Kilasan berita di televisi menarik perhatian Chalik, sekelebat gambar yang familiar, pemandangan gunung dan kawah Ijen tampak menghiasi layarnya dan Chalik memperbesar volume suara TV lalu terdengarlah berita:
“Saat ini visual cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah tenggara dan selatan. Suhu udara 18 - 28°C. Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100 - 200 meter dari puncak. Laporan dari peneliti setempat, kegempaan terekam 2 kali gempa Vulkanik Dalam (VA). 19 kali gempa Vulkanik Dangkal (VB). 1 kali gempa Hembusan (HB). 3 kali gempa Tektonik Jauh (TJ). 1 kali gempa Tremor (TR).
Konsentrasi gas terdeteksi adanya tiga anomali konsentrasi gas pada kurun waktu ini, yaitu: pukul 12:56 WIB dimana gas CO2 sekitar 2563 ppmv, SO2 3,6 ppmv, dan H2S 2,4 ppmv; pukul 13:26 WIB, terdeteksi gas CO2 mencapai 5139 ppmv, SO2 146 ppmv, dan H2S 23 ppmv; dan pukul 19:24 WIB, gas CO2 mencapai 5140 ppmv, SO2 tidak terukur (mungkin melebihi kapasitas ukur sensor), dan H2S 175,8 ppmv.
Anomali ini diinterpretasikan sebagai hembusan gas secara tiba-tiba atau ‘outburst gas’ pada danau kawah yang terjadi akibat adanya ‘over pressure’ terutama oleh akumulasi terus menerus terutama gas CO2 dan juga gas H2S di dalam danau kawah.
Masyarakat dan pengunjung atau wisatawan pendaki dan para penambang, untuk sementara ini tidak diperbolehkan mendekati bibir kawah maupun mendekati dasar kawah yang ada di puncak Gunung api Kawah Ijen, serta tidak boleh menginap dalam kawasan Gunung api Kawah Ijen.
Jika tercium bau gas sulfur atau belerang yang menyengat dan pekat, maka masyarakat diharapkan segera menggunakan masker penutup alat pernapasan. Untuk jangka pendek atau darurat dapat menggunakan kain basah sebagai penutup alat pernapasan (pada bagian hidung ataupun mulut).
Pengelola wisata gunung Ijen juga diharapkan agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan gunung Ijen di Licin dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Bandung secara langsung.”
Tiba-tiba suara TV terdengar hanya mendengung, sementara Chalik menatap kosong ke gambar yang berkedip-kedip. Benaknya melayang ke kenangan beberapa hari yang lalu:
***
“Guys, sepertinya saya memang harus pulang lebih awal dari kalian neh..” kata Chalik kepada teman-temannya yang lain.
Chalik bersama 5 orang temannya yang lain memang memutuskan untuk mendaki gunung Ijen pada cuti semesteran tahun ini. Selama di Banyuwangi ini, mereka tinggal di rumah Weliahmadi (biasa dipanggil Weli) yang merupakan teman sekelas mereka di sekolah kedinasan di lembah Manglayang, Jatinangor. Dan mereka bertujuh sudah melihat api biru di kawah Ijen dan saat ini mereka akan bersiap-siap turun gunung.
“Yah Chalik, kita belum sempet ke Teluk Hijau, Pantai Sukamande, Pulau Tabuhan dan tentu saja Taman Nasional Baluran..” kata Weli dengan raut menyesal yang tidak disembunyikannya.
“Saya pun menyesal tidak bisa maksimal mengeruk kebaikan hati kamu dan keluargamu Weli, tapi saya lebih takut dengan kutukan keluarga inih kalau sampe durhaka..” jawab Chalik lagi ngasal sambil memberikan senyum termanisnya, yang karena kejadian ajaib sebelumnya menjadi semakin menarik di wajah cantiknya tersebut.
“Baiklah, nanti malam kita harus makan malam di area Taman Blambangan atau di Taman Sritanjung ya..” jawab Weli akhirnya dengan pasrah, ia tidak bisa menyimpan rasa kecewa yang terlalu lama terhadap sosok Chalik, yang selama beberapa waktu ini telah menyita pikiran bahkan hatinya.
