Gemuruh langit di malam yang gelap membuat hati yang sedang pilu merasa semakin mencekam di dalam dada.
Patah hati? Bukan! tapi rasa kehilangan karena sebuah keegoisan yang membuat seseorang yang sangat berharga di hidupnya memilih untuk pergi dari cengkraman cinta yang telah bertahun-tahun lamanya mereka bina.
Plung, Plung....
Pria tampan yang sedang duduk di tepi danau melemparkan batu kerikil ke dalam danau sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.
"Benar kata orang.. Rasa cinta akan muncul jika orang yang kita sayang sudah menghilang." ucap pria itu tampak lesu sembari melemparkan batu atau benda apapun yang bisa ia jangkau ke dalam danau.
"Aghh sial ! Nabila... kenapa lo pergi saat gue mulai sadar kalo gue cinta sama lo...!!!" teriak lelaki itu meluapkan amarahnya terdengar sangat frustasi.
Tanpa ia sadari air matanya pun mengalir begitu saja saat semua kenangannya bersama wanita yang dia cintai terlintas di pikirannya seperti sebuah film yang di putar berulang kali.
Setelah berjam-jam lamanya ia tak merasa lebih baik, pria itupun memilih pergi dari tempat yang berisi banyak kenangan bersama sang kekasih dulu.
Dengan langkah gontai pria itu berjalan mendekati mobilnya yang terparkir di bawah pohon besar, ntah apa maksudnya padahal tak jauh dari danau tersebut terdapat tempat untuk mengamankan kendaraan setiap pengunjung yang datang.
Pria yang sedang dirundung kesedihan itu melajukan kendaraan roda empat tersebut dengan kecepatan tinggi, ia menyalip satu persatu kendaraan yang menghalangi jalannya.
Pria itu sungguh lihai bahkan saat bermanuver tajam ia melakukannya dengan sangat profesional layaknya seorang pembalap.
Entah sudah berapa lama ia mengemudi, hingga akhirnya ia sampai di tempat yang ia tuju yaitu Club.
Seperti sudah menjadi pelanggan setia, pria itu disambut sangat baik oleh oara penjaga di Club kelas elit tersebut.
"Hai Bro Ryan. Lama banget lo gak dateng kesini, kemana aja Bro?" tanya bar tender tersebut sambil mengajak tos kepalan tangan.
Pria yang disinyalir bernama Ryan itu diam saja tak menjawab, ia hanya menerima ajakan tos dari pria yang seperti dekat dengannya.
"Yaudah, lo mau minum apaan?" tanya bar tender tersebut mengalihkan pembicaraan setelah pertanyaan pertamanya itu di abaikan.
"Cristal" jawabnya singkat.
Bar tender tersebut segera mengambil pesanan Ryan dengan meraciknya dengan berbagai varian agar rasanya semakin nikmat.
Ryan segera meminum Cristal yang di suguhkan oleh pria berkulit hitam dengan pakaian nyentrik seperti seorang dj.
Ryan terlihat mulai bisa menikmati alunan music dj yang tersaji didalam club elit tersebut setelah ia menghabiskan tiga botol alkohol pesanannya.
Saat Ryan sedang mengayunkan kepalanya yang mulai terasa berat tiba-tiba dua gadis cantik datang menemuinya menggunakan dres yang sangat mini untuk mencari pelanggan di malam ini.
"Hai pria tampan, siapa namamu?" tanya gadis berambut pirang sebahu yang kini duduk di sebelah kanan Ryan.
"Ryan." jawabnya dengan pandangan tak menentu berusaha untuk memandang wanita cantik yang menyapanya.
"Nama yang indah sayang, bagaimana jika kita lanjutkan bersenang-senang di dalam kamar?" tanya wanita yang duduk di sisi kiri Ryan sambil bergelayut manja di lengannya.
"No! menyingkirlah wanita jalang!! kalian sungguh menjijikan." Tolaknya menyibakkan tangan kirinya sehingga wanita malam tersebut jatuh tersungkur di lantai.
Penolakan tersebut tentu saja membuat dua wanita cantik itu tersinggung, dengan perasaan marah mereka pergi begitu saja meninggalkan Ryan sendirian.
Ryan kembali memesan minuman, ia sudah kehabisan cara agar ia bisa melupakan gadis yang sangat di cintainya itu sehingga ia memutuskan untuk memesan banyak minuman.
Tanpa sepengetahuan Ryan pria yang menjadi bar tender tersebut sedang memperhatikannya dari kejauhan, entah apa yang ia pikirkan.
Malam semakin larut tapi Club di tempat Ryan berada semakin ramai, sedangkan Ryan malah semakin mabuk sampai hampir tak sadarkan diri.
