"Maaf, aku tidak mengenalmu" ucap gadis yang mirip dengan Nabila itu terdengar ketus.
"What? ba-bagaimana bisa? kita sudah bertunangan dan kau bilang tak mengenalku, begitu? Huhh, jika ingin menghindariku buka begini caranya bil." Ucap Ryan memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu menyipitkan mata "Maaf, aku sungguh tak mengenalmu, namaku Sisca bukan bil." tegasnya masih menatap Ryan seksama.
"Aku buru" permisi." ucapnya lagi karena Ryan tak lagi menjawab pernyataannya.
Ryan yang shock tak menyadari jika gadis yang mengaku bernama sisca tersebut telah memasuki mobil mersi hitam pekat miliknya.
BROOMM
Ryan tersentak karena mendengar deru mobil melaju di hadapannya. Ia baru menyadari jika gadis yang ia yakini mirip Nabila sudah tak berdiri lagi di hadapannya.
Pria tampan itu jatuh berlutut diatas tanah karena merasa di permainkan oleh dunia.
"Kejutan apa lagi ini Tuhan?hiksss.." keluhnya mendongakkan kepalanya ke atas.
Beruntung di tempat palkir masih sangat sepi, hanya ada tukang parkir saja yang menyaksikan kejadian itu.
Ryan menguatkan hati dan mentalnya, ia segera menghapus air mata sialan itu dan kembali bangkit.
Saat sudah berada di dalam mobil Ryan tak langsung melajukan kendaraannya tapi ia malah mengambil ponsel dan menulis pesan elektrik kepada seseorang.
Triingg...Triingg..
"Kau gila Yan? Nabila sudah tiada, kau harus belajar merelakannya." ucap pria dalam panggilan telepon itu menasehati sahabatnya karena pesan elektrik yang di sampaikan Ryan sungguh tak lazim baginya.
"Lo ngga ada disini, Sam? lo baru bisa percaya kalo lo bisa mempertemukan gue lagi sama dia." jawabnya terdengar marah.
"Hukfff oke, oke. Gue bakal bantu, tapi lo tenangin diri lo dulu oke. Tar sore gue kasih semua datanya ke lo." jawabnya pasrah.
"Good! thanks."
Klek Tut Tut Tut...
Ucapnya dan langsung mematikan panggilan seluler tersebut.
Ryan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena ia harus kembali ke rumah untuk mencari tahu data lebih lengkap tentang kekasihnya, Nabila.
Ceklek
Setelah tiga jam lamanya Ryan mengorek semua informasi tentang identitas Nabila di atas meja tiba-tiba ada orang yang menekan handle pintu ruang kerjanya.
Ryan menatap tajam ke arah benda berdiri berbentuk persegi panjang itu.
"Hai.." sapa orang tersebut melambaikan tangan dengan senyuman. Tapi Ryan malah sebaliknya.
"Tak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk ke ruanganku?" pekiknya tanpa berkedip.
Anggis dan Samuel saling memandang, tiba-tiba Anggis keluar lagi dari ruang kerja Ryan. Kini Samuel dan Ryan yang saling memandang karena tingkah aneh dari salah satu sahabat mereka.
TOK TOK TOK
CEKLEK
"Permisi tuan Ryan." ucap Anggis setelah ia memasuki ruangan itu kembali seraya membungkukkan badan.
Samuel memutar kedua bola matanya terasa malas sedangkan Ryan hanya membuang muka terlihat enggan berkomentar.
"Kau ingin di hormati tapi lihatlah dirimu. Aku bahkan tak di persilahkan untuk duduk sama sekalu, kau tuan rumah yang buruk, bro Ryan." Sindir Anggis masih berdiri dengan samuel di sampingnya.
Sedangkan samuel hanya menahan tawa melihat orang tempramen seperti Ryan bertemu dengan orang gila seperti Anggis. Mereka seperti air dan minyak yang tak bisa menyatu sedangkan Samuel berperan menjadi sabun untuk menyatukan mereka.
Ryan tak ingin menggubris perkataan Anggis, ia lebih memilih sebuah map yang sedang di pegang oleh samuel.
Ryan membacanya dengan seksama, ia juga menyamakan data tersebut dengan milik Nabila yang berhasul ia temukan.
Ternyata meskipun mereka telah lama berpacaran tapi Ryan juga tak mengenal banyak hal tentang Nabila, Ryan sampai berulang kali terkejut saat menemukan data diri kekasihnya yang tak ia ketahui.
Seperti hari kelahirannya, nama marga keluarganya, perusahaan yang ia pimpin bahkan ia jg baru tau jika Nabila sudah memimpin banyak perusahaan milik ayahnya dan masih banyak lagi.
"Jika kulihat dari foto e-KTP sekilas memang mirip tapi aku cukup yakin jika itu buka Nabila Rey." ucap Samuel mengutarakan pendapatnya.
Ryan masih tetap fokus pada dokumen dalam genggamannya dan tak menggubris perkataan Samuel meski ia mendengarnya.
