Aku tidak bisa melarikan diri dari hatiku. Perasaan yang begitu kuat membuatku sadar bahwa manusia hanya bidak pion di dalam papan pemainan takdir.
Kita tak bisa melawan saat tangan takdir menggerakkan hati yang rapuh namun pura-pura kuat ini. Dalam perjalanan hidupku aku tak penah menyerah pada cinta. Selalu aku adalah pihak yang paling mendominasi dari kisah cinta yang terjadi di hidupku. Lalu semuanya seketika berubah ke arah yang tak terduga saat aku melihat sosok lelaki itu.
Kisah kami berjalan dengan baik. Berjalan dengan indah untuk menuju ke akhir yang menyakitkan.
~~~
Waktu it adalah hari pertama aku masuk kuliah. Aku mengawalinya dengan sholat shubuh di hari senin pagi yang cerah, dengan harapan semua akan berjalan dengan baik hari ini. Aku siap-siap dengan penampilan terbaik untuk mengawali kehidupanku yang baru. Lalu berangkat naik gojek ke kampusku dimana banyak kisah-kisah yang akan terjadi.
Sampai di kampusku aku belum mengenal daerah ini sama sekali. Tempat yang asing selalu menjadi hal yang menakutkan. Urusan beradaptasi aku bisa di bilang rata-rata. Aku bukan orang yang sangat sulit untuk berkenalan dengan orang baru, tetapi bukan juga orang yang bisa mudah menjadi nyaman. Aku hanya berbicara semampu dan semauku saja.
Tiba di kelas aku duduk barisan terdepan. hanya saja aku ingin duduk di sini. tidak lama kemudian kelas pun di penuhi orang-orang baru. Mahasiswa-mahasiswi yang baru memulai harinya di kampus ini sama sepertiku. Kami adalah orang-orang dengan tujuan berbeda yang dipertemukan di kampus dan kelas ini.
Seorang Pria duduk di sebelahku. Dengan tubuhnya yang Besar. Aku merasa tidak terlalu tertarik untuk berkenalan dengannya untuk saat ini. Tapi ternyata dia duluan yang berbiara denganku.
"Hai, namanya siapa?" Ucap Pria itu
"Rania Almira" jawabku
"Ryan Valentino" katanya.
"Asli sini?" Tanya Ryan lirih
"Nggak,Nge kos. Kamu sendiri?" tanyaku.
"Aku nge kos juga." Jawab Ryan
Setelah itu kami diam dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Kursi-kursi yang kosong kini mulai terisi penuh. Di samping Ryan kini juga sudah duduk beberapa orang yang langsung akrab dengannya.
Tak lama kemudian Dosen pun datang. Beliau menyapa seluruh kelas dengan hangat dan menyenangkan. Sepertinya beliau tahu bagaimana membuat kesan perrtama yang baik untuk mahasiswanya.
Tiga puluh menit berlalu. Perkuliahan hari pertama hanya berisi pembahasan ringan seputar motivasi alasan-alasan yang bagus untuk menghabiskan masa-masa kuliah yang katanya adalah masa yang tak terlupakan selain masa SMA. Mungkin.
Pintu kelas dibuka dari luar. Sebuah kepala berambut Hitam
"Permisi, Pak. Maaf telat." katanya.
"Kamu mahasiswi di kelas ini?" tanya sang dosen.
"Iya, Pak."
Sang dosen mengambil absensi di atas mejanya.
"Namanya siapa?"
"Alexandre Christie Pak."
Saat itu aku yang sedang terheran-heran sekaligus kagum pada seseorang yang berani terlambat di hari pertama perkuliahan, memperhatikannya.
Lalu tiba-tiba dia melihat ke arahku. Mata kami bertemu saat itu. Selama beberapa detik aku tidak bepaling dari wajahnya yang bulat dengan ekspresi datar, matanya yang bening, dan hidungnya yang mancung.
Secara keseluruhan dia Tampan. Tapi aku belum suka.
"Ya udah, karena kamu Tampan kamu boleh duduk." ujar sang dosen.
Aku bingung apakah dosen itu bercanda atau tidak.
~~~
Keesokan harinya aku datang ke kampus dengan tujuan khusus selain menuntut ilmu. Aku yakin Alexl belum datang sepagi ini karena kemarin dia terlambat. Aku tidak tahu Dia Tipe yang disiplin atau tidak seperti yang lainnya. Jadi aku menunggunya sambil membaca Novel.
