Malam kian larut, Awan Hitam legam telah menyelimuti Cakrawala, sayup-sayup gonggongan Serigala dan Anjing hutan saling menyahut. Hembusan angin malam meniup lembut anak rambutku. Cukup lama Aku berdiri seorang diri, mengenakan jaket tebal, Celana panjang, sepatu boots dan carrier menggantung di punggung.
Jam tangan yang aku pakai masih berfungsi amat baik. Jarum jam pendek berada diangka 2 dan jarum jam panjangnya berada diangka 10. Artinya sudah 20 menit lamanya kakiku berpijak di sini.
Sesekali aku mengusap-usap telapak tangan. Udara dingin wilayah pegunungan tak bisa ku hindari. Pandanganku terus ke arah Pohon Besar tak jauh dari tempatku berdiri. Sosok wanita berjaket merah maroon dan jeans biru tua masih jongkok seperti beberapa menit lalu.
"Elena? Masih lama, kah?" Tanyaku. Aku sudah tak tahan berdiri sendirian. Ditambah suasana mencekam tengah malam dan di dalam hutan. Siapapun pasti bergidik ngeri.
Elena, wanita yang kunikahi tiga bulan lalu setelah berpacaran satu tahun tidak menjawab. Aku ingin menghampirinya dan menyeret ia pergi. Akan tetapi, aku memegang janjiku agar tidak datang saat ia sedang buang air kecil.
Mau tak mau aku tetap menunggunya. Asal dia masih bisa ku lihat dengan mata. Artinya dia baik-baik saja.
Terkadang aku merasa heran dengan perubahan Elena. Ia termasuk penakut, bahkan saat ingin buang air kecil di rumah pun dia selalu minta diantar.
"Elena ..." ulangku. Akhirnya Elena berbalik. Ia tampak merapikan jaket dan celananya. Berjalan biasa ke arahku tanpa melepas seulas senyuman. Aku perhatikan wajah Elena kian pucat. Bukan hanya sekarang melainkan saat-saat di rumah kami.
Cara bicaranya juga berubah. Terdengar seperti wanita feminim. Bukan manja-manja ngeselin seperti awal kita bertemu. Bahkan bukan hanya aku yang merasakan perubahan istriku itu. Tetapi, Keluarga dan kerabatnya juga beranggapan sama. Bedanya, Semakin hari Cinta Elena padaku seakan terus bertambah. Aku pun dibuat mupeng setiap kali ia menunjukan rasa cintanya.
"Dingin, yah?"
Terlalu banyak ngelamun. Aku tak sadar Elena sudah berdiri di sampingku lalu menggaet tanganku.
Aku mengangguk mengiyakan. Lantas kami kembali berjalan menuruni jalur pulang dari pendakian Gunung Slamet.
Elena dan Aku memang suka mendaki. Dulu, saat kami masih berstatus pacar. Kami sering pergi mendaki dengan teman-teman rombongan. Mulai dari Gunung Lawu, Sindoro, Bromo dan masih banyak lagi.
Pendakian kali ini termasuk Pendakian pertama setelah kami menikah. Karena kami sudah terbiasa mendaki. Kami pun memutuskan mendaki berdua saja. Ibarat kata Honey moon gitu.
Tapi, kami tidak melakukan 4646 di sana walaupun kami pasangan sah secara Agama dan Negara. Elena dan Aku tetap menjaga etika dan tata Krama saat mendaki. Paling-paling kami hanya saling bergandengan tangan atau ku gendong Elena jika dia merasa lelah.
Kami sangat menikmati saat-saat seperti ini. Bisa berduaan, melakukan perjalanan antara susah dan senang dan puncaknya bisa melihat sunset sekaligus sunrise berbarengan.
Setelah sengaja Menginap satu hari di sana. Kami memutuskan pulang pada waktu Dini hari. Kami tidak memiliki pemikiran buruk atau apapun mengenai perjalanan nanti. Toh, kami sudah terbiasa.
Rencananya, setelah sampai di desa. Kami ingin menginap dulu di penginapan. Katanya sih di Kecamatan B banyak penginapan juga wisata lain. Lumayan lah buat refreshing setalah berbulan-bulan bekerja.
