Karin terus melihat kearah seorang lelaki yang sedang bermain basket di lapangan dari atap sekolah. Ia terkejut saat target yang ia intai tiba-tiba menengadah lalu melambaikan tangan kearahnya.
"Duh, bodohnya gue!" Karin turun dari pembatas gedung sambil merutuki dirinya karena sudah tertangkap basah menatap Jeno, anak kelas sebelah yang ia sukai sejak lama.
Bagaimana ia tidak menyukai seorang Jeno?
Lelaki dengan tinggi semampai, putih, mulus, maskulin, berkharisma, pemilik tatapan maut dengan senyuman manis dan eyesmile khas yang bikin hati setiap kaum hawa ketar-ketir. Dia juga merupakan putra dari seorang pengusaha tajir melintir yang kekayaannya tidak habis hingga 7 turunan sekalipun.
Inilah pekerjaan sambilan Karin, memandangi Jeno dari jauh. Ia tak memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaanya. Karena Jeno adalah idola ciwi-ciwi di sekolah.
Banyak cewek yang ingin dekat dengan Jeno, namun semua ditolaknya mentah-mentah. Selera Jeno itu tinggi, hingga Karin insecure duluan untuk mendekati lelaki itu. Dia terlalu wah untuk dirinya yang weleh. Setidaknya Karin masih bisa menggeluti kerja sambilannya.
Ceklek
Tiba-tiba pintu atap terbuka, menampilkan wajah Jeno yang terlihat glowing karena keringat dan minyak di wajah yang menyatu menjadi satu kesatuan yang hakiki.
Jeno tersenyum kearahnya.
Membuat Karin hampir pingsan karena senyuman itu kelewat manis hingga membuatnya ingin muntah. Bisa-bisa ia diabetes mendadak.
'Ya amsyong.. Jantung gue!' batin Karin sambil memegang dadanya.
Jeno menghampiri Karin yang berdiri mematung.
"Lo Karin kan?"
Karin mengangguk.
"Lo mau gak jadi pacar gue?"
'A-apa? Apa gue gak salah denger?' batin Karin yang semakin terbengong-bengong.
"Lo gak salah denger. Gimana, mau gak?" tebak Jeno melihat keterbengongan gadis dihadapannya.
Mulut Karin langsung ternganga lebar.
'Ni orang cenayang apa gimana? Kok dia bisa baca pikiran gue?' batinnya lagi.
"Gak usah berpikiran yang aneh-aneh tinggal jawab aja. Mau atau tidak?" tawar Jeno yang terlihat tidak sabar.
"Gue--"
"Oke, mulai sekarang kita pacaran", sela Jeno yang kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Karin.
Karin mengerjap-ngerjapkan matanya.
Plak
Bahkan ia menampar pipinya sendiri. Memastikan ini mimpi atau bukan.
"Aw, sakit", keluhnya.
Berarti ini bukan mimpi! Jeno baru saja menembaknya. Tapi Karin bahkan belum membalasnya. Masa bodoh deh, yang penting perasaannya selama ini terbalaskan.
Tunggu dulu!
Bukankah ini aneh. Jeno yang bahkan tidak pernah meliriknya sama sekali tiba-tiba menembaknya? Apakah ia patut curiga dengan sikap Jeno? Tapi mau bagaimana, cinta mengalahkan segalanya. Karin tidak mau dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan merusak hatinya sekarang. Nikmatin aja dulu.
Karin pun pergi dari sana sambil menari-nari seperti orang gila. Tak peduli dengan tatapan aneh yang dilayangkan orang-orang padanya. Hatinya sedang berbunga-bunga sekarang.
Kebahagiaan Karin berlanjut setelah ia berpacaran dengan Jeno. Karena lelaki itu sangat manis, bahkan tau bagaimana memanjakan seorang wanita. Apapun yang Karin inginkan akan Jeno berikan. Apapun yang tidak menentang nilai dan norma agama, sosial, adat istiadat dan budaya tentunya.
Karina merasa seperti ratu jika berada di dekat Jeno. Hingga suatu ketika..