Jam sudah melebihi pukul delapan tapi aku belum melihat Alex muncul dari tadi. Apa dia tidak masuk dan aku hanya buang-buang waktu di sini?
"Nunggu siapa, Neng?" tanya Pak penjaga warung yang belum kuketahui namanya.
"Nggak nunggu siapa-siapa, Pak." jawabku sambil terus membaca Novel.
Dan akhirnya pak penjaga warung pun pergi meninggalkan ku sendirian.
Saat aku melihat jalanan,Aku pun melihat Motor dengan penumpang nya yang menggunakan helm hijau.
"Makasih, Pak." katanya sambil mengembalikan helm.
Itu kan Alex dia terburu-buru masuk kampus.
Aku memasukan novel yang kubaca kedalam tas ransel ku dan bergegas berlari menyusul Alex.
"Hei, telat juga?" tanyaku sambil tetap berlari.
"Iya, kamu juga?" balas Alex
"Iya, kesiangan." kataku.
"Alexandre Christie" ujarnya. "Kamu?"
"Rania Almira" jawabku.
Seperti itulah pekenalan awal kami. Berlarian bersama di koridor karena mengejar waktu. Saling mengucapkan nama masing-masing sambil berlari. Jaket yang dikenakan Alex sangat wangi Aku bisa mencium wangi nya yang menyenangkan. Ah, mungkin sekarang aku sudah suka.
~~~
Semenjak saat itu aku duduk bersebelahan dengan Alex.Aku tidak meminta ijinnya, dan dia juga tidak menolak. Tak kusangka kami punya lebih banyak kecocokan daripada yang Sama. Alexl menyukai film seni musik dan Aku sebaliknya.
Kami jadi lebih dekat dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika sedang berada di tengah-tengah perkuliahan lebih banyak obrolan diantara kami bedua daripada materi yang masuk ke otak. Tapi kami selalu aman dari pengamatan dosen paling killer sekalipun. Sepertinya semesta mendukung kami berdua.
Aku merasakan perubahan sifat Alexl apakah dia mencintai ku?.Ah sudahlah jangan terlalu berharap itu tidak baik juga.
Lalu tak terasa, sudah tiga minggu semenjak kami mulai berteman akrab. Kurasa, sudah cukup untukku mengenalnya. Kurasa, sudah cukup untuk dia merasa nyaman di dekatku. Kupikir, tak ada salahnya memulai langkah selanjutnya.
~~~~
"Kamu kok selalu di anter gojek,Ran? Pacar kamu nggak mau nganterin?" tanya Alex
Saat itu kami sedang duduk berdua di gazebo yang ada di halaman kampus. Setelah pekuliahan yang panjang Alex mengajak Rania bersantai di sini.
Rania terkekeh.
"Aku nggak punya pacar. Kamu ngeledek, ya?" ucap ku.
"Ya kan aku nggak tahu." ucap Alex sambil memalingkan muka. Menyembunyikan senyumku yang tak bisa ditahan.
Alex memandangi Rania. Perkataannya sama persis dengan apa yang ada di dalam pikiranku tentang apa yang seharusnya orang-orang pikirkan tentang cinta. Cinta bukanlah hal yang gampang bepindah, gampang diganti, dan gampang di permainkan.
Alex menyandarkan punggungnya pada tiang gazebo ini. Semilir angin berhembus.
"Menurut kamu,Ran. Apakah pacar yang sempurna itu ada?" tanya Alex.
"Nggak ada, lah. Kan manusia nggak ada yang sempurna. Kecuali kalo pacarmu bukan manusia." jawabku terkekeh.
"Manusia yang sempurna itu nggak ada. Tapi pacar yang sempurna pasti ada, lah." Ucap Alex
"Mana coba?" Tanyaku lirh
"Kamu." ucap Alex sambil menatapku dengan segenap perasaanku.
Aku terdiam. Sudut bibirnya terangkat dengan canggung. Lalu melebar dan membentuk senyuman yang menunjukkan gigi putihnya yang rapi. Pipinya juga bersemu merah meskipun samar.
"Apaan, sih." ucapku dengan perasaan salting.
