Aku melangkah masuk kedalam gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan teman sejawad-ku, ditemani oleh suamiku dan bayi dalam gendonganku.
Aku mengikuti suamiku yang telah berjalan didepanku menuju ke sebuah meja yang telah ia pilih untuk kami tempati.
"Eh.. Udah lama?" suara suamiku terdengar menyapa orang yang sudah lebih dulu duduk ditempat yang akan kami tempati juga. Disatu meja yang sama.
"Baru aja. Ayo duduk, Van!" Suara seseorang itu menyahuti suamiku. Namun suaranya terdengar tak asing ditelingaku. Aku yang berjalan agak lambat dibelakang karena menggendong bayi dan sesekali memperhatikan bayiku pun sontak menoleh ke sumber suara itu.
DEG !!!!
Rasanya jantungku seperti mencelos menatap sosok itu. itu adalah Dirga, mantan pacarku yang juga adalah kawan Evan, lelaki yang kini telah menjadi suamiku. Dirga tersenyum kaku memandangku yang tiba-tiba hadir dan langsung terdiam kikuk dengan debaran jantung yang entah kenapa terasa kencang.
Aku pernah mendengar dan meresapi ucapan seorang kawan, "Meskipun kita udah melupakan mantan, yang namanya ketemu mantan lagi setelah udah lama enggak ketemu itu pasti ada rasa terdetak atau pun berdebar!"
Mungkin inilah yang aku rasakan saat ini, ditambah lagi aku yang memang belum move-on dari lelaki berkulit putih yang sekarang berada didepanku ini.
Pandangan mata kami bersirobok, seperti ada bawang didepan mata yang membuat mata ingin berair. Tapi ini bukan bawang melainkan mantan. Ah, rasa nyeri menghampiriku setelah beberapa detik saling tatap. Dirga mengenakan setelan formal dan tampak lebih dewasa dari terakhir aku bertemu beberapa tahun lalu.
"Sayang, ayo salaman sama Dirga!" Tiba-tiba suara suamiku memecah kecanggungan antara kami. Entah ucapannya itu tulus menyuruhku bersalaman, atau itu sebenarnya sindiran untuk sikap kikuk yang tercipta antara aku dan Dirga barusan. Namun, disisi lain aku menganggap ucapan Evan seolah mengejek Dirga. Dari nadanya, Seakan-akan Evan mau menunjukkan bahwa aku sudah menjadi istrinya.
Aku tersenyum kecut memandang suamiku dan ucapannya barusan tak bisa ku tolak atau ku tepis. Karena ketika mendengar itu, ku lihat Dirga sudah mengulurkan tangan ke arahku. Dengan perasaan entah, ku sambut uluran tangan itu dan tangan kami pun bertautan sejenak. Aku merasa sentuhan itu masih sama seperti dulu. Entahlah.
"Sehat?" Tanya Dirga yang aku tahu itu hanya berbasa-basi. Aku hanya tersenyum simpul dan mengangguk. Tak berniat bersuara apalagi menanyainya apapun.
Cepat-cepat ku lepaskan tautan itu, karena baru inilah tangan kami bergenggaman kembali dengan status sebagai mantan kekasih.
Aku berpisah dengan Dirga karena tak kunjung mendapat restu dari orangtuaku. Hubungan itu harus berakhir karena keputusan sebelah pihak dari Dirga. Alasannya, ia menyayangiku dan tak mau melihat ku sebagai anak durhaka yang selalu bertengkar dengan ibuku. Alasan itu pulalah yang menyebabkan aku susah untuk move on, dikarenakan aku menganggapnya yang melepasku karena ia amat mencintaiku.
Aku langsung duduk di posisiku, berhadapan dengan Dirga dan disampingku duduk suamiku Evan. Evan menyuruhku untuk makan lebih dulu. Karena bayiku Airin, yang baru berumur 6 bulan tak mungkin dibiarkan begitu saja. Kami akan bergantian makan untuk salah satunya menjaga Airin.
Aku melirik Dirga yang datang bersama teman lelakinya, aku tahu dia belum menikah. Aku hanya bisa menunduk dan melanjutkan aktifitas makanku dalam diam. Sambil menggendong Airin, Evan dan Dirga larut dalam pembicaraan seputar dunia pekerjaan, yang akupun tak mengerti tentang apa.
Dirga sesekali menyapa Airin, mencoba bermain-main dengan bayi dalam gendongan ayahnya itu. Aku tersenyum kecut melihat pemandangan itu.
Sesekali ku dengar Evan menanyakan kepadanya kapan ia akan menikah juga seperti kami dan seperti sang pengantin yang duduk dipelaminan, yang adalah teman kami semua. Namun lelaki itu hanya menjawab Evan dengan senyuman khasnya yang sangat jarang ia keluarkan. Ah, rasanya aku rindu dengan senyuman itu.
Seketika perasaan itu muncul, aku merasa berdosa kepada suamiku. Namun, ketika aku menatap Dirga sejenak, aku malah merasa bersalah. Bisa-bisanya aku menikah dengan Evan yang adalah kawannya juga. Pasti Dirga merasakan sakit hati atas keputusanku. Terbukti ketika aku dan Evan mengundangnya dalam pesta pernikahan kami ia tak datang.
Awalnya, aku menerima Evan untuk berpacaran semata-mata karena aku ingin agar Dirga menyesali keputusannya telah melepasku waktu itu. Nyatanya, Evan malah serius dan melamarku. Setelah kami menikah, aku pikir aku bisa perlahan-lahan mencintai Evan. Namun, aku merasa gegabah telah mengambil keputusan terlalu cepat tanpa tahu jelas tabiat suamiku ini.
Mungkin, ini adalah balasan karena awalnya aku berhubungan dengan Evan hanya untuk menyakiti hati Dirga. Pada kenyataannya, Dirga tak pernah kembali dan aku harus terjebak dalam pernikahan yang akupun tak tahu harus mengatakan apa soal perasaanku terhadap Evan.
Sampai aku selesai makan, dan lanjut menggantikan menjaga Airin. Aku tahu bahwa Dirga menatapku lekat-lekat. Entah apa yang ada dibenaknya dan entah apa juga yang ada dibenak suamiku Evan yang mungkin juga menatap arah mata Dirga. Aku hanya diam dan tak ingin memperkeruh keadaan.
Setelah selesai kami memutuskan untuk menyalami pengantin di pelaminan. Dilanjutkan dengan sesi foto, namun Dirga turun tak ingin ikut berfoto bersama.
"Gantian aja!" Ucapnya pada pengantin wanita yang adalah teman kami.
Akupun langsung teringat ucapannya pada masa lalu.
"Aku enggak mau berpose satu frame sama kamu kalau status kita bukan siapa-siapa!"
Mendadak aku memejamkan mata sejenak, pening menjalar dikepalaku. Apakah Dirga mengingat ucapannya dulu? Aku memang telah menyakitinya dan kenyataannya memang status kami kini bukan siapa-siapa lagi. Tapi, dia juga telah melepaskan aku. Bukankah itu juga cukup sakit bagiku?
2018