"Bang, Aku capek. Istirahat dulu yuk." Ajak Elena menghentikan langkahnya.
Aku pun sama-sama capek. Tapi, sudah hampir sampai. Tanggung kalo berhenti. "Sudah mau sampai, El. Nanti istirahatnya di bawah saja." pintaku.
Elena tetap tak mau jalan. Sekarang ia malah jongkok sembari memainkan tali jaketnya. "Ayolah, Bang." ia merengek dengan suara serak. Pintar sekali menggunakan kelemahan ku.
Terpaksa aku mengikuti keinginan Elena. Hitung-hitung aku juga ikut istirahat.
"Abang mau minum?" Tawar Elena. Ia faham betul suaminya tengah kehausan. Elena menuang Sedikit air ke dalam gelas plastik bawaan kami. "Airnya tinggal sedikit. Engga papa 'kan kalo cuman segini."
"Iya," balasku tersenyum padanya, "kamu engga haus?"
Ku perhatikan Sejauh kami naik dan menuruni Gunung. Elena tidak pernah minum atau makan. Tidak seperti saat-saat dulu kami mendaki sebelum menikah. Dia sering sekali merengek padaku untuk membawa cemilan yang banyak agar saat pendakian ia bisa ngemil.
Aku merasa heran. Tapi, ku tepis pikiranku akan perubahan anehnya. Berada di samping Elena saat ini adalah kebahagiaan terbesarku. Aku tidak mau membuang-buang waktu untuk berpikir buruk.
"Kamu kenapa, Bang?" Tanya Elena. Sepertinya dia curiga karena aku sendiri tengah melamun. "Jangan ngelamun, Bang. inget!"
Ya, Aku mengerti. Saat di hutan begini. Pikiran kita tidak boleh kosong. "Enggak, Abang cuman bingung. Kenapa kamu engga makan atau minum selama perjalanan pulang?"
Elena tersenyum simpul. Ia merangkul Pundakku dan mengusap-usapnya. "Air kita tinggal sedikit, cemilan pun sudah habis duluan waktu kita nginep, Bang. Masa iya Aku ngemil daun."
Aku terkekeh mendengar jawabannya. Aku tidak tau jika cemilan persediaan kami sudah habis. Pantas saja dia tidak ngemil. Tapi, dia diam saja. Biasnya ngoceh-ngoceh engga jelas.
"Bang, kita bikin tenda saja. Aku ngantuk."
Aku jadi kasihan melihat wajah istriku ini. Sudah lusuh, kusam, berdebu dan pucat. Aku pun celingak-celinguk menyoroti hutan di sekitar. Kali saja ada tempat untuk kami mendirikan Tenda.
Beruntung ada Sedikitnya hamparan tanah rata yang cukuplah untuk kami membangun tenda. Aku bergegas membuka Carrier dan mengambil tenda.
Tidak butuh waktu lama. Tenda sudah berdiri kuat. Aku mengajak Elena masuk ke dalam. Namun, sebelum masuk Elena minta buang air kecil lagi. Aku memahaminya lantaran Udara di sini dingin.
"Kamu masuk duluan saja." Suruh Elena.
"Engga! nanti kamu kenapa-kenapa gimana?"
Elena tersenyum. Ia mendorongku masuk ke dalam. Sementara Aku tak tau ia buang air kecil di sebelah mana.
Sembari menunggu Elena masuk. Aku menyalakan Lilin kecil. Sengaja ku bawa sebagai penerang di dalam tenda. Lumayan lah buat ngirit-ngirit baterai senter.
Elena kebiasaan. Buang air kecil kayak buang sial, lama sekali. Aku dibuat menunggu sampai bosan. Perasaanku jadi tak enak. Aku khawatir pada istriku itu. Lantas aku keluar.
Ku nyalakan senter dan menyorotkan ke arah semak-semak. Bayangan Elena tak kunjung ku temukan. Aku sorotan lagi ke arah lain. Sampai berputar-putar Mengelilingi Hutan disekitar tenda. Hatiku mulai cemas, jantungku berdegup kencang, rasa dingin ini menambah bergetar bibirku.
