Jika Tuhan mengizinkanku untuk membeli sebuah keajaiban dalam hidup, maka aku akan membeli kesempatan untuk terus memiliki memori tentang hari pernikahan kita setiap tahunnya.
Fukuoka, 15 April 2010
Arianna Maylani
***
Arianna tidak pernah menyangka jika Tuhan akan mengambil bagian kecil dari anugerah yang ada pada dirinya. Dia tidak pernah menyangka, kehilangan kepingan kecil itu akan merubah total seluruh hidupnya.
Arianna mengedarkan pandangan sekeliling ruang tamu yang tidak begitu luas, memilah satu demi satu kumpulan kotak yang masih terbungkus rapi. Wajahnya kebingungan dan sesekali terdengar gumaman kesal dari bibir mungilnya.
“Ada apa, [1] Hime?” Fujisaki Ryu menyembulkan kepala dari pintu dapur.
“Aku heran. Padahal aku yakin kalau aku sudah menurunkannya dari truk barang. Tapi dimana dia?” gerutu Arianna sembari menggaruk kepalanya gusar.
“Sebenarnya apa yang kamu cari, Honey?” tanya Ryu melangkah ke ruang tamu yang berantakan. Tangannya masih menggenggam spatula serta celemek merah muda membungkus tubuh bidangnya.
“Foto pernikahan kita, Hubby,” ujar Arianna dengan wajah kesal. Ryu mengerutkan kening. Matanya beralih ke tangan kanan istrinya. Arianna menyadari arah pandang suaminya dan mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
Wanita berambut hitam sebahu itu langsung menghela napas panjang. Dia mengempaskan tubuhnya di sebuah sofa tunggal.
“Apa yang kamu pikirkan, Honey Wife?” tanya Ryu sembari mendekat dan berlutut di hadapan istri yang baru diresmikan selama dua minggu. Perlahan dia menyingkirkan pigura di tangan Arianna ke atas meja, menggenggam mesra dua tangan sang istri lalu mengecupnya satu persatu dengan lembut dan penuh cinta.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Mungkin hanya karena lelah. Kita baru pulang dari bulan madu lalu langsung pindah apartemen. Aku hanya perlu istirahat saja,” ujar Arianna menenangkan kekhawatiran suaminya.
“Istirahlah. Aku akan menyiapkan makan siang segera. Kita akan merapikannya bersama-sama sebelum ke festival [2] Hanami besok.” Arianna langsung melebarkan senyum Bahagia mendengar ucapan suaminya.
Fujisaki Ryu adalah pria yang begitu berharga dalam hidupnya setelah ayahnya. Kisah cinta mereka selama tiga tahun begitu mulus dan indah hingga membuat iri teman-teman mereka. Sebagai seorang mahasiswa program beasiswa post-graduate yang hidup sendiri di negara asing, Arianna menemukan seorang Ryu yang begitu hangat sehangat angin musim semi negeri Sakura tersebut. Ryu menjadi sandarannya di kala mengalami kesulitan dan kesedihan berjauhan dengan keluarganya di Indonesia.
Waktu berlalu melewati setiap pergantian musim. Arianna pun merasakan perubahan pada dirinya. Bukan hanya tubuhnya yang kian melemah tetapi juga seolah ada potongan ingatannya yang menghilang setiap hari. Di satu waktu dia seperti tidak mengenal dirinya lagi atau orang di sekelilingnya.
Hingga suatu hari dia terbangun di atas sebuah ranjang rumah sakit setelah jatuh pingsan ketika sedang rapat dengan editor novelnya.
“Apa yang terjadi padaku?” tanya Arianna menatap raut cemas sang suami yang setia menunggui.
“Apakah kamu tidak ingat, Honey? Kamu pingsan di ruang kerja editor Tanaka,” jawab Ryu. Pria itu mengelus sisi wajah istrinya penuh kasih. “Kamu sakit tapi kamu tidak pernah mengatakannya padaku.”
“Sebenarnya aku sakit apa?” tanya Arianna. Ryu menatap manik mata istrinya yang semakin sayu. Matanya berkaca-kaca mendapati kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Apakah kekasih hatinya akan bisa menerima kenyataan tatkala mengetahui bahwa satu persatu memorinya menghilang perlahan?
“Mari kita temui dokter. Aku ingin kamu mendengarnya sendiri. Yang perlu kamu ingat, apapun yang akan dikatakan dokter nantinya, aku akan tetap ada di sampingmu, Honey Wife,” ujar Ryu meyakinkan istrinya. Dia berharap Arianna akan tegar mendengar apapun yang akan disampaikan dokter nantinya.
“Berdasarkan data medis kami, Nyonya Fujisaki pernah memeriksakan diri empat tahun yang lalu dan hasil pemeriksaan menyatakan ada gejala Demensia Alzheimer tahap awal. Ini ada hubungannya dengan faktor genetik. Tidak adanya penanganan awal yang serius dan sebab pengaruh beberapa faktor lain, maka bisa dipastikan kondisi Nyonya memburuk dengan cepat. Perlahan kondisi memori Nyonya akan menurun menyebabkan ingatan secara perlahan menghilang dimulai dari memori terbaru. Hal ini tidak bisa dihindari. Mulai sekarang Nyonya Fujisaki sangat membutuhkan dukungan dari keluarga untuk bisa bertahan.”
Ucapan sang dokter ibarat ledakan bom di atas kepalanya, membuatnya linglung dan kehilangan arah. Kenyataan itu menyakitkan dan langsung memukul mentalnya.
