Malam minggu merupakan hal penting bagi anak muda zaman sekarang untuk menghiasi kehidupannya bersama kekasih. Seperti anak muda lainnya laki-laki muda bernama Alwi mengisi malam minggu ini dengan berkaraoke bersama teman-temannya. Tapi tidak dengan pasangan karena ia tak mau pacaran kalau belum ada yang benar-benar menyentuh hatinya.
Alwi keluar dari tempat karaoke itu bersama teman-temannya lalu berpisah saat pulang. Dia berjalan menuju ruang parkiran belakang tempat itu. Saat matanya mencari motor yang ia parkirkan, tiba-tiba pandangannya teralihkan melihat sosok wanita duduk menangis disamping mobil sedan putih yang ia jadikan sandaran tubuhnya.
"Kak Vani! Ucapnya terkejut lalu menghampiri sosok wanita yang iya kenal baik juga merupakan pemilik tempat karoeke yang ia kunjungi bersama teman-temannya.
Vani yang melihat Alwi memanggil malah semakin pecah tangisannya. Ia langsung memeluk tubuh Alwi saat dirinya dihampiri.
"Alwi... Laki-laki yang dulu menyakitiku datang kembali setelah sekian lama menghilang dan mengajakku menikah setelah dia melayangkan cerai dengan istrinya."
Alwi melepas pelukan Vani dan memandang wajah perempuan itu dengan raut wajah merah padam seperti akan meledak.Tapi ia tahan karena tak tega jika pergi mencari lelaki itu lalu meninggalkan Vani sendirian.
" Apa kakak dipukul sama laki-laki tak tau diri itu?"
"Enggak... Dia memang tak melukai fisikku tapi hatiku sakit mendengar ucapannya." Jawab Veni lirih lalu tangisan itu berhenti setelah Alwi memeluknya.
Alwi hanya diam memandangi wajah wanita itu yang tertunduk sambil meneteskan air mata. Tak tega rasanya bila tak membalaskan perbuatan laki-laki itu untuknya.
" Bolehkah aku membunuhnya?" Jawaban Alwi seakan membuat Vani terkejut lalu mengangkat wajahnya menatap Alwi.
Dalam benaknya anak muda yang ia kenal ini tak pernah mengucapkan kata-kata membunuh didepannya. Ia menganggap Alwi sudah seperti adiknya bahkan sering menyuruhnya tinggal bersama. Yang ia tahu, Alwi tak punya keluarga di tengah ibu kota besar ini. Mungkin saja ada hal yang tak ia ketahui dimasa lalunya Alwi jadi lebih mengejutkan.
"Jangan. Aku tak mau orang yang kusayangi terlibat hal buruk." Kata Veni saat tangisannya terhenti mendengar perkataan Alwi sebelumnya.
"Kalau gitu ayo pulang kak. Aku akan mengantarmu. Kakak duduklah dengan tenang di sebelahku biar aku saja yang menyetir."
Alwi membantunya berdiri lalu membukakan pintu mobil. Diperjalanan Veni menyandarkan kepalanya pada bahu Alwi lalu hanya diam sampai tiba di depan rumahnya.
" Ayolah kak jangan sedih lagi. Aku tak tega melihat wajah cantik itu bersedih. "Ucap Alwi saat memasuki rumah mewah itu dan Veni masi tetap berdekatan dengan memeluk tangannya.
" Malam ini aku nginap disini. " Sambung Alwi yang membuat Veni kaget lalu menatap Alwi.
" Apa aku tak salah dengar? Coba kau ulangi ucapannya yang tadi? "
"Iya aku akan menemani kakak malam ini bahkan aku akan tinggal disini sampai manusia tak tau diri itu pergi dari kehidupan kakak."
Veni diam dan semakin memeluk erat lengan Alwi lalu tersenyum kecil.
Setelah mengganti pakaian dan mandi Veni duduk bersebelahan Alwi diruang tamu besarnya lalu menyandarkan kepalanya di pundak kanan lelaki itu.
" Coba kau terus tinggal disini. Pasti aku enggak bakal kesepian."
"Mulai lah kakak cari kesempatan dalam kehimpitan. Kalau bukan karena terpaksa begini, takkan pernah mau aku tinggal berdua disni. Apa kata orang-orang nanti."
