Aku Ela. Aku mempunyai satu adik perempuan namanya Rina. Kami terlahir dalam keluarga yang sangat haromonus. Hampir tidak pernah kami bertengkar karena masalah kecil.
Aku dan adikku tumbuh bersama, apa yang menjadi milikku adalah miliknya juga. Sampai kita tumbuh dewasa, kebiasaan ini telah melekat pada kami.
Satu hari, aku berumur 26 tahun dan memiliki kekasih. Aku sempat menceritakannya pada keluargaku namun belum ku pertemukan mereka karena kesibukan kami masing masing.
Pagi itu sangat cerah, aku mampir ke resto yang dikelola Reza. Seperti biasa aku berbincang bincang dengannya. Namun disaat perbincangan itu, mamaku menelponku untuk menyutuhku pulang karena ada masalah dengan adikku.
"Ela, kamu pulang sekarang yaa nak. Adik kamu nangis dan menggunci diri dikamar"
Suara mamaku yang sangat panik sambil menangis itu membuatku sangat khawatir dengan adikku. Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia seperti ini.
Aku segera pulang dengan mobilku. Dalam perjalanan aku benar benar sangat khawatir dengannya.
Sesampainya aku dirumah, aku langsung berlari menemui mamaku yang sedang menangis seorang diri.
"Ma, Rina kenapa? Ada masalah apa?"
Aku benar benar khawatir saat itu, namun belum sempat mamaku menjelaskannya, suara teriakan dan suara barang pecah terdengar dari kamar Rina.
Piiaarr
"Aaaghhh, kenapa harus aku yang mengalami ini?"
Aku melihat mamaku sangat ketakutan sampai menutupi wajahnya. Aku benar benar tidak mengerti apa yang terjadi disini.
"Mama, Rina kenapa ma?"
Mama mencoba menjelaskan sebisanya, mama menarik napas panjang dan mencoba tenang.
"Dokter mendiagnosa Rina terkena kenker stadium akhir dan usianya tersisa tiga tahun lagi"
Mendengar itu aku terkejut. Tubuhku bergetar mendengar berita itu. Hal yang tidak masuk akal apa ini? Rina terkena kanker? Aku sangat tidak percaya. Aku langsung menuju kamar Rina untuk mendobrak kamarnya yang dikunci
Braakk!!
Aku berlari dan memeluk adikku itu sambil menangis. Tak kuat aku melihat kondisi adikku yang seperti ini. Aku memeluknya sampai dia merasa tenang.
Hari itu aku mulai mengurus adikku, ku korbankan segalanya hanya untuk adikku.
Satu ketika adikku menyukai seseorang yang dia temui di sebuah resto. Dia menceritakan segalanya padaku. Aku sangat senang mendengarnya, seperti semangatnya telah kembali seperti dulu.
"Kak aku blakangan ini sering beli makan di resto kak, karena ada laki laki tampan disana. Dia baik, dan ramah. Aku suka dia kak."
Aku hanya tersenyum, melihat dia bisa merasakan cinta di sisa sisa hidupnya, aku sangat bahagia. Siapapun dia , aku harus mendapatkannya untuk adikku ini. Aku mau adikku bahagia walau hanya sesaat.
Satu tahun telah berlalu, dan kondisi adikku mukai menurun, mulai dari kehilangan berat badannya dan sekarang banyak rambutnya telah rontok, tapi aku selalu menyemangatinya dan mengatakan bahwa segalanya akan baik baik saja.
Satu ketika ketika adikku dirawat dirumah sakit, dia mengatakan satu hal padaku.
"Kak, kira kira aku bisa menikah dan punya anak?"
Saat itu hatiku sangat sakit, namun aku tidak boleh menangis didepan adikku atau dia akan makin sedih. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan memeluknya.
"Pasti ada laki laki yang baik yang mencintai kamu apa adanya."
Sat aku dirumah sakit, datanglah seorang pria yang aku kenal masuk ke kamar adikku. Adikku memintanya untuk datang dan menemaninya. Namun setelah ku lihat, makin terkejut aku. Dia adalah kekasihku. Laki laki yang dicintai adikku adalah kekasihku.
Aku lemas, melihat semua ini, laki laki yang diceritakan adikku adalah kekasihku dan perempuan yang diceritakan kekasihkuadalah adikku.
Aku keluar dan menangis. Apa yang harus kulakukan saat ini? aku benar benar bingung. haruskah aku mengatakan bahwa laki laki itu adalah kekasihku? Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya dan menyakiti adikku? Tak tega aku melalukan hal itu, namun hatiku sangat sakit. Apakah aku harus berkorban kali ini untuk adikku?
Kekasihku keluar dari kamar adikku dan melihatkuh, kami bertatapan dengan sangat bingung. Aku menyuruhnya masuk untuk menemani adikku.
"Kamu masuk, temani adikku hari ini"
Namun dia menolak, dia ingin bersamaku. Aku terus memaksanya untuk bersama adikku dan bukan bersamaku.
"Kamu yang pa arku, dia bukan pacarku. Jadi berhenti menyuruhku menemaninya"
Aku memohon padanya, untuk kali ini saja, dia menurutiku untuk menemaninya. Dan dia melakukannya. Hampir setiap hari dia datang menjenguk Rina. Meskipun dia tidak mau dan meskipun hatiku sakit. Aku tetap memaksanya. Kebahagiaan adikku lebih berarti dari perasaanku.
Satu tahun berlalu, kali ini adikku benar benar kehilangan kekuatannya untuk melakukan segalanya . Siang itu aku bertemu Reza untuk membeli bunga untuk adikku, aku memberikannya kalung yang diberikannya padaku untuk melamarnya.
Dia tidak menurutiku. Dia marah dan memukul tembok sampai tangannya terluka.
"Enggak yaa la.. aku pacar kamu. Dan aku nikahnya jelas sama kamu. Bisa bisanya kamu suruh aku mencintai perempuan lain"
Reza marah, dan aku hanya bisa menangis. Aku tahu ini pilihan yang sulit, tapi ini untuk kebahagiaan adikku. Dan untuk itu semua ada harga yang harus ku bayar.
"Kalau kamu memang sayang sama aku, tolong bahagiain adikku. Umurnya tinggal sebentar lagi Reza. Kamu pikir aku nggak sakit? Aku juga sakit. Tapi adikku lebih penting. jadi tolong ini terakhir kalinya"
Aku meminta hal terakhir dari Reza, aku tidak minta apa apa lagi. Hanya ini yang ku mau.
Keesokan harinya Reza datang membawa bunga yang ku suruh untuk adikku dan Reza melamar Rina.
Aku tak kuat dengan itu semua, aku keluar dan menangis. Kini aku sudah melakukan yang terbaik untuk adikku. Adikku akan bahagia sampai akhir hidup ya bersama laki laki yang dicintainya. Itu sudah cukup bagiku.
~TAMAT~