Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Sudah beberapa kali aku ganti testpack tapi hasilnya tetap sama. Dua garis merah yang membuatku kini dilema. Aku belum menikah, bagaimana aku menutupi perutku yang nantinya akan membesar sedangkan mas Aldi besok akan menikah.
Sudah dua minggu ini mas Aldi tak pernah mengabariku, aku tahu mas Aldi orang yang sibuk jadi aku tak pernah menghubunginya duluan hingga tadi malam ada sebuah pesan masuk, betapa senangnya aku pesan dari nomor mas Aldi. Kubuka pesan singkat yang selalu membuatku berbunga-bunga, tapi malam itu aku merasa sakit, sebuah pesan bertuliskan,
'Indah, maafkan aku. Kau jangan pernah menghubungiku lagi, Keluargaku sudah merencanakan pernikahanku besok. Maaf ....'
Hatiku seperti disayat ribuan pisau, mas Aldi memutuskan hubungan ini secara tiba-tiba. Kepalaku terasa berat, perutku juga mulai mual, beginikah rasanya hamil muda. Apakah aku harus menjalaninya sendirian? Tidak! Bagaimanapun juga mas Aldi harus tahu.
Malam ini aku memberanikan diri pergi ke hotel tempat mas Aldi akan melangsungkan pernikahan besok. Aku masuk ke hotel X dan bertanya pada receptionis, "Maaf! Saya mau bertanya, apakah besok ada acara pernikahan?"
"Benar, apakah anda akan booking kamar di sini?" jawab receptionis wanita yang masih muda dan cantik.
"Apa benar acara pernikahan Aldi Brawijaya?" tanyaku lagi
"Benar nona."
Seperti di sambar petir rasanya, bahwa pernikahan itu benar adanya, tapi ... mas Aldi harus tahu tentang anak ini.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, saat aku menoleh ternyata tante Lydia, ibunya Rani, sahabat kecilku.
"Indah, apa kabar?"
"Baik, Tante." aku mencium tangan tante Lydia.
Tante Lydia sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri. Dulu Rani dan tante Lydia yang selalu membantuku di saat aku sudah tak punya siapa-siapa.
"Kamu nginap di sini?" tanya tante Lydia.
"Nggak, Tan. Aku lagi nungguin temen. Tapi kayaknya gak jadi datang."
"Rani maksud kamu. Dia ada di lantai atas. Ayo tante anter." tante Lydia menarik tanganku mengikutinya. Sebenarnya aku tak mau tapi aku tak enak menolaknya, apalagi aku sudah lama tak bertemu dengan Rani.
Tante Lydia menuntunku masuk ke kamar VVIP, nuansa merah muda tampak mencolok dalam ruangan, warna kesukaan Rani. Netraku menangkap sosok perempuan terbaring di ranjang pengantin dengan selang infus masih terpasang di tangannya. Tubuh yang kurus, wajahnya tirus, dan rambutnya menipis bahkan aku dapat melihat jelas kulit kepalanya.
"Rani ...." lirihku tanpa aba-aba air mata menetes melihat sahabatku terbaring lemah.
Tante Lydia merangkul pundakku, dia menangis. Guratan kesedihan tampak jelas di wajahnya.
"Rani mengidap kanker. Kata doter harapan hidupnya tak akan lama. Dia berpesan, jangan pernah memberitahu menyakitinya pada siapapun. Jadi tante merahasiakannya. Maafkan tante, Ndah." tangisnya pecah, aku memeluk tante Lydia. Sudah lama aku tak merasakan kehangatan ini.
"Indah ...." suara serak Rani memanggil namaku, wajahnya pucat tapi mengapa dia masih bisa tersenyum? Apa dia tak merasakan kesakitan atau dia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Aku duduk di samping ranjang, memegang erat tangannya, mencium keningnya berkali-kali.
"Kamu kenapa menangis, sudah lama tidak bertemu. Aku rindu kamu, Ndah." ucap pelan rani.
Aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya mengangguk dan sesegukan.
"Oh ya, Ndah besok aku akan menikah. Kamu tahu 'kan aku sering bercerita padamu tentang kekasihku dulu. Dia sangat baik padaku, dia menerimaku apa adanya. Dia juga tampan," lanjutnya.
Aku mendengarkan cerita Rani, tampak di wajahnya sangat bahagia. Ya, mas Aldi memang orang yang sangat baik, dia juga tampan. Aku yakin mas Aldi bisa membahagiakan Rani. Haruskah aku menghancurkan perasaan dan harapannya? Harapan hidup Rani. Aku tidak mungkin memberitahukan kehamilanku pada mas Aldi. Rani sangat mencintainya dan saat ini dia sangat membutuhkan sosok mas Aldi. Ya, sebaiknya aku perhi karena aku juga mungkin tak akan sanggup melihat pernikahan mas Aldi besok.
