Sore itu menjelang azan maghrib hujan begitu deras dimana Emely pulang dari kantor tempat kerjanya, sudah tiba dipertengahan jalan dia mampir untuk berteduh disebuah rumah kosong sementara menunggu hujan reda, tiba-tiba ada satu kendaraan berhenti menyusul dia dan ternyata adalah kekasihnya Andrean, pertemuan mereka itu tidak terduga.
“Loh... kamu, kamu sengaja buntuti aku ya!” ucap Emely dengan nada bercanda dan manja.
“Bukannya bersyukur bertemu aku?” memasang muka jutek sambil menoleh ke Emely.
Emely pun langsung mendekap kekasihnya itu, ditengah derasnya hujan dua sejoli itu ngobrol mesra sambil menikmati hujan turun.
Mereka berpacaran sudah hampir tiga tahun lamanya, tidak pernah ada pertengkaran satu sama lain. Setelah beberapa saat, hujan pun reda mereka beranjak untuk pulang kerumah masing-masing. Diperujungan jalan ada persimpangan yang memisahkan jalan mereka, namun si Andrean pacarnya Emely itu berniat untuk mengantar Emely sampai rumahnya, karena dia khawatir takut akan terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu, sementara hari mulai malam.
Setibanya dirumah Andrean berpamitan dengan Emely dan ditawarkan untuk singgah namun Andrean menolak karena pakaian sudah basah sebagian dan berjanji ketika malam minggu akan bermain dirumah Emely, Emely pun menyetujui yang dikatakannya. Emely memesan Andrean untuk berhati-hati pulang dijalan.
“Hati-hati ya sayang!”
“Iya... sayang”
Andrean pulang dengan berhati-hati sesuai dengan pesan pacarnya itu. Semakin hari hubungan mereka semakin serius, kedua belah pihak keluarga sudah saling mengetahui akan hubungan yang mereka jalin, dan hubungan mereka sudah mendapat restu, hanya tergantung dari merekanya lagi. Andrean dan Emely sama-sama memiliki sifat yang keras, namun keduanya saling megerti dan memahami. Andrean dan Emely dua sosok yang taat beribadah namun siapa sangka bahwa mereka ternyata berbeda keyakinan. Kedua insan yang saling mencintai, entah siapa yang akan mengalah akan hubungan mereka ini.
Tiba diakhir peken Andrean menepati janjinya kepada Emely untuk bermain dirumahnya, datang dirumah Andrean disambut hangat oleh Emely dan keluarganya.
Tok...tok...tok!
Suara mengetuk pintu dari luar. Emely berlari ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu, dia yakin yang datang adalah kekasihnya. Andrean pun sudah sangat akrab dengan kedua orang tua Emely, apalagi keponakan Emely yang selalu menunggu-nunggu kedatangan Andrean, karena ketika Andrean bermain dirumahnya dia tidak pernah datang dengan tangan kosong, selalu ada oleh-oleh yang dibawa buat keluarga Emely dan apalagi keponakannya itu yang baru saja berumur 2 tahunan. Mendengar suara Andrean keponakannya berlari kearahnya dan mendekapnya.
“Paman paman p...paman! Paman bawa apa?” sambari berteriak kegirangan
“Paman bawak buah Lengkeng dan kue kesukaan kamu”
“Asyik...” sambil melompat-lompat dan mengambilnya dari tangan Andrean.
Diberikannya kepada keponakannya dan langsung dilahap oleh keponakannya. Andrean duduk dan berbincang-bincang dengan keluarga Emely, saat itu masih menunjuk pukul 19.15 p.m, Andrean menganjak Emely untuk keluar dinner, yang kebetulan mereka belum makan malam. Emely segera mempersiapkan diri, mengganti pakaian yang dikenakannya, karena kebetulan soal make-up, sedari Andrian belum datang dirumahnya dia sudah make-up duluan. Mereka dinner berdua untuk menikmati malam mingguan. Setelah dinner mereka pergi ketaman untuk menikmati indahnya malam penuh bintang, kebetulan pada malam itu suasana begitu indah, langit dipenuhi cahaya bintang dan bulan yang bersinar, sehingga mendukung mereka untuk bersantai ditaman itu. Dalam perbincangan mereka pada malam itu Emely sempat membahas tentang keyakinan mereka.
“Nanti kalau kita nikah, gimana sama keyakinan kita?”
Andrean terdiam sejenak seolah-olah tidak ingin membahas soal itu, dia juga tidak yakin akan meninggalkan keyakinannya, sementara keluarganya juga sangat taat beribadah, dia juga tidak ingin berpisah dengan Emely kekasihnya itu.
“Tidak mau nikah sama aku ?” ucap Emely menyusul, dengan nada kesal dan wajah cemberut.
