Pesta pernikahan mereka sungguh megah dengan tamunya yang silih berganti, nampaknya bahagia sekali. Astaga, malam pernikahan sang mantan pacar aku hamil, batin Sheila bermonolog pada dirinya sendiri. Dia mengambil minuman sudah dua kalinya di baki pelayan yang berlalu lalang melayani tamu. Entah jenis minuman apa dia tidak memperhatikan hal itu. "Dia masih ingat dengan jelas perkataannya ibu Daniel Mananta, "Keluarga Mananta Keluarga terhormat bagaimana bisa dia asal usul nya tidak jelas menjadi menantu kita. Dia tidak sederajat dengan kita." Kata-kata itu dilontarkan oleh ibunya pada saat dia berpamitan ke toilet. Karena alasan itu ia sudah menghindari Daniel semenjak hari itu juga dengan alasan pekerjaan.
Siapa sangka sang kekasih memang lelaki type orang brengsek, menyesal memberikan malam pertama padanya sebagai bukti cintanya. Matanya menatap nyalang ke arah panggung. Ingin dia membuat keonaran di pestanya, namun dia apa daya? Orang miskin ya miskin, itu kata wanita itu. Karena kepalanya pusing Sheila meninggalkan tempat itu, ia juga lupa jalan mana yang harus dilalui karena rasa pusing yang menderanya.
Di depan pintu lift ia melihat sepasang laki-laki dan perempuan berdebat entah tentang apa, timbul niat oseng Sheila karena ia juga kesal dan dendamnya pada laki-laki dan perempuan mungkin ia akan bertindak sebagai pelakor saja pikiran Sheila yang tersulut emosi karena sudah dicampakkan.
"Sayang kamu disini rupanya?" Cup...Cup... Sheila meringsek diantaranya mereka lalu merangkul lengannya dan menciumi bibirnya. Lelaki itu sedikit terkejut namun dapat menguasai keadaan dan membalasnya." Maaf, Natasha. Aku harus pergi", Lelaki itu merangkul pinggang Sheila masuk ke dalam liftnya begitu pintunya terbuka. Sheila bermaksud membebaskan dirinya disaat pintu lift tertutup. Namun ia tetap kalah kekuatan, bahkan lelaki itu mengampit pinggang nya erat-erat Kedinding liftnya. Mencumbui bibirnya hingga ke ceruk lehernya. Dan meninggalkan beberapa kiss mark. "Lepaskan, brengsek!" Makinya dengan memukuli dadanya, lengannya menarik kedua tangannya dan masih enggan melepaskan ciumannya. Begitu pintu lift terbuka ditariknya Sheila ke sebuah kamar. Sekali sentakan dia didorong ke ranjang besar dengan secepat kilat lelaki itu membuka bajunya. Dan mulailah bergerak diatasnya. Sheila yang awalnya memberontak terhadap sikapnya lama-lama terhanyut dalam permainannya. Mulailah mereka bercinta dengan penuh nafsu bergelora. Lelaki itu mengambil kendali dan berulangkali mencumbui hingga pelepasan yang entah sudah berapa kali. Ditengah aktivitas berulangkali ia berteriak kenikmatan. Sheila juga hanya bisa pasrah dan mendesah nikmat. Setelah selesai Sheila merasa tidak nyaman dengan organ intim kewanitaan seperti ada sesuatu yang keluar deras, diiringi rasa nyeri bukan hanya datang dari itu juga namun berasal dari perutnya. Dia mencoba bangkit dari kasur sambil meringis menahan nyerinya. Di bukanya selimut, matanya menatap darah keluar dari sela-sela organ intim nya. Shock. Bersamaan. lelaki itu keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang. "Ada apa?" tanyanya. Sheila hanya menatapnya dengan bingung. Matanya terbelalak melihat Sheila yang bersimbah darah menetes keluar dari sana. Dia meraih gawai dan menelepon seseorang sebanyak dua kali. Bergegas memakai pakaian lalu menyelimuti Sheila dan mengangkat tubuhnya ala bridal style. Dia bahkan tak memperdulikan penampilan mereka.