"Elena ...?" Aku mulai memanggil. Suaraku sendiri bisa ku dengar gemetaran. Menunjukan betapa paniknya aku. "Elena ...?" Panggilku menaikan volume.
Istriku itu tak jua menjawab atau muncul tiba-tiba seperti biasa. Aku memberanikan diri melangkah maju. Memberi jarak beberapa meter dari tenda. Cahaya Senter yang ku pakai mulai meredup. Mungkin Baterainya akan habis. Jika Elena belum terlihat juga. Lantas bagaimana aku bisa mencarinya?
"Elena ...?"
Bukannya suara Elena yang ku dengar. Melainkan suara kikikan Makhluk berjubah putih dan berambut panjang.
"Astaghfirullah ..." Tak lupa aku membaca segala doa-doa yang ku hafal, kecuali doa mau makan dan mau tidur.
Kikikan itu masih terus terdengar jelas bersamaan dengan ranting pepohonan menari kesana-kemari. Anehnya hanya ranting pohon yang bergoyang. Sedang Semak-blukar di bawahnya cukup tenang.
Hal itu menjadikan bulu romanku berdiri. Jantung berdebar tak menentu dan perasaan khawatir mengenai Elena. "Astaghfirullah ... Gusti, Tolong hambamu." Doaku Memohon.
Dan betapa kagetnya aku ketika melihat dua bayangan besar dibalik pohon. Merasa penasaran akan Elena yang biasa buang air kecil di bawah pohon. Aku pun berjalan mendekat.
Langkahku amat berhati-hati, Mengendap bagai maling dan Wush ...
Secepat Angin dua bayangan tersebut melintas di atas kepalaku. Aku mendongak ke atas. Melihat jenis apa mereka. Karena Lampu senter tak seterang semula. Aku hanya bisa memastikan jika bayangan tadi hanya sejenis jin biasa. Mungkin memang tengah berpatroli.
Aku kembali menuju tenda. Biar ku tunggu saja Elena dari sana. Aku khawatir jika terlalu jauh malah Elena akan bingung mencariku.
Tetapi, langkahku terhenti kala ku sodorkan senter ke arah tenda. Dari jauh aku melihat bayangan seseorang di dalamnya. Entah Bayangan itu tengah duduk atau berdiri aku tak faham. Jelasnya saat ini ia Tampak menyisir rambut menggunakan sela-sela jemarinya. Bukan hanya rambut yang panjang. Tapi, semua kuku di jemarinya.
Sontak Aku lari membuka pintu tenda. Aku tak mau jika ada mahluk lain yang numpang tidur di dalam.
srakkk (kain tenda dibuka kasar)
"Elena ...!" Ucapku kaget mendapati Elena yang kucari, ternyata sudah berbaring di dalam. Lantaran kaget, Elena pun tersentak bangun.
"Bang, Darimana?"
Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa malah jadi dia. Ah, jadi bingung sendiri.
"Tadi ... aku ..." Aku hampir lupa. Kalau melihat sesuatu mistis di Hutan sebaiknya jangan langsung diucapkan. "em ... tidak. Ayo tidur lagi!" Aku ikut serta duduk di sebelahnya.
Elena bangkit. Ia melingkarkan kedua tangannya pada dadaku sembari memejamkan mata. Tangan Elena sangat dingin. Rasa dinginnya Sampai menyusup sampai ke tulang rusukku. Aku pun meraih punggung tanga Elelna dan mengusap-usapnya sambil ku ciumi.
"Bang, kenapa?" Elena terlihat bingung.
"Engga papa, sayang. Kamu dingin banget yah?"
"Hem ... lumayan," balas Elena mengulum senyum.
Sontak aku Merangkulnya erat. Membiarkan tubuh kami melekat tanpa jarak se-jengkal pun. "Sudah mendingan?"
Elena hanya bergumam. Pelan-pelan ia mulai tertidur dalam dekapanku. Aku sendiri tidak ngantuk. Sepanjang waktu mataku terjaga hingga fajar menyapa.
Caraku membangunkannya cukup mudah dan unik. Ku ciumi Puncak kepala Elena berulangkali sembari membelai rambutnya. sudah pasti Ia terbangun.
