Pertikaian antara mereka semakin menambah jarak keduanya. Vanessa menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantor dan usaha join dengan rekannya. Ia sudah tidak memperdulikan apa yang terjadi lagi nantinya. Kenyataan memang sudah tidak bisa dipungkiri ada pihak ketiga diantara mereka. Parahnya Haikal Sulaiman suaminya itu tidak mau melepaskan dirinya. Dengan dalihnya Vanessa adalah istrinya yang dia miliki disaat dia miskin sekarang dia sukses Haikal masih bisa membuat dirinya bahagia. Bagaimana cara bahagia jika dirinya di madu tampa sepengetahuannya dan parahnya mertua dan keluarga besar suami ikut andil.
Vanessa masih duduk sendiri di Starbucks favoritnya, tampa menyentuh pesanannya ia hanya melihat lalulintas di jalanan lewat kaca jendela dari tempat duduknya.
"Masih disini?" Suara bariton Shawn dan derit kursinya digeser ia pun duduk di hadapannya wanita cantik itu.
"Malas pulang. Toh hanya aku saja sendirian." Jawabnya malas.
"Aku ada undangan di Club malam dengan rekan-rekan ku, kau mau menemani?" Tawar Shawn. Vanessa hanya mengangguk. "Ok. Kita bersiap sekarang, Kamu harus mengganti bajunya." Komentar Shawn seraya berdiri. "Tapi aku ingin mandi juga ". Sahutnya.
"Tidak masalah, kita ke butiknya Sheila dan kamu bisa membersihkan diri disana." Jawabnya tenang. Sheila adalah salah satu kenalan Shawn yang dikenalnya juga. Mereka pergi bersama dan memilih dress-nya. Shawn bersiul menggoda saat Vanessa keluar dari ruangan Sheila, yang ada kamar mandi pribadi. Sheila hanya tersenyum melihat tingkah lakunya temannya itu.
Sheila tidak bisa ikut bergabung karena sedang berbadan dua. Mobilnya Vanessa sudah dikirimkan ke rumah atas instruksi Shawn pada anak buahnya. Dan Vanessa jalan dengan mobilnya Shawn. Mereka berjalan masuk melewati lantai dansa dan naik kelantai dua. Di ruangan itu sudah berkumpul rekan-rekannya Shawn yang tak dikenalnya, ada yang bersama wanita bayaran atau pasangan ada yang tidak. Ada 6 pria dan 2 wanita.
"Baru datang Shawn, kemana saja sudah tidak berkumpul dengan kita-kita?" Tanya si baju biru dengan lengannya digulung sedikit dan dasinya dilonggarkan. Shawn menyalaminya ala lelaki dan duduk di tempat yang kosong bersama Vanessa.
"Biasa, kau mengerti aku?" Jawab Shawn santai sambil mengambil minuman dan merangkul pundaknya Vanessa, Vanessa hanya tersenyum, ada rasa tidak nyaman melihat sekeliling mereka aroma minuman keras, asap rokok. Shawn sendiri sudah terbiasa dan ia asyik mengobrol dengan tangan nya melingkar di pundaknya Vanessa. Untuk sesaat ia tak keberatan namun ini sudah setengah jam Shawn masih tidak mengangkat lengannya. "Shawn aku harus ke kamar kecil." Bisiknya, Shawn mengangguk. Vanessa membawa tasnya berjalan keluar. "Kemana dia?' tanya rekannya Shawn tersenyum," Ke toilet kamu tahulah. Wanita" Jawabnya nyengir.
Vanessa bermaksud keluar saja setelah dari toilet namun baru beberapa langkah dari toilet laki-laki yang dilaluinya ada sepasang tangan menariknya berbalik arah kebalikannya dan naik ke lantai tiga yang ternyata sebuah kamar. Lelaki itu menguncinya dan langsung menyentuh Vanessa. Wanita itu berontak namun tenaganya tidak bisa melawannya. Segala upaya Vanessa menghindari lelaki itu. Namun yang ada bajunya sudah terkoyak tak tersisa sedang kan lelaki itu juga demikian. Karena tidak sabar ia menarik bajunya hingga kancing-kancingnya lepas dan melepaskan celananya dan langsung dia melakukan penyatuan antara mereka. Vanessa membulat matanya berair menahan nyerinya organ intim kewanitaan dimasuki sesuatu yang membuatnya terasa sesak. Bahkan milik suaminya sendiri tidaklah seperti ini, batinnya. Lelaki itu langsung mencumbui bibirnya dan turun kebawah tepat didadanya. Tampa menggerakkan tubuhnya. Dia mengikat tangan Vanessa dengan kedua tangannya. Yang dilakukan nya hanya menekankan pada intinya saja. Sedangkan bibirnya dengan asyiknya bergerilya bebas di semua tubuhnya. Tanpa disadari Vanessa mendesah nikmat, barulah dia menggerakkan pinggulnya dan masih menciumi bagian depannya itu bergelora.