Aku berpamitan pada Rani dan tante Lydia. Sebenarnya mereka menahanku untuk menginap di hotel tapi aku menolaknya dengan alasan mengambil pakaian dulu di rumah, akhirnya mereka mengijinkanku pulang.
Saat aku sampai di lobi, dari kejauhan sepertinya aku menanhkp sosok mas Aldi bersama kedua orangtuanya. Mereka berbincang dan tertawa, sepertinya mereka sangat bahagia. Aku menutup wajahku dengan sebuah majalah yang ada di meja reseptionist. Ketika mas Aldi berjalan semaki dekat hatiku deg-degan. Setelah melewatiku dan mereka masuk ke dalam lift, aku buru-buru keluar dari hotel X. Aku langsung memanggil taksi, kebetulan ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan hotel.
Sepanjang perjalanan aku menangis, aku mengelus perutku yang masih rata lalu berkata, "Maafkan Ibu, Nak. Sepertinya kita harus berjuang sendiri. Maaf mas Aldi, aku tak mungkin membiarkan sahabatku Rani menderita. Biarlah aku pergi jauh dari sini membawa kenanganmu bersamaku."
Telepon genggamku berdering, terlihat nama 'sayangku' berada di panggilan tak terjawab sampai sepuluh kali, "Maaf mas ... aku harus melupakanmu." Aku membuka kaca jendela mobil dan membuang ponsel pemberian mas Aldi saat hari ulang tahunku.
"Mau kemana Nona?" tanya supir taksi.
"Kita ke bandara, Pak!"
Aku akan pergi ke tempat di mana mas Aldi tak akan pernah bisa menemukannku.
****
5 tahun kemudian.
Aku bekerja di sebuah perusahaan kecil di kota Z sebagai office girl. Hanya pekerjaan ini yang bisa menerima tamatan SMA sepertiku. Meski begitu, aku sangat senang karena gajinya lumayan, cukup untuk menghidupi kebutuhanku juga Rayhan, putra semata wayangku.
Hari ini ada kunjungan mendadak dari kantor pusat. Sepertinya perusahaan mengalami masalah yang serius hingga bos besr turun tangan langsung ke perusahaan cabang. Jam sepuluh rapat dimulai, biasanya sebelum rapat, Tari yang membersihkan ruangan dan meyiapkan minuman saat rapat.
"Indah, kamu gantiin aku dong antar minum ke ruagan rapat, soalnya perut aku mules, dari tadi BAB mulu. Bentar aja, please!" Tari mengatupkan kedua tangannya meminta aku menggantikannya.
Aku membawa beberapa minuman di atas nampan masuk ke ruangan rapat, seperti biasa aku meletakkan minuman satu-persatu di meja hingga gelas terakhir, saat aku ingin meletakkan tiba-tiba tanganku dicekal. Sontak saja membuat minuman tumpah, saat aku ingin meminta maaf betapa terkejutnya aku melihat orang yang duduk di kursi kepemimpinan.
"Mas Aldi ...." batinku.
Terlihat hawa dingin di wajahnya. Selama lima tahun aku menjauh dan melupakannya, mengapa kini dia ada dihadapanku. Aku seperti membeku melihat dia yang tampak semakin berwibawa.
"Rapat ditunda. Semuanya boleh keluar!" perintah Aldi.
Semua orang di dalam ruangan satu-persatu keluar. Aku bingung apakah aku harus keluar? Saat aku ingin berjalan mas Aldi menahan tanganku.
"Jelaskan padaku?" tanyanya.
"Aku tak punya penjelasan apa-apa. Maaf Pak, saya banyak pekerjaan." jawabku.
Aku bergegas berjalan keluar karena berada satu ruangan dengan mas Aldi membuat dadaku terasa sesak.
"Ini perusahaanku! Jika kau keluar dari ruangan ini, maka kau keluar dari pekerjaan," ancamnya membuat langkahku terhenti.
"Aku sudah menikah dan punya anak. Maaf! Aku mengundurkan diri."
Aku berlari sekencang-kencangnya bahkan semua karyawan heran melihatku bahkan ada yang membicarakanku , tapi aku tak perduli. Aku tak ingin kembali ke masa lalu.