Dan benar dugaanku. Ia merenggangkan kedua tangannya. Mengulet beberapa saat sambil menguap lalu tersenyum manis.
"Pagi, Sayang." sapaku.
Elena mencium kedua pipiku, membuat aku semakin menimbun rasa cinta untuknya.
"Ayo kita lanjutkan!" Ajak Elena penuh semangat.
Kami sama-sama melipat tenda. Membersihkan tempat ini sampai tidak ada satupun sampah tertinggal baru kami kembali Turun.
Ku rasakan perjalanan mendaki kali ini benar-benar lancar jaya. Mulai dari awal pemberangkatan sampai jalan pulang.
Jauh berbeda ketika kami mendaki rombongan. Selalu saja ada halangan. Mulai dari Teman kesurupan, gangguan makhluk halus sampai terparah salah-satu Tim kami ada yang hilang. Tapi, beruntung langsung ditemukan.
Sedang saat ini. Kami seakan sudah hafal betul dengan jalur pendakian di Gunung ini. Padahal ini pengalaman kali pertama kami mendaki Gunung Slamet.
"Bang, desanya sudah kelihatan," Ujar Elena menunjuk Hamparan luas berisi atap-atap rumah warga.
Aku mengiyakan. Hanya saja aku bingung bagaimana jalan pulangnya. Karena, aku mengambil jalur berbeda dari jalur naik.
"Ngomong-ngomong tadi kita ngambil jalur mana ya, El."
"Jalur Guci, Bang. Kalau tidak salah sekarang kita hampir sampai di desa A. Desa pertama menuju jalan rayanya."
Mendengar pengakuan Elena aku tambah bingung. Kok, dia bisa tau. Padahal, dia sama-sama tidak pernah kesini. Kami pun bukan warga atau penduduk sekitar Kecamatan B dan S.
"Kok, kamu tau, El?" tanyaku penasaran.
"Em, Abang engga inget kita pernah nyasar ke sekitar daerah sini?"
Kapan? Aku kok lupa. Aku diam sejenak, berpikir kapan dan bagaimana bisa kami Nyasar ke daerah sini. Sampai aku teringat saat Dua bulan lalu. Ketika Aku dan Elena berkunjung ke Rumah kerabat di Kecamatan S. Mereka mengatakan jika ingin pulang ke kota kami, bisa melalui jalan pintas. Aku yang main trabas, alhasil sampai di sekitar sini.
"Oh, iya. Abang lupa ... waktu itu kamu juga minta mampir ke danau yang katanya nge-hits itu 'kan?"
"Nah, tuh inget."
Aku pun tertawa. Faktor U nih, jadi pelupa begini.
1 jam kemudian.
Kami tiba di tepi jalan. Elena dan aku berdiri melambai-lambai tangan pada setiap mobil bak yang melintas di hadapan kami.
Tak jarang mereka menolak kami untuk menumpang. Tapi, posisinya susah. Kursi depan selalu terisi dua orang sedangkan bak belakang dipenuhi sayuran. Tidak mungkin aku membiarkan Elena duduk berhimpitan dan tidak mungkin juga kami menduduki sayur.
Hingga akhirnya datang Mobil ke-7. Alhamdulillah, hanya ada sang supir saja. Beliau juga berencana ingin pergi ke kecamatan B. Kami dibolehkan numpang.
Sepanjang jalan aku berusaha mengajak si supir berbicara. Si supir pun menanggapi dengan baik.
"Jadi Bapak Pemborong sayuran?"
"Iya, ini saya baru selesai antar di salah-satu pasar."
"Ooh … lumayan, pak hasilnya?" Tanyaku kepo.
"Lumayan, Mas. Bisa buat makan sehari-hari, uang bensin, biaya kehidupan anak dan istri."
"Ooh." Bibirku membulat. "Alhamdulillah, pak. Bersyukur ada penghasilan walau kadang rugi, Inshaa Alloh ada gantinya."
"Iya bener, mas," balas si supir, "ngomong-ngomong mas mendaki bareng siapa?"
Lahh, si Bapak supir ini aneh sekali. Jelas-jelas di sampingnya ada istriku. Sudah pasti aku mendaki dengan dia.
