Di malam pernikahan mantan pacarku, aku hamil. Entah harus bagaimana perasaanku ini. Rasanya takut, tapi juga sedikit berbunga-bunga. Aku menoleh pada pria di sampingku, Edgar. Edgar ternyata juga sedang menatapku. Ia tersenyum lembut. Aku balas tersenyum malu, menggandeng lengan suamiku itu.
"Yuk!" kami berjalan bergandengan tangan menuju kursi pelaminan yang disinggahi mantanku, Reva, dan istrinya, Iva.
Saat bersalaman mengucapkan selamat, mataku dan Reva saling bertemu. Aku segera melempar senyum. Reva juga ikut tersenyum. Raut mukanya agak berkerut. Sepertinya ia penasaran benar dengan pria di sampingku.
"Lama nggak ketemu, ya. Ajaib banget. Sekalinya ketemu langsung di pelaminan," aku tertawa geli dengan perkataanku sendiri. Reva ikut tergelak dan istrinya senyum-senyum aja.
Reva, mantan pacarku waktu SMA, adalah teman sekelasku dulu. Berawal dari kerja kelompok, membuat kami sering bersama dan menghabiskan banyak waktu bersama. Dari situlah muncul benih-benih cinta merah muda yang manis. Ada banyak kejadian yang mengiringi. Kegembiraan, kemujuran, dan tragedi. Tawa, malu-malu, dan tangis menyertai. Suka cita dan duka. Kami melewati semua masa-masa itu. Indah dan manis. Hingga saat-saat perasaan itu mekar dengan sempurna dalam hatiku, saat-saat itu juga perasaan itu pecah, hancur berkeping-keping. Retak menyakitkan hingga hilang perlahan karena paksaanku yang tak mau mengingatnya lagi. Aku tak mau mengingatnya lagi. Dan sekarang aku hanya tahu Reva adalah pacarku dulu yang sempat berbahagia bersamaku.
"Bener, bener. Terakhir waktu cap tiga jari itu, kan. Waktu itu aku malah sama sekali nggak bisa ngenalin satu anak pun. Mukanya berubah semua!" Kami langsung tertawa bersamaan.
Aku menyudahi tawaku sampai hanya menyisakan senyum geli. Orang-orang yang ikut mengantri ada banyak. Tak sopan kalau aku terus mengobrol di sini.
Aku memutuskan untuk segera memperkenalkan Edgar. "Ah, Reva. Ini Mas Edgar, suamiku. Kami baru menikah sebulan yang lalu. Waktu itu kami ada di Paris, jadi cuma mengundang kerabat dekat. Sori ya, nggak ngundang kamu sama anak-anak lain." aku berterus terang sambil merangkul Edgar. Edgar masih tetap berdiri di sampingku dan memasang wajah ramah. Kami berdua tersenyum senang.
Mata Reva kontan membulat sempurna. Tak dia sangka, ternyata temannya sudah ada yang menikah. Dia kira, hanya dia yang sukses menggaet cewek menuju pernikahan. Ternyata dia kalah satu langkah. Lagi.
Reva tersadar. Ia cepat-cepat mengganti air mukanya. "Gila, aku keduluan dong ini. Selamat, ya. Sori nggak bisa datang waktu kamu nikahan."
Aku terkekeh malu. "Iya, nggak papa, nggak papa. Kamu juga selamat, ya. Jaga baik-baik mbak Iva. Mbak, bahagia terus, ya. Semua dibawa seneng ya, mbak" aku menoleh pada Iva, bersalaman sebentar, memeluknya erat penuh kehangatan dan akrab.
Setelah berpamitan dan memberi selamat sekali lagi, aku dan Edgar turun lalu berjalan menuju meja prasmanan. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Tepat di sampingku. Siapa lagi kalau bukan Edgar. Aku takut-takut menoleh ke samping, agak mendongak karena tinggi Edgar yang menjulang. Dan... Benar saja! wajah Edgar tampak mengeras. Alisnya saling bertaut. Matanya tajam menusuk objek kosong tak tentu arah. Samar-samar, aku mendengar suara gemeletuk giginya.