Arianna tergugu dalam pelukan Ryu. Di saat dia sedang menikmati manisnya madu pernikahan bersama kekasih hatinya, penyakit mengerikan itu mulai merenggut setiap ingatannya sedikit demi sedikit. Mengikis setiap kenangan indah dalam hidupnya satu demi satu.
Arianna sadar suatu saat dia akan melupakan Ryu, pertemuan pertama dengan pria Jepang itu, hari dia melamarnya di bawah mekarnya bunga Sakura, serta hari mereka mengikat janji pernikahan untuk saling setia dan mencintai seumur hidup.
“Apa yang kamu pikirkan, Honey Wife?” tanya Ryu pada Arianna yang tak berkedip menatap butiran salju yang sedang turun di luar jendela. Pria itu menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal. Sebuah kecupan lembut dilabuhkan pada puncak kepala sang istri.
“Ingatanku seperti salju yang berjatuhan itu. Saat musim semi tiba dia akan menguap dan menghilang perlahan tanpa bekas,” lirih Arianna tanpa melepaskan pandangannya dari salju yang kian memutih di halaman. Ryu langsung merengkuh tubuh sang istri yang mulai kehilangan bobotnya.
“Bagiku kamu adalah kelopak sakura yang akan selalu mekar di hatiku. Cerah dan indah membuat jantungku selalu berdebar saat menatapmu. Kamu adalah angin musin semi yang selalu menghangatkan diriku yang baru saja melalui musim dingin,” cetus Ryu sambil mengusap lembut wajah Arianna yang seputih kertas.
Arianna menatap manik pekat Ryu lamat-lamat.
“Aku takut, Hubby. Aku takut- aku tidak bisa mengingatmu lagi. Aku akan lupa semua kebaikan dan kasih sayangmu bahkan lupa dengan hari pernikahan kita,” bisik Arianna sendu. Perlahan bulir-bulir bening luruh dari kedua mata yang berbalur keputusasaan milik Arianna.
“Meskipun kamu melupakanku, aku akan berusaha membuatmu mengingatku. Aku tidak akan lelah mengatakan bahwa aku adalah suamimu dan kamu adalah kekasihku. Aku akan menuntunmu ke altar pada hari peringatan pernikahan kita setiap tahunnya. I promise to you my love,” balas Ryu dengan raut penuh tekad.
Air mata Arianna kian deras membasahi kedua sisi wajahnya. Dengan kedua tangan ringkih dia menangkup wajah sang suami, menyusuri setiap inci wajah tampan dengan hidung mungil dan mata sipit itu. Dia berusaha mematrinya erat dalam memori yang entah kapan akan menghilang juga. Sebisa mungkin dia akan menjaganya.
Kelopak sakura perlahan berguguran meninggalkan ranting-ranting yang dingin dan kesepian diterpa hujan musim panas, belaian udara musim gugur, serta bias salju musim dingin. Entah sudah berapa musim semi datang dan pergi, tetapi ingatan Arianna yang pergi tak bisa kembali lagi.
Ryu terus mendampinginya dengan sabar dan penuh kasih. Pria itu membuktikan janjinya untuk Arianna. Setiap hari peringatan pernikahan mereka, dia akan melamar sang istri untuk mengingatkan salah satu momen paling indah dalam hidup mereka.
Arianna duduk tenang di sebuah bangku taman di bawah kelopak sakura yang sedang bermekaran. Angin pagi sepoi-sepoi menyapa tubuh ringkihnya yang terbungkus sebuah gaun sewarna sakura serta baju hangat tebal berwarna seputih salju. Rambut panjang membingkai wajahnya yang kian tirus juga memucat.
Dari kejauhan Ryu menghampirinya dengan sebuket besar bunga lili dan anyelir putih. Ketika tiba di depan Arianna yang menatapnya dengan raut linglung, pria dalam balutan setelah putih lengkap itu langsung berlutut dan menyerahkan buket di tangannya. Arianna menerima buket tersebut dengan senyum bahagia.
“Cintaku Arianna Maylani, di tempat ini pertama kali kita bertemu dan di sini pula kita akan mengulang semua kisah indah kita. Kita telah menjalani lamaran dan pernikahan untuk kesekian kali. Saat ini, maukah kamu menerima lamaranku lagi? Will you marry me again and again in every our life time?” ucap Ryu dengan wajah serius sembari menyodorkan cincin pernikahan yang telah digunakan Arianna selama sepuluh tahun. Arianna mengangguk kemudian menyodorkan tangan kanannya.
Sorak sorai terdengar di belakang Ryu. Mereka adalah keluarga Ryu, keluarga Arianna, dan teman-teman mereka berdua yang datang mendukung acara lamaran tersebut dengan berbagai spanduk dan balon. Sepasang anak kembar mereka menghampiri dan memegang tangan sang ibu. Air mata bahagia kembali mengembang di manik mata Arianna.
Ingatan lama pergi sekeping demi sekeping. Namun orang-orang yang mencintai dan menyayangi Arianna menghadiahkan keping ingatan baru yang penuh kebahagiaan. Seperti bunga sakura yang gugur dan menghilang, dia akan kembali bersemi dan menciptakan senyuman orang-orang yang senantiasa menantikannya.
******
Catatan:
[1] sebutan putri dalam bahasa Jepang.
[2] festival saat bunga sakura bermekaran. Biasanya diadakan saat puncak musim semi pada bulan Maret dan April.