"Iya, mulai sekarang aku berjanji tak akan meninggalkan kamu lagi.."
Kata-kata itu selalu terniang di telingaku. Hingga hari ini, hingga detik ini, semua tentangnya masih tersimpan manis di hati dan pikiranku.
Ketika kata-kata itu terniang di telingaku, seketika senyuman manis itu juga terlintas di benakku. Senyuman yang manis, lesung pipi yang indah, wajah yang tampan, sungguh makhluk Tuhan yang sempurna.
"Hei, ngelamun aja sih, nungguin siapa hayo" ujarnya sembari mencolek pipiku.
"Ihhh apaan sih, sejak tadi juga nungguin kamu tau, lama amat sih" jawabku dengan cemberut.
"Hahaha, iya maaf sayang, ini nih tadi nyariin si boneka"
"Boneka apaan ?" Ku buka bungkusan yang dia berikan padaku
"Selamat ulang tahun sayang, maafin ya emang telat ngucapinnya" dikecupnya keningku sembari tersenyum padaku.
Ahhhh, romantis sekali untukku yang waktu itu masih duduk di bangku SMA.
"Makasih ya, ku kira kamu beneran lupa ama hari ini" ku peluk erat boneka kelinci yang dia berikan padaku.
"Mana mungkin aku lupain hari istimewa kamu, aku gk bakal lupa dong, soalnya dapetin kamu tuh susah banget, tau gak ?"
"Apaan sih, lagian juga aku sejak awal sukanya ama kamu doang kok."
"Apa ? Tuan putriku tadi bilang apa ? Gak kedengeran nih aku" godanya dengan tertawa seraya mendekatkan telinganya.
"Gatau ah, males males" jawabku pura-pura cemberut.
"Hahaha, udah udah ayo makan, aku bawa kamu ke tempat paling enak deh"
Ku genggam tangannya, sembari menuju parkiran motor, ku lihat wajahnya itu, apa yang harus aku lakukan bila kehilangan dia ? Ah, sebuah pertanyaan yang tiada gunanya, kenapa harus bertanya seperti itu jika dia selalu ada di dekatku seperti ini ? Hahahaa ..
Bulan ini, bulan jadian ku yang ke-2 bersama dia. Joko tri prabowo namanya, dia tampan, mempunya lesung pipi yang indah, senyumannya selalu bisa membuatku tergila-gila padanya.
"Ko, kamu inget gak sih sejak kapan kita kenal ?"
"Inget dong, sejak bulan febuari kan ? Waktu itu aku selalu ngeliatin kamu tapi gk berani deketin kamu, kan kamu masih ada pacar waktu itu" dicubitnya hidungku sampai memerah.
"Ih apaan sih, sakit tau. Ehh, trus kamu inget gak kapan kita pertama kali berantem ?"
"Ingetlah sayang, itu bulan april kan ? Aku kepergok ama pacar kamu gara-gara aku diem-diem nemuin kamu di kantin sekolah"
"Hehehe, iya ko. Kok kamu inget terus sih ?"
"Kamu kan istimewa buat aku, jadi apapun tentang kamu aku harus selalu inget sayang" jawabnya santai sembari mengusap rambutku.
Sungguh, bila pada waktu itu ada ulut ukur untuk mengukur sebuah kebahagiaan, aku pasti akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini, hehehe.
"Aku bentar lagi pamit ya" ucapnya sembari menghentikan makannya.
"Kamu mau kemana ko ?" Tanyaku dengan mata yang mulai ku lebarkan.
"Emmmb, aku mau lanjutin sekolah ke luar kota. Kamu bisa disini tanpa aku ?"
"Maksutmu apa ko ?" Aku mulai terkejut dengan ucapannya.
"Iya sayang, kamu bisa jaga dirikan kalo jauh dari aku ?"
"Kamu lupa apa yang pernah kamu ucapin ke aku dulu ? Kamu lupa janji kamu dulu ?" Aku mulai memanas, aku tak sanggup bila harus berpisah dengannya.
"Ehh udah dong jangan nangis sayang" jawabnya cepat sembari mengusapi air mata yang tiba-tiba mengalir ke pipiku.
"Yaudah yaudah, aku gak bakalan pergi kok, aku selalu di sampingmu. Aku janji" ucapnya sembari menggenggam erat tanganku.
"Kamu bohong .." Air mataku semakin mengalir deras membasahi pipi.
"Sayang, dengerin. Aku mulai sekarang gak bakalan ninggalin kamu, gak bakalan jauh darimu, selalu ada di sampingmu" ucapnya dengan serius.
