Mobil sedan mewah berwarna putih itu terparkir di deretan tempat parkir khusus dokter.
Seorang wanita dengan heel stiletto berwarna merah muda turun dari mobilnya.
Setelah menutup pintu mobil sedannya, wanita bertubuh tinggi itu memakai jas putih sambil membawa tas tangan hitam mewah bermerek fucci lalu melangkah menuju lobi Rumah Sakit Jantung Nasional dengan penuh percaya diri..
Semua mata tertuju pada wanita muda itu sesaat setelah ia masuk ke dalam lobi Rumah Sakit Jantung Nasional.
Tidak ada pegawai Rumah Sakit yang tak kenal dirinya.
Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular termuda di Rumah Sakit Nasional Jantung ini.
Dokter Vienna Hapsari.
Dokter Vin, panggilan akrabnya.
dr. Vienna Hapsari, Sp.BTKV, tertulis jelas pada bagian kanan atas dari jas putih dan juga kartu tanda pengenal dokter yang ia kenakan.
Usianya masih 27 tahun dan sudah menjadi dokter spesialis bedah vaskular di Rumah Sakit Jantung Nasional.
Selain cantik, dirinya dikenal sebagai dokter spesialis termuda dan juga berbakat.
Tak ada kecacatan atau kesalahan dalam track recordnya selama menjadi dokter.
Sebelum memulai jam kerjanya di poli bedah vaskular, Vienna melaksanakan rutinitas hariannya seperti biasa yaitu visite pasien di ruang perawatan.
Visite pasien ini rutin di kerjakan dokter spesialis, dimana setiap pagi para dokter akan menyambangi pasien-pasien yang sedang dalam perawatannya atau pun pasien yang baru saja selesai operasi.
Vienna tiba di ruang perawatan amaris.
Dua orang perawat langsung menghampirinya sambil membawa beberapa buku rekam medis milik pasien yang sedang dalam perawatan dan tanggung jawab Vienna.
Selama kurang lebih 2 jam Vienna menyambangi satu persatu pasiennya yang dalam tanggung jawab perawatannya.
Setelah menyelesaikan tugasnya visite pasien yang sedang perawatan, gadis itu menuju ke poli bedah vaskuler.
Vienna mendecakkan lidah. Dirinya kesal melihat bouquet besar berisi rangkaian bunga mawar putih dan merah yang tergeletak diatas meja konsultasi.
Gadis itu mengambil bouquet besar berisi bunga mawar itu lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di sudut ruangan.
"Ngapain sih bawa-bawa mawar." ucapnya menggerutu kesal.
Tok Tok.
Ketukan pintu membuyarkan kekesalannya seketika.
Seorang perawat melangkah masuk ke dalam ruang konsultasinya membawakan beberapa tumpuk rekam medis pasien lalu meletakkannya diatas meja konsultasi.
"Oh iya maaf ya Ran jadi ngerepotin. Saya tadi mau ke depan ambil rekam medis nya tapi ke distract gara-gara ada sampah di atas meja."
ucap Vienna sambil melangkah menghampiri perawatnya yang bernama Rani Wulandari di dekat meja konsultasi.
"Ga apa-apa kok dok. Kan emang udah tugas saya nganter rekam medis pasien yang mau konsultasi sama dokter hari ini." ucap Rani sambil tersenyum ramah.
Vienna dikenal sebagai dokter spesialis yang terbiasa mengerjakan apa pun sendiri meskipun sebenarnya dirinya bisa saja meminta perawat atau pegawai rumah sakit untuk mengerjakannya.
Contohnya seperti mengambil rekam medis pasien atau mempersiapkan peralatan operasi, biasanya perawat akan menyiapkannya untuk dokter spesialis tetapi Vienna terbiasa melakukannya sendiri.
Selama 4 jam Vienna melayani beberapa pasien yang berkonsultasi di poli bedah vaskuler hingga tiba pukul 1 siang yang dimana biasanya ini adalah jam pegawai dan dokter untuk istirahat.
Disaat beberapa pegawai rumah sakit termasuk dokter dan perawat beristirahat, Vienna menuju ruang operasi untuk mempersiapkan peralatan operasi yang sudah terjadwal pukul 2 siang.
Vienna terbiasa melakukannya sebelum operasi.
Dirinya merasa lebih tenang jika mempersiapkan peralatan operasi sendiri.
Meskipun sebenarnya dirinya bisa saja meminta perawat untuk melakukannya.