Di rumah sakit dia dengan cemas menunggu di ruang tunggu IGD. Muncul seorang dokter lelaki dengan wajahnya penuh emosi menghampiri. Bug..Bug..Tinjuan berkali-kali ditujukan pada nya. "Apa yang sudah kamu lakukan Adnan Januzaj dia hamil dan hampir keguguran!" raungan si dokter brutal itu masih memukuli Adnan Januzaj. Lelaki itu shock mendengar perkataan nya. Hamil? Itulah dipikirkannya. Teman kencannya semalam sedang hamil. Kericuhan itu dipisahkan petugas medis lainnya. Setelah tenang mereka duduk dilobi IGD. "Siapa dia? Berapa lama kalian berkencan?" Tanya dokter Benard Januzaj. Yang tak lain adalah kakak kandungnya Adnan Januzaj. "Maaf, aku tidak. berhati-hati, dia belum mengatakan apapun." cicitnya. Tak lama muncullah sepasang suami istri "Apa yang kamu lakukan anak nakal!" sebuah pukulan keras mendarat di mukanya disaat Adnan Januzaj sehingga ia terjatuh terduduk di bangku menyusulnya serangan pukulan tas dari sang istri,"Dasar anak nakal. Bisa-bisanya kami hamili anak orang lalu kau buat dia sekarat!" makinya penuh emosi. "Mom tenanglah. Dia sudah dapat diselamatkan kita tunggu saja hasilnya. Dia masih pingsan." Benard Januzaj mencoba memisahkan.
Mereka menuju ruangan VVIP tempat Sheila dirawat. Disana ia didampingi seorang dokter wanita dan perawat. "Bagaimana dengan keadaannya?" tanya momy Evelyn.
"Dia pingsan karena hampir kehilangan banyak darah dan juga bius. Kita tunggu saja mom." Jawab Reina. Sang perawat mengundurkan diri. Tinggallah mereka di ruangan tersebut menunggunya siuman.
Matanya Sheila mengerjap-ngerjap melihat sekelilingnya. Bingung. Ingatan terakhirnya adalah di hotel bersamanya. Adnan Januzaj duduk di sampingnya dengan mukanya babak belur dipukuli. "Dia sudah sadar? Sayang apa yang kamu rasakan?" momy Evelyn menyapanya. Bernard dan Reina mendekat dan memeriksa Sheila. Adnan Januzaj mundur memberikan tempatnya. "Akan ku pastikan kalian menikah. Dan jangan takut padanya." Kata Robert Januzaj tegas.
"Anak itu hanya bisanya bermain wanita, jangan takut padanya sayang. Dia layak diperlakukan seperti itu!" mom Evelyn ikut berbicara. Sheila menatap sendu ke arah Adnan.
"Perkiraan kandungannya baru tiga Minggu." Kata Reina. "Berapa lama kalian berpacaran?" cecar mom Evelyn.
"Dia bukan ayahnya. Terimakasih sudah menolong." Sheila mengerjap-ngerjap air matanya diujung matanya menetes.
"Jangan takut padanya?' Sahut Robert.
"Ayahnya lelaki pengecut dan orang tua nya gila harta. Dia ... Bukanlah ayahnya. Dia yang menolong saja. Terimakasih." Terangnya, Sheila menangis karena tak sanggup lagi menahan rasa sakit hatinya."Saya hanya orang miskin dan yatim piatu, tidak layak menjadi pasangan orang kaya." Jeritnya. Adnan Januzaj maju langsung memeluk nya erat-erat dan menciumi puncaknya. Mereka terdiam sejenak saling menatap. Kemudian mereka keluar dari kamarnya.
Keesokannya semua berkumpul di kantin rumah sakit. "Dia jujur sayang. Aku sudah menyelidikinya. Dia tidak memiliki siapapun." Jelas Robert.
"Gadis malang. Dan bertemu dengan pria yang tidak tepat." Sahut Bernard.
"Aku akan menikahi nya Daddy. Bolehkah?" Tanya Adnan Januzaj.
"Kamu yakin pada keputusan ini?" Tanya momy Evelyn.
"Ya momy. Aku sudah jenuh dengan rutinitas ku itu juga wanita-wanita yang palsu." Jawabnya.
"Jangan kau sakiti dia, jujurlah jika suatu saat kau.." Belum selesai mom Evelyn bicara di sela Adnan.
"Aku pasti jujur mom. Aku janji". Kata Adnan Januzaj tegas. Mereka sepakat lalu mereka menuju ke ruangan Sheila. Sheila baru selesai mandi dibantu perawat. "Sayang, bagaimana keadaanmu?' Tanya Mom Evelyn.
