Ya..dimalam pernikahan mantan pacarku, aku hamil..menurutmu Q tdak bersedih..?! Q bingung , dan takut. Hal pertama yang aku pikirkan apakah aku mampu menjadi orang tua tunggal? sedangkan aku hanya gadis miskin tanpa sanak saudara. Tepat 2minggu yang lalu Dion kekasihku menemuiku..
" sania..maafkan aku..!" itulah kata pertama yang dia ucapkan tdak seperti biasanya. Aku bingung kenapa Dion terlihat seolah prustasi.
" sayang...kenapa ? apa yang perlu dimaaafkan? " tanyaku mencairkan suasana.
" san.. kedua orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kita.." jelasnya sambil menggenggam tanganku dan matanya mulai memerah menahan air mata. aku terkejut namun sedari awal kami berhubungan sudah ku kuatkan mental dan hatiku karena status kami yang berbeda.
" sayang.. bukankah kita sudah tahu dari awal bahwa memang semuanya belum tentu berhasil.." aku coba menguatkan hatinya dan juga hatiku jga sambil membelai tangannya.
" Tapi.. bukan secepat ini. Q sdah berusaha menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu. Bahwa aku sangat mencintaimu dan menerima semua kekuranganmu. " jelasnya lagi
" Hei.. sayangku..kekasihku..cintaku..aku tau betapa kamu mencintaiku dan tahu betapa banyak pengorbanan yang kamu telah lakukan." mataku mulai sembab menahan gemuruh rasa di dada, karena walaupun aku mencoba tegar tapi hatiku tetap merasa kecewa dengan keadaan ini.
" sania..cintaku.. .." ucapnya terpotong karena tak sanggup melanjutkan..
" san...kedua orang tuaku telah menetapkan pernikahanku dengan anak sahabatny 2 minggu lagi..." lanjut dion seraya menarikku dalam pelukannya. tak kusangka lelaki yang selalu terlihat cool itu bisa menangis dihadapanku. Aku pun ikut menangis.
" Yon.. sayang...demi kebahagiaan dan keutuhan keluargamu..aku ikhlas melepaskanmu.." bisikku dalam dekapannya
" san..maafkan aku.. ?!" kembali berkata dengan suara bergetar..." san..kamu tau aku sangat mencintaimu..aku takkan sanggup hidup tanpa dirimu. sayang..aku mohon bertahanlah aku mencoba yang terbaik demi masa depan cinta kita." pinta dion lalu mencium keningku.
" Dion..sayang..kamu punya orang tua maka berbaktilah selama mereka masih ada, jangan kecewakan mereka. walaupun kita putus..tpi percayalah..hati dan cintaku hanya untukmu. " itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan saat pertemuan itu lalu kami sepakat untuk mengakhiri hubungan tali kasih yang telah terajut hampir 2 tahun.
***
Malam nanti adalah malam pernikahan dion mantan kekasihku, rasanya aku ingin menangis dan berteriak mengapa takdir begitu kejam kepadaku. orang yang paling aku cintai dan mencintaiku namun tak bisa ku miliki. Beberapa hari ini entah kenapa tubuhku sering merasa kelelahan, pusing , mual dan tak enak badan. Mungkin karna aku terlalu memikirkan dion hingga membuat nafsu makanku berkurang. Tak berselang lama pusing ini semakin tak tertahankan , pandanganku mulai kabur..lalu....bruukkk..
" san..sania..sania..! " teriak risa teman satu kost sekaligus rekan kerja satu perusahaan sambil menepuk kedua pipiku..
Beberapa waktu kemudian aku tersadar sudah berada di klinik terdekat.
" san..loe sudah sadar...?!" tanya risa meminta kepastian.
" iya..ris.." jawabku sambil memijat kepalaku yang masih terasa pening. " og aku ada di sini sich ris..? kamu yang bawa aku ke klinik? " tanyaku kembali meminta penjelasan..
" iya.. gue minta anter pak kiman...habis kamu sudah ditepuk- tepuk sampai pipimu merah nggak bangun- bangun. aku khan jadi takut san.." jelas risa
" kalo boleh tau aku kenapa ris...? apa yang dokter bilang? cuma masuk angin aja atau maagku kambuh lagi? " tanyaku memberondong risa.
"...ehmmmm..." risa terlihat bingung untuk menjawab pertanyaanku.
" kenapa ris? " tanyaku kembali penasaran tentang kondisiku.