Langkah kaki Vienna tiba-tiba terhenti ketika dirinya mendapati laki-laki itu berdiri di samping pintu masuk ruang operasi khusus petugas.
Gadis itu mendengus kesal sambil memutar bola matanya melihat laki-laki itu masih saja menganggunya.
Meski begitu, Vienna tak ambil pusing.
Dirinya tetap melangkah menuju pintu ruang operasi dengan acuh namun ternyata tak semudah itu.
Laki-laki itu berdiri tepat di depan pintu masuk ruang operasi sehingga menghalangi Vienna untuk masuk.
"Udah terima bouquet bunga dari aku ?" tanya laki-laki itu menatap Vienna dengan senyum menggoda.
Vienna mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu dan menjawab dengan acuh.
"Aku alergi bunga." Lalu berusaha kembali melangkah namun laki-laki itu menahan salah satu lengan Vienna sehingga langkah Vienna terhenti.
Vienna mendengus kesal.
Dirinya sekilas melirik laki-laki itu dari sudut matanya.
"Ini rumah sakit bukan tempat main-main. Aku ada operasi by pass 1 jam lagi. Jadi, jangan ganggu aku."
Laki-laki itu tertegun sesaat lalu mendesah pelan, sembari melepas genggaman tangannya pada lengan Vienna, dan membiarkan gadis itu melangkah masuk ke dalam ruang operasi.
Dirinya tak mengerti. Laki-laki itu masih saja berusaha mendatanginya.
Adimas Raharja. Laki-laki yang baru saja ditemui Vienna.
Kenapa harus disaat-saat seperti ini ?
Dirinya butuh konsentrasi yang cukup untuk melakukan operasi.
Dan... Pertemuannya dengan Adimas berhasil memecah fokus konsentrasinya.
Rasanya ia seperti kembali dibayang-bayangi ingatan kelam di masa lalu.
----------------------------------
Vienna memijat pelipisnya yang berdenyut setelah menyelesaikan operasi bypass jantung selama 5 jam.
Dirinya berjalan terhuyung menuju ruang ganti baju khusus dokter.
Salah seorang dokter spesialis bedah senior menghampiri dirinya yang berjalan terhuyung.
"Vin, kamu ga kenapa-napa ?"
Vienna mengerjapkan mata lalu membungkukkan badannya memberi hormat pada dokter bambang, salah satu dokter spesialis bedah senior.
"Iya dok... Iya ga kenapa-napa dok."
"Vin, kemandirian itu ada batasnya. Ngga berarti kamu harus kerjain semuanya sendiri. Dalam operasi besar itu pasti ada timnya. Kamu bisa koordinasi sama tim operasi kamu soal apa-apa aja yang harus disiapin. Kamu ngga harus kerjain semuanya sendiri dan jangan memaksa diri kamu buat ngerjain semuanya sendiri. Dokter ngga bisa kerja sendiri Vin, itu lah tujuan dibentuk tim, supaya bisa saling membantu. Jadi jangan terlalu memperberat diri kamu, oke ?"
Tutur dokter bambang memberi nasehat pada Vienna.
Dirinya mengerti maksud dokter Bambang.
Ini karena dirinya selalu terbiasa mengerjakan persiapan operasi sendiri.
Bahkan terkadang ia melewatkan jam makan siangnya demi memastikan kelengkapan persiapan operasi.
Ia tak bisa membuat pasiennya kecewa.
Ia hanya berusaha yang terbaik yang ia bisa.
Sebenarnya alasan dibalik ini semua adalah karena sebagian dari dirinya merasa tidak percaya pada bantuan orang lain.
Ia takut jika dirinya mengandalkan orang lain maka akan berujung pada kekecewaan karena penghianatan.
Seperti dulu.
Karenanya, dirinya terbiasa melakukan apapun sendiri.
Inilah masalahnya.
Ia tak yakin bisa mempercayai orang lain.
atau mungkin karena dirinya yang masih belum bisa berdamai dengan masa lalu.....
Masa lalu yang bahkan terjadi sudah sangat lama.
Saat dirinya berada di kelas 3 SMA.
Saat dimana ia selalu menjadi bahan bully-an teman-temannya.
Dulu ia dikenal sebagai siswi SMA yang lugu, tak punya banyak teman dan juga tak begitu rupawan.
Meski begitu, ia adalah salah satu yang paling berprestasi.
Ia hampir terpuruk karena seorang laki-laki bernama Aditya Hermawan.
