"AKU BUKAN KAMU!!! JANGAN PERNAH KAMU SAMA-RATAKAN HIDUP KU DENGAN HIDUP MU!!" Teriak ku sembari menunjuk-nunjuk foto 'wanita itu'.
"HIDUP MU ADALAH HIDUP MU, HIDUP KU ADALAH HIDUP KU!! AKU LELAH DENGAN SEMUA ATURAN INI!!!"
"TOLONG PAHAMI AKU!!! AKU HANYA INGIN ITU!!" Aku terduduk dan menangis...
"CUT!!! Akting kamu bagus, Bianca! Penuh emosi dan benar-benar nyata!" Puji sutradara pada ku.
Ya, nama ku Bianca. Orang-orang memanggil ku 'Queen Acting'. Jujur saja, aku lelah dengan semua panggilan mereka... Padahal aku hanya mengeluarkan sedikit emosi ku, eh tapi sudah di puji saja.
"Trimakasih pujian nya, pak," kata ku sembari menampilkan senyuman pura-pura ini.
"Masih ada satu scene, Bi." Kata manager ku yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Siap, kak Vi," jawab ku.
Huffhhh... Aku lelah dengan semua tipu muslihat ini.
22.00
"Bi, scene terakhir!" Panggil sutradara pada ku.
"Iya, pak!" Jawab ku.
Aku pun kembali memasuki lokasi syuting, kini lokasi nya berganti, dan teman akting ku adalah seorang aktris senior, kak Witi nama nya.
Kak Witi berperan sebagai 'wanita itu'.
"LAUREN!! LAUREN!! BUKA PINTU NYA, SAYANG!!! LAUREN!!" 'Wanita itu' terus terusan berteriak.
Aku pun membuka kan pintu, sesuai dengan dialog yang ada.
"LAUREN, SAYANG... INI UDAH WAKTU NYA BELAJAR BAHASA JERMAN, NAK... YUK BELAJAR, GURU NYA UDAH DIBAWAH, LOH!" Merinding, bulu kuduk ku merinding. Kak Witi benar-benar bisa memainkan peran nya dengan sempurna.
"M-ma... L-Lauren ga mau belajar bahasa Jerman, ma... Su-susah..." Aku pun membalas akting kak Witi tadi.
PLAK!!!
"SUSAH KATA MU?!!! DULU MAMA SEWAKTU SE-USIA KAMU MAU BELAJAR BAHASA JERMAN, TAPI GA KESAMPAIAN, SEKARANG KAMU MAMA KASIH LES BAHASA JERMAN, DAN KAMU BILANG SUSAH?!!!"
PLAKKK!!
"Hiks... AYO TAMPAR LAUREN LAGI, MA!! TAMPAR!!" Aku memberikan pipi kiri ku.
Tetapi tiba-tiba kak Witi menjambak rambut ku dan berkata, "CEPAT SEKARANG KAMU TURUN!!" Teriak kak Witi.
Aku kesakitan!!!!
"I-iya, ma... Iyaa..." Dan aku menangis lagi.
"CUT!"
"KEREN BANGETTT!!! QUEEN ACTING PADA MASA NYA DAN QUEEN ACTING MASA SEKARANG DIGABUNG DALAM SATU FILM JADI KEREN POLLLL!!!!" Ucap pak Sutradara dengan girang.
"M-maaf ya, Bi... Aku terlalu kuat jambak nya ya?" Tanya kak Witi.
"Ga apa kok, kak... Toh sakit nya cuma sedikit," jawab ku yang tidak sesuai dengan apa yang aku rasakan.
"Sekali lagi, maaf ya, Bi..." Katanya.
"Iya kak." Aku dengan terpaksa tersenyum.
"BIANCA! WITI!! SINI!" Panggil sutradara pada kami.
"Iya, pak!" Kak Witi dengan sangat bersemangat pergi ke arah sutradara.
Aku pun ikut menyusul pada akhirnya.
***
21 hari kemudian...
10 hari yang lalu, project film kami telah selesai. Kini saatnya sesi tanya jawab dengan para wartawan... Hanya beberapa aktris yang dipilih, aku, kak Witi dan bang Faisal serta sutradara yang memimpin kami.