"Atau mungkin.. mereka kembar." ungkap Anggis yang ternyata perkataannya mampu menarik perhatian Ryan.
"Terus kenapa mereka berpisah?" tanya Ryan menatap Anggis seksama yang ternyata satu pemikiran dengannya.
"Hai.. come on lah guys, ini bukan drama di televisi yang menceritakan anak kembar yang hilang atau terpisah atau bla bla bla. Cobalah berfikir jernih! Pernah lihat orang yang mukanya mirip banget di sosial media sampai masuk berita? Apa mereka saudara kembar satu ayah dan ibu? engga mean." ucap Samuel menyilang kan kedua tangan di bawah dada sambil geleng-geleng kepala, ia tak habis fikir dengan pola pikir dua kawan karibnya.
Ryan kembali tertunduk lesu memikirkan ucapan Samuel.
"Kalau begitu kita samperin aja kerumahnya." ungkap Anggis memberikan idenya.
"Rumah siapa?" tanya Samuel menatap sahabatnya bingung.
"Sisca lah. Kita cari tau semua latar belakangnya termasuk orang tua dan saudara-saudarinya.
Plakk..
"Itu sama aja lu nyuruh gue kerja lembur malam ini kampret!" pekik Samuel memukul pundak Anggis sampai orang tersebut meringis kesakitan.
"Gak perlu! Biarkan saja. Meeting sore ini selesai guys, lo boleh pulang cepet hari ini Sam tapi ingat cuma hari ini !" ucap Ryan seraya beranjak dari kursi kebesarannya dan mulai melangkah keluar meninggalkan ruang kerja pridadinya.
Ryan bergegas menuju ke kamarnya dan tujuan utamanya adalah ke kamar mandi.
Ryan menanggalkan pakaian lengkapnya sehingga ia tak mengenakan sehelai pakaian pun.
Saat air shower yang membasahi tubuhnya bagaikan hujan dari langit, Ryan membersihkan seluruh tubuhnya di bawah guyuran air shower tersebut dengan pikiran yabg berkecamuk.
"Semua salahku! Keegoisan dan rasa cemburuku membuatku kehilangan muuntuk selamanya sayang." ucap Ryan sedih mendekap tubuhnya sendiri.
Bayang-bayang sang kekasih terus saja menghantui pikirannya, terutama kejadian saat terakhir kali mereka bertemu dan naasnya itu adalah pertemuan terakhir mereka di dunia.
"Agghh brengsek! Haaaarrrggggg!!" teriak Ryan marah meluapkan amarahnya dengan meninju tembok malang yang tak bersalah itu.
Ternyata dua kawan karibnya belum pergi dari rumah Ryan, mereka juga mendengar amukan dan makian Ryan di dalam kamar mandi. Saat Anggis hendak masuk kedalam Samuel menahannya.
"Biarkan saja. Dia sedang meratapi penyesalannya, mungkin ini cara Tuhan menyadarkan dia dari sifat buruknya. Ayo kita pergi." Ajak Samuel dan Anggis diam saja terlihat bingung, tapi ia tetap mengikuti ajakan samuel sambil sesekali menengok ke belakang seperti enggan meninggalkan Ryan sendirian.
Di dalam mobil Anggis terlihat gelisah, ia menengok berulang kali ke arah Samuel yang sedang mengemudi.
"Apa?" tanya Samuel yang menyadari jika ia di perhatikan sedari tadi.
"Soal Ryan. Aku merasa iba padanya. Yaa meski dia menyebalkan tapi dia sahabat kita mean, dia selalu bantu kita kalo kita lagi kesusahan. Buktinya lo di kasih kerjaan dengan jabatan tinggi di perusahaannya padahal kan ijazah lo gak nyampe S1 hehe. Kalo gue, yah lo tau lah dia sampe ikhlasin uang 30jt buat bebasin gue dari penjara. Tapi sekarang apa balasan kita? kita ninggalin dia gtu aja, gimana kalo dia bunuh diri atau nglakuin hal konyol lainnya." Jawab Anggis mendramatisir keadaan.
PLAK
"Adaawww! woy!" pekik Anggis marah karena kepalanya di pukul kuat oleh tangan kekar sahabatnya.
"Masalah yang di dapat Ryan dengan maslah yang kita punya itu beda jauh bloon. Ini soal hati dan perasaan emangnya lo bisa masuk ke hati Ryan buat gantiin di Nabila? engga kan? makanya sekarang biarin aja dia merenungi penyesalannya." Jawab Samuel meski matanya tetap fokus ke jalanan.
"Sampe kapan?" tanyanya masih mengusap kepalanya yang sakit.
"Mungkin seumur hidup." jawab Samuel melirik sekilas ke arah sahabatnya.
Anggis langsung tertunduk lesu, meski ia memiliki banyak kekasih tapi ia tak pernah mencintai mereka dengan tulus jadi ia tak tahu bagaimana rasanya patah hati.