Apakah kamu percaya akan kekuatan cinta?
Cinta bisa membuatmu bahagia, sekaligus bisa membuat terluka. Bahkan luka yang ditimbulkannya, bisa membuat seseorang menjadi trauma.
---
Langit malam terasa sangat kelabu. Bintang-gemintang seakan enggan bermain dengan kerlipnya. Rembulan pun sepertinya malu menampakkan gurat-gurat wajahnya.
Sesaat kemudian, angin berhembus kencang seakan ingin melahap apa saja yang ditemuinya. Bulir-bulir air hujan bersiap turun membasahi bumi, menyapu seluruh malam dengan tetes-tetes dinginnya.
Di salah satu ruangan sebuah rumah kecil, tampak seorang pria tampan sedang menggendong seorang bayi yang terus-menerus menangis. Pria itu berusaha menenangkannya, memberinya minum dari sebuah botol susu kecil.
Bayi itu tetap tak mau diam. Dia ingin dekap ibunya, dia ingin menyesap air susu langsung dari sumbernya, dan dia sekarang sedang tidak ingin digendong oleh ayahnya.
Di hadapan pria tampan itu, tampak seorang wanita cantik dengan make up cerah dan pakaian agak terbuka, sedang menyeret sebuah koper besar. Wajahnya dingin, tak ada rasa iba sekalipun melihat anak kandungnya menangis kelaparan. Tekadnya sudah bulat, ingin pergi dari rumah itu. Dia ingin meninggalkan pria yang dulu pernah dicintainya, bahkan meninggalkan anak yang baru dua bulan lalu, dilahirkannya dengan penuh perjuangan.
Pria tampan itu menangis, memohon belas kasihan wanita cantik itu. Dia sudah tidak memikirkan cintanya lagi. Tidak peduli wanita yang dihadapannya sekarang, sudah tidak mencintainya lagi. Yang diinginkan hanyalah agar wanita itu tetap tinggal, demi bayi yang ada dalam dekapannya. Bayi mungil yang bahkan baru sebentar melihat indahnya dunia dan masih haus akan kasih sayang dari ibunya.
Wanita itu tetap tidak peduli. Air mata suami bahkan air mata anaknya sendiri, tidak sanggup menggoyahkan pendiriannya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan segala keterbatasan ekonomi suaminya. Berpisah adalah keputusan yang dipilihnya dan dia tidak ingin anak yang baru dilahirkannya itu, menjadi beban untuk kehidupan barunya.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kecil dan sempit itu. Sopir membunyikan klakson berulang-ulang. Di belakang sopir, tampak seorang pria berusia 50 tahunan, duduk menunggu dengan tidak sabar. Dia ingin menjemput wanitanya. Seorang wanita yang telah dijanjikannya kemewahan.
Dia tidak peduli wanita itu telah memiliki suami dan seorang anak. Yang dipikirkannya hanyalah, hasrat ingin memiliki wanita itu. Wanita cantik dan menggoda yang tidak sengaja ditemuinya sebulan yang lalu. Wanita yang ternyata mudah luluh, saat dirinya menjanjikan kemewahan.
Wanita cantik itu segera berlalu pergi dari suami, serta bayinya yang menangis itu. Dia sudah mengurus surat cerai beberapa minggu yang lalu, dengan bantuan pria tua kaya yang menjadi kekasihnya. Tentu saja dengan uang, segala urusan akan menjadi lebih mudah dan cepat. Dia tidak peduli lagi saat suaminya menolak untuk menceraikannya.
Sekarang, surat cerai itu sudah ada di tangan pria tampan yang telah menjadi mantan suaminya itu. Pria yang menjeratnya dalam hidup yang serba pas-pasan. Akhirnya dia berhasil juga, lepas dari jeratan itu. Seorang pria tua yang kaya, telah membebaskannya dari jeratan kemiskinan, bahkan berani menjanjikan kehidupan yang bergelimang harta dan juga kemewahan. Pria tua yang tidak lebih tampan dari pada mantan suaminya, namun jauh lebih mapan dan hidup bergelimang kemewahan.
Wanita itu sudah tidak mementingkan usia maupun tampang. Dia pernah merasakan getirnya hidup dengan pria tampan, namun penghasilannya pas-pasan. Dan dia ternyata tidak bahagia, walaupun awalnya dia mencintai pria itu. Kerasnya hidup mengajarkan dia, bahwa cinta saja tidak cukup untuk bertahan hidup. Baginya yang terpenting adalah uang. Uang bisa membeli segalanya. Bahkan dia berpikir, kalau cinta dan kebahagiaan juga bisa dibeli dengan uang.
Pria tampan yang mengendong bayi itu hanya bisa pasrah, melihat wanita yang dulu mencintainya itu melangkah pergi meninggalkannya. Untuk terakhir kalinya, dia ingin melihat wajah wanita itu lewat kaca jendela depan rumahnya.
Di luar terlihat seorang pria tua, turun dari mobil mewahnya. Pria itu menyambut wanitanya dengan senyum gembira. Wanita itu pun membalas dengan senyuman mesra dan tatapan bahagia. Mereka lalu berciuman, disaksikan sorot mata pria tampan dari balik kaca jendela rumah.
Hati pria tampan itu sangat sakit dan hancur. Dia menatap bayi di gendongannya dengan iba. Dia tidak menyangka istri yang sangat dicintainya, tega meninggalkan dia dan bayi mereka yang masih sangat kecil, hanya demi lelaki tua yang mengiming-iminginya dengan uang dan kemewahan.