Adit adalah salah satu laki-laki yang cukup populer di sekolahnya karena ketampanan nya.
Dari awal harusnya ia mengacuhkan laki-laki itu.
Namun pernyataan cinta yang entah bagaimana bisa membuat Vienna luluh pada laki-laki itu adalah penyesalan terbesar Vienna hingga saat ini.
Hingga akhirnya Vienna mengetahui alasan sebenarnya Adit menjadikan gadis biasa seperti dirinya untuk menjadi pacarnya adalah hanya untuk memanfaatkan Vienna.
Bodohnya dirinya jika mengingat bahwa ia selalu mengerjakan pr Adit dan bahkan memberikannya jawaban saat ujian sehingga nilai-nilai pun menjadi bagus.
Bodohnya dirinya membuat waktu berharga nya terbuang karena laki-laki yang bahkan tak benar-benar mencintainya.
Selain playboy, Adit ternyata terlibat dalam sebuah masalah rumit dan berbahaya.
Laki-laki itu pernah menjebak Vienna dengan memasukkan sebungkus ganja ke dalam tas Vienna saat guru BK sedang melakukan pemeriksaan.
Padahal ganja itu adalah milik Adit.
Vienna hampir saja berurusan dengan polisi karena ganja yang ada dalam tasnya.
Namun Adimas Raharja yang juga salah satu laki-laki yang cukup popular di sekolahnya adalah saksi mata dari kejahatan yang dilakukan Adit akhirnya buka suara, karena itulah Vienna bisa lepas dari masalah itu.
Setelah kejadian itu, dirinya menjadi trauma.
Ia tak bisa mempercayai orang lain.
Bahkan tak punya keinginan untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
Karena pasti hanya akan meninggalkan luka pada dirinya.
Semuanya hanya sia-sia.
Lebih baik tidak memulai nya sama sekali.
---------------------------------
Vienna termenung di depan meja kerjanya menatap undangan reunian SMA yang akan diadakan 3 jam lagi di salah satu ballroom hotel mewah di Jakarta.
Tak ada keinginan untuk datang ke acara reuni tersebut.
Ah entahlah.....
Segalanya menjadi runyam jika kembali teringat pada masa lalu.
Tak ada yang begitu indah tentang masa SMA bagi dirinya.
Masa SMA adalah tentang masa kelam yang berhasil ia lewati.
Vienna tersadar dari renungannya saat mendengar denting ponselnya.
Ada sebuah pesan masuk.
📩 Adimas : Vin, kamu dateng kan ke acara Reuni SMA kita ? Aku tau, kamu mungkin akan berpikir untuk menolak dan akhirnya ngga datang. Tapi udah 2 kali kamu ngga datang pas kita lagi reunian. Aku emang ga tau apa yang kamu pikirin tapi kalo boleh saran.... Kali ini aja tolong kasih kesempatan buat diri kamu untuk melepas masa lalu Vin, bukan menghindari nya lagi. Masa lalu ya masa lalu, meskilun itu bagian dari kita tapi bisa ga kasih kesempatan buat diri kamu untuk lepas dari masa lalu ? Aku ga pengen kamu terus terusan terjebak di masa lalu. Dan... aku berharap kamu mulai melihat aku, bukan sebagai masa lalu atau teman reuni SMA, tapi sebagai laki-laki.
Vienna langsung mematikan ponselnya setelah membaca pesan dari Adimas.
Dirinya menghela napas panjang yang terasa begitu berat.
Ini ga mudah.
Adimas bisa saja mengatakan hal itu dengan mudah karena dia ngga ada di posisi dirinya.
Meskipun sudah satu tahun Adimas selalu menemuinya dan memberikan berbagai hal manis seperti bouquet bunga bahkan hingga mengantarkan kotak makan siang dengan menu yang disukai Vienna.
Tapi kali ini dirinya tak akan lagi jatuh seperti dulu.
Lagipula kenapa Adimas harus menyukai perempuan seperti dirinya disaat Adimas mungkin bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.
Adimas adalah CEO perusahaan otomotif Youshoka.
Dia pasti bisa dapet perempuan yang lebih baik darinya.
Kenapa harus dirinya ?
Vienna kembali menghela napas panjang yang terasa berat.
Ia memejamkan kedua matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya selama beberapa saat.
Ia mendesah pelan lalu bangkit dari kursi kerjanya dan memandangi dinding yang berada di depan meja kerjanya.