"Karin.. Lo mesti tau ini", ujar Mark, teman sebangkunya sambil menyodorkan ponsel.
Karin terkejut saat melihat layar ponsel Mark. Ia melihat foto Jeno sedang berduaan dengan cewek lain yang tidak ia kenal, duduk di kafe seberang sekolah.
"Paling itu saudaranya", Karin mencoba menyangkal pikiran negatif yang tiba-tiba melanda.
"Buka mata lo Karin, selama ini lo udah dibutakan oleh cinta gila lo itu. Lo terlalu bucin sampai gak pernah tau kenyataan kalau Jeno cuma mainin perasaan lo! Semua orang udah tau itu", nasehat Mark.
"Gak, gak mungkin. Kalau ngeprank jangan sekarang deh, waktunya gak tepat", bentak Karin, sedikit kesal dengan Mark.
"Terserah. Kalau gak percaya, pastiin aja sekarang", balas Mark yang sudah capek dengan kebucinan Karin.
Tidak mau lama-lama berkutat dengan perdebatan yang hanya akan memutuskan tali pertemanan diantara mereka, Karin pun segera pergi ke TKP. Ia harap dugaan Mark salah.
"Jen.. Siapa dia?" tanya Karin tanpa basa-basi saat mendapati Jeno benar-benar sedang bersama cewek lain.
Jeno sedikit terkejut saat Karin tiba-tiba muncul secara misterius di depannya.
"Dia pacar gue", balas Jeno santai.
"Maksud lohh?"
Jeno menghela nafas.
"Maaf ya, gue pacaran sama lo cuma buat lakuin dare dari temen-temen. Sebenarnya gue mau putusin lo nanti sepulang sekolah, tapi berhubung lo udah tau semuanya jadi--", Jeno menjeda penjelasannya sejenak agar lebih dramatis.
"Kita putus"
Gledek Jeduarr
Kata-kata Jeno terdengar seperti petir di telinga Karin. Sekilas tapi sakitnya bukan main, sampai merasuk ke tulang rusuk menjalar ke hati hingga persendian. Jiwa raganya terasa mati suri. Hingga membuatnya limbung dan hampir terjatuh kalau saja seseorang tidak menahan badannya.
"Lo gapapa, Rin?" Mark tiba-tiba saja sudah ada disana.
Jeno dan pacarnya tampak tak peduli dengan pertunjukan ala sinetron didepan mereka.
Bahkan pengunjung kafe yang lumayan ramai itu sudah menatap heran ke arah mereka.
Karin mencoba menguatkan jiwa raga yang sempat mati suri itu. Toh, ia hanya putus cinta bukan putus urat nadi. Apakah harus sekalian putus urat malu? Hmm, bisa dicoba.
"Congrats, Jen.. ", ujar Karin sambil tersenyum kecut, membuat semua yang ada disana terkesima.
Ini diluar ekspektasi Jeno. Ia kira Karin akan memohon sampai bertekuk lutut meminta untuk tidak diputuskan.
Karin berjalan gontai menuju panggung kecil diujung kafe. Ia meraih mic lalu menyanyikan lagu Congratulations milik Day6.
Mungkin ia terlihat bodoh bahkan orang akan mengiranya sudah gila. Tapi inilah caranya menghibur diri. Tidak ada salahnya menghibur diri sekaligus menghibur orang lain. Toh suaranya juga lumayan. Lumayan ancur. Sehancur hatinya saat ini.
Tapi ia tak boleh menunjukkan kesedihannya di depan orang yang baru saja mencampakkan, merendahkan dan mempermainkannya.
Jeno..
Terimakasih atas semuanya.
Lo memang pacar yang tidak ada duanya.
Bikin hidup gue berwarna lalu hancur dengan sempurna.
Lo kekasih yang sempurna tapi bukan buat gue.
Selamat, udah memenangkan hati gue. Bahkan membuatnya semakin kokoh melebihi tembok rumah sultan. Karena lo, gue belajar menjadi pribadi yang kuat di segala medan, situasi, dan kondisi.