Tangan pria tua itu mulai nakal menyingkap rok wanita cantik itu. Petir pun menyambar, dan bulir-bulir hujan mulai turun membasahi bumi. Pria tua itu segera mengajak wanitanya masuk ke mobil, lalu menyuruh sopir untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Tempat di mana wanitanya, pernah mengukir kisah indah bersama pria lain. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat seperti itu.
Hujan pun turun membasahi rumah kecil yang catnya sudah memudar itu. Pria tampan itu dengan lembut menyodorkan lagi botol susu kemulut bayi mungil di gendongannya. Bayi itu dengan terpakasa menerimanya. Dia sudah sangat lapar dan lelah menangis sejak tadi. Perlahan dia menghisap botol susunya.
Pria itu tersenyum lembut ke arah bayinya, lalu melemparkan pandangan lagi ke kaca jendela. Wanita yang dicintainya telah pergi bersama pria lain. Hujan yang barusan turun, seakan ingin menghapus semua jejaknya di luar.
Bayi mungil itu sudah terlelap dalam mimpinya. Pria itu meletakkan bayinya di atas kasur besar yang sederhana. Kasur kusam tanpa ranjang dan spreinya pun sudah lusuh. Tapi bayi itu terlihat merasa nyaman tidur di atasnya.
Di selimutinya bayi mungil itu, lalu berbaring perlahan di sampingnya. Di pandangnya sudut kasur tempat biasa istrinya tidur. Terasa sangat hampa. Memorinya perlahan-lahan kembali kemasa lalu. Masa-masa saat dia menjalani hari-hari yang indah bersama istrinya.
3 tahun yang lalu saat dia berumur 24 tahun dan baru saja lulus kuliah, dia terpaksa harus bekerja sementara sebagai driver ojek online. Dia sudah berusaha melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar, tapi selalu gagal. Padahal nilai-nilainya tidaklah terlalu buruk. Memang kala itu sangatlah sulit mencari pekerjaan.
Dia hanyalah seorang anak yang berasal dari keluarga miskin. Ayahnya pergi meninggalkan ibunya, setelah menodai kehormatannya dan melemparkan segepok uang untuk mengugurkan, apabila kelak ibunya hamil. Ayahnya sangatlah kejam dan berhati iblis. Dia berharap tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya itu.
Ibunya terpaksa menjadi orang tua tunggal. Dengan status yang belum menikah dan harus menanggung kehamilannya, tentu saja ia harus mendapat pertentangan dari masyarakat. Diusir hanyalah hal biasa baginya. Yang terpenting baginya, hanya ingin melihat anak yang dikandungnya bisa lahir dengan selamat.
Setelah anaknya lahir, dia masih harus terus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya. Ibunya melakukan berbagai macam pekerjaan demi bertahan hidup. Membantu ibunya berjualan saat masih sekolah, adalah hal yang biasa bagi pria tampan itu. Bahkan dia harus kuliah sambil bekerja, demi membayar biaya kuliah dan membantu keuangan ibunya.
Saat usianya menginjak 25 tahun, pria tampan itu harus rela kehilangan ibunya, satu-satunya keluarga yang dia punya. Sudah lama ibunya menderita sakit dan mungkin itu sudah saatnya dia menghadap Sang Pencipta. Pria itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Rasa sakit kehilangan, sungguh merupakan cobaan sangat berat bagi dirinya. Dia telah kehilangan satu-satunya tempat dia bersandar.
Suatu hari, dia bertemu dengan seorang wanita cantik yang kala itu berprofesi sebagai SPG produk rokok. Dia menawarkan rokok padanya. Awalnya pria itu menolak, karena memang dia tidak merokok. Tapi wanita itu terus merayu dan memaksa. Akhirnya pria itu luluh dan membelinya. Wanita itupun meminta nomor ponselnya.
Setiap hari wanita itu selalu menghubunginya. Menanyakan kabar, memberi perhatian-perhatian kecil, bahkan mengajak bertemu dan jalan-jalan. Pria itu mulai jatuh cinta pada wanita itu. Dia telah kehilangan tempatnya bersandar selama ini, dan tiba-tiba saja wanita itu hadir di kehidupannya. Tentu saja saat itu, pria itu merasa sangat bahagia.
Wanita itu terlihat sangat baik dan menerimanya apa adanya. Bahkan saat suatu hari dia melamarnya, wanita itu menerimanya tanpa berpikir panjang. Mereka pun menjalani pernikahan yang harmonis selama dua tahun. Mengayuh biduk berdua, mengecap pahit dan manisnya hidup bersama.
Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu, wanita itu bertemu dengan pria lain yang lebih kaya, dan sikapnya jadi berubah 180 derajat. Kini pria itu harus berjuang sendiri, merawat dan membesarkan anaknya yang masih bayi.
"Papa berjanji akan melindungimu dengan nyawa Papa. Tidak akan membiarkanmu kelaparan. Papa akan selalu membahagiakanmu. Papa janji nak! Papa akan berjuang sekuat tenaga untuk merawat dan membesarkanmu, dengan semua cinta dan kasih sayang yang papa punya."
Pria itu berkata lembut sambil memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas. Pria tampan itupun tertidur di samping bayi mungilnya. Tanpa tahu masa depan apa yang akan mereka hadapi nanti. Tentu saja di depan sudah ada takdir yang sudah di gariskan Tuhan, untuk pria tampan yang bernama Elang Pratama Putra itu. Takdir yang tak pernah bisa di bayangkannya. Sesuatu yang akan merubah hidupnya di masa depan, sekaligus akan membawanya lagi ke masa lalunya yang pahit.
Tetesan hujan masih menari-nari di atas genting yang rapuh. Menyisakan suara gemerisik di sela-sela kesunyian malam. Dua insan manusia yang terikat hubungan ayah dan anak itu pun, mulai terbuai dalam mimpinya masing-masing.
***