Berbagai penghargaan tergantung rapi diatas dinding itu.
Mulai dari penghargaan sejak dia masih SMA, dimana dirinya pernah menjadi juara dalam olimpiade sains nasional bidang kimia, lalu dirinya juga pernah menjadi juara dalam perlombaan debat fisika dan masih banyak lagi penghargaan yang ia dapatkan saat ia kuliah di kedokteran bahkan hingga menjadi spesialis bedah vaskular saat ini.
Kerja kerasnya tergantung rapi di dinding kamarnya.
Itu semua kerja kerasnya.
Piagam-piagam itu adalah wujud penghargaan bahwa orang lain menghargai kerja kerasnya.
Dia telah melangkah cukup jauh, membuka lembaran baru sejauh ini.
Piagam-piagam ini membuktikan bahwa dirinya telah berhasil membuka lembaran baru.
Cerita baru, teman baru, dan bahkan prestasi baru.
Lalu apa lagi yang harus ia takutkan ?
Masa lalu itu tak sebanding dengan kerja kerasnya dan bahkan piagam-piagam prestasi yang ia raih.
-------------------------------
Vienna melangkahkan kakinya memasuki ballroom hotel mewah tempat reuni SMA nya diadakan.
Semua mata tertuju pada dirinya yang menggunakan gaun formal untuk menghadiri acara reuni SMA itu.
Sebagian besar yang hadir dalam reuni itu tidak mengingat siapa dirinya.
Vienna melangkah dengan percaya diri menuju meja minum lalu mengambil segelas minuman.
Dirinya baru saja menyesap minumannya, namun pandangan teralih pada pembawa acara yang berada di atas panggung.
Vienna melangkah sedikit lebih dekat ke arah panggung sambil membawa gelas minumnya.
Ternyata Adimas adalah pembawa acara reuni kali ini.
Adimas tersenyum sekilas ke arah Vienna.
Vienna yang tak sengaja bertemu mata dengan laki-laki itu mengerjapkan matanya ketika Adimas tersenyum ke arahnya.
Setelah mengucapkan terima kasih atas kehadiran semua teman-teman SMA satu angkatannya, Adimas membuka topik pembicaraan baru.
"Di reuni kali ini, gue ga mau kehilangan kesempatan gue buat ngedapetin seseorang." ucap Adimas dengan suara lembut yang langsung disambut dengan sorakan sebagian besar yang hadir.
"Ada seseorang yang sebenernya gue suka dari sejak kelas 2 SMA. Dulu gue ga pernah punya kesempatan buat ngedeketin dia karena sifat dia yang cenderung menutup diri. Dulu bahkan gue ga yakin dia bener-bener bakal suka sama gue. Setelah lulus, sempet kehilangan kontak dia 3 tahun, terus gue coba nanya-nanya ke beberapa temen gue dan akhirnya gue tau kalo dia lagi sekolah di salah satu fakultas kedokteran di Jakarta. Dan... Sekarang dia udah jadi dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular di Rumah Sakit Jantung Nasional. Sebenernya... Gue juga ga pede ngomong kayak gini karena ga yakin dia bakal nerima perasaan gue. Terlepas dari itu semua.... Gue pengen bilang makasih sama dia karena akhirnya dia dateng ke reuni SMA kali ini. Makasih karena udah berusaha untuk ga terjebak lagi di masa lalu. Dan... gue pengen dia tau kalo.... apapun yang terjadi di masa lalu dia dan masa lalu gue, itu cuma masa lalu. Masa yang sekarang ini adalah lembaran baru. Dan... di lembaran baru kali ini.... gue berharap Vienna Hapsari bersedia menjadi cerita baru di lembaran baru kita, gue dan Vienna. Gue suka sama Vienna dari sejak kita kelas 2 dan gue baru punya keberanian buat bilang itu sekarang. Dan... gue ga akan ngelepas dia lagi. Gue suka Vienna bukan karena dia dokter spesialis tapi karena Vienna yang gue kenal dari sejak kelas 2 SMA."
Adimas menuturkan semuanya sambil turun dari atas panggung laku berjalan mendekati Vienna.
Vienna mengerjapkan matanya mendengar penuturan Adimas.
Jantung nya terasa seperti sedang berlari saat mendengar penuturan Adimas.
Vienna menyunggingkan senyum manis ke arah Adimas lalu bergumam, "Aku memutuskan untuk jatuh. Jatuh padamu yang menyukai segalanya tentangku termasuk masa laluku."