***
Weli tertarik pada sosok Chalik dari pertemuan pertama mereka. Setelah hubungan dengan pacar masa kecilnya yang kandas, ketika sang pacar melarang Weli melanjutkan sekolah di tempat yang jauh dan memutuskan hubungan mereka begitu saja ketika Weli akhirnya diterima di Jatinangor, Weli tidak pernah merasa tertarik lagi dengan yang namanya perempuan. Namun rasanya berbeda dengan seorang Chalik.
Chalik yang seringnya berpenampilan tomboy, selalu tampak bersih dan segar, seperti hembusan angin lembut pada musim penghujan, sejuk dan menyegarkan jiwa. Rambut cepaknya selalu terkesan lembut dan rapi walau jarang disisir. Segala sesuatu tentang Chalik terkesan sederhana namun menarik dan sangat disukainya. Mulai dari tungkainya yang berbentuk indah sampai pada wajahnya yang selalu tanpa make-up. Dan ketika berbicara dengannya, Chalik selalu bisa merespon dengan tepat, bukan hanya karena apa yang dia katakan tetapi juga apa yang ia rasakan. Belum lagi kelopak mata Chalik yang bulat dan indah, selalu seperti memancarkan sinar yang menjeratnya, yang tanpa bisa ditutupi membuat Weli merasa kesenangan yang luar biasa.
Bukanlah hal yang mudah buat Weli meyakinkan Chali dan teman-temannya untuk mau menghabiskan waktu cuti semesteran ini ke Banyuwangi, kota asal pendaftarannya. Ia harus mengulang-ulang cerita keindahan alam dan kisah fenomenal yang menarik tentang kotanya tersebut hingga akhirnya mereka tertarik. Dan ia menanti-nantikan kesempatan ini dan bertekad mendapatkan hati Chalik seoptimal mungkin.
“Saya rasa saya harus berterimakasih kepadamu Chalik..” ujar Weli ketika mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak di taman Sritanjung yang indah ini. Teman-teman mereka yang lain sepertinya paham dengan niat awal Weli mendekati Chalik.
“Aish, kebalik kale Wel’, seharusnya saya dan teman-teman yang berterima kasih sama kamu dan keluarga-mu yang sudah baik banged nampung kami semua..” potong Chalik cepat.
Weli merasakan kesenangan yang besar hanya karena mendengar pujian sederhana itu, lalu ia berkata: “Belum selesai kan saya ngomongnya? Boleh dilanjut?”
Ketika Chalik mengangguk dengan pipi yang aga memerah malu, Weli kembali berujar: “Saya berterimakasih karena kamu hadir dalam hidup saya Chalik..”
Melihat pandangan Chalik yang bertanya tidak mengerti, Weli kembali berkata: “Yah, sebelumnya, saya hanya punya seorang sahabat dari kecil yang setelah SMA jadi pacar saya, tapi kami putus sesaat sebelum saya berangkat ke Jatinangor. Dia ga siap pacaran LDR dan saya hampir saja mengundurkan diri dari Calon Praja karena rasa sayang ini begitu besar kepadanya, namun untungnya hal tersebut tidak saya lakukan. Sempat terpikir kalau saya tidak akan merasakan rasa tertarik kepada perempuan lain seperti kepadanya, namun kehadiranmu mematahkan pemikiran tersebut..” (LDR = long distance relationship = hubungan jarak jauh)
“Oh ayolah Weli, jangan bikin kepala saya tambah besar. Memang apa yang sudah saya lakukan yang begitu meninggalkan kesan di hidup-mu itu?” Jawab Chalik kembali ngebanyol.
“Segalanya tentang Chalik menarik perhatian saya..” jawab Weli cepat.
“Tapi kita kan baru kenal, banyak hal yang tidak baik tentang saya yang belum lagi Weli tau. Nanti pasti nyesel loh kalau udah ngeliat Chalik yang sesungguhnya..” kata Chalik lagi kali ini dengan wajah serius dan lalu terdiam, yang entah bagaimana membuat kesedihan lama kembali merayap dalam pikiran Weli, rasa tertolak yang hampit sama.