“Bukan seperti itu sayang, kita jalani dulu aja nanti kita cari solusinya gimana?” mengusap rambutnya dan berusaha untuk menenangkan Emely.
“Pasti nanti ada jalan” ucap Andrean menyusul.
Sudah sering dibahas oleh Emely masalah keyakinan, namun lagi dan lagi tidak mendapat jawaban dari Andrean. Andrean mengajak Emely untuk menikmati malam yang indah itu dengan tidak ada rasa sedih. Tidak terasa beberapa jam duduk ditaman malam sudah mulai dingin, mereka pun bergegas untuk pulang kerumah. Andrean mengantar Emely kerumah dan setelah itu dia balik kerumahnya. Hari-hari yang mereka lalui terasa indah jauh dari pertengkaran, saling percaya itu yang membuat pasangan ini selalu awet.
Pada saat itu Andrean ditanya oleh orang tuanya mengenai hubungannya dengan Emely, orang tua Andrean meminta Emely untuk satu keyakinan dengan Andrean, sementara Andrean tidak bisa menentang apa yang dikatakan oleh orang tuanya itu, dia tidak mau jadi anak yang durhaka pada orang tua. Sedangkan Emely berharap dia yang bisa mengikuti keyakinan Emely, karena dari awal dekat Andrean sudah tahu bahwa Emely sudah berbeda keyakinan dengannya. Tiba-tiba suara telefon berdering.
“kring kring kringgggg!”
Telefon dari Emely, Andrean terdiam dan masih teringat dengan pertanyaan orang tuanya itu, dia tidak mengangkat telefon dari Emely, dia hanya memandangi nya dengan pikiran tidak menentu. Tidak lama Emely mengirim pesan dan menanyakan,
“lagi apa, kenapa gak angkat telefon!”,
Andrean pun tidak membalas jua, ia bingung harus berbuat apa. Seminggu berlalu panggilan tidak terjawab dan pesan dari Emely memenuhi telefon Andrean. Sedangkan Emely yang galau karena tidak ada kabar dari kekasihnya itu. Air mata terus membasahi pipi nya yang manis, namun engan juga mendapat kabar darinya. Tiba-tiba telefonnya berbunyi dan suara pesan masuk, hatinya sudah merasa kegirangan yang ternyata dilihatnya bukan dari orang yang ditunggu-tunggunya. Pesan tersebut berbunyi,
“hi boleh kenalan”
Emely terdiam sejenak kecewa karena pesan tersebut bukan dari Andrean, dia tidak berniat untuk membalas pesan tersebut. Namun si Ricky adalah orang yang mengirim pesan pada Emely, dia tidak pernah nyerah untuk mengirim pesan padanya hingga beberapa kali. Melihat Andrean sudah tidak ada kabar hampir satu bulanan, Emely pun membalas pesan dari si Ricky.
“Hi... lagi apa? Boleh kenal donk?”
“siapa?” balas Emely singkat.
“Aku Ricky dapat no handphone kamu dari teman”
“Iya, boleh kog”
Perkenalan pun berlanjut, hingga tiba-tiba ada pesan masuk yang ternyata bukan dari Ricky dan pesannya dari Andrean kekasihnya, meminta Emely untuk ketemu dia pada sabtu sore. Emely merasa lega karena yang ditunggu-tunggu sudah terjawab, namun Emely masih merasa aneh aja kenapa sikap Andran padanya begitu dingin, tidak sabar menunggu sabtu sore yang masih satu hari lagi. Dalam menunggu waktu untuk bertemu mereka tidak ada komunikasi, Andrean yang terlihat cuek dengan Emely. Namun Emely berusaha sabar untuk menghadapi hingga tiba dihari sabtu, Emely bersiap untuk bertemu Andrean, pakaian rapi, dandan secantik mungkin, dan dalam pikirannya dia mau nanya kenapa Andrean tidak menghubunginya selama itu, Andrean meminta untuk bertemu ditaman pertengahan kota.
“kring kring kringgggg!” handphone berbunyi.
“H...hallo sayang!” ucap Emely dengan nada kakunya.
“Iya hallo juga, kita bertemu ditaman ya pertengahan kota”
“Tumben kamu gak jemput aku?, dengan nada kesal,
“ Ini aku sudah siap-siap dan akan menuju kesana” sambung Emely.
Sama-sama berangkat menuju taman pertengahan kota, Andrean sampai lebih dulu dari Emely, sesampainya disana Andrean langsung memeluk Emely dan sambil meneteskan air mata, karena dipikirannya Andrean ia akan mengakhiri hubungan nya dengan Emely jika Emely tidak mengikuti keyakinannya.