"Bareng istri, pak."
Si supir sempat ngerem mendadak. Aku dan Elena hampir kejedut badan depan mobil. "Kenapa, pak? Ada apaan?" Tanyaku mencondongkan kepala ke depan.
"Anu, engga. Tadi ada itu … monyet hutan."
Suara si supir kok jadi lirih dan gugup. Raut wajahnya juga tidak se-santai lalu. Ia tampak tegang dan gemeteran. Aku yang khawatir pun menanyakan keadaan dirinya. Takut jika berakibat buruk saat berkendara begini.
"Loh, Bapak sakit. Sini biar saya yang nyetir saja, pak."
Si supir malah geleng-geleng tak mau. Padahal aku berniat baik, Tidak lebih. Tapi, ya sudahlah.
Selang beberapa menit. Mobil pun berhenti. "Ini salah-satu penginapan di sini, Mas."
"Terimakasih, pak." Aku turun lebih dulu kemudian ku ulurkan tangan membantu Elena turun. "Pak, terimakasih yah. Maaf engga bisa kasih apa-apa."
"Iya sama-sama, saya duluan."
Wushhh …
Serasa dikejar polisi. Mobil melesat cepat melalui jalan menanjak dan berliku.
"Loh ... Ini tempat kita nginep dulu 'kan?"
Gila. Aku baru ingat kejadian dua bulan lalu. Pas awal-awal Aku dan Elena menikah. Herannya kejadian itu seakan hilang seperti angin. Setelah melaluinya tempat-tempatnya aku baru sadar.
"Emm … iya, Bang." Suara Elena berubah parau. Apa tenggorokannya sudah terasa kering?
"Kamu minum dulu, suara kamu serak begitu."
Elena langsung meneguk habis sisa air mineral kami. Lantas aku menuntunnya masuk ke dalam.
"Bang …"
Tetiba, Elena menghentikan langkahnya. Ia menatap sayu ke arahku.
"Kenapa, sayang?"
"Duduk di sana dulu, yuk."
Ia malah mengajak ku duduk dibawah pohon besar dekat pelataran parkir.
"Loh, kita langsung istirahat saja."
"Ayolah, Bang!" Elena mulai menaikan nada suaranya.
Aku menghela kesal, lagi dan lagi aku harus mengikuti kemauan istriku yang aneh. Dia ini sebenarnya kenapa? Kok semenjak pernikahan kami dia banyak berubah.
Dari yang suka bersosialisasi, dia malah cenderung berdiam diri di rumah. Bahkan bertemu orangtuanya pun seakan bertemu orang asing. Kan, aku jadi rada malu. Takut dikira aku yang ngajarin dia berubah begini. Padahal aku sama sekali tak melarang apapun yang dia inginkan selama itu baik untuk dirinya dan tidak merugikan orang lain.
Lantaran aku terlanjur cinta mati dengan Elena. Aku terima saja semua perubahan itu. Mungkin aku yang belum mengenal lebih dalam akan istriku ini. Atau aku yang baru tau sifat-sifat dia sebenarnya dan bisa jadi dia berubah karena dia sadar dirinya sudah menikah.
"Ya sudah, ayo!"
Permintaan Elena tidak bisa ku tolak. Kami pun duduk di bawah pohon sesuai kemauan Elena.
Kami duduk begitu lama. Memperhatikan satu-persatu kendaraan melintas di jalan raya. Elena menggenggam erat tanganku. Seakan ia tak ingin melepaskannya.
Tanpa ku sadari, mataku terasa berat. Suasana rindang di bawah pohon membuat kesadaranku berkurang. Pelan-pelan tapi pasti mataku terpejam.
Aku mulai tak dengar suara-suara bising kendaraan. Suara angin berhembus pun tak ku dengar lagi. Hanya ada rasa kantuk yang terus bertahta hingga aku tak ingat apapun.
Dalam mimpi, aku tengah berdiri di tempat asing. Aku tak pernah merasa mengunjungi tempat ini. Semua hanya hamparan alang-alang yang terbentang luas tak berujung. Di atasnya awan putih bersih tampak bersinar terang seperti menyinari.
