“Ting”
Cerita Chalik kepada teman-temannya di puncak gunung Ijen ini terpotong oleh suara denting wa yang masuk. Ternyata kuat juga sinyal HP-nya dan Chalik membaca pesan yang masuk:
Mpok Aan : Chalik, jangan lupa pulang sebelum Ulang Tahun Kumpi tanggal 7 nanti ya!
“Bentar ya guys.. urusan keluarga neh..” ucap Chalik kepada teman-temannya dan memisahkan diri sejenak untuk membalas wa kakak satu-satu-nya yang terkasih.
Chalik : Iya Mpok, besok Chalik dah balik kog ke rumah, naik kereta paling pagi dan pastinya sebelum lusa sudah di Jakarta lagi..
Mpok Aan : Nyak dan Abah yang nyuruh Mpok buat ngingetin loe ya say.. ga ada maksud buat mengurangi kesenangan elo bertualang..
Chalik : Paham Mpok.. salam hormat buat Nyak dan Abah, juga buat Nyaik, Bang Fandi dan si-mungil Adam ya Mpok.. ✌🏻🤗
Mpok Aan : Iye..
***
Terlahir dari keluarga besar Betawi, Chalik memang tidak jarang merasa agak sesak selalu dikelilingi oleh keluarga-keluarganya. Mereka memang tinggal di suatu area di bilangan Jakarta Timur yang relatif padat, dimana seluruh warganya masih terhitung sebagai keturunan Kumpi (panggilan kami untuk buyut, yang merupakan ayah dari Nyaik/nenek kami) dan tentu saja juga masih ada hubungan kekerabatan dengan Nyaik (yang adalah ibu dari Abah-nya Chalik). Nyaik adalah anak bungsu Kumpi, ia memiliki 4 orang abang yang hampir sebagian besar keturunannya juga tinggal di area Kramat Jati ini.
Rumah dan bangunan lain di area ini semua bernuansa Betawi, dengan teras-terasnya masing-masing yang berfungsi untuk menerima dan menghargai tamu, serta ornamen-ornamen khas Betawi, seperti ukiran yang berbentuk geometris dan perisai serta jurai.
Sebagai anak bontot, aku masih tinggal bersama Abah dan Nyak. Rumah kami aga menjorok ke kali Jati Kramat dan berbentuk semi rumah panggung. Aga mirip dengan rumah si-Pitung di daerah Cilincing, Jakarta Utara.
Mpok Aan bernama lengkap Andritany, adalah kakak semata-wayang Chalik dan telah berkeluarga dengan Bang Affandi (biasa dipanggil Fandi), yang juga merupakan keturunan Betawi asal Jagakarsa. Mereka telah memiliki seorang anak chuby yang kini berusia 3 bulan dan diberi nama Adam (konon merupakan panggilan yang paling pas untuk laki-laki pertama, kata Bang Fandi waktu pertama kali mereka memperkenalkan sang dede bayi).
Nyaik, yang setelah Engkong (suami Nyaik) meninggal, kembali tinggal di rumah Kumpi bersama beberapa kerabat lainnya, juga secara sukarela tinggal di rumah Mpok Aan pasca kelahiran Adam. Rumah Mpok Aan hanya berjarak 200 meter dari rumah Abah. Nyaik tinggal di rumah Mpok Aan untuk membantu masa-masa awal Mpok Aan mengurus bayi mereka tersebut.
Salah satu alasan Chalik memilih melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedinasan ini adalah untuk bisa sejenak keluar dari lingkungan tersebut, walau setelah beberapa waktu, rasa kangen tak urung juga sempat menggerogoti niat awalnya tersebut.
Setiap tanggal 7 bulan Juli (kami mengingatnya sebagai 0707), sekeluarga besar keturunan Kumpi (termasuk Encang/Encing, Mamang, Uwak Bini dan Uwak Laki serta para Misan/Misanan) memang selalu berkumpul di rumah Kumpi untuk menjalankan tradisi Nyorog, yaitu membawakan bingkisan berupa sembilan bahan pokok (sembako), seperti: beras, telur, gula, kopi/teh, tepung, minyak goreng dan beberapa makanan siap saji.
