senja."
Jimmy mendaratkan kecupan di dahiku. Kecupan nya masih sama.
"Terimakasih Jim, karena kau telah kembali."
Kami saling mengeratkan pelukan. Ku tenggelamkan wajah ini semakin dalam pada dada bidangnya yang kini telah menciut.
Dhea dan Joan menjadi saksi atas pertemuan indah setelah perpisahan yang pahit.
***
TAMAT