Aku pulang mengendarai sepeda motor, jarak rumahku dan perusahaan tidak begitu jauh. Sampai di rumah aku mencari putraku, aku memeluknya dan menciumnya berkali-kali.
"Stop! Mama jangan menciumku. Rayhan sudah besar," ucap lucu Rayhan.
Beruntung aku memiliki Rayhan, dia sangat menggemaskan. Hanya Rayhan yang membuatku bertahan sampai sekarang. Dia adalah alasan agar aku semangat untuk menjalani kehidupan.
"Tok ... tok ... tok." suara ketukan pintu.
"Biar Rayhan yang buka Ma!" aku membalas anggukan kecil.
Rayhan berlari membuka pintu, betapa terkejutnya aku, mas Aldi berdiri tepat di depan pintu. Aku segara berlari menggendong Rayhan dengan erat sepertinya aku merasa takut kali ini. Aku takut kehilangan Rayhan.
"Siapa ayahnya?" tanpa basa-basi mas Aldi bertanya tentang Rayhan.
"Ayahnya sedang ke luar kota," jawabku.
"Kau bohong!"
"Bukan urusanmu, Mas!" elakku.
Mas Aldi menarik tanganku kuat. Aku tak bisa melawan tenaganya, apalagi satu tanganku menggendong Rayhan. Dia memaksaku masuk ke mobilnya lalu menguncinya dari dalam agar aku tak bisa kabur. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Wussssssszzzzz .....
"Mas, tolong jangan buat anakku ketakutan," pintaku membuat mas Aldi menurunkan kecepatannya.
"Kita mau kemana?" tanyaku.
"Rumah sakit."
"Untuk apa? Aku baik-baik saja."
"Test DNA."
"Aku tidak mengizinkanmu. Rayhan putraku dan Kau bukan ayahnya," jawabku.
"Dia sangat mirip denganku, Indah. Kita pernah melakukannya. Aku yakin dia anakku," ucap mas Aldi.
"Mas! Kau tidak bisa seperti ini. Kau harus memikirkan perasaan Rani."
Mas Aldi menghentikan mobil secara mendadak, dia mengerutkan keningnya seperti meminta penjelasan.
"Mas, Rani adalah sahabatku sejak kecil. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian. Tolong bahagiakan Rani. Dia adalah istrimu!" tegasku.
Mas Aldi kembali melajukan mobilnya namun dia berbalik arah. Aku tak tahu kemana sebenarnya tujuan mas Aldi tapi sepertinya ini bukan jalan ke rumahku.
Sepanjang jalan kami hanya terdiam, hingga mobil berhenti di sebuah hotel.
"Mas, kita bukan suami istri. Untuk apa kita ke hotel, aku tidak ingin terjadi fitnah."
Mas Aldi tetap diam, dia membuka pintu mobil dan mengangkan Rayhan yang tertidur di pangkuannku. Dia menggendong Rayhan, baru kali ini aku melihat Rayhan bersama ayah kandungnya mereka sangat mirip tapi aku tak mungkin mengatakannya. Aku harus menjaga perasaan Rani.
Malam ini hotel terasa ramai banyak papan bunga ucapan selamat atas peresmian hotel. Ternyata hotel ini baru dibuka, mengapa mas Aldi membawaku kemari?
Masuk ke dalam hotel, aku benar-benar takjub. Hotel yang sangat mewah berada di kota kecil seperti ini. Apakah hotel ini milik Aldi Brawijaya? Mengingat perusahaan mas Aldi sedang berkembang di pembangunan hotel dan resort.
Aku mengikuti mas Aldi masuk ke dalam lift. Lift berhenti di lantai paling atas. Sebenarnya bisa saja aku lari, tapi Rayhan berada di gelondongannya tidak mungkin aku lari dan meninggalkan Rayhan.
Mas Aldi mengetuk pintu kamar vip. Aneh, kamar siapa ini, mengapa mas Aldi mengetuknya. Tak lama tampak seorang wanita cantik membukakan pintu.
"Rani!" batinku. Mengapa mas Aldi membawaku pada istrinya. Apakah mas Aldi mau mengambil Rayhan padaku dan memberikannya pada Rani. Tidak! Rayhan putraku.
"Indah!" Rani tampak bahagia, dia menghamburkan tubuhnya memeluk diriku.
Rani sangat berbeda dari terakhir kali aku bertemu dengannya di malam pernikahannya. Tubuhnya yang kurus kini semakin berisi. Wajahnya yang dulu tirus kini semakin cantik, putih dan bersih. Aku senang Rani akhirnya bahagia dan pilihanku untuk pergi meninggalkan mas Aldi sangat tepat.
