Perayaan hari kelulusan selalu di sambut dengan suka cita oleh seluruh siswa. Berbagai kegiatan di adakan oleh setiap sekolah untuk memeriahkan momentum berharga ini. Sekarang, langit pun turut merasakan suka cita kami dengan mendatangkan kesejukan melalui hujan yang datang tanpa di undang.
Aku berusaha mengencangkan pegangan pada pinggang Abel saat ia mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Hujan yang turun semakin deras, seragam putih Abu-Abu kami pun perlahan terkena serangan air yang berjatuhan dari langit.
"Hujannya makin deres, Yank." Seru ku di dekat telinganya yang terhalang helm.
"Kost-an ku udah deket kok."
Suara Abel nyaris tak terdengar karena harus berlomba dengan suara angin dan deru kendaraan lain yang juga berusaha menambah kecepatan agar bisa meloloskan diri dari guyuran hujan.
Di hari kelulusan ini, sempat terbersit rasa sedih yang mengoyak hati. Karena Aku dan Abel harus berpisah untuk melanjutkan sekolah ke Universitas yang berbeda.
Abel akan melanjutkan kuliah di Ibukota melalui jalur prestasi. Sedangkan aku sudah mendaftar di Universitas terdekat, sesuai dengan kemampuan Ayah dan Ibu. Sekolah di luar kota jelas memakan biaya yang lebih banyak.
"Akhirnya nyampe juga," Ucap Abel setelah motornya parkir di depan kost.
Abel membawaku ke sebuah hunian khusus sewa yang biasa di tempati oleh para siswa yang terkendala jarak antara rumah dan sekolah. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke Rumah Kost yang di tempati Abel.
Awalnya Abel akan mengantarku pulang sampai ke rumah, berhubung hujan lebat datang tiba-tiba, Sehingga kami memutuskan untuk berteduh terlebih dahulu disini.
"Ayo masuk." Ajaknya setelah berhasil membuka pintu.
Ku dekap tubuhku yang sudah kuyup dan kedinginan, lalu perlahan memasuki rumah Kost Abel yang tidak terlalu luas. Hanya ada satu ruangan tidur, dapur dan kamar mandi mini.
"Duuh, bajuku basah." Keluhku, akibat Pakaian dalam yang hampir terlihat karena seragam setengah basah.
"Ganti pake baju ku aja, daripada masuk angin."
Abel bergegas mencari pakaian di dalam lemari. Ukuran bajunya tidak terlalu besar untuk tubuhku yang tidak gemuk ini.
Sembari menunggu Abel memilih baju, ku letakkan tas sekolah yang dari tadi di dekap untuk menutupi dadaku.
"Coba ini, mungkin cukup." Abel mengulurkan kaos hitam berukuran sedang. Di waktu bersamaan, Tatapan Abel terkunci pada area dmsensitif yang berhasil menampakkan benda warna hitam penutup buah dada.
"Aku coba pake ya? " Sesegera mungkin ku raih kaos yang di berikan Abel. "Aku ganti di kamar mandi aja."
"Olivia." Panggilan Abel menghentikan langkah ku. Entah sejak kapan tangannya menyentuh pundak ini dengan lembut. "Aku mencintai mu." Gumamnya dengan nada paling merdu.
Aku tersenyum bahagia. Dia adalah pria paling dingin yang jarang mengutarakan isi hatinya, berucap romantis atau sekedar memuji. Tapi kali ini, aku mendengar kalimat paling ampuh yang mampu meluluhkan dunia ku. Ucapan terindah yang selalu di nantikan.
"Aku juga."
Wajahku bersemu kemerahan, menjawab dengan malu-malu sembari memoles senyum.
Detik berikutnya, Suhu tubuhku berubah menjadi lebih hangat saat telapak tangan Abel menangkup wajahku. Ia memberikan tatapan paling tajam. Deru napasnya memburu, aroma mint menguar bersama udara yang berembus dari belah bibirnya.
Cup!
Abel menautkan bibir kami, lalu menyesapnya dengan lembut. Cuaca di luar terasa sangat dingin, namun suhu diantara kami berdua berubah menjadi sangat panas. Akupun mulai terlena dan perlahan mengimbangi cumbuan Abel yang semakin intens bersama gemuruh hujan yang saling menghujam di atas atap.