Dari kejauhan aku melihat sosok wanita berjalan Membelakangi. Ia mengenakan gaun merah maroon amat panjang. Saking panjangnya sampai menyapu alang-alang di sekitarnya.
Aku ingin memanggil dia. Tapi, lidahku terasa Kelu. Tenggorokan ku tercekat. Satu katapun tak bisa keluar.
Kemudian ia menoleh ke arahku, Wajahnya tak jelas. Akan tetapi, gerakan tangannya bisa ku lihat. Ia melambai-lambai ke arahku.
"El … El … El." Kalimatku terus begitu. Ingin ku sebut nama elena tak kunjung bisa.
Sampai akhirnya ku dengar kumandang adzan di telinga kananku. Aku tersentak bangun.
"Elena …!"
Aku kaget bukan main. Ada banyak orang di sekelilingku. Mereka sama-sama mengucapkan. "Alhamdulillah …"
Keningku berkerut ditambah tidak ada Elena diantara mereka semua. Ya Gusti, saat itu aku sangat panik. Tak terasa kakiku terasa ringan dan berdiri.
Seorang pria tua berkumis putih menghentikan kakiku. Ia menarik aku duduk kembali.
Tapi, tunggu. Sekarang aku tidak ada di bawah pohon seperti saat yang lalu. Tepatnya berada di dalam ruangan luas dan aku pun duduk beralaskan tikar hijau.
"Minum dulu …!" Perintah pria tua di depanku menyodorkan segelas air bening. Aku mengambil dan meneguk tak tersisa.
"Saya dimana? Istri saya dimana? Kenapa saya ada di sini?" Tanyaku membrondong. Mereka saling membisik satu sama lain. Bahasa mereka tak ku fahami. Namun, raut mukanya jelas ketakutan.
"Kamu dibawa Karyawan penginapan ke tempat saya," ucap pria tua berkumis putih, "kamu ingat bagaimana ceritanya bisa tidur di bawah pohon?"
"Istri saya … istri saya yang ngajak, sekarang dimana dia, pak?" Tanyaku panik.
"Tenang dulu … jangan panik."
Gimana engga panik. Elena tidak bersamaku. Apa jadinya nanti jika dia menghilang. Aku tak bisa membayangkan hal ini.
Mataku terasa panas. Tanpa komando, buliran hangat turun deras dari sudut-sudutnya. "Elena istri saya … kami tidur bersama," ucapku terisak.
Seorang pria berseragam datang mendekat. Ia membisikan sesuatu pada pria tua tersebut. Sang pria manggut-manggut, membuat aku bingung kepayang.
"Begini, mas. Menurut karyawan hotel tadi. Kamu datang seorang diri. Dia sempat melihat kamu akan masuk tapi tiba-tiba berhenti dan malah duduk di bawah pohon."
"Itu istri saya … istri saya yang ngajak."
"Tapi, mas. Kamu datang sendirian. Tidak ada seorangpun yang bersama kamu."
Jantungku jadi berdetak cepat. Saking cepatnya sampai ingin ku copot saja. Tanganku berubah gemetaran. Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Jelas-jelas tadi saja Elena menggenggam tangan ini.
"Coba, mas. Hubungi nomer istri kamu atau keluarganya. Kali saja bersama mereka."
Buru-buru ku ambil ponsel dalam tas. Aku kaget lantaran ponsel Elena ada di dalam bersama ponselku. Aku tidak berhenti di situ, aku menghubungi semua kontak keluarga dan kerabat kami.
Beberapa kerabat menjawab telepon ku. Jawaban mereka sama. Jika Elena pergi mendaki bersamaku dan kami memang sudah satu pekan pergi dari rumah.
Ya Gusti. Aku meremas rambutku sendiri. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa jadi begini? Awalnya juga baik-baik saja.
"Mas, Sampean yang pernah nginep bareng istri di Penginapan kami juga 'kan?"
Tanya karyawan tadi tiba-tiba. Aku mengangguk mengiyakan.
"Oh … ini orangnya … ini orangnya toh."
Lah, kok mereka tetiba menunjuk-nunjuk diriku. Seakan aku sudah berbuat sesuatu.