Jujur, ini adalah saat saat yang paling memuakkan, aku harus lebih lama tersenyum disini.
***
"Bianca... Wahh, apa kabar, Bianca?" Tanya sang MC pada ku.
"Baik, saya baik." Jawab ku.
"Oke, Bianca... Saya mau tanya dong... Kenapa Bianca bisa menghayati banget saat memerankan tokoh Lauren?"
Pertanyaan konyol.
"Ketika melihat Lauren... Saya teringat masa lalu saya... Saya punya ibu yang suka memaksa, suka main tangan dan suka berkata kasar pada saya... Kalau diingat, kurang lebih delapan belas tahun saya dipaksa... Umur yang ke-19 saya dengan berani membawa ibu saya ke Rumah Sakit Jiwa."
Aku menghela napas.
"Dan sampai saat ini ibu saya tetap di Rumah Sakit Jiwa... Mungkin saya terkesan egois, tapi saya juga tertekan, sama seperti Lauren di dalam film..."
"Ouh, jadi begitu... Karena merasa senasib dengan Lauren, kamu akhirnya bisa memerankan tokoh Lauren dengan real gitu ya..."
Aku mengangguk. Benar, semua yang aku katakan tadi benar, tanpa diubah-ubah.
"Oh ya, Bianca... Ayah kamu..."
"Saya ga punya ayah... Kalau kata ibu, saya anak haram... Saya ga tau itu benar atau cuma omong kosong, karena ibu sering memaki saya dengan sebutan 'anak haram'," aku memaksa diriku tersenyum.
"O-ou... Maaf saya telah menyinggung hal itu.."
"Oh, iya gapapa kok... Saya juga sekalian membuka identitas saya..." Kata ku.
****
Sesi wawancara, telah habis... Kini saatnya aku kembali ke rumah.
"Kak, bisa kan hari ini tidur di rumah ku?" Tanya ku pada manager ku.
"Maaf ya, Bi... Hari ini suami aku pulang, mau ga mau harus layani dia deh..." Jawabnya lewat telepon.
"Oh... Ya udah deh, gapapa... Have a nice night ya, kak!"
"Hihi, bisa aja kamu!"
Aku mematikan telepon nya.
Aku menghela napas ku...
***
00.00
Dia datang! Dia datang! DIA TELAH DATANG!!!!
Arwah nya datang menghantui ku tiap malam... AKU KETAKUTAN!!! AKU TAKUTTT!!!
"Kamu takut? Kenapa ga b**** d*** saja?? Ide yang bagus kan?" Bisik nya.
"GA!! AKU GA MAU!!! AKU MAU TETAP HIDUP!"
"TIDAK, BIANCA! KAMU HARUS MENGAKHIRI HIDUP MU!!! AYO, BIANCA!! BIANCA!! BIANCA!!"
"ENGGA!!!"
"AYO, BIANCA!!! B I A N C A!!!"
Dia terus memanggil-manggil nama ku... TOLONG BERHENTI!!!!
"BERHENTI!!! JANGAN PANGGIL AKU!!!"
"AYO, BIANCA SAYANG... MAMA TUNGGU KAMU, LOH"
"ENGGA, MA!! BIANCA GA MAU, MA!!! AMPUN, MA!!!"
"BIANCA!!!! JANGAN MEMBANTAH!!"
"ENGGA!!!"
"...."
Untuk sesaat suara itu berhenti memanggil ku... Kemana dia?
*Tap tap tap tap*
"Ada seseorang dibelakang!" pikir ku.
Aku membalikkan badan ku, tetapi tiba-tiba...
"AKHHHH!!!"
"HAHAHAHA!! TERIMAKASIH YA, BIANCA... KINI MAMA AKHIRNYA BISA TENANG!! OH YA, CERITA MU TADI SIANG SUNGGUH BAGUS, NAK!"
Aku merasa kesakitan! Dia menusuk tepat di jantung ku...
"Dasar br*ngsek!" Aku mencaci nya sebelum napas ku berakhir.
-TAMAT-
вσ вαhhh, 8 Maret 2022