"...ehm..maaf kalau boleh tau kapan kamu terakhir haid? " tanya risa agak canggung..
"..ma..maksud kamu..aku ...aku ..." tak mampu aku melanjutkan kata kataku..karena aku tahu maksud risa sebagai perempuan dewasa dan pernah melakukannya.
" san..itu anak dion?" tanya risa lagi memastikan tebakannya. Lalu ku jawab dengan anggukan.
" iya ris..aku tak menyangka..kenapa seperti ini ris...?" tangisku pecah...risa mendekapku dalam pelukannya.
" kamu minta dion untuk bertanggung jawab...ini anaknya juga" risa mencoba menenangkan aku..ku lepas pelukkannya dan menggeleng pelan..
" tak mungkin ris.. meskipun ini anak kami dan dia mungkin mengakuinya, namun kami juga nggak bisa bersama..." jelasku padanya..
" kenapa? ini anak kamu dan dia...kalian berdua yang berbuat..maka kalian juga yang bertanggung jawab. jangan mau enaknya sendiri. Dan setauku dion sangat mencintaimu.." risa yang penasaran kenapa aku tak mau memberi tau tentang kondisiku kepada dion.
" Dion memang mencintaiku ris..dan kamu juga tau kami saling mencintai..tapi ada beberapa hal yang kamu belum tau..." jelasku lagi..
" maksud kamu apa? coba jelaskan apa yang belum aku ketahui?!.kamu selalu cerita tentang hubungan kamu dan dion.."
" ada yang belum kamu ketahui.. dion anak orang kaya..dia anak ketiga dari pemilik perusahaan
dimana kita bekerja ris. Dan kedua orang tuanya menentang hubungan kami karna kamu tau sendirikan gimana keadaanku..?!" aku mencoba menjelaskan kenapa aku tal bisa meminta pertanggungjawaban dion atas keadaanku.Karna menurutku itu akan menyulut perdebatan yang ada ujungnya bagi dion dan keluaga besarnya.
" apaa...?" risa menutup mulutnya dengan tangan seolah tak percaya dion yang terlihat pendiam dan tampil sederhana adalah salah satu anak konglomerat.
Tak selang lama dokter datang dan menjelaskan tentang kondisiku dan jga janin dalam kandunganku. Setelah itu aku baru tau usia kandunganku menginjak 3 bulan. kami lalu nenyelesaikan administrasi dan bergegas kembali ke kost. Setelah sampai di kost aku cerita semua yang belum sempat aku ceritakan ke Risa tak terkecuali malam ini dia akan melangsungkan pernikahan. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke kota tempat kelahiranku dan mrmbesarkan buah cintaku dan dion. Risa sempat tak setuju dengan ideku, karena di kota itu aku sudah tak punya sanak saudara, Risa khawatir dengan keadaanki nanti.
" San...kamu serius mau kembali malam ini? Kenapa g besok saja..?! " risa mencoba menghentikan keinginanku.
" Ris..akan lebih mudah bagiku untuk menjalani waktu di kotaku daripada disini. yang ada aku akan sering bertemu dion dan mengganggu kehidupan barunya. " jelasku panjang lebar.
***
Empat Tahun berlalu, setelah tiba di kota kelahiranku ku coba menghapus jejakku dengan membuang kartu lama dan mengganti kartu baru.
Dan sekarang inilah aku tinggal berdua dengan anak semata wayangku SANDI PRATAMA yang berusia hampir 4 tahun. Selama aku tinggal dikota A aku belajar menjahit dan mencoba menggambar design., dan bersyukurnya aku di terima kerja di bridal. Bagiku gajinya cukup untuk menghidupi kebutuhan harianku dan sandi anakku. Pagi ini aku mendapat tugas dari atasanku untuk ikut seminar dikota B. Senang karena dapat menambah ilmu dan rekan yang seprofesi. Namun jga terkejut karena aku akan kembali kekota dimana kenangan terindah itu ada.
" san..kamu sudah ready? " tanya silvi rekan seniorkù yang juga akan berangkat bersamaku.
" ok..aku siap kak..! " Jawabku pasti. Tak lupa kubawa anakku yang ganteng. itupun dengan seijin Bu Bos..selama tidak mengganggu kinerjaku maka sandi boleh kubawa kemana-mana.
