"Geseran sana"
"Jangan dekat dekat"
"Hush hush hush..."
"Gak mau"
"Pergi"
Perkenalkan aku, Lilithe Arnas, sudah kebal dengan kata diatas seperti sebuah tagline dari Baskara Kalana.
Kala. Nama yang indah, membuat aku jatuh cinta. Aku menyebut jatuh cinta ya... nyatanya memang jatuh. Dan sakit.
Kenal sejak orok bukan berarti aku dan dia, bersahabat. Berteman saja kami tidak.
Dunia kami berbeda, maksutnya bukan dari level, tetapi, lebih ke lingkup pertemanan atau pergaulan mungkin.
Yah sebenarnya tak sebegitunya sih, cuma ini untuk keperluan tulisan, yah sedikit aku dramatisir. Dibuku diari yang bau menyan ini.
Kuat Ar kamu kuat!
"Ar" Dewi perusahaan melambaikan tangan kearahku.
"Nanti balik bareng yuk, sekalian girl's night yuk yuk..." Tiar Seruni, sahabatku, menarikku. Aku mengangguk mengiyakan.
Kau tahu di perusahaanku ada tingkatan kecantikan.
Kata Farhan. Teman teamku, ada tiga speck cewek di kantor. Speck tak terlihat, speck dewa dewi, dan tingkatan paling tinggi adalah speck malaikat.
Aku tanya "gue speck mane, menurut lu?" Sampai dia bilang, tak terlihat. Bakal aku bogem kepalanya.
Dan selamat Farhan, Anda mendapat bogem di perut.
"Aakh! Sakit gila" kami berjalan menuju lift, setelah selesai makan siang bersama dengannya tempo hari.
Tak kuindahkan kesakitannya. Bodo amat.
Tak tahu dia aku ikut taekwondo, Dan hitam, jangan sedih!
Aku berjalan menuju lantaiku. Lobby tidak begitu ramai pagi ini. Aku melihat Rima, sudah siap full make upnya, "Pagi" sapaku.
"Pagi mbak Arnas, have good day ya" selalu ramah, tak masalah make up tebal. Yang penting attitudenya.
"You too" ngeloyor menuju lantaiku
*****
Makan siang dengan Farhan memang menjadi rutinitasku. Bukan ada love office dengannya. No. Tak mau dengan Farhan. Maunya sama Mas Kalanya aku.
"Ck! Muleskan gue!" Bawel Farhan.
Aku hanya memutar bola mata, jengah. Sedari tadi ini perawan satu menyalahkan aku.
Memang hari ini aku yang memilih tempat makan.
"Hhhh... belom akhir bulan dompet prihatin, masuk jebakan batman gue"
Aku menaikan sudut bibirku. Aku sengaja memilih restauran itu.
Salah sendiri, selalu ngintilin aku makan siang. Bukan salahku dompetnya prihatin.
"Bayangin dua lumpia seratus ribu, ediaann... mana enakan yang dipinggir jalan, sepulu ribu dapet 5, gak lagi lagi gue ngikut lo!"
Aku hanya menaikan bahuku, Acuh.
Lift terbuka. Aku sibuk menatap ponselku. Tapi aku dengar celetukan Farhan. "Ini kita langsung sampai surga, Ar"
Aku mendongak menatap lurus ke matanya.Kala. Beberapa detik, aku melihat Tiar melambai heboh. Seperti biasa.
"Malaikat dewa dewi jadi satu, ini lift yang di pake di Charlie and The Chocolate Factory itu jangan-jangan, punyanya si Willy itu lho,Ar" berasa ikrib betul ini lakik sama si Willy, runtukku.
"Jadi kita melesat, terus coplok ke udara sampe ke khayangan" ya imajinasi yang membanggongkan dari Farhan.
"Kontribusiin imajinasi lu ke perusahan please!"Aku hanya menggeleng mengikuti Farhan yang telah masuk ke kotak besi menuju apa tadi dia bilang, khayangan. Hahaha...
Aku ditarik Tiar kesampingnya, tepatnya samping Kala. Tiar tentu tahu kebucinanku yang tak tahu malu.
Ya aku bekerja diperusahannya, dan aku masuk disini, benar dengan ijasah ku. Aku berusaha sebegitunya agar dilirik olehnya.
Kau tahu apa yang lucu. jangankan dilirik, Dia bahkan tak menganggapku ada. Orang-orang perusahaan tak tahu hubungan kami.
Yang mereka tahu ya biasa, sebatas atasan dan bawahan. Malah Tiar, yang diisukan dekat dengan Kala, apa coba. karena selalu bersama, gimana gak bersama Tiar kan sekertaris Kala.
Akupun terkejut saat menemukannya berjalan di lobby pagi itu.
Padahal kami yang di jodohkan. Klise.