"Eh, tapi nggak jadi, deh." Jawab Alex
"Hah?"Tanyaku
"Kan kita belum pacaran." Jawab Alex
Rania hanya diam lalu menatap ujung sepatunya.
"Hari minggu nanti kamu kemana?" tanya Alexl
"Pagi, siang, apa sore?" Balas Rania
"Ehm, masing-masing." Jawab Alex
"Kalo paginya aku ada kegiatan dulu sama keluarga." ucapku
"Kemana?"Tanya Alex lirih
"Mall"
"Oh,Gitu." Ucap Alex
"Kalo kamu gimana."Tanya Rania
"Aku kali pagi juga ada kegiatan dulu sama keluarga".Jawab Alex
"Emang mau ngapain?" Rania bertanya.
"Gereja"Jawab Alex
Seketika aku terdiam melamun dan tersentak.Musnah sudah harapanku,Kita berbeda agama Tidak mungkin bersatu.
"Ran,kamu kenapa?Ucap Alex yang membuyarkan lamunanku.
"Eh,Nggak apa-apa, kok." jawabku
tak terasa Adzan ashar pun berkumandang aku segera pamit dan pergi ke masjid untuk menjalankan kewajiban ku.
~~~~
Tak kusangka semuanya akan menjadi seperti ini. Jika saja aku tahu sejak awal, aku tidak akan menyamankan diri dengannya lalu... lalu... aku kini terjebak.
Hari pun terus berganti. Perasaanku pada Axel juga makin lama makin membesar sampai tak bisa dibendung. Aku bingung sampai tak bisa tidur nyenyak semenjak hari itu, saat aku tahu bahwa Axel punya kepercayaan yang berbeda denganku.
Kenapa harus ada hal seperti ini dalam kisah cinta seorang manusia ?
Kenapa ketika aku baru saja menemukan seseorang yang pas setelah sekian lama, ada hal besar yang mencegahku untuk bersamanya?
Kini hatiku kehilangan jalannya. Dan aku seakan mengutuk dunia karena aku tak bisa bersamanya.
Suatu pagi di hari yang suram karena mendung Alex mencegatku saat aku hampir saja keluar dari gerbang. Dia yang biasanya menunggu ojek online kali menungguku. Aku terkejut saat mendapatinya muncul di hadapanku tiba-tiba. Dengan matanya yang kecoklatan Axel mendongak menatapku yang lebih pendek darinya.
"Kamu berubah." katanya pendek.
Aku diam. Tenggelam dalam tatapan matanya.
"Kenapa? Apa aku punya salah sama kamu?"balas Alex
"Nggak, kok." jawabku. "Nggak ada yang salah."
"Terus kenapa?" tanya Alex
Lalu Alex menarik tangan Rania menjauh dari gerbang hingga akhirnya kami sampai di gazebo. Suasana cukup sepi hari itu.
"Kupikir ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan semuanya."Batin Alex
Karena sebenarnya tak ada waktu yang tepat jadi kapan pun tak akan masalah.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanyaku
"Duduk, Ran."Jawab Alex
Kami pun duduk di gazebo itu. Berdua, hanya saling diam.Rania menunggu Axel untuk mengatakan sesuatu.
"Maaf, ya aku akhir-akhir ini ngejauh. Bukan begitu maksudku." ucap Alex
"Aku cuma nggak siap aja ketemu kamu setiap harinya."
"Kenapa?" tanya Rania
"Aku nggak mau perasaan sayang ke kamu jadi makin besar."Jawab Alex
seraya menatap matanya. Rania hanya diam.
"Alex sendiri yakin bahwa dia sudah tahu tentang ini. Mungkin dipikirannya kini berkecamuk berbagai macam hal. Dan salah satunya adalah kenapa aku mengatakan hal seperti ini." Batin Alex
"Kenapa harus kamu cegah perasaan kamu ke aku?"Tanya Rania
tanyanya, sedikit jengkel. Tapi masih dengan sedikit pengertiannya ia menahan emosi itu.
"Bukan aku yang mencegah itu. Tapi Tuhan." Jawab Alex
"Aku sendiri sudah mengetahui nya bahkan aku ingin melepaskan rasa ini dan melupakan mu" Batin Rania
"Aku Sudah mengetahui nya dan aku pun sadar bahwa kita memang ditakdirkan hanya untuk bertemu" jawabku lirih seraya menatap awan
"Agama kita beda." Ucap Rania
Kini tenggelam dalam suasana menyakitkan ini, begitupun denganku. Dalam suasana seperti ini kita sama-sama tak tahu apa yang harus dilakukan. Saling terdiam sambil menatap satu sama lain dalam perasaan yang sama. Perasaan ingin bersama tapi tak bisa. Ingin coba melawan takdir tapi kami hanya dua orang lemah.
