Nisa, gadis pendiam cenderung pemalu. Ia kenal dengan seorang pria bernama Indra. Pria kampung yang bereinkarnasi menjadi pria kota. Kenapa begitu? dulu penampilannya lusuh ala anak kampung, suka membantu ibunya ke sawah dengan pakain sederhana. Beberapa tahun ini ia merantau berniat merubah nasib. Dasarnya sudah tampan dipoles sedikit menjadi sangat tampan.
Nisa yang sudah lama memendam rasa untuk pemuda beda usia tiga tahun itu begitu senang saat Indra mulai mendekatinya.
Nisa hanya gadis rumahan, gadis broken home yang sangat di larang berdekatan dengan lawan jenis oleh ibunya. Maka dari itu Nisa melakukan pendekatan secara diam-diam.
"Abang menyukaimu dek Nisa, ikutlah Abang merantau," ucap Indra penuh keyakinan.
"Tapi Ibu pasti melarangku, Bang!" jawab Nisa, ia melepaskan genggaman tangan Indra.
Gadis manis bergigi gingsul itu begitu dilema.
"Abang akan menjagamu, Abang mencintai Adek," Indra meyakinkan.
"Kalau begitu datanglah ke rumah, mintalah Adek untuk Abang persunting!" kini Nisa menatap Indra penuh pengharapan.
Tampak pemuda itu kebingungan.
"Abang janji setahun lagi setelah menyelesaikan kredit mobil, Abang akan melamarmu!" janji Indra.
Akhirnya dengan nekat Nisa ikut Indra merantau. Ibunya melarang keras dan sekeras itu pula Nisa membantahnya.
"Abang, Adek tinggal dimana? nanti bekerja apa?" tanya Nisa dengan polosnya.
Indra membawanya ke sebuah kontrakan kecil.
"Di sini dulu ya, Dek, Abang ga jauh dari sini kok rumahnya," jawab Indra.
Nisa mengangguk.
Beberpa minggu kemudian Nisa memperoleh pekerjaan menjadi witers di sebuah klub malam, tak lain tak bukan itu juga berkat Indra. Hingar bingar klub begitu memekakkan telinga, apa lagi aroma alkohol bercampur asap rokok seperti mencekik pernapasan Nisa.
Awalnya risih dengan seragam yang di berikan, rok sepan setengah paha, memamerkan kulit putih mulus yang tak pernah di sentuh. Baju kemeja yang begitu ketat, menonjolkan dada yang memang melebihi size pada umumnya. Awal yang sulit, tapi karena iming-iming gaji besar Nisa mau melakukannya.
Sampai suatu hari, di luar hujan lebat, pengunjung ramai, Nisa yang baru saja datang dengan pakaian basah langsung di sambut dengan Indra.
"Ganti bajumu, nanti sakit,'' kata Indra.
Nisa pun ikut Indra untuk mengambil baju ganti, di sebuah kamar, melihat Nisa yang memang sudah seksi di tambah dengan penampilan yang basah membuat gejolak Indra membara.
"Bang dimana gantiku?" tanya Nisa yang merasa Indra diam saja.
"Apa Adek kedinginan?" mata memburu Indra menelisik tubuh yang terterawang, dengan bra hitam tembus di balik kemeja putih.
"Iya, Bang."
Dengan langkah pasti Indra melangkah mendekati Nisa, memeluk tubuh sital itu, yang sebenarnya meresapi kemolekannya.
Nisa yang mendapat perlakuan dari sang kekasih dengan rasa yang aneh ikut terbuai.
"Apa kamu tidak ingin mencobanya?" Indra menahan gelora untuk segera menerkam, ia ingin bermain-main. Hidung mancung yang berhembus di area telinga dan leher membuat Nisa menggigit bibirnya. Geli tapi nikmat.
"Men-mencoba apa Bang?" tanya Nisa terbata.
"Seperti yang Adek lihat setiap malam dari pasangan yang datang."
Sejatinya Nisa selalu menjaga pandangannya walau sesekali ia kedapatan mencuri pandang pasangan yang sedang bercumbu, kadang ia memergoki si pria sedang memainkan bagian dada yang masih tertutup. Hanya sebatas itu.