Aku menarik lengan kemeja Edgar pelan. Tanganku gemetar ketakutan. Aku menunduk dalam-dalam, menahan tangis. Aku tak ingat saat-saat itu. Aku tak ingat. Tak ingat sama sekali.
*****
Sudah tiga bulan berlalu sejak hari itu. Kini, perutku semakin membesar. Mungkin belum terlalu besar, tapi aku merasa ini sudah besar. Yah, pokoknya seperti itu. Hari-hariku berjalan seperti biasanya. Tenang, damai, dan diliputi banyak kebahagiaan dari Edgar. Aku melakukan banyak aktivitas khas seperti ibu hamil lainnya. Yoga, meditasi, pemeriksaan ke posyandu, dan belajar tentang anak. Saking semangatnya melakukan itu semua, aku sampai membeli setumpuk buku cerita anak. Lengkap dari usia satu tahun hingga tujuh tahun. Baru setelah aku memilah-milahnya di rumah, aku menyadari kalau aku sedikit berlebihan. Bodohnya diriku. Seharusnya aku membeli popok atau susu bayi, baju atau kereta bayi, selimut juga mainan. Bukannya malah buku cerita.
Aku menghela napas berat. Bodohnya aku. Sekarang, tidak ada cukup uang untuk membeli barang bayi yang sesungguhnya.
"Hahhhh—uhh?"
Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Edgar, sudah pasti. Aku kenal baik dengan kebiasaan ini. Juga tangannya yang besar. Oke, dulu aku bahkan memanggilnya raksasa sebelum ada rasa spesial di hati. Karena tingginya yang menjulang tidak normal. Hampi seratus sembilan puluh cm. Mungkin lebih. Juga badannya yang kekar atletis. Hasil latihan basket setiap hari dari masih memakai seragam putih-merah.
Aku mengangkat pelan tangannya, berusaha melepaskan pelukan erat darinya. Bila boleh jujur, sebenarnya pelukan ini terlalu erat dan amat sangat berat. Ditambah sepertinya Edgar tak mengerti kalau dirinya sangat berat untuk kutahan bersamaan dengan perutku yang semakin hari juga semakin berat.
Aku hampir berhasil membuatnya melepaskan pelukannya. Tapi Edgar menolak itu. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya yang longgar. Kali ini bukan di leher lagi. Tapi di pinggang. Edgar lalu mengangkatku seolah itu enteng dan menjatuhkanku dalam pangkuannya.
"Edgar?" aku mendongak ke belakang. Menatap wajah suamiku.
Edgar tak menjawab. Hanya diam tak bergeming. Setelah menghembuskan napas berat, Edgar akhirnya buka suara.
"Kamu masih mikirin Reva, kan?"
Jleb! Cukup satu kalimat inti. Aku langsung tahu maksudnya. Aku menunduk diam. Aku sama sekali tak memikirkan itu. Tak sedikit pun. Aku tak memikirkan satu pun kalimat Reva. Aku juga tak memikirkan reaksi aneh Reva saat di acara pernikahannya. Aku tak memikirkannya sama sekali. Sama sekali.
Edgar mengamati reaksi istrinya yang terdiam. Edgar tahu ada kalau ada sesuatu yang kusembunyikan. Tahu dengan sangat jelas. Sampai-sampai percuma saja aku menyembunyikan itu. Karena Edgar tahu semuanya.
Aku meloncat turun dari pangkuannya. Suasana ini tidak boleh berlangsung lebih lama lagi. Aku harus ceria. Untuk keluarga kecil ini, aku tak boleh egois dan takut. Sebagai penopang rumah ini, sudah sewajarnya aku harus kuat dan dipenuhi energi positif. Sip, sip. Aku mengepalkan tanganku lalu mengangkatnya. Tangan satunya kugunakan untuk menepuk-nepuk otot lenganku. Aku mengangkat wajahku percaya diri.
"Apaan sih, Mas. Lihat, aku ini kuat berotot! Penuh energi ceria! Masalah kayak gitu, mah... Kecil!" ucapku bangga sambil menjentikkan jari sombong.