Dan aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mengatakan apapun pada Alex. Hanya melangkahkan kaki semakin jauh dan menahan kepala sekeras mungkin untuk menoleh.
~~~
Kami hampir tak lagi bertegur sapa. Di kelas kami tak lagi duduk bersebelahan. Aku tetap duduk di tempatnya yang biasa. Tetapi aku memilih duduk lebih jauh. Aku memilih menghindarinya namun aku tetap tak bisa menahan mataku untuk tidak melihat ke arahnya. Aku merasa seperti pecundang.
Beberapa minggu pun berlalu. Aku hanya menyerahkan semuanya pada waktu dan waktu pun menjawabnya. Setelah aku memutuskan untuk menjauhinya waktu itu dan selama itu pula aku dirundung rasa bersalah yang tak ada akhir. Lalu akhirnya saat itu pun terjadi.
Pada suatu pagi yang cerah, waktu aku baru sampai di gerbang kampus, kulihat Alex yang datang dari arah berlawanan. Namun ia tidak sendiri. Alex membonceng wanita Mereka memasuki gerbang kampus hampir bersamaan denganku dan karena itu kami berpapasan.
Waktu seakan melambat ketika Alex memandangku seraya membelok masuk ke dalam area kampus. Tatapan matanya sulit kuartikan.
Aku akhirnya merasakan sakit yang telah lama kupersiapkan.
~~~
Aku berjalan menuju gazebo dengan perasaan berkecamuk. Alex tadi mengirim chat padaku supaya menemuinya di gazebo. Aku tak kuasa menolak. Mungkin saja ini akan mengakhiri segalanya.
Kulihat Alex sudah duduk di sana sambil menatap sesuatu di depan. Aku berjalan menghampirinya.
"Hai." Ucapku. Dengan sedikit senyuman
Axel menyuruhku duduk di sebelahnya. Suasana canggung menyelimutiku.
"Aku cuma mau ngomong kalo aku udah punya pacar." kata Alex
Aku sudah tahu apa yang akan di katakannya. Tetapi rasa sakitnya masih terasa.
"Oh, selamat ya." aku memaksakan senyuman.
"Makasih."Balas Alex
Lalu hening. Hingga Rania membuka kata kembali.
"Aku mau tanya satu hal." Rania menatap Axel. "Apa kamu sayang sama aku?" Tanya Rania
Alex tak bisa menghindari tatapan matanya yang menarikku dan memaksaku untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Iya. Aku sayang sama kamu." jawab Alex.
Rania tersenyum. Namun tersirat sedikit penderitaan di sana.
"Aku juga sayang sama kamu,Alex. Tapi sepertinya itu nggak cukup, ya."
"Kita cuma manusia biasa. Nggak bisa apa-apa."
"Yah, kita cuma di perbudak. Dan kamu memutuskan menyerah."
"Apa yang seharusnya aku lakukan? Maksain hubungan kita nggak akan bikin siapapun bahagia pada akhirnya." Ucap Alex
"Aku nggak bisa maksa keputusan kamu." ucap Rania
Dari kejauhan aku melihat seorang Wanita melambai ke arah Alex.Alex yang menyadari keberadaannya pun balas melambai.
"Dia pacar aku." Kata Alex padaku.
"Dia kelihatannya emang baik." Ucapku.
Alex berdiri dan hendak beranjak menuju wanita itu. Namun sebelum ia menjauh ia mengatakan suatu hal padaku.
"Agama dia... juga beda sama aku."
Tanpa sadar wajahku mengeras seraya menatapnya. Menunjukkan semua keterkejutanku. Axel hanya tersenyum miris pada seorang pengecut sepertiku. Lalu tanpa kata-kata ia kembali berjalan menuju pacarnya. Meninggalkan aku yang diam di tempat. Membeku dalam keterkejutan. Dan mengutuk sang pencipta. Tidak, aku mengutuk diriku sendiri. Kebodohanku, kepengecutanku, dan takdirku.
THE END