Tujuan utama tradisi ini adalah untuk merayakan ulang tahun Kumpi, yang sebenarnya tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya Kumpi lahir, namun berdasarkan usia pohon beringin besar yang ditanam setelah Kumpi lahir dan yang akhirnya dicatatkan di KTP seumur hidup Kumpi, tanggalnya dibuat 7 Juli dan tahun ini beliau akan merayakan ulang tahunnya yang ke-99 tahun.
Tradisi Nyorog ini juga biasanya kami lakukan menjelang bulan puasa untuk semakin meningkatkan ajang silaturahmi antar saudara serta untuk menghormati keluarga yang dituakan.
***
“Guys, sepertinya saya memang harus pulang lebih awal dari kalian neh..” kata Chalik kepada teman-temannya yang lain.
Chalik bersama 5 orang temannya yang lain memang memutuskan untuk mendaki gunung Ijen pada cuti semesteran tahun ini. Selama di Banyuwangi inin, mereka tinggal di rumah Weliahmadi (biasa dipanggil Weli) yang merupakan teman sekelas mereka di sekolah kedinasan di lembah Manglayang, Jatinangor. Dan mereka bertujuh sudah melihat api biru di kawah Ijen dan saat ini mereka akan bersiap-siap turun gunung.
“Yah Chalik.. kita belum lagi sempet ke Teluk Hijau, Pantai Sukamande, Pulau Tabuhan dan tentu saja Taman Nasional Baluran..” kata Weli dengan raut menyesal yang tidak disembunyikannya.
“Saya pun menyesal tidak bisa maksimal mengeruk kebaikan hati kamu dan keluargamu Weli, tapi saya lebih takut dengan kutukan keluarga inih kalau sampe durhaka..” jawab Chalik lagi ngasal sambil memberikan senyum termanisnya, yang karena kejadian ajaib sebelumnya menjadi semakin menarik di wajah cantiknya tersebut.
“Baiklah, nanti malam kita harus makan malam di area Taman Blambangan atau di Taman Sritanjung ya..” jawab Weli akhirnya dengan pasrah, ia tidak bisa menyimpan rasa kecewa yang terlalu lama terhadap sosok Chalik, yang selama beberapa waktu ini telah menyita pikiran bahkan hatinya.
***
Saat ini Chalik telah dikelilingi lagi dengan sanak kerabatnya yang jumlahnya sangat banyak. Namun rasa sesak tidak lagi dirasakannya, mungkin keajaiban yang pernah ia alami di gunung Ijen masih berdampak pada pola pikirnya. Setelah bersilaturahmi dan menikmati panganan yang dihidangkan, Kumpi mengumpulkan keturunannya yang telah dianggap dewasa. Untuk tahun ini, Chalik pun bisa bergabung.
Mereka berkumpul di suatu ruangan yang sangat berbanding terbalik dengan kemegahan rumah Kumpi. Ruangan ini aga sempit dan relatif berpenerangan minimal. Perabotnya juga sangat sedikit dan terlihat sudah sangat lusuh dan berbau apek walau terlihat bersih, mungkin karena umurnya sudah hampir sama dengan Kumpi.
“Bang, kenapa Kumpi tidak memperbaiki kamar ini yak?” tanya Chalik kepada suami Mpok Aan yang berdiri di sampingnya.
“Sstt.. bentaran lagi juga kamu bakal tau..” jawab Bang Affandi sambil meletakkan telunjuknya di tengah bibirnya sendiri, dengan pandangan yang tetap terfokus pada Kumpi. Ini adalah kali kedua ia mengikuti acara ini. Memang hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan bergabung, makanya Chalik pun aga bersemangat ketika akhirnya diperbolehkan bergabung.
Kumpi melihat ke arah Chalik dan berkata: “Chalik, ini mungkin pertama kalinya loe bergabung dalam inti dari acara ini. Biar gue kasih terang lagi ceritanye ya..