" Baik Nyonya. Terimakasih." jawab Sheila sopan.
"Momy Evelyn. Sebentar lagi kamu kan jadi anak menantu aku." Jawabnya antusias. Sheila melongo mendengar kalimatnya. Sheila menatap ke arahnya Adnan Januzaj, lelaki itu meminta dengan cara mengangguk samar. Sheila bingung tak tahu apa yang akan dikatakan. " Setelah kalian menikah, kamu jangan kerja, tugasmu menemani aku shopping dan ngabisin. uang mereka berdua. Janganlah kamu menatapku seperti itu! Dan kamu tidak perlu lagi bekerja.!" titah mom Evelyn. Dan singkat cerita mereka menikah, Sheila meminta hanya menikah di catatan sipil, untuk pesta bisa diadakan lain waktu, sebentar ia hanya mengulur waktu. Sheila berteman dengan Natasha teman berbagi apartemen, mereka membeli apartemen ini berdua. Natasha memang gadis modern, dan penganut dunia bebas, sedangkan pagi hingga siang dia bekerja di perusahaan properti sebagai tenaga pemasaran. Mereka bertemu di tempat kost lamanya. Kemudian mereka berteman, lalu memutuskan untuk membeli apartemen bersama. Namun Natasha tidak pernah membawa teman kencannya ke apartemen, dia sendiri yang menginap di tempat teman kencannya. Sehingga Sheila aman dari lelaki yang tidak benar.
Sheila masih nekat bekerja karena ia tidak berangkat dua hari tampa keterangan ia mendapat SP dari HRD. Toh dia akan mengundurkan diri setelah beberapa bulan lagi. Pernikahan Sheila dan Adnan diadakan sederhana di halaman belakang mansion. Mereka mengambil akhir pekan untuk prosesi pernikahan itu. Bertema garden dihadiri oleh orang terdekat di keluarga tersebut. Sheila sendiri tidak begitu yakin bahwa dia akan dinikahi pria kaya. Di sinilah dia didalam kamarnya bernuansa biru laut, Kamar pengantin dihiasi dengan berbagai kelopak bunga di kasurnya dan bunga-bunga segar lainnya di ruangan. Sheila memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia langsung menyisir rambutnya dan duduk di sofa panjangnya. Adnan berdiri di balkon menatap ke arah sisa-sisa pesta tadi pagi. Sepintas dia melihat istrinya duduk di sofa ia pun menghampiri. "Sayang." Sapaan akrabnya Sheila masih belum terbiasa karenanya. Adnan duduk merapatkan tubuhnya ke Sheila, wanita cantik itu hanya tersenyum menanggapi Adnan. "Kata Bernard kita masih bisa melakukan itu jika pelan-pelan." Bisiknya. Sheila malu dibuatnya. Adnan Januzaj sang casanova sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia pun sudah memulai percintaan panas mereka. Dan Adnan benar-benar melakukan hubungan seks dengan irama pelan.
Dan aktivitas seperti biasa, Sheila masih dapat bekerja di perusahaan itu, ia masih bertemu dengan sang mantan pacarnya.
Lelaki itu mengambil keputusan menikah dengan anak pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Ia sudah mengenal sisi baik atau buruknya calon istrinya itu. walaupun sebenarnya dia masih sangat mencintai Sheila, namun apa boleh buat ibunya tidak menyukainya. Lelaki itu merasa bersalah saat mereka berpapasan Sheila enggan menatap atau menegur dia. Sheila sendiri memilih menghindar dari Daniel Mananta, walaupun. ia tahu lelaki itu ingin mencoba berkomunikasi namun ia tidak akan pernah memberikan kesempatan. Adnan selalu mengantar dan menjemput Sheila bekerja. Sheila memintanya parkir mobil selisih dua gedung dari gedung perusahaan. Ia tidak ingin rekan-rekannya mengetahui tentang dirinya. Dan Daniel Mananta mengetahui itu, dan jenisnya mobil jemputan Sheila adalah mobil mewah. Daniel Mananta menduga yang tidak-tidak tentang apa yang dilihatnya setiap hari nya . Sheila mengetahui jika Daniel Mananta mengikutinya secara diam-diam namun ia tidak pernah mempedulikannya.
