"Abhi...!" Seseorang menyebut nama ku dengan lantang. Aku menoleh dengan kedua alis yang bertaut.
Seorang gadis dengan rambut mirip ekor kuda tengah berlari menghampiriku yang tengah sibuk menurunkan barang-barang dari dalam bagasi mobil.
"Kau Abhi kan?" Ulangnya lagi, setelah kami berdiri berhadapan.
Aku mengangguk. "Iya, kenapa?"
"Jahat ya! Setelah pergi gitu aja tanpa kabar. Dengan entengnya kamu tanya kenapa?" Gadis itu melipat tangannya di dada, memalingkan wajah dengan angkuh dan mengerucutkan bibir mungilnya.
Tck! Kenapa lucu sekali. Padahal jelas-jelas kita tidak saling mengenal. Tapi gadis itu justru bertingkah seolah-olah aku adalah orang yang paling akrab dengannya.
"Ya... Ya trus gimana?" Aku mengangkat kedua bahu. Dia langsung mendengus.
"Iiih nyebelin!! " Ia menghentak-hentakkan kaki, wajahnya semakin di tekuk. "Sini kamu! Akan ku tunjukkan sesuatu."
Dengan lancang gadis itu menarik pergelangan tanganku dan membawa tubuh ini berlari kecil mengimbangi gerakannya yang cepat.
"Mau kemana?" Tanya ku saat perjalanan kami sudah menyebrangi jalan, lalu masuk ke pekarangan rumah yang asri.
"Ke rumah pohon." Ia menoleh sambil terus mengajakku berlari menyusuri jalan setapak tepat di belakang rumah yang kami lalui tadi.
"Rumah pohon? Kayak monyet aja, punya rumah pohon." Celetuk ku asal.
Dia hanya merespon dengan seulas senyum yang manis. Rona bahagia itu jelas terpancar di wajah gadis berponi dengan rambut legam yang di ikat bak ekor kuda.
Hoodie abu-abu over size, celana jeans belel, dan jam tangan hitam di tangan kirinya jelas menunjukkan bahwa dia bukan gadis feminim seperti pada umumnya. Kekuatan larinya bahkan mampu mengimbangi atlet nasional.
"Lihat deh! Rumah kita nggak berubah kan? Aku ngerawat nya sejak kamu pindah sekolah."
Kami sudah sampai di depan pohon besar. Di atasnya terdapat rumah-rumahan sederhana yang sudah tampak usang dan lapuk. Ada tali tambang besar menjuntai bersama beberapa kayu pijakan yang tersimpul di kedua ujungnya.
"Ayo naik." Ajaknya padaku. "Tangga nya kuat kok. Tenang aja." Dia meyakinkan setelah membaca raut wajahku yang ragu akan kekuatan tangga usang itu.
Setelah menapaki beberapa anak tangga, kami pun sampai di atas rumah-rumahan berukuran kecil itu. Hanya bisa di diami oleh dua orang saja.
Pemandangan dari atas sini ternyata sangat indah. Di depan sana, aku bisa melihat rumah lama Ayah dan Ibu yang akan di tempati lagi setelah mereka pindah dari kota.
"Lihat itu Om Irwan dan Tante Luna." Ia menunjuk ke ujung sana, dimana ada Ayah dan Ibu yang sedang berbincang di beranda rumah.
Sebenarnya siapa gadis ekor kuda ini? Ia mengenal baik kedua orangtua ku? Ah, sudah pasti tetangga dekat mereka kan? Rumahnya saja saling berhadapan.
"Harusnya aku bantuin Ayah dan Ibu. Kamu malah ngajak kesini." Protes ku. Kulihat Ayah membawa koper besar yang belum sempat ku keluarkan dari bagasi mobil tadi.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan deh. Coba inget nggak, berapa tahun kamu pergi tanpa ngasih kabar ke aku?" Tuntut nya kemudian, pukulan ringan mendarat di bahuku.
Dia memang sok akrab ya?
"Tiga tahun," Jawabku sembarangan. "Mungkin." Ku tunjukkan gigi seri ku yang putih dan rapi padanya.