Di tempat yang sama Shawn kebingungan mencari keberadaan Vanessa, ia sudah menelepon namun tak ada jawaban, dia juga ke toilet wanita dan kosong hasilnya. Rekannya menyarankan pulang saja, karenanya Vanessa bukan wanita yang suka ke night clubs, pastilah sudah pulang duluan. Shawn juga berpendapat yang sama. Mereka berpisah dan pulang.
Waktu sudah hampir jam tiga pagi pergulatan itu baru saja selesai. "Rasanya nikmat sekali cantik. Terimakasih." bisik lelaki itu sambil mencium keningnya Vanessa. Wanita itu hanya menatap sayu karena keletihannya, lelaki yang memperkosanya ini begitu bersemangat dan miliknya ternyata tahan lama.
Dia bangkit dan mengenakan celananya karena kemejanya sudah tidak bisa dikenakannya. Dia menelepon seseorang dan meminta seseorang mengirimkan pakaiannya dan untuk Vanessa. Lelaki itu mengambil tissue dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka di tubuhnya Vanessa. Dia bahkan santai sekali melakukan itu, bahkan sesekali ia menciumi nya lagi dan meninggalkan banyak kiss mark. Wanita cantik itu hanya memandangi wajah pria itu. Tampan, tegab dan dada serta perutnya sixpack. Sungguh pemandangan yang indah pikirnya. Haikal tinggi tegap namun perutnya berisi walau tidak buncit.
Suara pintu diketuk segera ia menutup tubuhnya Vanessa dengan selimut. "Kau sudah sempai ?" Serunya. " Dia siapa? Wanita bayaran?" tanya. rekannya. "Bukan sama seperti aku pengunjung. Tunggulah di bawah." Dia mengangguk mengerti. "Maaf hanya ada pakaian laki-laki. Kenakanlah. Kita pulang aku akan mengantarmu. " titahnya. Vanessa melihat bajunya kebesaran Dia hanya memakai Kaos besar itu tampa dalaman karena juga sudah sobek. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran yang sepi. Sang pria yang mengantarkan pakaiannya sebagai sopir dan Vanessa duduk di belakangnya bersama dengan pria itu. Lelaki itu menyodorkan kartu berwarna hitam dan kartu nama. " Aku sudah menuliskan nomor pin dan telepon ku. Kita tidak mengenakan pengaman jadi nanti telp. aku jika terjadi sesuatu. Mhmm?" katanya.
"Aku mandul. Suamiku menikahi wanita itu tampa ijinku dan keluarganya merestui hubungan mereka. Aku hanya hidup sebatang kara. Terimakasih atas kepedulian kamu. Jika aku Hamil maka aku akan membesarkan anak itu dan bercerai, kami lebih baik hidup sendirian saja, orang kaya terlalu banyak aturannya. Aku sudah muak. Setidaknya sekarang aku sudah lebih baik karena membalas perlakuan nya padaku." Jawabnya dengan air matanya mengalir. Kedua lelaki itu saling menatap. Hening. Sampailah ke kediaman Vanessa. Rumah besar itu terlihat sepi dan gelap. Vanessa terdiam saat lengannya ditahannya
" Aku Devan Sanjaya dan kamu?"
"Vanessa". Bersamaan dia menghentakkan tangannya Devan. Begitu dia turun Vanessa membuang kartu pemberian Devan di tempat sampah depan rumah. Ia masuk dengan kuncinya.
"Dia membuangnya Bro." Bisik Raditya sahabat Devan sekaligus assisten nya. Devan turun dan mengambilnya, dengan setengah berlari masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun berlalu.
Vanessa masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. kemudian dia kenakan baju tidurnya naik ke kasur tak lama ia pun terlelap.
Paginya Haikal memasuki rumah huniannya Vanessa bersama dengan seorang wanita muda di belakangnya.
"Sayang kamu masih tidur?" Tanya nya saat mereka sampai di kamarnya Vanessa. Wanita itu langsung membulatkan matanya. "Mau apa kalian datang. Pergilah!" Teriaknya lantang.