Gue ini adalah anak bontot dari 4 bersaudara. 3 orang abang gue dapet jodoh anak-anak orang kaya dan mereka hidup lebih makmur daripada Kumpi loe ini di awal kehidupan rumah tangga kami. Jadi ceritanye dulu Babenya Kumpi pernah mengadakan perayaan, lupa Kumpi juga ntu perayaan tentang apaan. Tapi karena Kumpi kaga punya modal apa-apa buat bantuin perayaan itu, ya gue cuma punya tenaga dan emang gue kerja keras dah tuh mempersiapkan acaranya.
Saat abang-abang gue dateng, mereka memang bawa banyak hadiah-hadiah mahal buat Babe, tapi abis itu mereka pada berleha-leha dah bareng tamu-tamu undangan lainnya, sementara gue melayani mereka bersama para pelayan lainnya. Nah ngepas acara selesai, abang-abang gue itu dioleh-olehin Babe banyak hadiah mewah, sementara gue cuma disuruh bawa sisa semur jengkol dalam rantang ini.” Kata Kumpi sambil menunjuk sebuah rantang yang terletak di tengah meja. Raut wajahnya tampak sedih.
“Babe bilang waktu itu semur jengkol bisa buat lauk makan kami selama beberapa hari. Emang seh semur jengkolnya enak dan lumayan buat temen makan nasi, tapi kagak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan oleh-oleh yang Babe kasih buat abang-abang gue.
Pas gue lihat senyum dan pandangan abang-abang gue dan keluarganya, yang tampak mengejek, hati gue sedih bukan kepalang dan merasa sangat terhina. Gue udah kerja keras dan iklas, tapi di pikiran gue waktu itu, Babe gue itu sangat tidak adil dan pilih kasih. Babe kagak ngehargain jerih lelah gue. Kalau memang Babe cuman bisa menghargai kekayaan, maka gue bertekad untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin dan menjadi kaya, supaya kaga ada lagi orang yang memandang gue dan keluarga gue dengan sebelah mata.” Kumpi tampak menghela nafasnya sesaat.
“Sejak hari itu, gue kerja keras. Kagak kenal lelah bekerja dan bekerja. Kalo badan udah capek dan semangat aga melemah, maka gue akan lihat lagi ntu rantang dan kenangan penghinaan itu memacu kembali semangat kerja gue.
Ruangan ini penuh dengan kenangan pahit itu, namun gue mempertahankan kondisinya apa adanya, bukan karena memendam dendam, tapi sebagai pemacu untuk seluruh keluarga gue, supaya rajin bekerja tanpa mengeluh.
Kita bisa hidup dengan lebih baik sekarang ini bukan karena bantuan orang lain, tapi karena Tuhan ngeredoin kerja keras kita.
Saat tersandung apalagi pake jatuh, pasti rasanya malu dilihat orang banyak. Sama halnya dengan mengalami berbagai rintangan dalam hidup ini. Rasanya pasti tidak nyaman. Banyak yang milih untuk pura-pura lupa sama penghinaan dan rasa tidak nyaman itu, lalu cuman mengasihani diri sendiri. Mungkin akan lebih mudah, ketimbang harus bangun, menghadapi bahkan ngetawain duka-lara itu.
Tapi Kumpi loe ini kaga begitu.. Hidup adalah kerja keras: bekerjalah maka loe bisa makan, bekerjalah lagi dengan lebih keras, maka loe akan menikmati hasilnya dan yang paling penting neh, iklaslah pas bekerja keras, supaya loe bisa tetap menikmati kebahagiaan sebagai upah kerja keras itu.” Kumpi berkata panjang dan lebar, menasehati keturunannya dengan bijaksana.
Chalik kembali tercerahkan. Terutama dengan kalimat terakhir sang buyut sebelum menutup matanya mengantuk: “Kalian yang masih muda harus terus meneruskan tradisi ini.. Kumpi sudah tua..”
***