Tema : Penyesalan seumur hidup
Arin terduduk lesu di samping sebujur jasad yang sudah dalam balutan kain kafan lengkap, siap untuk di kebumikan. Sambil menggenggam telapak tangannya sendiri sebagai bentuk pertahanan bahwa Ia baik-baik saja kembali Arin tatap jasad itu serasa tidak percaya bahwa orang yang Ia jumpai pagi tadi dengan kondisi sehat, ceria kini diam tak bergeming terbujur kaku dan tak lama lagi akan hilang dari pandangan mata terkubur selamanya. Ia telah pergi meninggalkan dunia. Air mata yang sedari tadi berkabut dalam bola mata besar jernih itu akhirnya tumpah ruah. Arin menangis sesenggukan.
"Sabar, dia orang baik, kita semua kehilangan.sabar." Ujar seorang wanita paruh baya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Arin. "Iya keluarganya juga sedih, kita semua sedih tapi jangan di tangisi terus-terusan kasihan Almarhum nanti bisa gak tenang." Sambung suara lainnya. Beberapa waktu berikutnya terdengar suara bersahutan dengan isi gumaman yang sama meski berlain kata tentang mengingatkan, menabahkan, mengikhlaskan dan lainnya demi menghilangkan kesedihan.
*Beberapa jam yang lalu*
"Beneran yakin gak mau nih??" Sebuah tanya yang sama berulang kali di dengar oleh Arin dari seorang pria gempal, kulit putih, berwajah bulat dengan mata kecil yang bila tersenyum membuat matanya menghilang tertutupi oleh pipinya yang tembam. "Gak mau mang gak mau." Jawaban Arin pun sedari tadi begitu saja masih belum berubah.
Terlihat kekecewaan dari mang Katul, si penanya.
"Baiklah, tapi sampai kapan neng Arin gak mau makan seblak buatan mang Katul?." Tanya Mang Katul lagi sambil menyantap seblak yang awalnya akan diberikan kepada Arin. Arin meneguk air liur melihat mang Katul di depannya yang kini makan seblak begitu lahap. Terbayang olehnya betapa nikmatnya seblak buatan mang Katul. Isiannya yang lengkap; baso, ceker, sosis, sayur dengan porsi anti pelit menjadi penyempurna nikmatnya rasa seblak buatan mang Katul yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. "Mang Katul sedih banget neng Arin udah lama gak makan seblak disini. Mang Katul selalu kepikiran apa neng Arin yang susah makan selain makan seblak udah mulai suka makan makanan lainnya. Kalau iya Alhamdulillah kalau enggak gimana? aduh kepikiran terus mang Katul." Mang Katul kembali berceloteh.
Brakkkkkkkkk
Arin memukul meja di hadapannya.
"Mang, udah diam!! gak usah nanya dan bahas-bahas seblak lagi. mentang-mentang jualan seblak nanyanya ituuu mulu. mang Katul tahu gak gegara makan seblak disini berat badan Arin jadi naik hampir 1 KG!! itu bikin Arin di tegur sama panitia lomba fashion show. Tahun ini Arin harus menangin lomba fashion show ini mang supaya Papa Mama Arin yang sibuk kerja senang dan jadi betah di rumah. Oh iya Arin emang susah makan selain makan seblak Mang Katul tapi itu dulu sekarang gak lagi karena Arin gak mau punya badan kayak Mang Katul!!!." Arin berkata setengah berteriak dengan memasang wajah kesal. Sementara Mang Katul terlihat kaget lalu terdiam bukan karena gebrakan meja dari Arin tadi tapi karena tidak menyangka pelanggan yang Ia anggap seperti saudaranya sendiri itu berkata demikian. Hal itu membuat perasaan mang Katul bercampur aduk.
"Neng Arin.. neng.. Neng Arin." Terdengar suara mang Katul yang tersengal-sengal memanggil Arin. Sesaat setelah meluapkan kesalnya tadi Arin segera pergi meninggalkan warung seblak Mang Katul. Ternyata Mang Katul segera berlari mengejarnya. "Apa lagi sih mang?." Arin kembali memasang raut kesal. Ia kesal Mang Katul yang ngos-ngosan terlihat berusaha mengambil dan membuat nafasnya kembali beraturan. "Arin, ini bubur kacang hijau dan apel, di makan ya.. gak baik berkegiatan tanpa sarapan, ini gak bikin Arin gemuk kayak Mang Katul kok." Mang Katul terkekeh sendiri lalu melanjutkan ucapannya, "Mang Katul ngajakin mampir ke warung tadi bukan karena mau ngomongin seblak mulu bukan juga sebagai tukang jual seblak tapi karena mang Katul khawatir neng Arin gak makan apa-apa sementara neng Arin doyannya cuma seblak. dan mang Katul yakin juga percaya serta mendo'akan semoga mama papa neng Arin secepatnya banyak ngabisin waktu di rumah sama neng Arin terlepas neng Arin menang lomba ataupun enggak. Jaga makan dan kesehatan ya neng jangan sampai sakit." Mang Katul mengakhiri kalimatnya sambil memasang senyum khas di wajahnya. Arin berlalu masih dengan ekspresi kesal tanpa sepatah kata pun meninggalkan Mang Katul begitu saja sambil menenteng kantong plastik yang mang Katul berikan tadi.
"Laailahaillallah... laailahaillallah.. laailahaillallah." Terdengar suara dari pengusung keranda dan orang-orang yang ikut mengantarkan Mang Katul ke peristirahatan terakhirnya. Suara itu terdengar makin sayup jauh meninggalkan Arin yang berhenti di depan warung mang Katul di gandeng oleh Mamanya. Arin melihat warung itu dengan seksama lalu membaca tulisan di spanduk warung "Seblak Sayang. Itu nama warung seblak Mang Katul. pernah suatu ketika Arin bertanya kepada mang Katul kenapa nama warungnya begitu? jawabnya, "Supaya orang yang menyajikan dan orang yang makan seblak di warung mang Katul selalu dikelilingi oleh orang-orang yang di sayang."
"Tidak seharusnya Arin berkata seperti tadi kepada mang Katul, kini Arin bukan hanya tidak dapat makan makanan kesukaan Arin lagi tapi juga gak bisa minta maaf atas sikap Arin. Ini penyesalan seumur hidup. maafin Arin mang. Maaf." Arin kembali menangis sesenggukan di pelukan Mamanya sambil terus menatap sendu ke arah warung mang Katul.
"Seblak Sayang." Arin membaca lagi tulisan di spanduk warung mang Katul lalu bergumam dalam hati, "Aku Malang."
***Selesai***