Dia mendelik sembari memasang muka sebal.
Biar ku tebak. Aku pasti salah lagi.
"Enam tahun bodoh!!"
Oh my god! Percaya tidak? Gadis itu menoyor jidat paripurna ku.
"Ah, salah ya." Aku menggaruk tengkuk walau tidak terasa gatal.
"Satu hari setelah kelulusan SD, kamu pindah ke kota. Tanpa memberi kabar apapun, aku nggak bisa hubungin kamu. Berkali-kali aku kirim surat, tapi nggak pernah ada balesan. Kemungkinan alamat yang aku tuju juga salah." Cerocosnya dengan tatapan lurus kedepan. "Tapi, satu yang selalu aku inget. Dulu kita berjanji bahwa seberapa jauh dan seberapa lama berpisah, pada akhirnya rumah pohon ini akan kembali mempertemukan kita. Hari ini semuanya terkabul, satu hari setelah kelulusan SMA, aku ketemu sama kamu lagi."
Hening sejenak. Ku pikir dia salah. Bukan aku orang yang dia maksud.
"Tunggu. Aku bukan orang yang kamu maksud... " Walau ragu tetap aku katakan. "Aku bahkan nggak kenal kamu, nama kamu aja nggak tau."
Seketika mimik bahagianya meredup, wajahnya kelabu. Di balik kelopak matanya ada linangan air yang tertahan.
"Yang bener aja." Cerianya hilang, tergantikan oleh suara lirih. "Kamu Abhivandya kan? Aku Amora." Gadis itu menggigit bibir. "Kamu sering ngejek aku dengan sebutan Amoy, katanya aku kayak orang cina karena mataku gak bisa melotot."
Sekarang gadis itu sedang bersusah payah membulatkan matanya, yang ternyata memang sedikit sipit.
"Namaku Abhiandra. Abhivandya adalah saudara kembar ku. Kamu salah orang." Aku tersenyum tipis untuk mengusir kikuk di antara kita.
"Ya ampun. Kok bisa salah orang. Hahaha. Iya-iya aku pernah denger kalau Abhi punya sodara kembar. Tapi sodaranya tinggal dengan Neneknya di kota. Jadi itu kamu?"
Aku mengangguk pelan, ternyata anak ini jauh lebih santai dan asik di ajak berbincang. Amora si Ceria, aku bisa menyebutnya begitu kan?
"Terus dimana Abhi sekarang?" Wajahnya cerah lagi saat menyebut nama saudara kembarku. "Maksudku Abhivandya?" Sambungnya.
Kali ini senyum pilu yang ku suguhkan untuknya. Ku pejamkan mata ini sembari menghirup udara banyak-banyak.
"Dia udah tenang disana." Aku mendongak ke langit cerah, namun bagiku tetap terasa mendung. "Abhivandya mengidap penyakit kanker Nasofaring stadium empat. Selama tiga tahun terakhir Vandya menjalani pengobatan dan kemotrapi. Tapi Tuhan berkehendak lain, hari ini bertepatan dengan satu tahun kepergiannya."
Ku tatap lekat gadis yang duduk termangu. Ia menggenggam erat telapak tanganku sembari terus menggelengkan kepalanya.
Tangisnya pecah, buliran bening dari balik kelopak merah muda itu tumpah begitu saja. Guratan luka tergambar jelas pada parasnya yang memerah dan berubah sembab.
Amora. Sebelum ini, Aku tidak pernah mengenal mu, tapi aku tahu bahwa kau adalah gadis spesial bagi Abhivandya. Hingga detik-detik napas terakhirnya, ia masih sempat mengingat mu. "Aku menyukai Amoy si gadis Cina yang cantik," Katanya.
Ternyata itu adalah kamu.
"Kenapa Abhi ingkar janji?? " Bibirnya gemetar di iringi tangis yang kian hebat.
Ku dekap tubuh mungilnya, ku usap punggungnya perlahan. Sekarang, aku pun ikut menangis. Huh! Dasar Cengeng.
***
TAMAT