Berulang kali Ryan menjatuhkan tubuhnya di sofa meski begitu ia masih terjaga, jadi ia masih bisa menolak bahkan ia tak segan menampar setiap gadis yang berusaha untuk merayunya setiap kali Ryan tumbang.
Sampai akhirnya Ryan benar-benar tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.
Beberapa penjaga berusaha membawanya ke kamar hotel yang sudah tersedia di club elit tersebut.
Ryan di tidurkan di atas kasur berukuran king size sesuai dengan pesanannya sebelum ia mabuk parah.
Malam ini Ryan benar-benar bisa tidur nyenyak setelah 2 minggu kepergian sang kekasih untuk selama-lamanya.
Selama ini ia selalu di hantui oleh bayang-bayang Nabila sehingga membuatnya sulit untuk tertidur bahkan nafsu makannya pun berkurang. Hal itu tentu saja membuat kesehatannya menurun.
............
Entah sudah berapa lama Ryan tertidur hingga akhirnya ia terbangun karena silau dari sinar matahari mulai memasukki kamar megah nya melalui celah-celah gorden.
"Hoaaammm... eh" pekiknya terkaget karena tangannya menyentuh sesuatu yang ia kenali.
Ryan memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani tidur si sampinya.
"Huwaaaaaa!!!" teriak Ryan lantang karena melihat seorang pria sedang tidur di sebelahnya, hanya mengenakan celana boxer saja, sama seperti dirinya.
"Woy! kecilkan suaramu brother aduuuhh lengkinganmu itu membuat gendang telingaku cenat-cenut." protesnya kesal karena merasa diganggu.
"Way woy way woy, ngapain lo disini, gila?!" pekik Ryan yang kini sudah berdiri di samping kasur menatap pria yang meracik pesanannya semalam.
"Apa yang kau pikirkan? aku masih menyukai trowongan yang gelap daripada serigala botak mu itu." ledek nya dan langsung membaringkan tubuhnya lagi, bersiap untuk melanjutkan tidurnya.
"Nggis! turun ga lo dari kasur gue?!" tanyanya dengan intonasi tinggi terkihat jijik dengan sikap gila kawannya.
"Dasar sinting!!" pekiknya marah melemparkan benda yang dapat ia jangkau ke tubuh kawannya karena ia tak menggubris ucapannya.
"Aauuwww. Tak bisakah kau membiarkanku tidur nyenyak di kamar mewah mu sobat? aku sudah lelah bekerja hingga subuh, kau tahu? aku butuh tidur yang cukup. Hanya kau yang bisa mengabulkan sesuatu yang tak bisa ku capai termasuk bermalam di kamar hotel VVIP, kau kan sahabat terbaikku di segala arah angin dan cuaca, bukan begitu sobat?" ucapnya memuji sambil menaikkan salah satu alisnya berulang kali.
Ryan menghembuskan nafas kasar terlihat enggan berdebat, ia pun memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan ritual paginya, Ryan memilih pergi ke restoran terdekat untuk mencari breakfast.
Ryan memesan roti sandwich dan spaghetti tak lupa dengan susu hangat untuk menetralkan perutnya yang telah menghabiskan banyak minuman beralkohol semalam.
Ryan terlihat sangat menikmati sarapannya di pagi yang menjelang siang karena jam dudah menunjukkan pukul 11 siang.
Saat Ryan meneguk susu dalam gelasnya, matanya tertuju pada seorang gadis berambut coklat, mengenakan pakaian serba hitam dan kaca mata hitam.
Entah apa yang merasukinya Ryan merasa penasaran dengan gadis tersebut, ia pun terus memandanginya tanpa berkedip sembari menikmati setiap teguk susu dalam mulutnya.
Bwuuurrr...
Uhuk uhukk
Ryan tak sengaja menyemburkan air susu yang sedang di minumnya sehingga membuatnya terbatuk" karena tersedak.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ia melihat gadis yang selama ini dirindukannya tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tanpa pikir panjang Ryan segera berlari mendekati gadis yang mengenakan pakaian serba hitam yang kini telah melepas kaca matanya sehingga terlihat jelas jika itu adalah kekasihnya, Nabila.
"Nabila, sayang!" panggil Ryan karena gadis itu sudah hampir masuk kedalam mobil hitamnya.
Ryan berlari semakin kencang dan..
GRABB
"Kau masih hidup sayang? oh aku sungguh merindukanmu." ucapnya langsung memeluk wanita yang ia anggap Nabila.
"Maaf anda siapa?" tanya wanita itu dalam dekapan Ryan.
"what!? Ini aku Ryan pacarmu." ucapnya melepaskan pelukannya sehingga kini mata mereka berdua saling beradu.
"Maaf, aku tidak mengenalmu."