“Hi guys.. kalian kog tega-teganya ninggalin saya sendirian seh?” tanya Chalik sambil mendekat.
Keenam temannya tampak memandangi Chalik dengan keheranan. Dan akhirnya Weli berkata: “Maaf, apa kami seharusnya mengenal-mu?”
Raut muka Chalik yang semula berseri-seri, langsung memucat. Ia kelihatan bingung setengah mati dan syok bukan kepalang. ‘Apakah pengalaman mistis ini belum berakhir?’ batinnya nelangsa. Mulailah berseliweran berbagai spekulasi dalam pemikiran Chali, yang memang penikmat banyak cerita misteri di dunia NT/Novel-Toon.
Namun sekelebat kemudian, pikiran cerdasnya bekerja, kemungkinan teman-temannya sedang iseng dan ingin membalas keusilan-keusilan yang selama ini sering ia lakukan kepada mereka, lalu dengan ragu ia kembali berkata: “Hei.. cukup ya becandanya! Aku baru saja mengalami kejadian ajaib neh.. kalau mau aku ceritakan, cukup ya aktingnya!”
“Siapa seh kamu? Sok kenal sok dekat banged?” tanya seorang teman Chalik lainnya.
“He? Mengapa kamu tidak mengenali sahabatmu sendiri? Saya kan cuma sebentar terpisah dari kalian karena tertinggal di api biru kawah Ijen tadi?” kata Chalik lagi berusaha tetap bersabar dan berpikiran positif.
“Sahabat? Jangan ngaku-ngaku ya! Apa mungkin kami yang sudah sekian lama dijemur di terik matahari Jatinangor dan berpeluh sampai ke puncak gunung Ijen ini, bisa punya teman yang bening dan cantik jelita seperti kamu ini?” tanya seorang Praja lainnya.
“Apaan seh bening dan cantik jelita? Becanda juga jangan kelewatan deh guys.. nanti jatuhnya jadi fitnah dan menghina loh ini..” jawab Chalik dengan cemberut namun hatinya senang bukan kepalang dipuji begitu.
Tiba-tiba, seorang teman sewisma-nya mengeluarkan cermin bundar yang kecil dari saku-nya dan menunjukkannya ke depan wajah Chalik, yang tentu saja tidak percaya dengan pantulan sebentuk wajah yang tampak cantik, bersih, muda dan segar, yang sedang menatap balik dengan mulut terbuka, terkejut.
Ia pun menarik cermin tersebut dengan tangan kanannya. Mencoba melihat dengan lebih jelas, karena sinar mentari pagi belum lagi seterang yang diinginkannya. Lalu dengan tangan yang sebelahnya lagi ia meraba wajahnya. Jemarinya merasakan kulit yang mulus, kencang dan seperti tanpa noda. Ia terkesiap.
‘Apa yang telah terjadi? Dimana flek-flek hitam akibat paparan sinar matahari yang beberapa saat belakangan ini menghiasi wajahnya? Dimana jejak jerawat dan bekas luka di wajah-nya dulu?’ berbagai pertanyaan berkecamuk dalam kepala Chalik.
“Kamu memang aga mirip dengan teman kami Chalik, tapi tidak mungkin dia sebersih dan semenarik ini!” seru temannya sambil menarik kembali cerminnya.
“Ini aku Chalik girls.. entah apakah ini keajaiban lainnya? Ini mungkin karena nenek baik hati tadi..” ujar Chalik menghadap ke temannya tadi dengan wajah penuh senyum.
Terdorong rasa ingin tahu, teman-teman Chalik akhirnya mendengarkan kisah yang dituturkan Chalik secara terperinci.
Jelaslah keajaiban yang telah dialami Chalik merupakan suatu keberuntungan tersendiri. Mereka bersyukur Chalik tidak hanya bisa selamat dari marabahaya, namun juga bisa kembali kepada mereka dengan kondisi yang seakan terbarukan, menjadi Chalik dalam versi yang lebih cantik dan tentu saja lebih baik dari sebelumnya.
Selain rasa syukur, Weli, sang tuan rumah juga dihampiri perasaan lain. Rasa iri. Karena ia yang sudah berulang kali mendaki gunung ini, belum pernah mengalami hal tersebut. Panca indera pengelihatannya mulai menyesatkan saat ia memandang sesuatu yang bukan hak-nya, kemudian turun ke hati menjadi nafsu untuk memiliki pengalaman yang sama, tanpa sengaja berharap dirinya pun bisa mengalami pengalaman ajaib yang hampir sama.