"Hehe... Yah kan siapa tau kau berubah pikiran."
"Yah walaupun sebenarnya aku mau." Balas Alwi dengan suara yang sangat pelan sambil memalingkan wajahnya ke kiri menghadap dinding.
"Apa kau bilang?Coba ulangi dengan keras biar kakakmu yang cantik ini tak salah dengar."
"Haa? Apa kak. Aku enggak ngomong apa-apa kok." Jawabnya salah tingkah.
Veni terseyum lalu semakin memeluk lengan kanan Alwi.
"Yah aku inginnya kau jadi suamiku." Balas Veni juga ikut dengan suara sangat pelan seperti yang diucapkan Alwi sebelumnya.
Alwi terkejut karena mendengar ucapan wanita itu walau pelan.
Sudah seminggu Alwi menetap dirumah Veni. Saat pulang kerja di salah satu percetakan buku, ia tak pernah lagi ke kosannya dan langsung menuju rumah Veni untuk berjaga-jaga menunggu kehadiran lelaki tak tau diri yang sudah membuat wanita yang ia kenal menangis.
Ternyata dugaannya selama ini benar, lelaki itu mendatangi rumah Veni dengan rasa tak bersalah. Dia membunyikan bel pintu rumah lalu keluarlah Alwi membuka pintu dengan emosi lalu mengepalkan tinjunya ke wajah laki-laki itu berkali-kali tanpa ucapan sepatah katapun.
TAK!!!
Bunyi keras saat Alwi mendaratkan pukulannya ke mulut laki-laki itu hingga mematahkan beberapa giginya.
"AlWI!"
Teriak Veni keluar penasaran dari kamarnya akibat keributan yang mereka buat.
"Hentikan Alwi! HENTIKAN!" Pintanya pada Alwi yang terus memukuli wajah laki-laki itu tanpa ampun hingga babak belur.
PLAK!!!
Satu tamparan keras mendarat ke pipi Alwi dan membuatnya sadar dari setan yang merasuk dalam jiwa amarahnya.
Ia berdiri melepaskan cengkramannya dari laki-laki tak tau diri itu yang sudah lemas tak berdaya tergeletak dilantai. Hingga darahnya menodai baju kemeja yang ia kenakan.
Vani menelpon ambulan lalu mencoba membantu laki-laki itu berdiri dan menuntunnya duduk di teras kursi.
"Aku tau kau marah Wi, tapi jangan sampai kau membunuhnya. Sudah cukup aku rasakan hidup sendiri walau dengan harta yang kupunya tapi baru sejak mengenalmu hari-hariku terasa bahagia. Kalau kau dipenjara, aku tak mau sendirian lagi. Hanya kau yang aku punya." Ujar Veni sambil menangis.
Alwi seketika tak bisa berkata apa-apa melihat Veni menangis karena dirinya. Dalam hidupnya ia tak mau membuat wanita menangis tapi kali ini karena emosinya Veni menangis ketakutan kehilangan dirinya.
Alwi menghempaskan lututnya kelantai dan tertunduk memandangi tangannya dilumuri darah. Veni lalu mencium kening Alwi dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku kak, aku membuatmu menangis."
"Maafkan aku juga telah menamparmu. Aku mohon padamu jangan kau ulangi hal seperti itu karena aku tak tahu masa lalumu seperti apa."
Alwi membalas pelukannya lalu memandangi wajah laki-laki itu seperti tak berbentuk yang ia pukul tadi. Ambulan datang dan langsung membawa laki-laki itu pergi. Tapi Alwi mendekati laki-laki itu yang sedikit sadar lalu membisikkan sesuatu ditelinganya.
" Kali ini kuberi kesempatan hidup. Tapi lain x aku tak mau mengotori tanganku dan kupastikan kau takkan melihat matahari lagi." Bisiknya pada lelaki itu.
Berapa bulan berlalu dan Alwi telah memutuskan untuk tinggal menetep dirumah Veni dengan niat menjaganya, walau laki-laki itu telah melarikan diri menurut kabar yang didengar Alwi.
" Alwi kemari lah, kakakmu yang cantik jelita dan baik hati juga penyayang ini mau ngomong." Ujar Veni lagi duduk di sofa empuknya pada Alwi yang berdiri mengotak ngatik handphonenya.