Edgar tertawa kecil, mengangguk-angguk setuju. Ia lalu bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk pahanya, entah untuk apa. "Ya udah kalo nggak ada apa-apa. Syukuran malah. Yang penting kamu jaga kesehatan. Nggak baik juga kalo kamu sakit, ngelamun, trus malah beli yang nggak-nggak, ya" Edgar mengucapkan kalimat panjang itu sambil berlalu. Kalimat terakhirnya terasa seperti sesuatu yang spesial. Edgar menoleh menatapku lamat-lamat sambil tersenyum penuh arti.
Aku kontan membelalak. Woiya! Waduh, ketahuan kalau aku beli buku cerita anak buanyak dan sekarang nggak punya uang buat beli barang beli. Kok Edgar bisa tahu, sih? Aku terkekeh gugup sambil garuk-garuk kepala. Waduh.
Edgar ikut terkekeh sebentar. "Nggak, nggak papa. Kita dapat hadiah barang bayi banyak kok, waktu nikahan"
Ucapan singkat itu seketika membuatku lega jiwa dan raga. I love it.
*****
Delapan bulan berlalu dengan cepat. Seperti kataku, aku melalui hari-hari penuh tantangan dengan semangat. Semua kekuatanku yang ada, aku alihkan untuk kegiatan positif. Benar kan, aku ini kuat dan ceria!
Tiba-tiba aku merasa perutku dililit tali tambang. Astaga, aku meringis berusaha menopang tubuh dengan berpegangan pada tepi meja. Kakiku ikut melemas. Bergetar, aku paksakan untuk tetap berdiri. Syaat! Selintas di dalam kepalaku seperti ada yang berdenyut keras. Demi Tuhan, ada apa ini? Mataku mulai buram. Sepersekian detik, aku melihat ada cairan putih yang mengalir dari tubuhku. Bersamaan dengan rasa sakit dan pusing yang luar biasa.
*****
Aku tersenyum lemah pada Edgar yang terlihat sangat bahagia. Anak kami lahir dengan selamat. Meski lebih cepat sebulan dari seharusnya, tapi syukurlah kami dapat memberikan yang terbaik untuk kelahirannya.
"Kita akan menamainya Zare, kan? Kau sudah menyetujui itu. Kumohon" aku meminta persetujuan.
Edgar sejenak diam. Tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum samar. Dalam hatinya ada ombak besar yang yang tak mau diam. Gemuruhnya hampir membuat tembok pertahanannya runtuh. Edgar menguatkan hatinya, tersenyum tulus, sedikit merasakan sakit melihat istrinya yang sudah berjuang masih berusaha untuk menahannya sendiri.
Aku tersenyum lega. Ini penting untuk pengingat kesalahanku saat itu. Aku mengusap lembut rambut tipis Zare. Wajahnya begitu mirip dengan dia.
BRAK!
Pintu ruanganku terbuka paksa. Didorong sangat keras hingga membentur tembok di baliknya. Yang menanti di sana adalah Reza.
Aku tercekat. Kulirik Edgar. Tidak ada raut terkejut sedikit pun. Ada apa ini? Ada yang aneh. Mata Edgar yang berkilat marah, juga Reza yang juga marah, sekilas terlihat senyum miring di wajahnya. Edgar maju menutupiku dengan tubuh besarnya. Tangannya mengepal kuat. Reza masuk tanpa permisi dengan langkah lebar-lebar. Seolah ekspresi tadi hanya omong kosong, Reza benar-benar mengganti air mukanya dengan tawa sombong.
"Seriusan! Gue kira lo bakal aborsi!" orang gila itu sukses memulai pertengkaran.
Edgar langsung memasang kepalan kuat dan melayangkannya. Bogem mentah itu mendarat mulus tepat muka Reza. Membuat Reza terhuyung ke belakang, yang anehnya dia masih tetap tertawa. Aku masih tetap di kasur, mendekap Zare yang mulai menangis keras.
"Lo kalo ngomong ati-ati, ya. Berani sama istri gue lagi, gue abisin lo" desis Edgar menahan marahnya.