"Alhamdulillah, mas. Mungkin ini jalan Gusti Alloh menjawab doa para warga."
"Maksudnya?" Otakku tambah mubeng tak karuan.
"Istri mas kami temukan sudah tak sadarkan diri di dekat wisata danau sana," tutur salah satu warga.
Bagaimana mungkin? Semenjak turun gunung. Aku dan Elena belum sempat ke danau.
"Tapi, saya dan elena belum sempat ke danau semenjak turun gunung. Kami langsung ke sini." Jelasku membuat semua orang kembali heran.
Karena kami semua bingung. Akhirnya aku dibawa ke salah satu rumah yang katanya ditempati Elena.
Mereka ingin memastikan jika wanita yang mereka temukan adalah Elena, istriku. Aku sih antara ragu-ragu. Karena, Elena bersmaku dua bulan terakhir ini. Baru sekarang ia hilang entah kemana.
"Assalamualaikum, Wak. Ini ada tamu dari kota." Panggil perwakilan warga.
Tak lama, pintu terbuka. Sosok wanita sepuh memakai tongkat kayu yang sudah di amplas keluar dari dalam.
Air mukanya keheranan melihat banyak warga memburu rumahnya. Termasuk aku.
"Ana apa kie?" (Ada apa ini?)
"Kie, Wak. Jere si karyawan hotel, wong wadon kae bojone Lanang kie." (Begini, Wak. Menurut karyawan hotel, perempuan itu istri pria ini)
"Sing bener?" (Yang bener?)
"Iya, Wak. Mugane Endi wadone. Ben jelas." (Iya, Wak. Perempuannya mana. Biar jelas.)
"Hayuh Renee masuk, bocaeh ana Ning jero." (Hayuh sini masuk, anaknya ada di dalam.)
Lantas aku dituntun pria tua tadi dan karyawan penginapan masuk ke dalam. Aku langsung terkejut mendapati elena tengah duduk melamun. Pandangannya kosong melompong. Wajahnya pucat meskipun tetap cantik.
"Elena …" teriakku langsung memeluk dirinya. "Elena … kamu …???"
Bagai mendapat sengatan energi dariku. Elena tersentak kaget. Ia memandang lekat wajahku sembari diraba-raba.
"Bang Erik …!" Lantas ia merangkulku tak kalah erat. Membuat tubuhku terasa sakit tapi ku abaikan. "Bang Erik …" ucapnya sesenggukan.
"Alhamdulillah … akhire sadar juga," ujar wanita sepuh pemilik rumah. (Alhamdulillah … akhirnya sadar juga.)
Setelah kami saling melepas pelukan. Wanita sepuh tersebut mulai bercerita awal mula beliau menemukan Elena.
Kejadiannya tiga bulan lalu. Waktu itu menjelang Maghrib, beliau tengah mencari wadah-wadah bekas pengunjung yang berserakan di tepi danau.
Beliau mengumpulkannya kemudian dijual pada tulang rongsok. Tapi, tanpa sengaja beliau menginjak sebuah kaki yang ternyata kaki manusia.
Beliau sempat mengira Elena sudah mati tenggelam di danau. Setelah para warga setempat membawa dan mengatasi. Rupanya Elena hanya tidak sadarkan diri karena kehabisan oksigen.
Elena berhasil diselamatkan serta sadar sedia kala. Hanya saja, ingatan Elena menjadi hilang. Ia hidup tapi seperti mati. Ada seperti tidak ada. Terus begitu hingga terkahir hari ini ketika aku datang.
Para warga sudah membantu mencarikan keluarga Elena dengan berbagai cara. Tapi, pencarian mereka hanya berlangsung beberapa hari. Lantaran tidak ada keluarga yang datang. Wanita sepuh tersebut memilih merawat Elena.
Aku sungguh bersyukur dan berterimakasih atas kebaikan mereka selama tiga bulan lamanya. Sungguh kebaikan mereka tidak akan bisa terbalas oleh apapun yang bisa ku berikan.
Aku merasa lega bisa menemukan Elena kembali. Namun, pertanyaannya. Siapa Elena yang tiga bulan lalu bersamaku?
Oktober, 2020.