Weekend yang ditunggu-tunggu sang momy datang. Disinilah mereka di Mall. ternama setelah dari salon dan apa mereka berbelanja berduaan. Seperti ibu dan anak. Momy Evelyn sedang menerima telepon saat itu, Sheila ditinggalkan dibutik. Sheila yang jenuh, dengan enggan ia memilih pakaian-pakaian. "Sedang apa kamu disini? Wanita seperti kamu apa mampu membelinya. Atau mungkin kamu berminat mencuri?" suara melengking tak bersahabat itu milik ibunya Daniel. Dia berdiri dengan tegak dan sombong tidak ia menatap sinis.
Tak lama seorang pramuniaga datang dengan tas paper bag sebanyak sepuluh buah. Dan ia juga mengembalikan black card. Ibu Daniel Mananta melongo tak percaya apa yang dilihatnya.
"Permisi Nyonya. Saya mau melihat-lihat butik lainnya". Sheila pun berlalu keluar dari butik itu dan menghampiri ibu mertuanya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat-tempat yang mereka sukai. Waktu berlalu dan perutnya Sheila terlihat membuncit. Saat ini dia ditemani Adnan memeriksakan kandungannya. Mereka duduk di sudut ruang tunggu pasien. Ujung matanya Sheila melihat Daniel dan istrinya. Sheila memeluk lengan kekarnya Adnan. Dan itu dilihat Daniel Mananta sedangkan Istrinya membulat matanya melihat Adnan Januzaj bersama seorang wanita di bagian poly kandungan.
"Tuan Adnan Januzaj?" Sapa istri Daniel.
"Maaf, siapa anda? " tanyanya.
"Saya Esmeralda Garfield, putri pertama Andrew Garfield?" jawabnya bersemangat.
"Oh, kakaknya Tania Garfield?" Adnan Januzaj menanggapinya malas.
"Maafkan, ini..?"
"Istriku, kami menikah secara sederhana. Hanya keluarga saja. Dan istriku sangat sederhana. Dan sedang manja karena si kecil di dalam perut." Sahut Adnan Januzaj seraya mencium bibir Sheila. Daniel Mananta terkejut, jadi mobil-mobil mewah itu miliknya. Dan lelaki tua itu sopirnya. Dia bukan menjual diri namun seorang Nyonya besar? Batinnya bermonolog pada dirinya sendiri.
Sedangkan Esmeralda Garfield ternganga tidak mempercayai hal di depannya ini. Dia mengetahui wanita ini mantan pacar suaminya. Dia berpura-pura asing dan tidak mengetahui tentang itu. Dasar liciknya perempuan kecil itu. Ia pandai memikatnya dasar wanita xxxx, makinya dalam hati. Emosi.
Sheila mengacuhkan semua orang di depannya ia asyik mengusap-usap perutnya Adnan Januzaj dan kepalanya menyender di lengannya yang kekar. Hingga akhirnya panggilan untuk mereka. Adnan Januzaj memohon permisi karena sudah giliran mereka masuk.
Dari sinilah Adnan Januzaj mengetahui jika Esmeralda Garfield bermasalah dengan kandungan dia. Tuhan mah mengetahui dan adik atas semua perbuatan yang mereka lakukan.
Sesudah pemeriksaan kandungan Adnan Januzaj tidak langsung membawa Sheila pulang ke rumah, melainkan mereka pergi ke hotel terdekat dan mengajak Sheila bercinta disana. Sheila hanya mengikuti semua permintaan suaminya yang dianggap aneh. Adnan Januzaj langsung mengajak Sheila bercinta begitu mereka masuk ke dalam kamar yang mereka sewa. Seusai pergumulan panasnya mereka berpelukan di ranjang hanya berselimut kain tebal. Tampa berpakaian. "Aku sudah mengundurkan diri, dan mereka tidak keberatan. Minggu ini hari terakhir aku, Senin besuk aku resmi Nyonya Januzaj yang pekerjaannya hanya menunggu kamu pulang sayang." kata Sheila dengan memainkan jemarinya di dadanya Adnan Januzaj. Lelaki itu menyeringai dan mengecup bibir Sheila. "Terimakasih, mulai sekarang jadilah istri penurut dan manis di rumah. Jika kesepian kamu dan mama dapat bermain bersama". "Tentu sayang. Aku akan lakukan itu." Jawab Sheila seraya mengecup bibirnya Adnan Januzaj. Dan mereka pun memulai percintaan lagi.