"Aku ingin kalian akur dan kita keluarga sayang." Kata Haikal.
"Aku bilang pergi! Siapa yang mengijinkan dia masuk! "
"Tentu aku. Aku adalah kepala rumah tangga jadi aku yang berhak memutuskan semuanya." Jawab Haikal tak kalah tinggi suaranya.
"O.Ya? Termasuk menikah dengan perempuan itu? Kenapa tak kau ceraikan saja aku! "
"Sampai kapan pun kamu istriku sayang ".
Praang... Suara teko gelas dia lempar ke arah mereka.
"Apa kau sudah gila? Mau mencelakai kami?"
"Ya. Kau yang membuatnya semenjak menikah dengan dia !" teriak Vanessa.
" Sayang. Kita akan baik-baik saja, dia gadis yang lembut sama seperti kamu. Percayalah kaliyan akan bersama dan berdampingan rukun." Jelasnya mencoba meyakinkan.
"Kak, aku membawakan masakan rumah kita sarapan pagi bareng yuk." Ajak wanita itu dengan suara lembutnya. Vanessa berjalan kedepannya langsung melempar kotak makanan itu hingga isinya berhamburan. "Pergilah! Dan jangan pernah kembali!" katanya dengan mendorong tubuhnya keluar dari kamarnya.
"Vanessa!"
Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya yang mulus hingga mulutnya berdarah. " Kenapa? Tidak terima? Bagaimana dengan aku? Bisakah kau bayangkan rasanya hatiku saat kamu menikahinya dan bercinta dengan wanita itu?"
"Ayo tampar lagi, pukul aku sepuasnya. Dasar orang kaya tak tahu diri!" Makinya lantang sambil menutup pintunya dan menguncinya.
"Vanessa tolong bukakan pintu. Kita harus bicara!" teriaknya lantang.
"Mas, sudah. Biarkan sajalah, beri dia waktu sedikit saja", bujuk rayunya.
Mereka turun dan sarapan bersama dengan hidangan yang dimasak pelayan. Vanessa diam di kasurnya menangisi nasibnya. Hingga akhirnya ia tertidur.
Rupanya Haikal memutuskan berakhir pekan bertiga dengan kedua istrinya. Namun sayangnya dia diacuhkan vannesa. Wanita cantik itu hanya tidur seharian tampa turun makan sesuatu. Semenjak menikah lagi Haikal lebih banyak tinggal di rumah barunya. Vanessa pernah membututi nya dan melihat semua ada sekuriti dan para pelayan rumah nya lebih besar dari tempat yang ia tinggali. Bukannya iri namun apa katanya ia akan adil? Nyatanya ia lebih banyak di tempat isteri mudanya. Dia hanya memiliki satu pelayan. Baginya rumah ini sudah cukup besar ternyata dia membeli lebih bagus untuk istrinya yang muda. Haikal menghampiri kamar Vanessa dan mengetuk pintunya, hari sudah menjelang sore dia khawatir sang istri belum juga keluar dari kamarnya.
"Sayang ayolah keluar. Kamu belum makan Lo.." Ajaknya merayunya berulangkali. Vanessa duduk di balkon dengan phonsel nya ia asyik berselancar di dunia maya tanpa menghiraukan ucapan Suaminya. Haikal pun turun dan istrinya mengajak pulang. Diapun mengiyakan. Vanessa menatap mobilnya yang menjauh, Haikal melihatnya dari spion sang istri berdiri di balkon dengan gaun tidurnya yang sexy. Vanessa lebih sexy daripada Ratnasari istri muda nya. Semua badannya padat berisi sesuai kapasitasnya, yang ia sukai adalah dadanya besar. Entahlah dia juga tidak habis pikir kenapa ia mau saja menikahi wanita disampingnya. Vanessa bergerak ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu ia mengenakan pakaian kasual dan keluar dari kamarnya.
"Nyonya."
"Tolong Bu Ani bersihkan kamarnya. Aku akan keluar." Pamit nya.
Vanessa pun memacu mobilnya menuju ke kantor nya. Vanessa bekerja di perusahaan teman kuliah nya dulu. Ia anak beasiswa sedangkan temannya itu anak orang kaya, namun berpenampilan sederhana. Dia merasa terbantu dengan itu, sejak itu ia mendedikasikan diri untuk bekerja di perusahaan miliknya. Ini hari Minggu namun ia tidak peduli, ia butuhkan mengalihkan perhatian melalui pekerjaan. Dia bekerja didesign interior dan eksterior. Dan ia sangat berbakat nyatanya setiap kali ada clien dan mereka puas dengan hasil kerja Vanessa. Ada tender dengan perusahaan besar milik Sanjaya dan perusahaan kecilnya diberi kesempatan untuk ikut andil. Jika berhasil maka ia akan pergi dari rumah itu dan uangnya sudah cukup membeli rumah.