Karena orang tua kami bersahabat, keluarga besar setuju. Tak mau mengecewakan. Aku iya kan. Aku tahu Kala akan menolaknya jadi aku diam saja.
Tapi ternyata dia menerima. Aku tak menyangka, tentu, aku seperti mendapat angin segar, Aku putuskan untuk mengejarnya lebih gigih lagi. Katanya usaha tak mengkhianati hasil toh,
Tetapi kalau tak berhasil, mau sampai kapan? sampai aku melihatnya menemukan bahagianya, Mungkin. Hopeless. hahaha...
Panggil aku si LABIL, itu nama tengah ku, Lilithe Labilatul Arnas. hahaha...
Aku tahu, aku bucin, tapi kembali, Kala tak suka denganku, seperti imajinasi Farhan, Untuk bisa berumah tangga dengan seorang Kala. Adalah Mimpi! Alias Nggak mungkin bagiku.
Aku masih punya logika. Boleh bucin tapi goblok, jangan! Tapi gimana ya, nyangkut dihati sih... jadi ya gobloknya nomor satu. Miris.
Siapa coba yang mau bucin sama orang yang bahkan benci dengan kita, nggak ada.
Cuma kalau ngomongin cinta dan hati denganku sekarang. Aku tak akan gubris si Red Flag nya.
Walau aku juga mau menikah dengan orang yang cinta denganku. Bukan dengan orang yang kebencianku melebihi dalamnya neraka.
Beh! kek tau aja kau neraka, Ar!
Bilang aku munafik. MEMANG! capek lho ini. sayangnya gak bisa berhenti.
Seperti sekarang, aku menggodanya. Dengan tak tahu malunya, kebiasaan dari kecil suka flirting, ke ini orang. Kugenggam tangannya. Dingin.
Aku lirik. Seperti patung, tak menanggapiku. Dibiarkannya. Diamnya aku artikan sebagai, Teruskan Ar!
Kutambah levelnya, aku coba menautkan jari-jariku ke jari-jarinya.
Ting...
Pintu lift terbuka, Semua orang mundur, memberi tempat pada mereka yang masuk, aku semakin memepetkan diri pada Kala. Modus? TENTU! KUDU! HARUS! WAJIB!
Tetap mempererat tautan ku ke tangannya. Aku geserkan diriku padanya, punggungku menyentuh dadanya, terasa panas, membuat jantungku menari kesenangan, begitu juga sudut bibirku tertarik keatas dengan sendirinya.
Kubawa tangan kami yang masih bertaut ke samping belakang pinggangku. Ku elus pelan tangannya dengan jempolku.
Mengafirmasikan dalam hati, jempol, tolong dibantu ya, salurkanlah cintaku yang membeludak ini lewat dirimu, jempol.
AMIN! keras tanpa sadar keluar dari mulutku.
Ditoyornya kepalaku dari belakang. Aku berbalik menatap Kala penuh cinta. Toyoran cinta, gitu aja aku sesenang ini. Bucin goblok beginilah.
Kala menautkan alisnya. Mengerutkan dahi. Melihat tingkah ku. Aku berkedip-kedip manja dengan senyuman yang tak bisa aku kendalikan
"Gue" Gumaman pelan dari Tiar, Aku berbalik ke sebelahku, Tempat Tiar berada.
"Gue yang noyor lo" Ck! Sialan, macam nih lah Bestaiku... Tatapan laser kuarahkan padanya, kesal! Mulutku bergerak lincah memakinya tanpa suara
"Gak usah manyun, Jelek makin jelek!" Aku berbalik lagi ke Kalaku. Oh Tuhan, aku melupakannya gara-gara si bestai. Aku tahu aku bukan dipuji. Gak tahu kenapa, pengennya mekar aja gitu hati ini kayak taman bunga.
"Menjijikan" Deg! katanya bisikan halus. yang hanya bisa aku dengar. Taman bunga hatiku seketika gersang.
Tak mengapa, Teruskan Ar! hatiku pantang menyerah tak mengindahkan otakku yang sedari tadi berteriak kencang, mengataiku bodoh.
Aku melepaskan genggamannya. Tapi menariknya dan merangkulkannya dipinggangku. tak mengindahkan hinaannya.
Yah katakan aku JALANG, AKU RELA! TAK DA HARGA DIRI. BODO AMAT!
Ting...
"Ngelunjak!" Bisiknya lirih mendorongku ke Farhan.
"Duuhh ngapa lu dorong dorong" kesal Farhan. Ah ngomongin ini orang, dia sibuk dengan ponselnya, sedari tadi, aku tahu dia grogi sebelahan dengan Tiar.
Aku membalik badan Farhan keluar dari lift, Kemudian menengok pada Kala, masih dengan senyuman yang kutarik selebar mungkin, melambaikan tangan sok imut "Dah jodoh!" Tak bersuara. Tiar melipat tangannya didada, menggelengkan kepala, melihat tingkahku.
lift tertutup, senyumku pun menghilang, perih.