“Kenapa kamu nangis?, Apa ada masalah?, kamu juga kenapa tiba-tiba gak peduli sama aku, aku khawatir dengan kamu!” pertenyaan Emely yang dilontarkan bertubi-tubi kepada Andrean.
“Aku ingin ngomong serius sama kamu” balas Andrean.
“A...da ada apa? Ada apa?” sambung Emely dengan nada takut dan penasaran.
Andrean menjelaskan dengan Emely, tentang percakapannya dengan kedua orang tuanya itu, dan menanyakan Emely masalah keyakinan yang selama ini yang menjadi beban Emely, bagaimana solusinya, Andrean memberitahu Emely kalau dia tidak bisa, Emely pun memberi penjelasan kalau dia pun tidak bisa air mata tidak berhenti jatuh dari pipi Emely. Yang ternyata dalam hubungannya tidak ada jalan keluar selain berpisah. Memeluk erat Emely untuk terakhirnya. Andrean meminta maaf karena tidak bisa menjaga Emely hingga tua nanti. Dan mendoakan dia agar mendapat seseorang yang lebih darinya. Tanpa basa basi lebih lama Emely pergi meninggalkan Andrean ditaman, karena tidak kuat untuk menghadapi kenyataan.
“sa...sayang sayang, tunggu!” teriak Andrean.
Emely tidak mengharukan ucapan Andrean dia terus berlari hingga pulang mengendarai sepeda motornya. Sesampainya dirumah dia masuk kamar dan menangis. Hari-hari berlalu kesedihan masih menyelimuti mereka berdua. Emely menceritakan pada keluarganya akan hubungan mereka yang sudah berakhir, begitupun dengan Andrean. Oreng tua menyetujui keputusan anak-anak nya itu, hingga tidak tega melihat Andrean sedih terus orang tuanya berencana menjodohkan Andrean dengan wanita lain, dan Andrean menerima perjodohan tersebut, hingga terdenga lah ditelinga Emely bahwa Andrean akan segera menikah.
Sakit hati yang ia rasakan semakin dalam, hingga suatu hari ia diajak ketemuan oleh lelaki yang pernah datang dihidupnya ketika hubungan nya dengan Andrean tidak ada komunikasi boleh dikatakan ada masalah. Tanpa berpikir panjang dia pun mengiyakan permintaan lelaki tersebut yang ternyata si Ricky.
Sore itu pada hari minggu Emely dan Ricky jalan berdua untuk relax di sebuah Cafe, saling bercanda gurau satu sama lain, dan seolah tidak ada masalah sebelumnya dihidup Emely.
“Ternyata kamu asyik juga diajak bergurau” ucap Emely sambil tersenyum lebar
“Iya... donkk!, Besok-besok boleh gak ketemuan lagi”
“B...boleh kog” jawab Emely tersenyum.
“Sukur kalo boleh, aku senang” tersentum menatap Emely
Ricky memandangi Emely, dan heran melihat matanya begitu sembab, seolah habis menangis. Penasaran dengan itu semua Ricky menanyakannya pada Emely.
“E...emely?”
“Kenapa?”
“Kamu lagi sedih ya?”
“Sedikit”
“Ceritalah, mana tau bisa membantu”
Emely menceritakan semua kisahnya dengan Andrean tnapa satu pun tersisa, Ricky pun ikut empati dengar kisah mereka. dan memberi nasihat serta motivasi kepada Emely. Merasa lega, Ricky pun mengajak Emely untuk pulang karena malam hampir larut. Seiring berjalannya waktu komunikasi semakin akrab dan sering bertemu, Ricky mengungkapkan perasaan nya kepada Emely.
“Aku ingin kita menjalani hubungan ini bukan sekedar temanan saja, aku ingin lebih, dan aku ingin menikah dengan kamu”, ujar Ricky dengan nada penuh harap agar Emely mau menjadi Istrinya.
Tanpa banyak tanya, dan sudah saling mengetahui satu sama lain dan sama-sama tidak punya pasangan Emely pun memberi jawaban.
“I...iya aku bersedia” dengan penuh senyum ia menjawab Ricky.
Ricky memeluk Emely dengan erat, dan keduanya merencanakan pernikahan dan akan memberitahu orang tua mereka, bukan lagi memberitahu mengenai pacaran melainkan untuk pernikahan. Mengurus semua persyaratan untuk pernikahan dan setelah semuanya selesai mereka menikah digedung besar, karena ternyata Ricky adalah seorang pengusaha kaya raya. Pernikahan digelar sangat mewah,banyak tamu berdatangan. Akhirnya rasa sakit yang dirasa oleh Emely tidak akan selamanya sakit, berujung dengan bahagia. Bahagia dan sedih tidak pernah kita tahu kapan datangnya.
***