Tiba-tiba saja, matanya sempat terpejam sesaat dan ketika ia membuka matanya, ia sudah berada di sisi pinggir kawah Ijen. Bau belerang yang menyengat sempat membuatnya sesak nafas, namun seseorang menyodorkan sebotol air mineral di depan wajahnya, seorang bapak tua penambang belerang tradisional kawah Ijen. Ia melihat 2 keranjang penuh berisi belerang seberat ± 70 kg di sisi si-bapak.
“Lungguh dhisik, nak, sawise ngombe banyu alon-alon!” katanya santai. (terjemahan: duduk dulu nak, setelah itu minum airnya perlahan!)
Bapak tadi sepertinya tidak terpengaruh oleh udara yang begitu dingin yang begitu mengganggu Weli. Dengan santainya si-bapak tadi melepas baju dan menyeka keringatnya.
Seperti yang Weli sudah ketahui, para penambang tradisional ini setiap hari memang harus melintasi medan yang begitu curam untuk dapat membawa beban belerang di bahu mereka. Selain jalur yang curam, selama perjalanan membawa belerang, mereka juga akan menghirup asap belerang.
Sejak dini hari, para penambang belerang mulai mendaki ke puncak Gunung Ijen yang memiliki ketinggian 2.443 meter. Hanya menggunakan senter di kepala, jaket tipis dan sarung tangan. Perjalanan ke puncak Gunung Ijen memakan waktu sekitar dua jam. Setelah sampai ke puncak, para penambang menuruni lereng yang terjal untuk menuju kawah Gunung Ijen, tempat mereka mengambil belerang.
Dalam sehari, para penambang ini bisa bolak-balik hingga 2 bahkan 3 kali dari kaki gunung ke puncak gunung, lalu turun ke kawah untuk mengambil belerang dan kembali naik ke puncak gunung dengan beban belerang dan akhirnya ke kaki gunung lagi, untuk menyetorkan belerang yang mereka bawa ke pengepul lokal. Tidak aneh bila saat melihat bahu dan badan mereka, akan terlihat bekas gosong yang nampak mengeras.
Selain itu, ratusan penambang belerang di kawah Gunung Ijen ini juga harus menempuh bahaya setiap hari dan bekerja tanpa perlindungan. Dari pagi hingga malam hari, mereka juga selalu terpapar asap belerang, yang membuat sebagian besar dari penambang tersebut terjangkit penyakit paru-paru atau gangguan pernafasan.
Pada pengalaman awal Weli mendaki dulu, ia pernah mendengar candaan salah satu penambang yang sedang diwawancarai, dengan tertawa ia berkata: "Kami ini tidak takut mati karena penyakit mas, kami cuma takut keluarga kami mati karena kelaparan."
***
“Ayo ngombe banyu nduk..” kata si-bapak lagi membuyarkan sekelumit kenangan lama dari pikiran Weli. (terjemahan = hayu diminum airnya nak..)
Weli mengikuti perintah si-bapak, ia segera duduk dan meminum air dalam botol tersebut dengan perlahan. Sambil mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi padanya.
Weli belum pernah sedekat ini dengan kawah Ijen. Ia selalu menuruti arahan untuk tidak terlalu dekat dengan kawah karena akan mengalami risiko menghirup asap beracun. Namun ia terpukau menatap keindahan perpaduan warna kehijauan dari dasar kawah dengan kuning terang belerang kering di sekitarnya.
Hembusan angin walau berbau belerang, terasa sejuk di kulit. Belaian angin semilir ditingkahi suara meletup dari dasar kawah, membuat hati waspada namun juga menenangkan. Apalagi sinar matahari masih terasa sejuk di kulitnya, rasanya tidak ingin ia beranjak dari tempatnya duduk.
“Nduk.. nduk.. aja ngalamun!” seruan si-bapak kembali membuyarkan lamunannya. (terjemahan = nak.. nak.. jangan melamun!)
Ketika ia menoleh, si-bapak berkata lirih: “Rasa iri, bila sudah merajai hati, akan membuat kita lupa akan rasa syukur. Kalau kamu mau lihat ke atas, bukan untuk iri kepada mereka yang mendapatkan lebih, tetapi arahkan pandanganmu kepada luasnya angkasa dan rasakan kebesaran Tuhan. Basuhlah panca indra-mu agar selalu sejuk di hati..”
Weli memandang ke angkasa dan akhirnya menundukkan kepalanya karena rasa malu yang tiba-tiba memenuhi hati-nya. Lalu tanpa sadar ia memejamkan matanya dan seketika itu juga ia kembali ke tengah teman-temannya di puncak gunung Ijen lagi.
Dengan botol mineral yang masih ada dalam genggamannya, Weli merasakan penyesalan, yang seumur hidup ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Menyesal karena sempat merasa iri kepada temannya sendiri.
***