"Kamu janji ?"
"Iya, mulai sekarang aku berjanji tak akan meninggalkan kamu lagi .." ucapnya sembari tersenyum memandangku.
"Ini janjimu yang keberapa ko ?"
"Ini yang ke-2 kali. Yang pertama ku ucap ketika aku akan pergi karena aku takut di bilang perusak hubungan kamu dengan mantan pacarmu itu. Dan yang kedua aku ucapkan saat ini di hadapanmu" senyumnya sembari mengecup kedua tanganku.
"I love you lisa .."
"I love you too ko" pipiku seketika memerah setelah mengucapkannya.
Sungguh, aku sangat bahagia karenanya.
Hari demi hari, ku lalui bersama dengannya. Seakan semua dunia ini mendukungku untuk bersama dengan dia. Tak pernah ada sedikitpun pertengkaran yang terjadi diantara kita. Semua orang yang melihat bahkan merasa iri. Semua terasa tentram sekali, hidupku sangat damai.
Detik berganti, menit berganti, jam berganti, hari dan bulan pun ikut berganti.
Febuari, maret, april, mei, juni, juli, agustus ..
"Ehhh lis, ada yang nyariin tuh di depan kelas"
"Siapa ??" Tanyaku pada temanku.
"Udah liat aja sendiri, nanti juga bakal tau"
Ku langkahkan kaki menuju depan kelasku. Ku tengok kanan kiri tapi tak ada orang, mungkin aku di permainkan olehnya. Tiba-tiba ketika ku balikkan badanku untuk kembali melangkah ke dalam ruang kelas ..
"Hayoo, nyariin aku yaa .."
"Kamu apaan sih, ngagetin orang aja. Kalo jantungku copot gimana ? Mau tanggung jawab ?" Tanyaku kesal pada joko yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Mau mau, mau aku tanggung jawab sekarang ? Ayo ke KUA kalo gitu" jawabnya sembari menarik tanganku.
"Ehh ehh ehh, apaan sih kamu nih. Kalo bercanda ya paling bisa aja .."
"Hehehe, maaf sayang. Eh yaudah ikut aku yuk"
"Mau kemana ? Kan bentar lagi ada kelas tambahan ?"
"Udah gapapa, nanti kita ijin aja" jawabnya sembari menarik tanganku meninggalkan ruang kelas.
Di atas motor berdua, dengan dia yang paling ku cintai. Serasa dunia milik kita berdua, hehe. Ku biarkan sang angin menggoda mempermainkan rambutku yang terurai, melewati jalanan bersama dengannya. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa.
Hari itu dia mengajakku berkeliling, membelanjakan aku segala yang aku inginkan, mulai dari coklat, kalung, boneka, baju, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Hingga sore pun tiba, aku diantarnya pulang sampai ke rumah. Dia berpamitan pulang, dan aku pun mengiyakan dia. Aku melihatnya pergi dari halaman rumahku dengan motor kesayangannya itu. Hari ini dia sangat memanjakanku, entahlah kenapa hari ini dia tiba-tiba seperti itu, tapi aku bahagia.
Sungguh, hari itu aku sangat bahagia. Sangat sangat sangat bahagia.
Bersamamu setiap saat, denganmu setiap waktu, cukup hanya bersamamu, aku yakin aku bisa menaklukkan dunia.
Hingga hari itu ..
Hari terakhir dia mengirim pesan kepadaku, hari terakhir dia bilang rindu padaku, hari terakhir aku bisa menerima pesan darinya ..
Awal september, hari ku lalui seperti biasanya. Bersamanya, tak ada sedikitpun pikiran bahwa dia akan pergi meninggalkanku. Ku kira dunia sungguh-sungguh mendukungku bersama dengannya, ku kira dunia sungguh ingin mempersatukan aku dengannya, ku kira semua keberuntungan berpihak kepadaku, ku kira semua kebahagiaan ini akan ku miliki selamanya bersama dengannya, ku kira ..
Hingga pada malam itu, aku yang tengah tertidur lelap tak menyadari bahwa ada sebuah pesan masuk ke ponselku. Pagi pun tiba, ku buka ponselku dan ku baca isi pesan yang ku terima kemarin malam.
Sungguh, semua ini tak seperti dugaanku, sungguh semua ini tak seperti bayanganku, sungguh semua ini tak seperti apa yang aku inginkan.
Aku terjatuh ketika membaca isi pesan itu, seketika air mataku mengalir deras membasahi pipi ini dan tak terhenti, seketika ponsel ku terlepas dari genggamanku.