Tiba waktunya hari tender yang ditentukan. Satu persatu peserta memberikan presentasi, termasuk dirinya yang mewakili dari kantor. Dia bahkan tidak memperhatikan jika pergerakannya diawasi oleh seseorang. "Selain cantik kamu pintar, bodoh lelaki itu sudah menduakan cinta mu." Gumamnya dengan melihat monitor CCTV-NYA melalui laptop.
"Bagaimana hasilnya aku serahkan kepada kamu. Bagaimana pendapatmu?" Tanyanya dengan anak buah nya. " Desain Rosa sungguh menarik, selain idenya fresh juga penuh kejutan, jujur aku tertarik pada desain milik mereka. Dan aku tidak menyangka jika mereka memiliki pegawai yang potensial juga hebat. Aku dengar para pekerjanya wanita semua." Sahut Raditya.
"Memang. Karena itu perusahaan milik Rasyia dia mendedikasikan perusahaan itu untuk ibunya.Rosa.
"Kau mengenalnya Boss?"
"Tentu, dia sepupunya Leon?" Jawab Devan santai.
"Pantas anda meminta perusahaan kecil-kecil ikut bergabung."
Vanessa dan Rasyia beserta rekan-rekannya merayakan kemenangan tender. Mereka akan makan malam di restoran langganan kantor mereka, setelah itu akan berkaraoke di pub. Di pintu pub Vanessa bertemu lagi dengan Devan, dia mengacuhkan Devan karena jujur ia sudah melupakan lelaki itu. Devan menahan rasa kesalnya. Vanessa menikmati permainan bersama rekannya sekantor. Dia sudah mendapatkan rumah baru minimalis dia akan tinggal bersama bu Ani Art-nya yang juga janda tanpa keluarga. Dia akan membiarkan rumah itu begitu saja. Dia juga sudah membayar pengacara untuk mengurusi perceraiannya. Ia sudah memberikan waktu 1 tahun sang suami tidak adil, ia juga menyewa jasa detektif untuk mencari bukti-bukti ketidakmampuan suaminya yang dia katakan akan berbuat adil. Dia sudah lelah dengan semua. Dan rumah itu juga tidak ia kunci karena kuncinya ia biarkan tergantung di pintu masuk. Bahkan pintu pagar juga tidak ia kunci. Selama menjalani rumah tangga untungnya dia tidak pernah tahu kantor dia bekerja, karena mereka mengendarai kendaraan sendiri.
Haikal marah setelah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan. Ia menuju ke rumah Vanessa, yang ada rumah itu kumuh dan berdebu tanpa di kunci. Semua perabotan ada utuh tak ada yang hilang. Hanya pakaiannya yang tidak ada. Diantara surat panggilan itu ada surat pribadi dari Vanessa yang mengatakan ia sudah jenuh dengan alasan dia dan sudah tidak perduli lagi padanya. Selama beberapa bulan lalu ia sudah berpisah dengan istri mudanya, yang ternyata dia suka bermain dengan banyak lelaki di luar sana. Semenjak menikah wanita itu kerjanya bermain keluar dan berkencan. Ibunya yang memergoki mereka, ibunya juga merasa bersalah karena sudah egois memaksa putranya menikah dengan anak sahabatnya itu. Dan yang paling membuat shock keluarga adalah Haikal divonis mandul. Dia sudah mengklarifikasi dengan pergi memeriksakan dirinya dan benar saja dia mandul. Surat-surat itu ditemukan Art dirumahnya saat membersihkan tempat tidurnya. Rupanya Istri mudanya dan ibunya sengaja memalsukan suratnya karena mereka pikir Devan keluarga kaya raya, padahal mereka menjadi lebih baik karena usaha Vanessa yang memperkenalkan beberapa orang yang berpengaruh dan terjadi hubungan bisnis, kemudian perusahaan ayahnya beranjak membaik dan berkembang pesat.
Hingga keputusan pengadilan itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan istri yang membawanya menuju kesuksesan. Dia juga resmi menceraikan istri keduanya yang bermasalah itu juga. Sekarang dia hanya bekerja dan bekerja saja. Dia juga mencari keberadaan Vanessa jika ia memiliki waktu luang. Dia benar-benar menyesalinya.