Setelah mereka terdiam beberapa saat, akhirnya Chalik berkata: “Bersabarlah Weli, kan kalian putusnya juga belum begitu lama. Biarkan aja dulu hatimu sembuh, baru memulai hubungan yang baru. Jangan sampai pasangan pengganti jadi pelarian sementara saja.”
“Chalik pikir begitu?” tanya Weli meragu.
“Yups!” jawab Chalik tanpa sadar memegang lengan Weli, suatu gerakan nalurian untuk menghibur.
Harapan kembali memancar di mata Weli dan ia memandang Chalik dengan penuh kehangatan.
Chalik melepaskan pegangannya, merasakan bahaya memberikan harapan palsu kepada Weli dan kepada dirinya sendiri. Ia sudah menyadari bahwa ia merasakan kepedulian kepada Weli jauh lebih besar ketimbang perhatian biasa. Namun adalah suatu kebodohan jika ia membiarkan dirinya jatuh cinta kepada laki-laki ini. Karena persahabatan mereka tidak akan berkembang lebih jauh, ada terlalu banyak tembok duri di sekeliling Chalik yang akan membuat Weli menderita.
Untuk menjadi pasangan Chalik, laki-laki itu tidak hanya harus kuat dan sabar, namun juga harus memiliki status tertentu dan lulus semua ujian yang akan diberikan keluarga besarnya nanti. Seperti yang pernah dialami Mpok Aan, kakak semata-wayang Chalik, yang sebelum akhirnya direstui menikah dengan Bang Fandi, kekasihnya itu harus melalui begitu banyak ujian dan tantangan. Padahal bang Fandi juga merupakan keturunan Betawi juga, punya tradisi dan didikan keluarga yang hampir sejenis dengan kami, namun mereka juga mengalami pasang-surut hubungan akibat benturan rintangan dari keluarga besar mereka.
Yah, pada dasarnya, untuk menjadi pendamping seorang Chalik, laki-laki tersebut haruslah menjadi laki-laki yang tangguh dan siap diuji.. itulah mengapa sampai dengan saat ini Chalik belum pernah berpacaran. Semua teman laki-laki yang pernah mencoba mendekatinya sudah ciut dulu nyalinya mendengar latar belakang keluarga dan banyaknya barisan pelindungnya.
Laki-laki yang mendekatinya harus bermental baja dan bernyali besar. Kuat secara fisik dan pada dasarnya tidak keberatan melalui banyak ujian, mulai dari mengaji, silat dan secara ekonomi juga mapan.. Kekasih yang sempurna.. Adakah seseorang seperti itu buat Chalik? Entahlah..
Malam itu mereka berpisah dalam zona persahabatan.
Keesokan paginya Weli mengantar Chalik naik kereta paling pagi dan mereka tidak mengucapkan apa-apa selain berjabatan tangan.
***
Mengetahui berita tentang kondisi gunung Ijen, tangan Chalik gatal untuk meraih HP-nya dan menghubungi Weli, namun ia ragu. Khawatir kembali memberikan harapan palsu kepada Weli. Tapi kekhawatirannya mendobrak keraguan itu dan dengan cepat menekan contact Weli, lalu terdengar dering pertama dan sebuah suara menjawab: “Hi Chalik, saya baru saja mau menghubungi-mu? Rumah kamu tuh yang mana seh?”
“Apa Weli? Saya ga ngerti deh maksud kamu..” tanya Chalik bingung.
“Saya sudah di depan komplek kamu neh, tapi ga tau rumah kamu yang mana?” jawab Weli.
Chalik segera berjalan ke luar rumah Kumpi-nya dan menemukan sosok Weli, lengkap dengan rangsel besar di pundaknya, sedang tersenyum lebar menatap matanya, lalu berkata penuh keyakinan: “Saya sudah sembuh dan siap memulai hubungan yang baru dengan-mu..”
Chalik hanya terdiam dan membatin: ‘Inikah kekasih sempurna miliknya?’
***