*****
"Gak bisa!" Aku mendengar suara keras dari ruangan Kala. Aku ingin mengajaknya jalan malam ini. Nonton seperti biasa. semoga tak ditolak.
"Kenapa gak bisa! Kamu sudah setuju, dan harus menikah dengan Arnas!" aku mendekatkan telinganku. Yaampyun mama mantu, segitunya. Terharu aku.
"Mama tahu aku sudah memiliki kekasih"
DEG!
aku merasa sesak. Aku tak tahu Kala memiliki seorang kekasih.
"Sudah, nikahi saja, kita perlu dia untuk perusahan, Magda dan Rama pasti tak akan segan membantu kita" Aku mendekat kearah pintu yang menyisahkan cela, aku intip, Om Latif. Adik, Tante Rita, ibu tiri Kala.
"Kau bisa menceraikannya setelah perusahaan kembali normal" Aku menutup mulutku, tak menyangka. Ranti, Anak bawaan Tante Rita, Kakak tiri Kala.
Aku memang merasa kalau dia tak suka denganku sejak awal, meski selalu ditutupi dengan sikap ramahnya padaku yang membuat tak nyaman.
Brengsek! Aku ingin masuk, memergoki mereka.
"Iya sayang benar kata Mommy, dan Kak Ranti. Kamu nikahin aja dia setahun, sampai perusahaanmu stabil. Lalu depak dia" aku mematung. Aku mengenal suara itu. Tiar.
SIALAN!!
"Hhhh... mengingatnya membuatku enek, aku ingin melihat muka soknya itu, hancur"
"Wah kakak ipar, aku menantikannya, pasti sangat menyenangkan" Aku melihat mereka terbahak.
Mataku memanas. kedua tanganku mengerat. orang-orang ini ingin melihat kehancuranku, mengapa? apa salahku pada mereka?
"Sudah, sudah, pastikan kamu menikah dengan anak itu!" aku melihat, Om Latif beranjak dari sofanya.
"Ayo, jangan menganggu Kala lagi, biarkan dia bekerja" Aku mendengar langkah mendekat. Aku segera bersembunyi. Dengan menutup mulutku erat supaya tak bersuara sedikit pun.
Aku melihat kepergian mereka bertiga, Tante Rita, Om Latif dan Ranti. Tak ada lagi hormat.
Yang ada rasa marah dan kecewa yang besar.
Bergetar hebat kepalan tanganku, kuku menusuk telapak tanganku. tak kuindahkan.
"Aku kesal, jangan dekat" rengekan manja terdengar dari dalam. Mengalihkanku ke cela pintu itu lagi.
"Kenapa?"
"Yang aku liat di lift, aku nggak suka!"
"Maaf ya, siniiii... jangan jauh-jauh gitu"
"Sini" Aku bisa melihat, Kala duduk dikursinya, Dia menepukkan pahanya.
"Aku cemburu, kamu ah gak peka, sebenarnya aku juga gak rela kamu deket denga dia." mendengar dan melihat apa yang mereka lakukan, Sangat menjijikan. Sungguh mereka sepasang kekasih yang sempurna.
"kamu juga dekatkan"
"Kan kamu tahu alasanku dari dulu"
"Udah gak usah peke cemburu, kamu tahu sebenci apa aku sama dia, kalau bukan karena syarat jadian denganmu dengan mendekatinya, aku tak akan mau"
"Sini aku kasik disinfektan, memang jalang, sejak dulu aku muak melihat dia mengejarmu, ya buah tak jauh jatuh dari pohonnya" Tiar mendekat pada Kala dan mengecup pipinya.
"Hhh... kamu sabar, ini demi kita, aku juga sudah malas, harus berdekatan dengn si otak rusak" Mataku terus terkunci pada mereka.
Hah! Mereka benar, Bodoh sekali aku sampai sebucin ini. Bahkan apa ini mengalir terus tak henti.
SIALAN! Sialan kalian...
Kuusap kasar pipiku yang basah. meraih benda pipih hitam. mendial satu nomor.
"Aku terima tawaran Om"
"Masih ingat konsekuensinya?"
Aku mengangguk.
"Anak buah Om akan mengurus kepindahanmu"
Aku mengangguk sekali lagi.
Aku meninggalkan kantor terkutuk itu. Dengan segera kukirim surat pengunduran diriku.
Kita lihat apa yang akan orang bodoh dengan otak rusak ini bisa lakukan pada kalian.
Kalau kalian ingin kehancuranku, maka aku akan kabulkan, Tetapi aku tak mau sendiri, akan aku seret kalian ikut dalam kehancuranku.
✩★✩★♡✩★✩★
Enjoy ^^
Lazyafternoon