Kedua manusia sedang melihat pemandangan yang sangat indah dihadapan mereka.
"Lo tau gak apa hal yang gua suka?" tanya Rila tiba-tiba pada Tian yang ada disebelahnya.
"Apa?" tanya Tian melihat Rila yang lebih pendek darinya.
Rila mengalihkan pandangannya pada langit cerah yang ada diatasnya, dia tersenyum sangat lebar untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Saat gua bisa jadi burung yang bebas dan menjelajahi alam semau gua, hal yang belum pernah gua lakuin tapi gua lakuin itu bareng lo" ucap Rila masih menatap kearah langit.
Tian tersenyum dan beralih kebelakang Rila, dia memeluk Rila dari belakang dengan lembut.
"Gua cinta sama lo La" ucap Tian tanpa basa-basi dan tersenyum begitu lebar lalu mempererat pelukannya.
Rila diam dan senyumannya kini menjadi wajah datar, senyumannya meredup saat mendengar Tian mengungkapkan perasaannya.
Rila melepaskan pelukan Tian dan berbalik menatap Tian dengan sangat tajam.
"Lo tadi ngomong apa?" tanya Rila memastikan.
"Aku mencintaimu La" ucapnya dan membuat Rila kebingungan, "TIAN SANGAT MENCINTAI RILA" lanjutnya dengan teriakan yang sangat keras.
Rila diam tak menjawab, jantung Tian benar-benar tak terkontrol saat melihat tatapan Rila yang sangat tajam dimatanya.
"Lo udah ngelewatin batas Tian"
Deg!
Seketika harapan Tian hancur sehancur-hancurnya dengan pernyataan Rila.
"Maksudnya?" tanya Tian yang masih berharap kalau imajinasinya itu tidak benar dan Rila akan menerimanya.
"Gua tau lo baik, lo ganteng, lo pinter dan lo idaman banyak wanita, termasuk gua" jelas Rila dengan kembali memandang pemandangan dihadapannya.
"Berarti lo terima gua kan La?" tanya Tian dengan penuh harapan yang kembali muncul dimatanya.
"Maaf"
Deg!
"Gua emang suka sama lo tapi maaf gua lebih memilih Tuhan gua dibanding harus memilih ciptaannya"
"Rila, gua bisa pindah Agama buat lo"
"Jangan bilang gitu, lo tau semua kisah gua dan gua juga tau semua kisah lo, itu cukup jadi pemahaman antara kita dan jangan saling lewati batas Tian. Jangan pernah bilang lo bakal pindah Agama cuma buat gua, itu menyakitkan untuk Tuhanmu, Keluargamu bahkan untuk dirimu sendiri" jelas Rila tak bisa menatap Tian yang sejak tadi menatapnya.
"Gua sayang sama lo La, gua bakal lakuin apapun untuk bisa bareng lo, untuk bisa milikin lo, gua yakin gua bisa"
"Lo jangan egois!"
"Egois buat hati gua sendiri gak apa, gua bakal milikin lo La"
"Tapi semesta menolak dan gua juga menolak, gak ada harapan buat lo Tian, gua anggep kita Sahabat dan gak lebih!"
Tian terdiam dan masih memikirkan kata yang akan membuat Rila berubah pikiran, tapi Tian sudah kehabisan kata-kata.
"Makasih buat semuanya Tian, tapi walaupun gua kayak gini gua tetep akan menyayangi Tuhan yang udah kasih gua kesempatan ini, kesempatan untuk hidup dan merasakan kerasnya kehidupan, kesempatan bertemu sama lo dan kesempatan untuk menjadi salah satu hambanya"
"Rila! Gua yakin sama keputusan gua dan gua udah pikirin ini baik-baik selama bertahun-tahun. Gua udah bener-bener yakin sama keputusan gua"
"Tapi gua yang gak yakin sama keputusan lo. Lo siap dimusuhi Keluarga lo? Lo siap kehilangan Tuhan lo? Lo siap kehilangan semuanya? Bahkan gua gak akan terima lo setelahnya. Masih mau nekat walaupun jawabannya udah lo tau?"
"Secara gak langsung lo udah bilang suka sama gua La, hanya butuh usaha untuk membuat lo nerima gua dengan perbedaan itu"
"Cukup!! Cukup Tian!! Apa yang lo pikirin hah?! Lo Pindah Agama hanya demi gua lu kira semudah itu?! Mengambil seorang Anak dari Ibunya itu dosa besar Tian!!"
"Lo gak ambil gua dari Mama dan gua gak akan tinggalin Keluarga gua"
"Lo gak tau apapun Tian!! Udahlah terserah aja sama lo. Mulai sekarang gak usah hubungin gua lagi dan jangan coba deket-deket sama gua. Persahabatan kita cukup sampai disini!!"
"Persahabatan kita memang sampai disini tapi hubungan selanjutnya akan dimulai"
"TIAN!!"
"Gua sayang sama lo dan gua harus milikin lo La apapun caranya"
Rila diam tak percaya dengan ambisi Sahabatnya itu. Tak bisa bohong Rila juga mencintai Tian, tapi mereka tak ditakdirkan untuk bersama. Rila harus menerimanya suka tidak suka.
"Cukup, cukup udah cukup! Masih ada orang lain yang satu Keyakinan sama lo dan seseorang yang cinta sama lo, buka hati lo buat orang lain!!"
"Gua sukanya sama lo La bukan sama orang lain"
"Terus kalo gua bilang gua udah suka sama seseorang yang satu Keyakinan sama gua dan gua akan menikah dengannya?"
"Bohong!! Lo itu bohong La, lo gak mungkin suka sama orang lain selain gua!!"
"Kenapa gak mungkin?! Apapun bisa terjadi"
"Lo sukanya sama gua bukan sama orang lain, gua yakin itu"
"Gua suka sama dia dengan banyak alasan, dan alasan gua suka sama lo gak ada Tian! Gak ada alasan buat gua harus bales perasaan lo! Beda sama dia yang buat gua banyak alasan untuk menyukainya"
"RILA LO BOHONG ITU GAK BENER"
"STOP!!"
Tian memeluk Rila dan menangis dalam pelukan itu, tangisannya setetes demi setetes membasahi punggung Rila.
"Apa masih bisa lo singkirin gua kayak gini La?"
"Walaupun lo tulus gua tetep gak bisa"
Rila melepaskan pelukan itu dan berlari meninggalkan Tian sendirian disana.
'Apapun itu hanya gua yang bisa milikin lo La' batin Tian dan berlari mengejar Rila yang semakin menjauh dari pandangannya.
'Selamat tinggal Ertian Pratama'
One......
Two.......
Three.......
'Inilah jalan yang kupilih, maafkan aku Tuhan'
Tian datang dengan nafas yang tak beraturan, matanya melotot ingin keluar saat melihat Rila didepannya dengan jalan raya didepan.
"RILAAAA"
BRAAAK
"Tian"
"La"