"Ndah, kamu kemana saja. Kenapa kau membohongiku. Kau tidak hadir di pesta pernilahanku," tanya Rani yang membuatku bingung harus menjawab apa.
"Mas Aldi, anak siapa yang kau gendong itu?"tanya Rani kepada Aldi.
"Anakku." jawab mas Aldi tanpa bas-basi.
Gila! Kenapa dia mengakui Rayhan anaknya di depan istrinya. Apa mas Aldi secara terang-terangan mau mengambil Rayhan dariku.
Rani tampak kaget mendengar ucapan mas Aldi. Namun wajahnya berubah sumringah, apa Rani senang dengan Aldi?
"Tidak! Rayhan anakku. Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku!" teriakku.
"Ada apa Ran, siapa ada yang berteriak?" sahut suara lelaki dalam kamar.
"Ini mas Aldi datang, sayang!" teriak Rani, "Kalian masuklah dulu," lanjutnya mempersilakan kami masuk.
"Di dalam kamar ada seorang lelaki yang barkutat pada laptopnya. Namun saat mas Aldi menyapanya, pria itu berhenti dan memeluk mas Aldi. Siapa sebenarnya lelaki itu.
"Sayang, kenalin dulu ini sahabatku Indah. Indah, ini suamiku, Rasya," ucap Rani.
Seperti kilat yang menyambar, aku tak bisa mencerna kata-kata Rani. Maksudnya suaminya itu Rasya bukan mas Aldi.
Aku bingung lalu aku bertanya pada Rani, "Ran, bukankah malam itu Kau akan menikah dengan mas Aldi?"
Rani tampak kebingungan tapi selanjutnya dia tertawa, "Ha ... ha ... Indah sepertinya kau salah paham. Saat itu aku memang menikah tapi bukan sama mas Adi tapi Rasya, adiknya mas Aldi."
"Apa!" aku benar-benar terkejut, "Tapi saat itu aku tanya pada reseptionist bahwa gedung disewa dan yang akan menikah adalah kamu Mas!" tanyaku pada mas Aldi.
"Sepertinya reseptionist salah memberikan informasi. Sewa gedung memang atas namaku karena pada saat itu Rayhan sangat sibuk dengan pekerjaan di luar negri dan Rani sedang sakit. Jadi, aku dan kedua orang tuaku yang mengurusi semua urusan penikahan Rani dan Rasya," jelas mas Aldi membuatku semakin merasa bersalah.
"Malam itu aku dan kedua orang tuaku mengunjungi hotel untuk menjenguk keadaan Rani, tapi aku seperti melihat bayanganmu. Saat aku masuk ke kamar Rani, aku melihat cincin ini tertinggal di ranjangnya." mas Aldi mengeluarkan cincin fari dalam sakunya. Ya, itu adalah cincin dari mas Aldi yang sengaja kutinggalkan untuk Rani karena pada saat itu aku ingin mengembalikan semua barang pemberian mas Aldi.
"Aku bergegas mencarimu, ku telepon berkali-kali tapi tak ada jawaban. Berhari-hari aku mencarimu seperti orang gila, Ndah!" Mas Aldi tak kuasa menahan air mata.
"Tapi, waktu itu ada pesan yang masuk dari nomormu. Katanya kamu akan menikah dan memintaku untuk menjauhimu," tanyaku.
"Saat itu ponselku dipegang oleh sekretarisku. Aku tidak tahu kalau ternyata dia yang mengirimkan pesan palsu padamu. Aku baru tahu dan sudah memberhentikannya tapi saat itu sudah terlambat. Aku sudah kehilanganmu," sesal mas Aldi.
"Maafkan aku mas! Aku sudah salah. Aku pikir Kau akan menikah dengan Rani. Aku ikhlas pada saat itu," ucapku. Air mata membanjiri pipiku. Aku memeluk mas Aldi.
"Berjanjilah Indah, jangan pergi dariku lagi," pinta mas Aldi dan kubalas dengan anggukan karena aku tak sanggup berkata lagi.
"Rayhan, putraku bukan?" lagi-lagi aku hanya mengangguk dan menangis.
Aku benar-benar bodoh, mengapa aku tidak mempercayai mas Aldi. Mengapa aku tidak cari tahu dulu kebenarannya.
Akhirnya aku dan mas Aldi bisa bersama, besok kami merencanakan segera menikah.
Sekarang aku, mas Aldi dan juga Rayhan akan hidup bersama dan bahagia selamanya. ❤❤❤