Aku seketika menangis tergugu. Kalimat Reza sangat menusuk. Dikatakan begitu lantangnya, di depan pahlawanku, Edgar, aku benar-benar merasa ingin lenyap. Ini salahku. Ini salahku. Aku mengusap air mataku yang terus mengalir. Gemetar kuat ini kualihkan ke gigiku, membuat tenggorokanku tercekat menahan tangis.
Aku ingat, tentu saja. Reva adalah mantan pacarku yang pertama kali kukenal lebih jauh saat kerja kelompok. Saat itu kami saling tidak mau kalah. Kami saling menantang dan ingin mengalahkan. Lalu aku jatuh hati, dan dengan cepat kami jadian. Hanya setengah tahun dan kami lulus, juga putus. Saat itulah aku tahu kalau selama ini hanya aku yang jatuh hati, takluk, kalah. Dan saat itu juga aku sudah terlanjur memberikan semuanya. Tak terkecuali.
Saat-saat gelap itu membuatku lari ke London. Hanya berbekal tiket dan kartu bank berkat kebohongan, aku berhasil kabur. Saat itulah aku bertemu Edgar. Aku bertemu pahlawanku. Dia dengan sabar mendengarkan setiap ceritaku. Bahkan berbaik hati bilang ingin bersamaku. Dia bilang itu karena cinta pandangan pertama. Tapi aku juga tahu bisa saja itu karena rasa kasihan dan simpatinya yang terlalu tinggi. Aku tidak tahu, aku hanya berpikir itu sangat menyelamatkanku. Aku memanfaatkan Edgar demi diriku sendiri. Agar namaku tetap bersih meski sudah sangat hitam. Tanpa memikirkan nasibnya sedikit pun.
Edgar sangat baik. Meski dia tak banyak bicara, aku tahu dia begitu perhatian. Dia bahkan menyuruhku untuk tidak mengingat kejadian itu lagi. Dia menyuruhku untuk menghapus seluruhnya tentang Reza. Saran dialah yang membuatku bisa tetap hidup. Karena dialah, aku bisa berbahagia, menikmati setiap nikmat hidup. Dia juga menyetujui keegoisanku untuk menamai bayi ini Zare, kebalikan dari Reza untuk mengingatkanku pada kesalahanku. Dia menerimanya, dia merawatnya dengan sangat baik. Dia sungguh menyayangiku.
"Gue tahu istri lo sakit. Setiap hari periksa ke sini. Faktanya, gue yang punya rumah sakit ini. Nyawa dan nasib lo ada di tangan gue" Edgar menunjukkan tanda kuasa atas rumah sakit miliknya. Dia bisa dengan mudah melarang bawahannya untuk menerima Reza dan keluarga. Segawat apapun. Tak peduli pada yang telah menyakiti istrinya, dia bahkan siap berperang untuk itu.
Reza terdiam mendengar ancaman Edgar. Ini menyangkut istrinya. Dia tak bisa main-main. Dia lalu beringsut pergi tanpa harga diri, menunjuk-nunjuk kami berdua sambil berteriak, "Aah! Cemen lo! Jadi ortu anak gelap kayak gitu aja! Bodo banget!"
Setelah Reza pergi, Edgar masih berdiri kaku. Masih menahan marah yang bergejolak. Tapi, karena tak mau ditunggu lebih lama lagi, ia cepat-cepat mengubah suasana hatinya lalu berbalik menatapku dan Zare bergantian.
Edgar mengusap kepalaku lembut. Setengah lengannya yang lain ikut memeluk Zare. Aku lagi-lagi tak bisa menahan air mata. Ketakutan yang tadi kurasakan, yang seharusnya tadi sudah kutelan bulat-bulat, membuncah kembali. Menyeruak keluar dengan paksa. Lagi-lagi aku menangis keras di hadapan Edgar. Lagi-lagi aku hanya bisa bergantung padanya.
Edgar dengan sabar mengusap-usap rambutku. Mencoba menenangkan hati setengah jiwanya. "Kita akan ke London. Ayo kembali ke sana dan berbahagia bersama" Edgar membisikkan itu pelan. Aku mengangguk-angguk tak sanggup lagi berkomentar. Hanya satu kata yang kupahami saat itu diucapkan. Kita akan bahagia bersama.
Berbahagialah