Indra meraup bibir yang terpoles lipstik merah muda itu. Nisa terkejut, dia hanya bisa diam.
"Buka mulutmu!" perintah Indra.
Karena rasa penasarannya, Nisa akhirnya membuka mulutnya, memberi akses untuk Indra.
Bertambah lagi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan.
Tangan Indra turun ke bawah bagian bokongnya, mengelus lalu meremasnya pelan, refleks tangan Nisa memegangi kerah kemeja yang Indra pakai.
Melepaskan pangutan mereka untuk meraup pasukan oksigen, lalu kembali menyatukan bibir. Kali ini Nisa yang menuntut, ia ingin permainan itu di perganas lagi.
Tentu Indra mengerti, memojokkan Nisa tepat di meja kecil, tangan Indra mengelus paha Nisa, sedikit memberi jarak di bagian bawah tubuh, tangannya masuk di sela-sela paha itu, mengelus inti Nisa.
"Emhhh," sensasi luar biasa Nisa rasakan. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih.
"Ayo aku akan menghangatkan tubuhmu yang dingin!" seru Indra di sela pemanasannya.
Dan malam itu terjadilah sesuatu yang tak harus Nisa lakukan. Memberikan kehormatannya untuk pria yang belum sah menjadi suaminya.
"Akhh, Abang sakit!" saat Indra mulai menerobos pertahanan Nisa.
.
.
.
Pagi menyapa, Nisa terbangun dengan tubuh yang remuk. Ia mengingat kejadian semalam, lalu melihat sekelilingnya, Indra sudah tidak ada.
Nisa mulai merasakan kegelisahan, ia menghubungi nomor Indra namun tidak bisa. Dengan asal ia memakai pakaiannya kembali. Terasa begitu sakit bagian intinya. Bahkan bagian tubuhnya penuh dengan tanda merah dari Indra.
Nisa mencoba mencari ke rumah Indra, ia tahu alamatnya dari salah satu temannya. Ternyata Indra tamu langganan di sana.
Nisa mengetuk pintu dengan tak sabar, ia harus meminta pertanggung jawaban.
Tangan Nisa terhenti di udara, saat akan mengetuk lagi ternyata pintu sudah di buka.
Seorang wanita muda berhijab dengan perut buncit besar sekali.
Tertegun Nisa, terpaku di tempat ia berdiri.
Sedangkan si wanita itu juga terkejut melihat wanita dengan pakaian minim dan tampang berantakan mengetuk rumahnya.
"Apa ini rumah Indra?" tanya Nisa yang mulai merasakan ia sudah di manfaatkan.
"Betul, saya istrinya, Bang Indra sedang keluar kota. Ada keperluan apa ya Mbak?" tanya wanita yang mengaku sebagai istri Indra.
Belum percaya, mungkin Indra yang lainnya, lalu Nisa buka ponsel dan memperlihatkan foto Indra di sana.
"Apa orang ini tinggal di sini?"
Sedikit kesal, "Iya Mbak, dia suami saya, ada keperluan apa?"
Sangat syok, bagaimana bisa pria yang ia percaya membohonginya begini. Apa lagi setelah mendapatkan tubuhnya, Nisa langsung pamit pergi. Dengan susah berlari meninggalkan halaman rumah itu karena masih terasa sakit di bagian intinya.
Ternyata ia mencintai pria beristri, pantas saja ibunya melarang keras Nisa berhubungan dengan Indra. Bahkan si Ibu sudah memberitahu jika Indra bukanlah pria baik-baik. Namun karena buta akan cinta, Nisa lebih percaya ke Indra.
Penyesalan menyeruak dalam hatinya. Apa lagi yang akan ia banggakan setelah tubuhnya tidak lagi suci.
Ia bergegas pulang kampung. Rasa bersalah pada sang Ibu karena sudah membantah, membawa Nisa kesebuah lubang penyesalan yang mendalam.
Bagaimana tidak, ternyata Ibunya sudah berpulang dua hari yang lalu. Tidak ada yang mengabari Nisa karena memang tidak ada yang tahu keberadaannya.
Ibu Nisa terkena serangan jantung setelah perdebatannya dengan putrinya.
Penyesalan seumur hidup, seharusnya Nisa mendengarkan Ibunya. Kini ia berjalan tanpa tujuan.