Setiba dikota B kami langsung menuju hotel tempat diadakan seminar. Setelah cek in kami istirahat karna acara masih diadakan sore. Aku menyempatkan berjalan- jalan menyusuri tempat kenangan aku dan dion. Namun aku tak sengaja melihat dion sedang duduk di taman tempat biasa kami bertemu dulu. Tepat saat dion akan beranjak tatapan kami bertemu..aku terpaku dalam diam melihat wajah yang selalu kurindukan. Dion berjalan perlahan mendekatiku dan memelukku. Entah kenapa akupun terbawa suasana..namun segera kutepis karna setahuku dion sudah menikah dan itu tak pantas bagi kami.
" Sania..kamukah itu.. ? kemana kamu selama ini..? tak tahukah..aku selalu memcarimu..?! bukankah aku pernah berkata.. cobalah bertahan aku mencoba yang terbaik demi cinta kita.?" dion mecerca banyak pertanyaan namun aku masih syok dan bingung antara bahagia bertemu dia dan juga sedih karena ini hanya akan membuka luka lama.
" yon..maaf..tolong jangan seperti ini.. tidak enak jika ada yang tau." aku mencoba melepaskan pelukan dion
" apa maksudmu...jika ada yang tau...?! " dion melepas pelukannyadan mengernyit dahi seolah bingung dengan maksud pernyataanku..
" yon..kamu sudah menikah dan itu tak pantas bagi kita berdekatan seperti ini.. "
" menikah...? aku..? " dion seolah bingung dan membuat aku jga ikut bingung..
" bukan kah waktu itu kamu bilang kamu dijodohkan orang tuamu dan 2 minggu kemudian kamu akan menikah.. " jelasku
" demi Tuhan san..aku belum menikah..aku mencarimu selama ini.." dion kembali menjelaskan statusnya.
" lalu waktu itu kenapa kamu bilang kamu akan menikah setelah 2 minggu..?" kembali aku memibta penjelasan tentang kejadian dulu.
kemudian dion menjelaskan smuanya tentang kecelakaan yang menimpa dia setelah pertemuan terakhir kami, tentang batalnya pernikahan dia, dan tentang pencariaannya selama ini. Dion juga bertanya kepada Risa ..namun tak mendapat informasi apapun karna nomor yang telah ku ganti dan tujuan kota yang aku ganti jga. yang seharusnya kekota ibuku namun pindah kekota tempat asal ayahku.
" san.. diakah putra kita..?! " dion melirik sandi yang lagi asyik menghabiskan eskrim vanillanya.
kujawab anggukaan
" iya.. SANDI namanya.." jelasku
" SANDI... SANia DIon..., itukah namanya..?!" dion lalu menggendong sandi..
" hai sandi..ganteng..kamu suka eskrim ya..? "
" iya om..dari tadi om deket2 dan peluk peluk mamah sani , memang om siapanya mama? saudara atau temen mamah?" tanya sandi yang penasaran dengan sikap dion kepadaku.
" ehm...sandi ...! om boleh tanya g? "
"..emm iya kalo sandi tau pasti dijawab.." jawab sandi sambil tetap melahap eskrim kesukaannya.
" dimana papah sandi..,?"
tanya dion pelan pelan agar sandi tak terkejut dan bingung..
"..oh..kata mamah papah pergi ke surga.." jawab sandi cuek. Lalu dion menatapku dengan tajam
" kau bilang padanya bahwa ayahny sdàh mati hah...apa kau mendoakan aku mati? " bisik2 dion didekat telingaku.. lalu aku tersenyum kecut..
Lalu kami melanjutkan cerita tentang waktu yang tlah kami lalui berdua selama ini. Hingga waktu seminar akan segera dimulai. Aku memutuskan kembali ke hotel bersama sandi dan diantar dion. Kami berencana setelah seminar selesài maka dia akan membawa serta aku dan sandi menemui keluarga besarnya.
Waktu berlalu hingga tepat di hari ini dia membawaku kerumahnya dan memperkenalkan sandi dan aku kesemua anggota keluarganya, dan sepakat merestui hubungan kami serta mensyahkan dalam ikatan pernikahan. Keluarga besar Dion menyetujui hubungan kami karena melihat kondisi dion yang beberapa tahun belakangan seperti orang gila. Dan tak mau dion kembali mengalami keadaan itu.
Inilah sepenggal kisahku ..SANIA ANGGARA PUTRI dan DION RAJENDRA WICAKSONO. Dan tak lupa anak kami SANDI PRATAMA WICAKSONO.