Apa ini nyata ? Atau hanya sebuah permainan yang ingin dia gunakan untuk membuatku terkejut ?
Aku segera bergegas mandi, mengambil sebuah motor dan segera menuju ke rumah joko.
Aku sepanjang jalan hanya berpikir kalau dia mempermainkan aku, tapi lelucon ini sungguh tidak lucu sama sekali. Aku berpikir bahwa dia hanya ingin memberiku sebuah kejutan, karena di tanggal ini adalah jadian kita kesekian kalinya.
Tetapi ..
Ketika aku sampai di rumahnya, aku melihat bendera kuning berkibar di halaman rumahnya, aku melihat ada banyak sekali teman-temannya yang berkumpul di rumahnya, aku melihat banyak sekali orang yang datang mengenakan pakaian berwarna serba hitam.
Air mataku kembali tumpah membasahi pipi, lagi-lagi aku terjatuh melihat semua kenyataan ini. Aku tak percaya ini semua harus terjadi kepadaku, aku tak percaya ini semua harus terjadi pada kita.
Teman-temanmu membawaku ke dalam rumahmu, ku lihat kedua orang tuamu menangis sembari melihat dan mencoba mengatakan kepadaku bahwa aku harus bisa menerima semua kenyataan ini.
Aku langsung memeluk erat tubuh ibumu yang menangis di hadapanku, aku menangis dengan hebat di pelukan ibumu, aku menangis dan benar-benar tak menyangka kalau semua ini benar adanya.
Aku melihat kamu, aku melihatmu dengan ditutupi sebuah kain berwarna putih, aku melihat mu tertidur dengan pulas, aku melihat tubuhmu yang benar-benar terbujur kaku di hadapanku, aku melihatmu dengan kulit yang berubah menjadi warna putih pucat. Aku tak mampu menerima semua ini, aku tak sanggup mengahadapi kenyataan ini, ku peluk erat dirimu di dalam pelukanku, ku goyang-goyangkan tubuhmu yang mulai terbujur kaku itu, ku teriakkan namamu sekencang-kencangnya.
Semua yang hadir terkejut melihat apa yang aku lakukan, tapi aku tak menghiraukan mereka, aku hanya peduli padamu, aku hanya ingin kamu mengatakan bahwa ini semua hanya kebohongan, aku hanya ingin kamu bangun dan membalas pelukanku itu, aku hanya ingin kamu bangun dan mengusap air mata yang mengalir tiada henti membasahi pipiku, aku hanya ingin kamu bangun sembari memberikan kecupan yang lembut di keningku.
Semua orang menenangkanku, temanmu, sahabatmu, adikmu, orang tuamu, semua berusaha menenangkan ku yang benar-benar menjadi-jadi saat itu.
Hari ini, hari jadian kita. Hari yang mestinya menjadi sangat istimewa untuk kita, hari yang mestinya kita lalui bersama dengan penuh canda tawa, hari yang seharusnya menjadi hari paling ku nanti-nantikan. Namun nyatanya, hari ini aku sangat membenci hari jadian kita, aku sangat membenci tanggal dan bulan ini, aku sangat membenci kamu juga.
Bukankah kamu pernah berjanji ? Kamu tak akan meninggalkan aku lagi ? Apakah kamu lupa dengan janjimu itu ? Apakah ini hadiah yang kamu berikan padaku untuk hari jadian kita ? Apakah ini caramu mencintai aku ?
Aku tersadar, hari itu adalah hari terakhir aku menerima pesan darimu, hari itu hari terakhir kamu memanggilku sayang, hari itu hari terakhir kamu berkata rindu padaku, hari itu hari terakhir kamu berkata kamu mencintaiku, hari itu hari terakhir kisah kita ..
Seketika aku menggila, seketika aku merasa dunia tidak adil pada kita, dunia tidak merestui kita, dunia tidak ingin kita bersama. Lalu kenapa ? Kenapa seakan-akan waktu itu dunia berpihak pada kita ? Kenapa ? Kenapa ?
Dengan jelas, aku masih ingat kata-katamu itu, kamu yang berkata ..
"Iya, mulai sekarang aku berjanji tak akan meninggalkan kamu lagi.."
Kata-kata itu selalu terniang di telingaku. Hingga hari ini, hingga detik ini, semua tentangnya masih tersimpan manis di hati dan pikiranku.
Terimakasih, karna semua tentangmu, semua kenangan manis kita masih tersimpan indah hingga sampai saat ini. Semua masih ku simpan rapi di memori ku, memori yang khusus ku tetapkan untukmu, di dalam hatiku.
Alm.Joko Tri Prabowo