Hari itu. Kami melakukannya. Kami melampaui batas. Kami melanggar norma-norma.
Setan dengan sangat mudah merayu sepasang kekasih yang di mabuk cinta agar semakin tenggelam dalam dosa-dosa.
***
Satu bulan kemudian...
Aku kelelahan setelah seharian mengikuti berbagai kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di kampus. Kepalaku terasa pusing, dan rasa mual seperti mengobrak abrik isi perutku.
Stamina ku memang menurun dalam waktu beberapa bulan terakhir. Tidak napsu makan, Sering mengantuk dan cepat lelah sudah menjadi langganan sehari-hari.
Dengan langkah buru-buru aku menuju kamar mandi, rasanya ada yang mendesak keluar dari dalam perut ku.
"Ooeeekk!!! Ooeeekkk!!"
Keringat dingin mulai bercucuran, rasa mual terus membelit ulu hati. Namun tidak ada apapun yang berhasil aku muntah kan. Semakin lama, tenggorokan terasa begitu pahit. Kepalaku rasanya berputar-putar dan pandangan ku menjadi samar. Kemudian berubah gelap.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, saat terbangun aku sudah terbaring di atas tempat tidur. Samar-samar aku menangkap suara percakapan dua orang yang tidak asing. Itu suara Ayah dan Ibu.
"Kita harus bagaimana, Yah?" Ibu tersedu sembari berbicara pada Ayah.
"Ayah akan pikirkan solusinya." Terdengar suara Ayah yang datar sarat akan kekecewaan.
Ada apa? Aku bergelung dengan pikiranku. Mereka tahu akan sesuatu?
"Ayah denger kan, apa yang di katakan Dokter tadi? Olivia hamil." Awalnya suara Ibu hanya rintihan kesedihan, kini berubah menjadi tangisan nyaring. "Ibu malu. Apa kata orang-orang nanti?? Terus bagaimana kuliahnya Oliv?? Ibu ingin dia menjadi perempuan sukses. Bukan seperti ini yang Ibu inginkan!" Ibu mulai meraung karena emosi yang meluap.
"Ini memang nggak mudah untuk kita, juga untuk Oliv, Bu. Anak kita sedang melewati masa sulit." Ayah pura-pura tegar. Walaupun demikian, beliau tidak bisa menyembunyikan luka dihatinya.
Aku telah membuat mereka kecewa.
Sampai detik ini, aku berusaha menyembunyikan aib dari Ayah dan Ibu. Membuang alat tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif. Pura-pura terlihat normal di saat mual menggila. Aku hanya belum sanggup melihat mereka kecewa oleh dosa yang ku buat.
Aku sudah menghubungi Abel, memberitahukan bahwa ada janin yang hidup di dalam rahim ku. Anak hasil dari buah cinta dan kesalahan fatal kami.
Namun, Abel tidak memberikan keputusan apapun tentang nasib janin yang ku kandung. Sepertinya ia akan tetap mempertahankan sekolahnya hingga lulus sarjana.
"Aborsi saja."
Kalimat yang di ucapkan Abel justru lebih tajam dari pisau lipat yang sedang ku pegang sekarang. Kata-kata itu terngiang di ingatanku. Bentuk rasa tidak tanggung jawab yang ia kemas dengan sangat apik berhasil membuat aku tertawa dalam tangis yang hebat.
"Kalau kamu nggak mau kehadiran bayi ini, itu artinya kamu juga udah nggak menginginkan aku lagi, Abel Rovelo."
Sekarang aku mulai meragukan cinta dari seseorang yang dulu sangat ku percaya.
Sret! Sret! Sret!
Mata pisau yang berkilau di genggaman ku pun mulai merobek-robek daging dan memutus urat-urat di pergelangan tangan.
Lalu kemudian darah segar mengalir deras, menetes ke segala arah. Lantai kamar ku yang berwarna putih berubah menjadi merah pekat dan bau anyir.
"Selamat tinggal untuk selamanya, Bel." Tubuhku mulai terasa lemas. "Ayah, Ibu, tolong maafkan anak mu ini."
Semakin lama, kantuk yang datang semakin hebat. Ku lantunkan sebuah lagu hanya untuk mengusir perih yang menguliti batin ku hidup-hidup.
Sekarang benar-benar gelap, dan aku tidak mungkin terbangun lagi.
***
TAMAT