"Hem... Lengkap lah udah semuanya. Merasa cantik pula." Jawab Alwi tapi tetap duduk menuruti perintah Veni.
"Ada apa sih kakakku yang cantik dan baik hati juga penyayang ini?"
Alwi memandangi Veni yang saat itu duduk mengenakan baju kaos dan celanan pendek hingga memperlihatkan setengah pahanya yang putih mulus.
"Aku sudah memikirkan semuanya. Dan selama ini kau tinggal denganku, kau tak pernah berbuat macam-macam pada tubuhku. Aku tahu kalau kau menahan nafsu setan itu karena kau berpikiran aku adalah kakakmu. Tapi aku harus mengatakannya sebelum waktunya datang." Ucap Veni serius.
" Maksud kakak apa? "
" Maukah kau jadi suamiku? "
DUUAARR!
Seketika jantung Alwi seperti meledak dan wajahnya bingung.
" Ahaha.... Udah lah kak jangan bercanda. Aku takkan tertipu. " Jawab Alwi menepis berharap ucapannya Veni hanya bergurau.
" Aku tak bercanda. Aku udah bosan dipermainkan lelaki. Walau umur kita beda 4 tahun dan aku lebih tua darimu , tapi itu tak menjadi penghalang. Aku tak punya siapa-siapa lagi didunia ini. Hanya kau laki-laki baik yang kukenal."
Alwi hanya terdiam dan wajahnya penuh kebingungan memandangi Veni.
" Aku tau statusmu orang biasa tapi bagiku kau luar biasa. Aku ingin kau bahagia dengan harta yang kutinggalkan sebagai bukti balas budiku padamu. "
" Harta yang ditinggalkan? Kemana arah pembicaraan ini kak. Jangan membuat takut."
" Aku ingin kau menikahiku dan memiliki keturunan karena aku mencintaimu Wi. "
Perlahan Veni mendekatkan wajahnya pada Alwi dan mencium bibirnya. Sejenak Alwi tak bisa berkata-kata dan hanya diam. Tapi dia langsung sadar dan pergi meninggalkan Veni dari rumah itu.
Veni hanya tersenyum kecil dan berharap Alwi kembali padanya sebelum terlambat. Ia berani mengatakan perasaannya karena tak ada hungungan sedarah diantara mereka.
Sudah setahun Alwi tak pernah menjumpai Veni. Bahkan ia tak mau diajak karaoke temannya karena takut berjumpa dengan Veni. Dalam hatinya ia sebenarnya juga mencintai Veni tapi ia tahan karena menikmati bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak perempuan.
DERRRRRT...
Handphonenya bergetar tanda panggilan masuk dengan nomor yang ia kenal. Ia berhenti menepikan laju motornya lalu mengangkat telpon itu dengan menghela napas.
"Halo kak..." Ucap Alwi pada orang yang menelponnya itu.
"Halo selamat pagi saudara Alwi. Apa benar ini orang terdekatnya nona Veni?" Jawab sesorang laki-laki dari dalam sambungan itu.
"Siapa kau! Dimana Veni. Kenapa suara laki-laki yang kudengar. Mau cari mati!"
"Kami dari pihak rumah sakit pusat kota ingin mengabarkan berita duka cita. Nona Veni telah meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit kangker Ovariumnya. Mohon segera saudara menjemput jenazah beliau.Terima kasih.
Alwi termenung mendengar kabar barusan. Tapi ia tak percaya sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia langsung bergegas menuju rumah sakit yang dikabarkan.
Sesampainya disana diruangan yang bertuliskan nama Veni, ia melihat diatas tempat tidur pasien sudah ditutup dengan kain putih.Kakinya melangkah lalu tangan gemetar membuka kain penutup itu berharap yang ia lihat bukan wajah yang ia kenal.
Seketika itu badannya terduduk lemas tak berdaya. Ia menyesal telah meninggalkan Veni dan ternyata Veni benar-benar meninggalkan dirinya dari dunia ini dengan penyakit yang sama sekali tak diketahui olehnya. Dalam benaknya andai ia menyetujui permintaan Veni yang merupakan permintaan terakhirnya. Pasti ia masih bisa melihat senyum manis wanita itu untuk yang terkahir kalinya. Penyesalan seumur hidup, kini datang dalam dirinya.
TAMAT